Sabtu, 23 April 2016

Nightmare Siang Bolong

Manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri tanpa manusia lainnya.
Pernyataan itu benar adanya, tak terbantahkan.
Wanita butuh laki-laki, laki-laki butuh wanita.
Selalu begitu, ini juga tak terbantahkan.

Pagi ini aku dan Bu Is pergi ke pasar Sabtu yang ada di timur rumah.
Sebelum pergi aku mencoba si Fiz R dulu, istilah zaman sekarang “dipanasi”.
Ajaib, sekali engkol mesin hidup.
Aku bersyukur, walaupun jarang dipakai tapi Fiz R nggak rewel di engkolan pertama.
Segera setelah itu aku ajak Fiz R muter-muter di halaman.
Itu tadi, biar mesinnya panas.
Setelah merasa cukup baru aku matikan mesin dan masuk ke rumah untuk memakai jilbab dan jaket.

Aku, Bu Is dan Fahri sudah siap untuk berangkat.
Aku segera menghampiri Fiz R dengan banyak-banyak berdo’a.
Semoga dia nggak rewel seperti biasanya.
Aku masukkan kunci dan memutar ke arah tulisan “On”
Dan mulailah aku komat-kamit nggak jelas.
Di engkolan pertama suara mesin jadi seperti suara embek diare.
Brrrp…. Brrrrrp….. brrrrrpppp….
Aku loyo di atas jok.
Ah, ini adalah nightmare di siang bolong.
Sudah pasti mesin ini nggak akan hidup meskipun di sogok oli seliter -____-

Bu Is segera memasang wajah kuyu, Fahri hanya tertawa.
Berulang kali aku berusaha mengengkol mesin.
Berulang kali itu pula upayaku gagal.
Bu Is pun sama, berulang kali mencoba berulang kali pula gagal.
Dan Fahri hanya bisa bilang “Nggak jadi ke Sabtuan Kak?”
Aih, aku benar-benar payah jika berhadapan dengan kamu, Fiz R.

Beruntung ketika kami sedang sibuk merayu Fiz R, dan yang dirayu sok jual mahal, ada Kang Wang yang sedang membersihkan tumpukan kayu di depan rumahnya, yang juga berhadapan dengan rumahku.
Aku dan Ibu segera menuntun Fiz R ke depan gerbang.
Setelah itu segara muncul kalimat-kalimat sambat yang tertuju untuk Fiz R kepada Kang Wang.
Kang Wang adalah seorang tetangga yang sangat peka.
Gimana enggak?
Padahal kami belum minta tolong untuk ngengkolin si Fiz R, tapi Kang Wang sudah menghampiri kami untuk melakukan pertolongan pertama pada kemacetan.
Ah … kalian para lelaki harusnya mencontoh Kang Wang.
Sungguh tampan budi pekerti tetanggaku ini, hahahahaha …..

Dan di tangan Kang Wang, dengan tiga kali engkolan akhirnya Fiz R terbatuk-batuk hingga akhirnya kembali meraung-raung.
Benar-benar motor lakik.
Beginilah jika dirumah nggak ada Ardi dan nggak ada Abah.
Bukan sekali dua kali aku dipermainkan oleh si Fiz R.

Dulu, ketika aku bayar uang kuliah di Bank Jatim motor ini kembali berulah.
Beruntung ada Pak Satpam baik hati yang langsung tanggap ketika ada seorang perempuan mungil yang bersusah payah ngengkol mesin motor yang nggak hidup-hidup.
Ketika di Tangkong pun sama, untung ada Mas Widi yang sedang nginep di rumah mbahnya waktu itu.
Dan juga waktu aku berhenti membeli bensin di salah satu kios di dekat rumah guru SD-ku.
Untung ada Pak, eh, Mas yang juga sedang berhenti untuk membeli gorengan.
Pada intinya, beruntung ada para lelaki yang dikirim Tuhan untuk membantuku menghadapi Fiz R yang rewel itu.
Bisa dibayangkan jika tida ada para laki-laki yang sudah aku sebutkan tadi -__-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar