Pernyataan
itu benar adanya, tak terbantahkan.
Wanita
butuh laki-laki, laki-laki butuh wanita.
Selalu
begitu, ini juga tak terbantahkan.
Pagi
ini aku dan Bu Is pergi ke pasar Sabtu yang ada di timur rumah.
Sebelum
pergi aku mencoba si Fiz R dulu, istilah zaman sekarang “dipanasi”.
Ajaib,
sekali engkol mesin hidup.
Aku
bersyukur, walaupun jarang dipakai tapi Fiz R nggak rewel di engkolan pertama.
Segera
setelah itu aku ajak Fiz R muter-muter
di halaman.
Itu
tadi, biar mesinnya panas.
Setelah
merasa cukup baru aku matikan mesin dan masuk ke rumah untuk memakai jilbab dan
jaket.
Aku,
Bu Is dan Fahri sudah siap untuk berangkat.
Aku
segera menghampiri Fiz R dengan banyak-banyak berdo’a.
Semoga
dia nggak rewel seperti biasanya.
Aku
masukkan kunci dan memutar ke arah tulisan “On”
Dan
mulailah aku komat-kamit nggak jelas.
Di
engkolan pertama suara mesin jadi seperti suara embek diare.
Brrrp….
Brrrrrp….. brrrrrpppp….
Aku
loyo di atas jok.
Ah,
ini adalah nightmare di siang bolong.
Sudah
pasti mesin ini nggak akan hidup
meskipun di sogok oli seliter -____-
Bu
Is segera memasang wajah kuyu, Fahri hanya tertawa.
Berulang
kali aku berusaha mengengkol mesin.
Berulang
kali itu pula upayaku gagal.
Bu
Is pun sama, berulang kali mencoba berulang kali pula gagal.
Dan
Fahri hanya bisa bilang “Nggak jadi
ke Sabtuan Kak?”
Aih,
aku benar-benar payah jika berhadapan dengan kamu, Fiz R.
Beruntung
ketika kami sedang sibuk merayu Fiz R, dan yang dirayu sok jual mahal, ada Kang
Wang yang sedang membersihkan tumpukan kayu di depan rumahnya, yang juga
berhadapan dengan rumahku.
Aku
dan Ibu segera menuntun Fiz R ke depan gerbang.
Setelah
itu segara muncul kalimat-kalimat sambat
yang tertuju untuk Fiz R kepada Kang Wang.
Kang
Wang adalah seorang tetangga yang sangat peka.
Gimana
enggak?
Padahal
kami belum minta tolong untuk ngengkolin si Fiz R, tapi Kang Wang sudah
menghampiri kami untuk melakukan pertolongan pertama pada kemacetan.
Ah
… kalian para lelaki harusnya mencontoh Kang Wang.
Sungguh
tampan budi pekerti tetanggaku ini, hahahahaha …..
Dan
di tangan Kang Wang, dengan tiga kali engkolan akhirnya Fiz R terbatuk-batuk
hingga akhirnya kembali meraung-raung.
Benar-benar
motor lakik.
Beginilah
jika dirumah nggak ada Ardi dan nggak ada Abah.
Bukan
sekali dua kali aku dipermainkan oleh si Fiz R.
Dulu,
ketika aku bayar uang kuliah di Bank Jatim motor ini kembali berulah.
Beruntung
ada Pak Satpam baik hati yang langsung tanggap ketika ada seorang perempuan
mungil yang bersusah payah ngengkol mesin motor yang nggak hidup-hidup.
Ketika
di Tangkong pun sama, untung ada Mas Widi yang sedang nginep di rumah mbahnya
waktu itu.
Dan
juga waktu aku berhenti membeli bensin di salah satu kios di dekat rumah guru
SD-ku.
Untung
ada Pak, eh, Mas yang juga sedang berhenti untuk membeli gorengan.
Pada
intinya, beruntung ada para lelaki yang dikirim Tuhan untuk membantuku
menghadapi Fiz R yang rewel itu.
Bisa
dibayangkan jika tida ada para laki-laki yang sudah aku sebutkan tadi -__-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar