Dia
temanku saat SD, Dimas.
Berhubung
smsnya nggak bisa aku screenshoot, jadi aku tulis aja ya gaes …
Assalamu’alaikum….
Mey…wes
5minggu iki…suwe gak nulis ng blog maneh awkmu….
Awkmu
kn mari tko air trjun *********…pasti banyak cerita di situ…tulis mey…tulis….
Begitu
gaes isi smsnya.
Itu
beneran, nggak di ada-adain dan nggak aku edit.
Ejaannya
juga begitu, jumlah titiknya juga bisa aku pastikan sama dengan yang di hp.
Sudahlah,
pokoknya isi smsnya begitu.
Aku
tersentuh, bagaimana bisa Dimas niteni
tulisanku?
Bagaimana
bisa dia menghitung berapa lama aku tidak posting tulisan?
Dia
bilang 5 minggu?
Ah,
ya … sepertinya memang sudah lama sejak tulisanku yang terakhir.
Aku
bilang padanya dengan nada guyon,
apakah dia pembaca setia?
And you know what he said?
Dia
bilang, dia senang membaca tulisan-tulisanku *Alhamdulillah ^_^
Dia
bilang, beda rasanya membaca tulisan orang yang tidak dia kenal dengan membaca
tulisan teman sendiri *Ah, kamu memang teman yang baik, Dim ^_^
Dia
juga bilang, kadang tertawa-tertawa sendiri saat membacanya *Waspada, Dim,
waspada …
Ah,
Dim. Aku rasa kamu terkena penyakit gila nomor 40 ala Pak Cik.
Hahaha,
semoga kamu nggak di anggap gila oleh rekan-rekanmu.
Masa
iya ada orang senyam-senyum sendiri sambil melototin layar hape di tengah laut?
Aku
sendiri agak kaget ketika tiba-tiba kamu sms.
Sudah
lama sejak komunikasi terakhir kita.
Bukan
hal baru bagi seorang teman yang sedang menempuh pendidikan pelayaran seperti
kamu, sinyal pasti menjadi barang mewah bagi kalian.
Sekali
dapat sinyal pasti mereka akan menggunakannya untuk menghubungi orangtua,
istri, anak, pacar, gebetan, bahkan mungkin selingkuhan hehehe …
Kembali
ke Dimas.
Dimas
adalah satu-satunya teman laki-laki jaman SD yang sampai saat ini masih
berkomunikasi baik denganku.
Ya,
setidaknya setiap aku mengaktifkan BBMku dia akan muncul untuk sekedar bertanya
kabar.
Dia
juga salah satu teman yang ternyata juga menyukai tulisan-tulisanku.
Terimakasih,
Dim …
Seperti
kasus Lia tempo hari, Dimas juga memberikan aku suntikan semangat untuk
menulis.
Aku
merasa seseorang telah menghargai apa yang aku tekuni.
Teman
seperti Lia dan Dimas adalah salah satu motivasi untukku tetap menulis.
Mereka
senang aku juga senang.
Begitulah,
akhirnya aku kembali mensyukuri setiap kejadian.
Teman
yang care, teman yang mampu
menghargai, teman yang nice.
Teman
yang baik kan juga termasuk rezeki dari Allah ya, gaes J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar