Senin, 18 April 2016

Suntikan Semangat (Lagi)

Hari ini aku dapat sms dari teman lamaku.
Dia temanku saat SD, Dimas.
Berhubung smsnya nggak bisa aku screenshoot, jadi aku tulis aja ya gaes …

Assalamu’alaikum….
Mey…wes 5minggu iki…suwe gak nulis ng blog maneh awkmu….
Awkmu kn mari tko air trjun *********…pasti banyak cerita di situ…tulis mey…tulis….

Begitu gaes isi smsnya.
Itu beneran, nggak di ada-adain dan nggak aku edit.
Ejaannya juga begitu, jumlah titiknya juga bisa aku pastikan sama dengan yang di hp.
Sudahlah, pokoknya isi smsnya begitu.

Aku tersentuh, bagaimana bisa Dimas niteni tulisanku?
Bagaimana bisa dia menghitung berapa lama aku tidak posting tulisan?
Dia bilang 5 minggu?
Ah, ya … sepertinya memang sudah lama sejak tulisanku yang terakhir.
Aku bilang padanya dengan nada guyon, apakah dia pembaca setia?
And you know what he said?
Dia bilang, dia senang membaca tulisan-tulisanku *Alhamdulillah ^_^
Dia bilang, beda rasanya membaca tulisan orang yang tidak dia kenal dengan membaca tulisan teman sendiri *Ah, kamu memang teman yang baik, Dim ^_^
Dia juga bilang, kadang tertawa-tertawa sendiri saat membacanya *Waspada, Dim, waspada …

Ah, Dim. Aku rasa kamu terkena penyakit gila nomor 40 ala Pak Cik.
Hahaha, semoga kamu nggak di anggap gila oleh rekan-rekanmu.
Masa iya ada orang senyam-senyum sendiri sambil melototin layar hape di tengah laut?

Aku sendiri agak kaget ketika tiba-tiba kamu sms.
Sudah lama sejak komunikasi terakhir kita.
Bukan hal baru bagi seorang teman yang sedang menempuh pendidikan pelayaran seperti kamu, sinyal pasti menjadi barang mewah bagi kalian.
Sekali dapat sinyal pasti mereka akan menggunakannya untuk menghubungi orangtua, istri, anak, pacar, gebetan, bahkan mungkin selingkuhan hehehe …

Kembali ke Dimas.
Dimas adalah satu-satunya teman laki-laki jaman SD yang sampai saat ini masih berkomunikasi baik denganku.
Ya, setidaknya setiap aku mengaktifkan BBMku dia akan muncul untuk sekedar bertanya kabar.
Dia juga salah satu teman yang ternyata juga menyukai tulisan-tulisanku.
Terimakasih, Dim …

Seperti kasus Lia tempo hari, Dimas juga memberikan aku suntikan semangat untuk menulis.
Aku merasa seseorang telah menghargai apa yang aku tekuni.
Teman seperti Lia dan Dimas adalah salah satu motivasi untukku tetap menulis.
Mereka senang aku juga senang.

Begitulah, akhirnya aku kembali mensyukuri setiap kejadian.
Teman yang care, teman yang mampu menghargai, teman yang nice.
Teman yang baik kan juga termasuk rezeki dari Allah ya, gaes J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar