Minggu, 22 Mei 2016

Mahar Istimewa

Buku Laskar Pelangi Song Book yang aku dapatkan di bazar buku Gedung Korpri kemarin banyak menyita perhatianku.
Dari rumah aku segera memutar CD yang terdapat dalam buku tersebut.
Sementara aku mendengarkan lagu-lagu yang kuputar, Ardi melihat-lihat isi buku itu.
Sampai kemudian dia menunjukkan padaku bagian dari buku tersebut.
Berisi sebuah foto pernikahan dengan caption yang membuatku tercengang.
Salah seorang penggemar Pak Cik menjadikan novel Edensor sebagai mahar pernikahan mereka.

Oh My! Aku tidak menyangka ternyata ada juga orang yang berpikir gila sepertiku.
Aku pernah membuat meme yang bertuliskan “Saya terima nikahnya dengan seperangkat novel Andrea Hirata, dibayar tunai.”
Dan ternyata ada juga pasangan pengantin yang menjadikan karya Pak Cik sebagai mas kawin.

Hahahaha unbelievable
By the way, aku serius dengan meme yang aku buat.
Aku juga menginginkan novel-novel karya Pak Cik yang akan menjadi mahar pernikahanku nanti.
Nggak sulit, kan?
Aku nggak akan meminta kalian (wahai jodoh yang masih di keep oleh Allah) untuk hapalan ini itu sebagai mahar.
Cukup novel-novel Andrea Hirata saja. Simple, kan?
Bukankah sebaik-baik wanita adalah yang maharnya tidak memberatkan?
Aku sudah memiliki beberapa novelnya, kalian hanya perlu melengkapi sebagian yang belum lengkap.

Setelah foto tentang pernikahan yang menjadikan Edensor sebagai mas kawin, dibawahnya juga ada foto yang lagi-lagi membuatku geleng-geleng kepala.
Salah seorang pembaca novel Pak Cik menamai putra mereka dengan “Nova Lintang Edensor”.
Bukan main kekuatan sastra yang Pak Cik olah.
Aku tidak pernah membayangkan untuk menamai seorang putra dengan nama Edensor.

Over all, karya-karya Pak Cik memang luar biasa.
Beliau mampu membuat karyanya tidak hanya indah namun juga menggugah.
Aku selalu tercengang tiap kali membaca karya-karyanya.
Tersenyum, tertawa, bahkan menangis.
Tiap kalimatnya seperti memiliki kekuatan untuk terus melumat halaman-halaman berikutnya.
Novelnya memang berbeda dari novel kabanyakan yang telah aku baca.
Dan yang terpenting adalah Pak Cik mampu membuatku berimajinasi dengan keadaan Belitong tempo dulu.
Bagaimana suasana keakraban orang-orang Melayu.
Suasana kampung saat PN Timah masih berjaya.
Dan suasana dalam kelas di SD Muhammadiyah, Gantong.

Tidak heran Andrea Hirata masuk dalam daftar orang-orang yang menginspirasiku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar