Dari
rumah aku segera memutar CD yang terdapat dalam buku tersebut.
Sementara
aku mendengarkan lagu-lagu yang kuputar, Ardi melihat-lihat isi buku itu.
Sampai
kemudian dia menunjukkan padaku bagian dari buku tersebut.
Berisi
sebuah foto pernikahan dengan caption
yang membuatku tercengang.
Salah
seorang penggemar Pak Cik menjadikan novel Edensor sebagai mahar pernikahan
mereka.
Oh My! Aku tidak menyangka ternyata ada juga orang yang
berpikir gila sepertiku.
Aku
pernah membuat meme yang bertuliskan
“Saya terima nikahnya dengan seperangkat novel Andrea Hirata, dibayar tunai.”
Dan
ternyata ada juga pasangan pengantin yang menjadikan karya Pak Cik sebagai mas
kawin.
Hahahaha
unbelievable …
By the way, aku serius dengan meme yang aku buat.
Aku
juga menginginkan novel-novel karya Pak Cik yang akan menjadi mahar
pernikahanku nanti.
Nggak
sulit, kan?
Aku
nggak akan meminta kalian (wahai jodoh yang masih di keep oleh Allah) untuk
hapalan ini itu sebagai mahar.
Cukup
novel-novel Andrea Hirata saja. Simple, kan?
Bukankah
sebaik-baik wanita adalah yang maharnya tidak memberatkan?
Aku
sudah memiliki beberapa novelnya, kalian hanya perlu melengkapi sebagian yang
belum lengkap.
Setelah
foto tentang pernikahan yang menjadikan Edensor sebagai mas kawin, dibawahnya
juga ada foto yang lagi-lagi membuatku geleng-geleng kepala.
Salah
seorang pembaca novel Pak Cik menamai putra mereka dengan “Nova Lintang
Edensor”.
Bukan
main kekuatan sastra yang Pak Cik olah.
Aku
tidak pernah membayangkan untuk menamai seorang putra dengan nama Edensor.
Over all, karya-karya Pak Cik memang luar biasa.
Beliau
mampu membuat karyanya tidak hanya indah namun juga menggugah.
Aku
selalu tercengang tiap kali membaca karya-karyanya.
Tersenyum,
tertawa, bahkan menangis.
Tiap
kalimatnya seperti memiliki kekuatan untuk terus melumat halaman-halaman
berikutnya.
Novelnya
memang berbeda dari novel kabanyakan yang telah aku baca.
Dan
yang terpenting adalah Pak Cik mampu membuatku berimajinasi dengan keadaan
Belitong tempo dulu.
Bagaimana
suasana keakraban orang-orang Melayu.
Suasana
kampung saat PN Timah masih berjaya.
Dan
suasana dalam kelas di SD Muhammadiyah, Gantong.
Tidak
heran Andrea Hirata masuk dalam daftar orang-orang yang menginspirasiku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar