Sabtu, 21 Mei 2016

PKI dan Seragam Pramuka

Aku nggak pernah membayangkan mimpi jenis ini bakal mampir ke tidurku.
Memang, orang bilang mimpi itu hanya bunga tidur.
Tapi nggak sedikit mimpi yang membuatku bangun dengan keadaan mood jelek.
Intinya, beberapa mimpi yang aku alami mempengaruhi mood-ku seharian.

Mungkin karena kemarin aku seharian berada di rumah Mbah di Krasak, jadi latar tempat mimpi kali ini adalah rumah Krasak.
Nah, gaes, kalian tahu apa mimpiku kali ini?
Mimpi tentang orang-orang PKI.
Sebenarnya mimpi ini bukan kategori mimpi buruk, tapi suasana yang terjadi dalam mimpiku itu benar-benar mencekam, mirip film-filmnya Tante Suzanna.

Jadi gini, waktu itu di dalam rumah Krasak ada aku, Abah, Ibu dan kenangan Nia, yang nongol di mimpi cuma empat orang itu aja.
Kami sedang membereskan berbagai buku ketika tiba-tiba ada siaran di Masjid Nurullah bahwa sebentar lagi akan ada orang-orang PKI yang melakukan sweeping.
Saat siaran berlangsung aku sedang membaca majalah “Bobo” entah edisi berapa.
Embuh lah, namanya juga mimpi, apa aja bisa kejadian.
Anehnya, saat itu majalah anak-anak macam Bobo juga menjadi salah satu incaran bagi mereka.
Agak aneh sih *bukan agak aneh lagi, tapi memang bener-bener aneh.

Nah setelah menyembunyikan bermacam-macam buku dengan rapi, kami pun melakukan aktivitas masing-masing seperti semula.
Di mimpi itu aku jadi perempuan yang setengah-setengah *mm maksudnya takut enggak, berani juga enggak.
Jadi di ruang tamu secara terang-terangan aku membaca sebuah buku.
Tadinya sih baca majalah “Bobo” yang kalau ketahuan orang PKI pasti bakal di bumihanguskan dari peredaran.
Tapi karena terlalu takut akhirnya aku mengganti bacaanku dengan katalog mobilnya Hani.
Wkwkwkwkw, duh kan, embuh sekali pokoknya mimpi bulan ini.
Iya, secara Hani kerja di Nissan, jadi ada beberapa katalog dan majalah otomotif yang berkeliaran di meja ruang tamu.

Setelah pengumuman yang membuat bulukuduk dangdutan itu terdengar, tiba-tiba suasana di sekitar rumah jadi serem.
Aku melihat beberapa orang berseragam coklat sedang mondar-mandir.
Wajah mereka ditutup dengan topeng dari besi *dualah, mosok ini efek kebanyakan nonton Super Dede???
Pokonya jadi semacam prajurit-prajurit kerajaan yang memakai pakaian besi.
Aku tetap duduk manis di ruang tamu yang menghadap ke jendela dan juga tetap melanjutkan kegiatan membaca.
Aku melihat satu orang mendekati rumah dan melirik ke dalam, sebagai perempuan yang takut enggak berani juga enggak aku pun ikut-ikutan melirik ke arah orang tersebut.

Dan …. Deg ….
Tatapan kami bertemu *berhubung ini konteksnya serem, jadi nggak ada backsongnya.
Ya kali romantis-romantisan sama orang PKI?
Secepat kilat aku segera menundukkan pandangan *sebagai muslimah juga harus begitu, kan? wkwkwkwk
Tapi naas, orang tersebut segera masuk ke halaman dan mendobrak pintu rumah.
Belionya segera merampas paksa sesuatu yang sedang aku baca.
Ngerampasnya nggak pakai tangan, tapi pakai arit *hmmm, rempong kan?

Seingatku orang itu nggak menggeledah rumah, dia langsung pergi setelah merampas katalog mobil yang sedang kubaca *ya bisa jadi mau ikut ngredit mobil, kan mau lebaran, biar mudiknya enak hehehehe …
Tidak berhenti sampai di situ saudara-saudara.
Setelah kepergian orang pertama, datanglah orang kedua.
Yang kedua ini serem enggak, nggak serem juga enggak.
Awalnya dia berdiri di depan pintu, kemudian menanyakan keberadaan kepala rumah tangga.
Sebagai anak masa kini yang berbakti, aku menawarkan diri untuk menemuinya.
“Diwakilkan saya saja, boleh?”
Mas-mas PKI itu mengangguk.
Akhirnya aku keluar menemui mas-mas itu. Ini demi keselamatan Abah, karena Abah kadang-kadang suka nggak bener jawab pertanyaan serius.

Aku baru sadar bahwa kostum para orang-orang PKI ini ternyata seragam Pramuka, gaes.
Seragam Pramuka lengkap pula. Yang beda cuma pisaunya. Biasanya kan yang dipakai itu pisau, nah kali ini bukan pisau tapi arit.
Gitu lah pokoknya …
Awalnya serem, tapi potongannya yang mirip anak STM lagi persami, seremnya buyar :D

Di teras rumah mas-mas tadi menanyakan perihal logo BNN yang terpasang di dinding teras.
Aku pun heran, sejak kapan rumah ini terpasang logo BNN???
Namanya juga mimpi, apa aja bisa kejadian.
Dan yang anehnya lagi, salah satu logo BNN itu terdapat Kunyit.
Mas PKI tadi lantas bertanya “Kenapa ada Kunyit di logo BNN itu?”
Oalah mas, mas … Sampeyan aja tanya, apalagi saya?
Akhirnya dengan nggak jelasnya aku menjelaskan.
Dan mas-mas ini agak geser kali, ya.
Bukannya menyimak dengan baik jawabanku, dia malah senyam-senyum melihatku.
Ngeri ndo, wong PKI lho iki …

Dan setelah insiden tanya jawab yang nggak jelas itu, aku terbangun.
Kadang mimpi se-absurd ini.

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar