Waktu
itu Donat menanyakan satu hal yang dekat sekali dengan kehidupan perempuan.
“Awakmu iso masak?”
Tanpa
tedeng aling-aling, dia menanyakan hal retorik.
Ya
jelas enggak lah, hahahaha …
Kalau
yang dimaksud masak disini adalah masak telur, air, nasi, mi instan, aku bisa.
Lalu
dia mengerucutkan kembali pertanyaannya.
“Jangan santenan iso?”
Benar-benar,
kenapa dia jadi bersikap seperti calon mertua yang cerewet?
Aku
mengerti, dia hanya tidak ingin aku menjadi perempuan yang payah di dapur.
Jadi
begini gaes, kalau sayur tumis, sayur
bening, ya oke lah masih mampu.
Tapi
kalau sudah berhubungan dengan masa lalu mantan, eh, santan,
marut-memarut (meskipun sekarang sudah banyak santan instan) aku angkat tangan.
Bukan
angkat tangan juga sih sebenarnya, aku saja yang belum pernah belajar dari Bu
Is.
Hal-hal
berbau dapur ini juga selalu menjadi senjata Abah dan Ibuku untuk nggojloki anak gadisnya ini.
Pernah
suatu hari aku di tes oleh Ibu untuk membedakan mana ketumbar mana merica.
Hasilnya?
Sudah tentu salah.
Ketumbar
aku sebut merica dan merica aku sebut ketumbar.
Kejadian
itu berakibat pada peluncuran nasihat-nasihat menohok hati yang di launching
oleh Bu Is, ibuku tercintah.
Berupa-rupa
nasihat yang belio lontarkan, mulai
dari:
Sudah gadis masih ndak ngerti mana
ketumbar mana merica. *bukan ndak
ngerti, tapi belum ngerti, hahaha telat banget yak segede gini masih belum ngerti -___-
Gimana kalau besok kamu tinggal di
rumah mertua? *siapa yang mau
tinggal sama mertua? tinggal di rumah sendiri atuh, berdua suami :v
Jangan-jangan ndak bisa bedakan
mana beras mana beras ketan? *sepertinya
bisa, sepertinyaaa :D
Tidak
berhenti sampai disitu.
Aku
juga pernah di tes untuk membedakan mana jahe mana kunyit mana kencur.
Kan?
Apa nggak keterlaluan?
Tiga
jenis palawija itu membuatku jadi mikir sejenak.
Beruntung
aku menebak dengan benar yang namanya kunyit.
Kencur
dan jahe sukses membuatku di bully
oleh Ibu sendiri -___-
Nah,
yang paling nemen adalah ketika aku
di tes untuk membedakan ketiga jenis palawija yang sama, namun kali ini dalam
bentuk tanaman.
Aigoooooo, cobaan apa lagi ini?
Cerita
selanjutnya sudah bisa kalian tebak sendiri, gaes.
Semua
tebakanku salah.
Aku
sudah tidak peduli lagi mana kencur, mana kunyit, mana jahe.
Hari
ini, setiap aku keluar rumah dan melihat tanaman-tanaman yang di tanam oleh
Ibuku itu, aku seperti melihat tukang tikung gebetan sahabatnya.
Bayangin
kalau kamu punya cem-ceman, terus
cem-cemanmu itu ditikung sama sahabatmu sendiri?
Memang,
tukang tikung itu adalah makhluk Tuhan yang paling embuh.
Eits,
tapi saya nggak pernah punya sahabat
yang nikung sahabatnya sendiri kok ^_^
Kembali
ke masalah dapur.
Sebenarnya
ada satu pertanyaan yang akhirnya timbul tenggelam di kepalaku.
Apa iya semua laki-laki akan
mengharuskan istrinya kelak untuk pandai memasak?
Ah,
it’s so yesterday.
Pengetahuan
agamaku memang ndak dalam-dalam amat,
cenderung cetek.
Namun
aku tahu bahwa urusan dapur dan segala tetek bengek yang wis kadung dilakukan istri hingga hari ini, itu semuanya adalah
tugas suami.
Pak
Dzaki dulu juga pernah ngomong gitu kok, seriusan, untuk masalah yang satu ini
ingatanku masih runcing.
Istri
ya mengandung, melahirkan, ngurus anak, ngurus suami, dah gitu aja.
Tapi
ya gimana, tanpa disuruh perempuan sudah mengambil alih seluruh tugas suami
itu.
Kembali
ke masalah dapur (lagi).
Pada
akhirnya semua perempuan akan belajar masak pada waktunya.
Jika
pada akhirnya adik tidak mampu menyajikan cinta di atas meja makan, mungkin
abang yang akhirnya masak buat adik.
Atau
kalau abang dan adik sama-sama ndak
gablek, ya sudah kita maem di
luar ya, bang ^_^
Hahaha,
wis tho ndak perlu serius-serius
gitu.
Selain
abang masih belum jelas, Istanbul masih jauh, serius juga sudah bubar.
Sumber : Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar