Minggu, 01 Mei 2016

Semua Perempuan Akan Belajar Masak Pada Waktunya

Hari ini tiba-tiba saja aku teringat obrolan ringan dengan Donat.
Waktu itu Donat menanyakan satu hal yang dekat sekali dengan kehidupan perempuan.
“Awakmu iso masak?”
Tanpa tedeng aling-aling, dia menanyakan hal retorik.
Ya jelas enggak lah, hahahaha …
Kalau yang dimaksud masak disini adalah masak telur, air, nasi, mi instan, aku bisa.
Lalu dia mengerucutkan kembali pertanyaannya.
“Jangan santenan iso?”
Benar-benar, kenapa dia jadi bersikap seperti calon mertua yang cerewet?

Aku mengerti, dia hanya tidak ingin aku menjadi perempuan yang payah di dapur.
Jadi begini gaes, kalau sayur tumis, sayur bening, ya oke lah masih mampu.
Tapi kalau sudah berhubungan dengan masa lalu mantan, eh, santan, marut-memarut (meskipun sekarang sudah banyak santan instan) aku angkat tangan.
Bukan angkat tangan juga sih sebenarnya, aku saja yang belum pernah belajar dari Bu Is.

Hal-hal berbau dapur ini juga selalu menjadi senjata Abah dan Ibuku untuk nggojloki anak gadisnya ini.
Pernah suatu hari aku di tes oleh Ibu untuk membedakan mana ketumbar mana merica.
Hasilnya? Sudah tentu salah.
Ketumbar aku sebut merica dan merica aku sebut ketumbar.
Kejadian itu berakibat pada peluncuran nasihat-nasihat menohok hati yang di launching oleh Bu Is, ibuku tercintah.
Berupa-rupa nasihat yang belio lontarkan, mulai dari:
Sudah gadis masih ndak ngerti mana ketumbar mana merica. *bukan ndak ngerti, tapi belum ngerti, hahaha telat banget yak segede gini masih belum ngerti -___-
Gimana kalau besok kamu tinggal di rumah mertua? *siapa yang mau tinggal sama mertua? tinggal di rumah sendiri atuh, berdua suami :v
Jangan-jangan ndak bisa bedakan mana beras mana beras ketan? *sepertinya bisa, sepertinyaaa :D

Tidak berhenti sampai disitu.
Aku juga pernah di tes untuk membedakan mana jahe mana kunyit mana kencur.
Kan? Apa nggak keterlaluan?
Tiga jenis palawija itu membuatku jadi mikir sejenak.
Beruntung aku menebak dengan benar yang namanya kunyit.
Kencur dan jahe sukses membuatku di bully oleh Ibu sendiri -___-

Nah, yang paling nemen adalah ketika aku di tes untuk membedakan ketiga jenis palawija yang sama, namun kali ini dalam bentuk tanaman.
Aigoooooo, cobaan apa lagi ini?
Cerita selanjutnya sudah bisa kalian tebak sendiri, gaes.
Semua tebakanku salah.
Aku sudah tidak peduli lagi mana kencur, mana kunyit, mana jahe.
Hari ini, setiap aku keluar rumah dan melihat tanaman-tanaman yang di tanam oleh Ibuku itu, aku seperti melihat tukang tikung gebetan sahabatnya.
Bayangin kalau kamu punya cem-ceman, terus cem-cemanmu itu ditikung sama sahabatmu sendiri?
Memang, tukang tikung itu adalah makhluk Tuhan yang paling embuh.
Eits, tapi saya nggak pernah punya sahabat yang nikung sahabatnya sendiri kok ^_^

Kembali ke masalah dapur.
Sebenarnya ada satu pertanyaan yang akhirnya timbul tenggelam di kepalaku.
Apa iya semua laki-laki akan mengharuskan istrinya kelak untuk pandai memasak?
Ah, it’s so yesterday.
Pengetahuan agamaku memang ndak dalam-dalam amat, cenderung cetek.
Namun aku tahu bahwa urusan dapur dan segala tetek bengek yang wis kadung dilakukan istri hingga hari ini, itu semuanya adalah tugas suami.
Pak Dzaki dulu juga pernah ngomong gitu kok, seriusan, untuk masalah yang satu ini ingatanku masih runcing.
Istri ya mengandung, melahirkan, ngurus anak, ngurus suami, dah gitu aja.
Tapi ya gimana, tanpa disuruh perempuan sudah mengambil alih seluruh tugas suami itu.

Kembali ke masalah dapur (lagi).
Pada akhirnya semua perempuan akan belajar masak pada waktunya.
Jika pada akhirnya adik tidak mampu menyajikan cinta di atas meja makan, mungkin abang yang akhirnya masak buat adik.
Atau kalau abang dan adik sama-sama ndak gablek, ya sudah kita maem di luar ya, bang ^_^
Hahaha, wis tho ndak perlu serius-serius gitu.
Selain abang masih belum jelas, Istanbul masih jauh, serius juga sudah bubar.

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar