Akhirnya
setelah libur lebaran kami hunting lagi. Menyusuri jalanan Banyuwangi untuk
mencari kepingan kisah berdirinya NU di Banyuwangi. Pagi ini saya dapat WA dari
Cak Ayunk bahwa ada jadwal untuk ke Songgon. Bayangkan, baru membuka mata sudah
dapat pesan untuk nguli lagi. Sambil
sedikit kriyep-kriyep, saya membalas
pesan belio bahwa anak buahnya ini
belum mandi dan masih ndusel-ndusel
manja dibawah selimut. Beruntung Cak Ayunk masih rapat, janji ketemu sejam
lagi. Alhamdulillah, saya bisa merem lagi.
Tiba
di kantor PCNU sekitar pukul sembilan. Kami langsung meluncur ke Dusun Cemoro,
Desa Balak, Songgon. Iya, untuk kesekian kalinya saya datang lagi ke desa penuh
cerita ini. Desa dimana saya tinggal selama sebulan untuk KKN. Duh,
nostalgialah saya sepanjang jalan kenangan.
Sampai
di lokasi, saya sempat mengira ada orang meninggal, karena jalanan ramai tapi
hatiku sepi. Ternyata oh ternyata, saya diajak ke makamnya Mbah Yai
Abdullah Faqih. Dan perihal ramai-ramai dijalan tidak lain disebabkan oleh
acara haulnya Mbah Yai Faqih. Saya sempat kaget, ya karena ramai itu tadi.
Kemudian saya mbatin dalam hati (jenenge mbatin iki yo mesti neng njero ati,
Mey) “Alhamdulillah nggak salah kostum.”
Gimana
nggak Alhamdulillah, tadinya saya ke PCNU mau pakai celana sama kaos lengan
panjang plus jaket, seperti biasanya. Lha kalau dengan kostum seperti itu terus
datang ke acara haul kan ya nggak mbois banget. Beruntung saya pakai baju
terusan.
Sudah,
skip masalah kostum.
Ternyata
di Cemoro ini pernah hidup seorang Kiayi yang menjadi tonggak lahirnya NU di
Banyuwangi. Mbah Yai Faqih menjadi salah satu Kiayi yang juga memperjuangkan NU
pada masanya. Di acara haul ini saya di sadarkan oleh satu hal, eh banyak hal, ding. Kemana saja saya selama KKN di
desa ini? Apa saja yang sebenarnya saya lakukan saat KKN di desa ini? Bagaimana
mungkin saya tidak tahu bahwa Cemoro memiliki nilai sejarah yang begitu luhur?
Bagaimana mungkin saya tidak tahu bahwa makam Mbah Yai Faqih menjadi salah satu
dari tiga tempat wisata religi yang masyhur di Banyuwangi? Duh Gusti, ampuni.
Pertama
kali memasuki pelataran masjid kami sudah di sambut oleh para penerima tamu.
Rezeki anak sholehah, dapat berkat juga. Lalu Cak Ayunk pergi ke para jama’ah
laki-laki dan saya dipersilakan duduk di deretan jama’ah perempuan. Saya duduk
disebelah mbah-mbah yang sepuh enggak muda juga enggak, tengah-tengah lah.
Dengan khidmat saya mengikuti serangkaian acara yang entah sudah dimulai dari
jam berapa itu. Setelah rapalan doa untuk Mbah Yai selesai, saya mencoba
ngobrol dengan nenek di sebelah saya.
“Griyane pundi, Mbah? Asli Cemoro?”
Si
mbah yang agak kaget, sambil mendekat ke arah saya lantas menjawab, “Enggeh, nduk e pundi?”
“Kulo Pakis, Mbah.”
“Pakis kulon meriki?”
Saya
tahu pasti yang dimaksud Mbah ini adalah Dusun Pakis yang ada di Desa Songgon.
Saya mau jawab Pakis Malang tapi kok ya aclak
banget. Niatnya guyon, tapi ya masak ngguyoni si embah? Lak kualat saya nanti.
“Sanes, Mbah. Pakis Banyuwangi.”
“Yeeeh, (logat osingnya terlalu, eh terlihat) Banyuwangi? Ya mugi-mugi angsal barokahe
Mbah Yai ya nduk.”
Honestly, ucapan mbah yang tidak saya tahu namanya ini maknyess di hati, gaes. Saya tidak pernah hadir dalam acara haul seorang tokoh besar
seperti ini. Ini pengalaman pertama kali untuk saya. Sejak dulu Cak Ayunk
meminta saya untuk bergabung dalam tim penelitian ini, saya sudah merasa
menyesal. Kenapa menyesal? Saya menyesal karena bapak dan ibu saya tidak
menanamkan ke-NU-an yang kuat. Karena silsilah keluarga saya adalah keluarga
NU, namun setelah atuk wafat rasanya nilai-nilai NU itu tidak begitu bersinar.
Abah dan ibu hanya menitipkan saya kepada seorang guru ngaji di TPQ Nurul
Qomar. Saya diajarkan membaca Al-Qur’an, Barjanji, dan ajaran-ajaran NU yang
lain. Saya menjadi sangat marah ketika keluarga memutuskan untuk pindah rumah
ke daerah Jurang-Jero. Saya ingat sekali waktu itu saya masih SMP dan kegiatan
mengaji sedang seru-serunya, saya sedang semangat-semangatnya menimba ilmu
agama kepada guru ngaji saya. Saya marah, kesal, ngambek berhari-hari dengan
keputusan bapak dan ibu tersebut. Itu yang akhirnya membuat saya tidak suka
dengan no maden.
Rasa
penyesalan itu bertambah ketika saya diberi sangu sebuah buku NU oleh Cak
Ayunk. Membaca buku yang tebalnya sama seperti rasa sayangku padamu itu semakin
membuat saya merasa jauh dari peradaban. Saya merasa keciiiiiiil sekali. Saya
merasa bodoh, merasa terasingkan, merasa seperti baru keluar dari dalam gua
yang gelap dan engap. Dari buku
bersampul hijau itu saya mendapat banyak pengetahuan tentang NU dan segala
tetek bengeknya, seperti motivasi berdirinya NU hingga tokoh-tokoh pendiri NU.
Apalagi
saat saya, Cak Ayunk dan Cak Ibnu datang ke Lateng untuk bertemu dengan Kiagus
Abdul Aziz, putra dari Kiai Saleh. Di rumah kuno itu saya merasa krik krik, nggak tahu harus ngomong dan
berbuat apa. Hanya Cak Ayunk dan Cak Ibnu yang sesekali ngobrol dengan Kiagus Aziz.
Saya? Ya saya hanya mencatat apa-apa yang diperintahkan oleh Cak Ayunk, dan
sekaligus sie dokumentasi. It’s okay,
setidaknya saya ada gunanya. Yara gedigu?
Kunjungan
ke rumah Kiagus Aziz itu adalah awal pencarian data yang kami lakukan. Bebarapa
hari setelahnya kami mencari data ke masjid kiai saleh yang terletak tidak jauh
dari rumah Kiagus Aziz. Disana saya juga merasa krik krik (lagi). Cak Ayunk, Cak Ibnu dan Cak Haris memeriksa
rak-rak tua dan besar yang ada di dalam masjid tersebut. Di sana terdapat
banyak kitab-kitab peninggalan Kiai Saleh. Cak Ayunk membawa beberapa kitab
tersebut untuk diperiksa. Saya yang melihat kitab tua dan tebal itu hanya bisa
bengong, karena isinya huruf Arab semua. Ya jelas, masa iya sandi morse.
Kejadian
di masjid juga sedikit banyak menampar saya. Ketika Cak Ayunk membuka halaman
pertama salah satu kitab, beliau menemukan tulisan Arab, tapi plontos (gundul
maksudnya), dan dibaca dalam Bahasa Jawa. Saya lupa tulisan apa namanya, Pagon? Pegon? Ah, embuh lah. Memang dasarnya jebolan pesantren sih ya, jadi ilmu
Nahwu Sharafnya jempolan. Beliau membaca secara perlahan tulisan tangan yang
kita yakini adalah tulisan tangan Kiai Saleh sendiri di halaman awal sebuah kitab.
Rangkaian huruf Arab tersebut membuat kita mengerti bahwa kitab tersebut adalah
kitabnya orang wahabi, jadi harus hati-hati. Begitu kira-kira isinya …
Akhirnya,
saya merasa beruntung dan bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat ini. Saya
mendapat banyak pemahaman dari mereka. Dalam proses mencari data mungkin saya
memang banyak diam, karena pengetahuan saya tentang NU masih dangkal sekali.
Saya lebih memilih untuk banyak mendengarkan, memperhatikan dan mendengar apa
yang sedang mereka bicarakan.
Oh
ya, kembali kepada haul Mbah Yai Faqih.
Ini
merupakan haul yang ke-63. Hasil dari sowan hari ini, saya akhirnya bisa tahu
bahwa cucu buyutnya Mbah Yai Faqih adalah alumni Untag dan kebetulan juga
jebolan Fisip. Nggak nyangka, ya? Sama, saya juga. Sebenarnya tidak banyak
informasi yang kami dapat hari ini, karena memang bertepatan dengan haul, pasti
para informan sedang sibuk meladeni tamu-tamu yang datang.
Saya
menjadikan kesibukan penelitian ini sekaligus sebagai wisata religi. Ya gitu,
sambil meneliti, sambil wisata religi, hitung-hitung sebagai obat hati, biar
nggak gampang sensi. Juga, siapa tahu bisa jadi mantunya Pak Kiayi? Kalau
tidak, ya minimal dapat santri. Hahaha …
Sekian,
terima kasih …


Tidak ada komentar:
Posting Komentar