Rabu, 13 Juli 2016

Haul KH. Abdullah Faqih

Akhirnya setelah libur lebaran kami hunting lagi. Menyusuri jalanan Banyuwangi untuk mencari kepingan kisah berdirinya NU di Banyuwangi. Pagi ini saya dapat WA dari Cak Ayunk bahwa ada jadwal untuk ke Songgon. Bayangkan, baru membuka mata sudah dapat pesan untuk nguli lagi. Sambil sedikit kriyep-kriyep, saya membalas pesan belio bahwa anak buahnya ini belum mandi dan masih ndusel-ndusel manja dibawah selimut. Beruntung Cak Ayunk masih rapat, janji ketemu sejam lagi. Alhamdulillah, saya bisa merem lagi.

Tiba di kantor PCNU sekitar pukul sembilan. Kami langsung meluncur ke Dusun Cemoro, Desa Balak, Songgon. Iya, untuk kesekian kalinya saya datang lagi ke desa penuh cerita ini. Desa dimana saya tinggal selama sebulan untuk KKN. Duh, nostalgialah saya sepanjang jalan kenangan.

Sampai di lokasi, saya sempat mengira ada orang meninggal, karena jalanan ramai tapi hatiku sepi. Ternyata oh ternyata, saya diajak ke makamnya Mbah Yai Abdullah Faqih. Dan perihal ramai-ramai dijalan tidak lain disebabkan oleh acara haulnya Mbah Yai Faqih. Saya sempat kaget, ya karena ramai itu tadi. Kemudian saya mbatin dalam hati (jenenge mbatin iki yo mesti neng njero ati, Mey) “Alhamdulillah nggak salah kostum.”

Gimana nggak Alhamdulillah, tadinya saya ke PCNU mau pakai celana sama kaos lengan panjang plus jaket, seperti biasanya. Lha kalau dengan kostum seperti itu terus datang ke acara haul kan ya nggak mbois banget. Beruntung saya pakai baju terusan.

Sudah, skip masalah kostum.

Ternyata di Cemoro ini pernah hidup seorang Kiayi yang menjadi tonggak lahirnya NU di Banyuwangi. Mbah Yai Faqih menjadi salah satu Kiayi yang juga memperjuangkan NU pada masanya. Di acara haul ini saya di sadarkan oleh satu hal, eh banyak hal, ding. Kemana saja saya selama KKN di desa ini? Apa saja yang sebenarnya saya lakukan saat KKN di desa ini? Bagaimana mungkin saya tidak tahu bahwa Cemoro memiliki nilai sejarah yang begitu luhur? Bagaimana mungkin saya tidak tahu bahwa makam Mbah Yai Faqih menjadi salah satu dari tiga tempat wisata religi yang masyhur di Banyuwangi? Duh Gusti, ampuni.

Pertama kali memasuki pelataran masjid kami sudah di sambut oleh para penerima tamu. Rezeki anak sholehah, dapat berkat juga. Lalu Cak Ayunk pergi ke para jama’ah laki-laki dan saya dipersilakan duduk di deretan jama’ah perempuan. Saya duduk disebelah mbah-mbah yang sepuh enggak muda juga enggak, tengah-tengah lah. Dengan khidmat saya mengikuti serangkaian acara yang entah sudah dimulai dari jam berapa itu. Setelah rapalan doa untuk Mbah Yai selesai, saya mencoba ngobrol dengan nenek di sebelah saya.

“Griyane pundi, Mbah? Asli Cemoro?”
Si mbah yang agak kaget, sambil mendekat ke arah saya lantas menjawab, “Enggeh, nduk e pundi?”
“Kulo Pakis, Mbah.”
“Pakis kulon meriki?”
Saya tahu pasti yang dimaksud Mbah ini adalah Dusun Pakis yang ada di Desa Songgon. Saya mau jawab Pakis Malang tapi kok ya aclak banget. Niatnya guyon, tapi ya masak ngguyoni si embah? Lak kualat saya nanti.
“Sanes, Mbah. Pakis Banyuwangi.”
“Yeeeh, (logat osingnya terlalu, eh terlihat) Banyuwangi? Ya mugi-mugi angsal barokahe Mbah Yai ya nduk.”

Honestly, ucapan mbah yang tidak saya tahu namanya ini maknyess di hati, gaes. Saya tidak pernah hadir dalam acara haul seorang tokoh besar seperti ini. Ini pengalaman pertama kali untuk saya. Sejak dulu Cak Ayunk meminta saya untuk bergabung dalam tim penelitian ini, saya sudah merasa menyesal. Kenapa menyesal? Saya menyesal karena bapak dan ibu saya tidak menanamkan ke-NU-an yang kuat. Karena silsilah keluarga saya adalah keluarga NU, namun setelah atuk wafat rasanya nilai-nilai NU itu tidak begitu bersinar. Abah dan ibu hanya menitipkan saya kepada seorang guru ngaji di TPQ Nurul Qomar. Saya diajarkan membaca Al-Qur’an, Barjanji, dan ajaran-ajaran NU yang lain. Saya menjadi sangat marah ketika keluarga memutuskan untuk pindah rumah ke daerah Jurang-Jero. Saya ingat sekali waktu itu saya masih SMP dan kegiatan mengaji sedang seru-serunya, saya sedang semangat-semangatnya menimba ilmu agama kepada guru ngaji saya. Saya marah, kesal, ngambek berhari-hari dengan keputusan bapak dan ibu tersebut. Itu yang akhirnya membuat saya tidak suka dengan no maden.

Rasa penyesalan itu bertambah ketika saya diberi sangu sebuah buku NU oleh Cak Ayunk. Membaca buku yang tebalnya sama seperti rasa sayangku padamu itu semakin membuat saya merasa jauh dari peradaban. Saya merasa keciiiiiiil sekali. Saya merasa bodoh, merasa terasingkan, merasa seperti baru keluar dari dalam gua yang gelap dan engap. Dari buku bersampul hijau itu saya mendapat banyak pengetahuan tentang NU dan segala tetek bengeknya, seperti motivasi berdirinya NU hingga tokoh-tokoh pendiri NU.

Apalagi saat saya, Cak Ayunk dan Cak Ibnu datang ke Lateng untuk bertemu dengan Kiagus Abdul Aziz, putra dari Kiai Saleh. Di rumah kuno itu saya merasa krik krik, nggak tahu harus ngomong dan berbuat apa. Hanya Cak Ayunk dan Cak Ibnu yang sesekali ngobrol dengan Kiagus Aziz. Saya? Ya saya hanya mencatat apa-apa yang diperintahkan oleh Cak Ayunk, dan sekaligus sie dokumentasi. It’s okay, setidaknya saya ada gunanya. Yara gedigu?

Kunjungan ke rumah Kiagus Aziz itu adalah awal pencarian data yang kami lakukan. Bebarapa hari setelahnya kami mencari data ke masjid kiai saleh yang terletak tidak jauh dari rumah Kiagus Aziz. Disana saya juga merasa krik krik (lagi). Cak Ayunk, Cak Ibnu dan Cak Haris memeriksa rak-rak tua dan besar yang ada di dalam masjid tersebut. Di sana terdapat banyak kitab-kitab peninggalan Kiai Saleh. Cak Ayunk membawa beberapa kitab tersebut untuk diperiksa. Saya yang melihat kitab tua dan tebal itu hanya bisa bengong, karena isinya huruf Arab semua. Ya jelas, masa iya sandi morse.

Kejadian di masjid juga sedikit banyak menampar saya. Ketika Cak Ayunk membuka halaman pertama salah satu kitab, beliau menemukan tulisan Arab, tapi plontos (gundul maksudnya), dan dibaca dalam Bahasa Jawa. Saya lupa tulisan apa namanya, Pagon? Pegon? Ah, embuh lah. Memang dasarnya jebolan pesantren sih ya, jadi ilmu Nahwu Sharafnya jempolan. Beliau membaca secara perlahan tulisan tangan yang kita yakini adalah tulisan tangan Kiai Saleh sendiri di halaman awal sebuah kitab. Rangkaian huruf Arab tersebut membuat kita mengerti bahwa kitab tersebut adalah kitabnya orang wahabi, jadi harus hati-hati. Begitu kira-kira isinya …

Akhirnya, saya merasa beruntung dan bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat ini. Saya mendapat banyak pemahaman dari mereka. Dalam proses mencari data mungkin saya memang banyak diam, karena pengetahuan saya tentang NU masih dangkal sekali. Saya lebih memilih untuk banyak mendengarkan, memperhatikan dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

Oh ya, kembali kepada haul Mbah Yai Faqih.

Ini merupakan haul yang ke-63. Hasil dari sowan hari ini, saya akhirnya bisa tahu bahwa cucu buyutnya Mbah Yai Faqih adalah alumni Untag dan kebetulan juga jebolan Fisip. Nggak nyangka, ya? Sama, saya juga. Sebenarnya tidak banyak informasi yang kami dapat hari ini, karena memang bertepatan dengan haul, pasti para informan sedang sibuk meladeni tamu-tamu yang datang.

Saya menjadikan kesibukan penelitian ini sekaligus sebagai wisata religi. Ya gitu, sambil meneliti, sambil wisata religi, hitung-hitung sebagai obat hati, biar nggak gampang sensi. Juga, siapa tahu bisa jadi mantunya Pak Kiayi? Kalau tidak, ya minimal dapat santri. Hahaha …
Sekian, terima kasih …


Tidak ada komentar:

Posting Komentar