Senin, 18 Juli 2016

Jodoh Pasti Bertamu

Obrolan tentang hal-hal receh itu terulang kembali. Kali ini tempat kejadian perkara di atas motor dengan tersangka bapak sendiri. Namun, kali ini pembicaraan kami sehaluan dan saya juga antusias menjelentrehkan semuanya pada bapakku ini.

Saat mengantar saya ke tempat nongkrong saya akhir-akhir ini, abah menanyakan soal pacar (lagi, lagi dan lagi). Saya membiarkan beliau dengan nasihat-nasihatnya dulu, baru kemudian setelah beliau selesai dengan sesinya, saya yang angkat bicara.

Abah bertanya apakah saya punya pacar atau tidak? Kalu punya bilang saja, yang jujur. Perempuan seumur kamu (saya maksudnya) wajar kalau sudah punya pacar, sudah umur 21 tahun. Harapan Abah adalah saya fokus dengan kesibukan saya dulu, fokus dengan pendidikan, karir, baru setelah itu menikah. Abah bilang maksimal menikah umur dua puluh lima.

Diana pun begitu, Bah. Diana bukan perempuan yang nggak punya tujuan hidup. Yang apa-apa dibiarkan seperti air mengalir. Dulu mungkin iya, tapi sekarang setelah semakin dewasa semuanya harus tertata.

Hari ini biarkanlah saya dengan kejombloan yang membuat saya semakin produktif. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang elegan ini. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang membuat saya semakin mantap bahwa pacaran itu perbuatan orang-orang yang merugi. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang semakin lama semakin membuat saya terlihat luar biasa *uhuk

Biarlah ... Biarlah ...

Pesan saya untuk para jomblo hanya satu: "Jomblo Pasti Berlalu"
.
.
Kali ini saya dan abah sepakat tentang usia yang ideal untuk menikah. Berhubung saya adalah perempuan yang memegang teguh himbauan BKKBN, saya akan menikah dibawah usia 25 tahun, dengan izin Tuhan.

Pertanyaannya sekarang adalah: Nikah dengan siapa?

Woles gaes, jodoh pasti bertamu.

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar