Obrolan
tentang hal-hal receh itu terulang kembali. Kali ini tempat kejadian perkara di
atas motor dengan tersangka bapak sendiri. Namun, kali ini pembicaraan kami
sehaluan dan saya juga antusias menjelentrehkan
semuanya pada bapakku ini.
Saat
mengantar saya ke tempat nongkrong saya akhir-akhir ini, abah menanyakan soal
pacar (lagi, lagi dan lagi). Saya membiarkan beliau dengan nasihat-nasihatnya
dulu, baru kemudian setelah beliau selesai dengan sesinya, saya yang angkat
bicara.
Abah
bertanya apakah saya punya pacar atau tidak? Kalu punya bilang saja, yang
jujur. Perempuan seumur kamu (saya maksudnya) wajar kalau sudah punya pacar,
sudah umur 21 tahun. Harapan Abah adalah saya fokus dengan kesibukan saya dulu,
fokus dengan pendidikan, karir, baru setelah itu menikah. Abah bilang maksimal
menikah umur dua puluh lima.
Diana
pun begitu, Bah. Diana bukan perempuan yang nggak punya tujuan hidup. Yang apa-apa
dibiarkan seperti air mengalir. Dulu mungkin iya, tapi sekarang setelah semakin
dewasa semuanya harus tertata.
Hari ini biarkanlah saya dengan kejombloan yang membuat saya semakin produktif. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang elegan ini. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang membuat saya semakin mantap bahwa pacaran itu perbuatan orang-orang yang merugi. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang semakin lama semakin membuat saya terlihat luar biasa *uhuk
Biarlah ... Biarlah ...
Pesan saya untuk para jomblo hanya satu: "Jomblo Pasti Berlalu"
.
.
Kali
ini saya dan abah sepakat tentang usia yang ideal untuk menikah. Berhubung saya
adalah perempuan yang memegang teguh himbauan BKKBN, saya akan menikah dibawah
usia 25 tahun, dengan izin Tuhan.
Pertanyaannya
sekarang adalah: Nikah dengan siapa?
Woles gaes, jodoh pasti bertamu.
Sumber : Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar