Suatu hari saya membuka Instagram dan menemukan sebuah gambar yang membuat saya sedikit mesem-mesem. Tentang seorang wanita dengan pendidikan tinggi namun ujung-ujungnya hanya menjadi ibu rumah tangga.
Well, saya pernah membicarakan hal ini kepada teman-teman perempuan saya. Berbagai macam pendapat dan pandangan mereka tentang hal ini. Ada yang ingin menjadi wanita karir, ada yang ingin menjadi wanita yang bekerja dari rumah (saya nggak tahu apa sebutannya), ada juga yang murni ingin menjadi ibu rumah tangga.
Tentu beda kepala beda isi. Tidak semua orang harus berpikir seperti apa yang kita pikirkan. Tidak semua orang harus bertindak seperti apa yang kita lakukan. Terlepas dari itu semua, kita juga harus menghargai keputusan tiap-tiap individu. Saya rasa komentar "Sekolah tinggi-tinggi kok ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga?" adalah komentar skeptis.
Menjadi ibu rumah tangga yang full time di rumah bukanlah hal yang mudah. Mendidik anak di rumah tidaklah cukup dengan bekal pendidikan ala kadarnya. Alah, jadi IRT ini doang. Diem di rumah, nggak perlu susah mikir, cuma ngandelin tenaga.
Salah. Ibu itu madrasah, sekolah, pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Ibu itu tidak hanya sekedar ngurus dapur, bersih-bersih rumah dan merawat anak. Ada tanggung jawab yang besar di pundaknya.
Saat ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk belajar menjadi orang tua. Saya memiliki adik yang masih balita. Fahri, namanya. Umur Fahri belum genap lima tahun. Di masa pertumbuhannya sekarang, begitu banyak hal-hal yang membuatnya tidak berhenti bertanya. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Dia bertanya kenapa ini begini atau itu begitu.
Melalui Fahri, Tuhan mengajarkan kepada saya untuk melatih rasa sabar. Tidak jarang saya masih suka marah ketika Fahri nakal. Saya masih suka mencubit ketika Fahri tidak mendengarkan kata-kata saya. Padahal, secara psikologis hal seperti itu dapat berdampak pada perilakunya kelak. Jika sudah sadar seperti itu, saya selalu menyesal dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.
Dari kejadian-kejadian yang sudah saya alami tersebut, saya sadar saya masih perlu banyak belajar tentang parenting.
Saya merasa telah gagal sebagai seorang kakak. Saya belum bisa sabar menghadapi Fahri. Perasaan gagal itulah yang akhirnya membuat saya berpikir "Saya masih belum siap jadi seorang ibu."
Saya tidak ingin menjadi seorang ibu yang tidak tahan banting. Seorang ibu yang emosional, suka marah-marah, suka main tangan, tidak sabar, serta hal-hal tercela lainnya. Saya tidak ingin seperti itu.
Jika disuruh memilih antara menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Harapan saya adalah menjadi ibu rumah tangga.
Saya tidak tahu bagaimana Tuhan akan menyiapkan jalan saya kelak. Berakhir menjadi Ibu rumah tangga atau wanita karir dengan tetap merawat anak.
Yang jelas, setiap wanita berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi. Bukan untuk menjadi saingan para lelaki, tetapi untuk membangun generasi.
Maka, seorang wanita tak cukup hanya baik secara jasmani, ia pun harus baik secara rohani.
Semoga saya dan kalian akan menjadi ibu yang baik kelak untuk anak-anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar