Akhirnya tuntas sudah pencarian itu dalam sebuah ikatan
suci pernikahan. She was found him. Sekitar sebelas hingga duabelas tahun yang lalu, dia
adalah teman bermain saya. Sungguh waktu beranjak begitu cepat. Dimulai pada
hari dimana dia datang ke rumah untuk mengantar sebuah undangan pernikahan.
Dari situ saya sadar, dia bukan lagi teman masa kecil saya. Dia telah beranjak
dewasa, bahkan hari ini dia telah menjadi seorang istri.
Saya penah bercerita tentang ketidaksukaan saya terhadap
kehidupan no maden. Gara-gara no maden itu lah akhirnya saya
meninggalkan tempat saya dibesarkan. Meninggalkan teman-teman saya,
meninggalkan mushola tempat saya mengaji, meninggalkan tetangga-tetangga yang
begitu baik terhadap keluarga saya dan tentu meninggalkan kenangan-kenangan
manis maupun pahit di Krasak. Dia adalah salah satu kawan yang begitu dekat dengan
keluarga saya. Namanya Desi. Usia kami beda setahun, kalau tidak salah. Desi
menjadi teman saya bermain sehari-hari di rumah. Dia juga menjadi teman saya
mengaji di Mushola Nurul Qomar. Kami satu sekolah, namun tidak satu angkatan.
Bertahun-tahun hidup di Krasak, akhirnya waktu yang tidak saya inginkan tiba.
Kami sekeluraga harus pindah. Dan saya meninggalkan Desi. Marah, sedih,
jengkel, semua terakumulasi menjadi perasaan yang begitu menyakitkan. Ketika
saya sudah merasa nyaman, kenapa harus ada
momen untuk meninggalkan?
Sejak kepindahan itu saya masih bisa berhubungan dengan
Desi lewat surat. Kami rajin bertukar surat hingga akhirnya kebiasaan berkirim
surat itu terhenti (karena kami sudah pegang ponsel), jadilah akhirnya kami
sms-an. Bagi anak seusia kami waktu itu, jarak antara Pakis dan Kerasak terasa
jauuuh sekali. Jadi hanya sekali dua kali Desi main ke rumah waktu itu. Saya
ingat betul ketika pulang sekolah SMP dia ingin ikut main ke rumah. Akhirnya
saya dan Desi pulang ke Pakis dengan ngontel berdua. Aaah, saya rindu masa-masa
seperti itu.
Desi adalah partner saya dalam segala situasi. Dia adalah
teman main, teman mengaji, teman bolos ngaji, teman tadarusan, teman nyuci baju di kali, teman mandi di kali,
teman ngeledrek dari rumah hingga
Pantai Boom (padahal pamitnya jalan-jalan nggak jauh di sekitar rumah), teman
duet di panggung Maulid Nabi, teman duet saat nari di perayaan kemerdekaan di lapangan Mushola Al-Biru, teman
sepedahan sore-sore, teman blusukan ke kebonan demi sebongkah sawi (singkong), teman
kecek (hujan-hujanan), teman nonton
film india, teman nonton kaset-kasetnya Wafiq Azizah. Ah, semuanya lah. And
I miss that old time. Andai saya tetap bertahan di Krasak hingga hari ini,
mungkin kami menjadi insan yang tidak terpisahkan. Serius loh ini.
Akhirnya, hari ini saya, Ibu
dan Fahri datang ke Krasak. Tempat yang sangat tidak asing bagi kami, kecuali
Fahri. Datang ke Krasak seperti datang kembali ke rumah. Bagaimanapun, daerah
ini adalah tempat saya dibesarkan. Kami memasuki lorong gang yang menjadi saksi
Diana dan Desi kecil berlarian. Semua kenangan-kenangan masa kecil itu
tiba-tiba terputar kembali. Atmosfer bahagia menyeruak kemana-mana. Sampai di
depan rumah pengantin, banyak pasang mata pelabot yang memandang kami dari atas
hingga bawah, lalu kemudian satu di antara mereka berteriak “Mbak Iiiiis .....”. Nah, terjadilah
akhirnya reuni dengan para tetangga itu.
Saya lekas masuk dan menyalami De Mut (Mama Desi). Hingga
akhirnya dipertemukanlah saya dengan penganti wanita. Begitu pintu kamar
pengantin terbuka saya langsung memeluk Desi erat-erat, dan tidak lupa nangis.
Saya memeluk dia erat sekali. Dan nangis
pun semakin menjadi-jadi. Di dalam kamar ternyata juga ada Ayuk dan beberapa
kearabat Desi lainnya. Ayuk juga adalah kawan masa kecil saya, kami. Tidak
kalah erat saya memeluknya. Dan dia semakin cuwantik.
“Yo iyo laaaah, marine.” kata Ayuk.
Nyesel saya muji -__-
Pertemuan hari ini cukup mengobati rasa kangen yang telah
mengendap bertahun-tahun. Lebaran kemarin kami tidak sempat bertemu, karena
ketika saya datang, Desi sedang pergi. Huwaa, akhirnya dia resmi jadi istri.
Dan hal paling membosankan ketika bertamu ke rumah manten
adalah pertanyaan-pertanyaan yang yaaah
cen ngoten lah, kalian tahu sendiri. Berhubung yang melabot adalah dulunya juga
tetangga kita, saya dan Ibu tidak terlalu canggung untuk ngobrol ngalor ngidul. Begitu banyak orang yang pangling
terhadap saya. Apalagi ketika tadi saya bertemu Adon, beliau bilang “Ya Allah, bengen mage cilik saiki wes
semene.” Ya Allah Adon, ya kali saya nggak
gede-gede. Jadi sebenarnya
hari ini tadi adalah hari dimana kami sekalian silaturrahmi dengan para
tetangga kami.
Saya juga bertemu Mbok Du’ah, ahlinya kue seantero Krasak
:D beliau juga bilang “Mari ngene kowe
wes yo?” saya hanya nyengir sambil jawab “Ya pokok e Mbok Du’ah kudu nginep. Hang nggawe jajanek.” Lantas beliau ngakak.
Kembali ke kamar pengantin.
Di dalam kami semua terlibat dalam suasana sukacita luar
biasa. Ketika Desi sedang sibuk menerima tamu, Ayuk memberikan sekuntum mawar
merah muda kepada saya. Saya melotot, tapi kemudian kami tertawa. Saya heran,
datang dari manakah kebiasaan “nyolong
kembang manten” ini? Tidak berhenti di sana, ketika pengantin keluar kamar,
saya, Ayuk dan salah satu teman kemudian menarik secara membabi buta rangkaian
melati yang sudah tidak terpakai. Duuh dasar para jomblo, nggak bisa banget
lihat kembang manten nganggur dikit :D
Dulu,
ketika masih kecil saya sering bertanya dalam hati, “Kamar pengantin itu isinya
gimana, ya? Terus selesai akad, mereka di dalem ngapain?”
Hari
ini semuanya terjawab, gaes. Nggak ada yang namanya romantis-romantisan selesai
akad, nggak ada juga yang namanya rebahan sejenak selesai akad, nggak ada. Yang
ada malah pemandangan kamar pengantin yang berantakan (karena banyak seserahan
berkeliaran di atas ranjang), kamar pengantin yang gerah (karena banyak kerabat
yang masuk dan ingin chit-chat sama
pengantin baru), kamar pengantin yang sumpek (karena banyak atribut-atribut
pengantin), dan yang ada justru teriakan-teriakan kelaparan dari kedua
mempelai. Wkwkwkwk ...
Baiklah.
Selamat menempuh hidup baru Desi dan Sandi. Selamat memasuki kehidupan sebagai
pasangan suami istri. Semoga segera dapat momongan. Wes
lah, nggak perlu pacar-pacaran dulu, toh pacarannya udah bertahun-tahun, wes
tuwuk. Mending cepet kasih saya ponakan *ketawausil
Barakallaahu
laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair ...
![]() |
| Yang tengah cepat nyusul, katanya. |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar