Secara
keseluruhan film ini berhasil membuat saya mulas karena terus tertawa. Dibuka
oleh wajah Om Indro yang bulat dan lucu ketika membawakan berita yang sama
sekali tidak penting. Bahkan sesaat sebelum Om Indro bicara, ada seseorang di
dalam bioskop yang berkomentar “Baru lihat wajahnya saja sudah bikin ketawa.”
Ah
Bapak bisa aja.
Saya
adalah seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga pecinta warkop. Terutama Bapak.
Bapak saya adalah fans sejati film-film Dono, Kasino, Indro. Saya pernah melihat Bapak
nonton film warkop di tv sampai ngakak sejadi-jadinya. Saya yang waktu itu
masih kecil kan jadi bingung kenapa kok Bapak saya bisa ngakak seperti itu. Saya
hanya bisa melototin tivi dengan tetap tidak mengerti apa yang membuat Bapak
seperti itu.
Maklum
lah ya, masih kecil.
Kembali
pada Warkop DKI Reborn. Film ini tetap menyajikan lawakan-lawakan cerdas khas
warkop DKI. Intinya, menonton film ini akan membawa kita pada masa-masa kejayaan
warkop dulu. Ditambah para pemain yang totalitas dan pas.
Vino
Bastian menurut saya adalah pilihan pas untuk memerankan sosok Kasino. Vino cocok
sekali menjadi tokoh yang demen misuh ala Jakartean. Masih ingat peran Vino
dalam film Punk in Love? Nah, misuhnya uapik banget to? Hanya saja disini dia
misuh dengan logat Jawa Timuran. Mau jancuk atau muke gile, He’s play his role well. Hanya saja
tubuh Vino terlalu kekar untuk sosok Om Kasino, menurut saiyyaa …
Untuk
peran Om Indro saya rasa belum dapat gregetnya sih, menurut saiyya loh yaa. Memang
logat dan gaya bicaranya wis pas. Tapi seperti ada sesuatu yang menurut saya
kurang. Apa karena Om Indro yang asli masih ada, jadi saya sulit untuk menerima
bahwa Tora itu Om Indro. But, over all saya suka.
Terakhir.
One and only. Abimanaaaa. Hemmm sayang sudah nikah, #loh. Saya jatuh cinta pada
Abimana sejak dia membintangi film 99 Cahaya di Langit Eropa. Di film itu
Abimana yang dipasangkan dengan aktris favorit saya, Acha, menjadi sosok
laki-laki idaman wanita yang menyejukkan hati, menyejukkan pandangan,
menyejukkan semuanya lah pokoknya, hahaha …
Eh
kok ternyata di film ini belio dapet peran jadi Om Dono. Saat melihat berita
film ini di televisi, saya sempat mikir “Apa iya bisa sama seperti aslinya?”. Sama
jelas tidak, hampir iya. Saat pers conference Abimana bercerita tentang
bagaimana tersiksanya saat ia harus memakai gigi palsu demi agar terlihat sama
dengan almarhum.
Dan
setelah melihat hasilnya pada film Warkop DKI Reborn, benar-benar usaha yang
bagus. Saya nggak ngerti gimana rasanya harus ngomong dengan gigi palsu yang
menyiksa seperti itu, yang jelas pasti merepotkan.
Abimana
juga memainkan perannya dengan sangat baik. Kepolosannya, keluguannya,
kenaifannya, kebaikannya, almarhum sekali. Apalagi kalau sudah memasang wajah melengos, duuuh du ngakak.
Fix
film ini recommended sekali. Bisa ditonton segala usia, eh bisa nggak ya? Soalnya
pas bagian si Bos dan ciwinya lagi ehem di kantor agak gimanaaaa gitu, wkwkwk …
Yang
jelas, menonton film ini dapat menyegarkan pikiran kita yang sedang keruh. Apalagi
bagian behind the scene, lebih parah
lucunya. Dari mulai Vino yang salah menyebut nama, hingga gigi palsu Abimana
yang lepas dari kandangnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar