Sabtu, 10 September 2016

Jangkrik Bos!

Sore ini saya berkesempatan untuk menonton film yang tengah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia Raya. Film humor yang dibuat untuk mengenang tokoh legenda lawak Indonesia, yakni Dono, Kasino, Indro.

Secara keseluruhan film ini berhasil membuat saya mulas karena terus tertawa. Dibuka oleh wajah Om Indro yang bulat dan lucu ketika membawakan berita yang sama sekali tidak penting. Bahkan sesaat sebelum Om Indro bicara, ada seseorang di dalam bioskop yang berkomentar “Baru lihat wajahnya saja sudah bikin ketawa.”
Ah Bapak bisa aja.

Saya adalah seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga pecinta warkop. Terutama Bapak. Bapak saya adalah fans sejati film-film  Dono, Kasino, Indro. Saya pernah melihat Bapak nonton film warkop di tv sampai ngakak sejadi-jadinya. Saya yang waktu itu masih kecil kan jadi bingung kenapa kok Bapak saya bisa ngakak seperti itu. Saya hanya bisa melototin tivi dengan tetap tidak mengerti apa yang membuat Bapak seperti itu.
Maklum lah ya, masih kecil.

Kembali pada Warkop DKI Reborn. Film ini tetap menyajikan lawakan-lawakan cerdas khas warkop DKI. Intinya, menonton film ini akan membawa kita pada masa-masa kejayaan warkop dulu. Ditambah para pemain yang totalitas dan pas.

Vino Bastian menurut saya adalah pilihan pas untuk memerankan sosok Kasino. Vino cocok sekali menjadi tokoh yang demen misuh ala Jakartean. Masih ingat peran Vino dalam film Punk in Love? Nah, misuhnya uapik banget to? Hanya saja disini dia misuh dengan logat Jawa Timuran. Mau jancuk atau muke gile, He’s play his role well. Hanya saja tubuh Vino terlalu kekar untuk sosok Om Kasino, menurut saiyyaa …

Untuk peran Om Indro saya rasa belum dapat gregetnya sih, menurut saiyya loh yaa. Memang logat dan gaya bicaranya wis pas. Tapi seperti ada sesuatu yang menurut saya kurang. Apa karena Om Indro yang asli masih ada, jadi saya sulit untuk menerima bahwa Tora itu Om Indro. But, over all saya suka.

Terakhir. One and only. Abimanaaaa. Hemmm sayang sudah nikah, #loh. Saya jatuh cinta pada Abimana sejak dia membintangi film 99 Cahaya di Langit Eropa. Di film itu Abimana yang dipasangkan dengan aktris favorit saya, Acha, menjadi sosok laki-laki idaman wanita yang menyejukkan hati, menyejukkan pandangan, menyejukkan semuanya lah pokoknya, hahaha …

Eh kok ternyata di film ini belio dapet peran jadi Om Dono. Saat melihat berita film ini di televisi, saya sempat mikir “Apa iya bisa sama seperti aslinya?”. Sama jelas tidak, hampir iya. Saat pers conference Abimana bercerita tentang bagaimana tersiksanya saat ia harus memakai gigi palsu demi agar terlihat sama dengan almarhum.

Dan setelah melihat hasilnya pada film Warkop DKI Reborn, benar-benar usaha yang bagus. Saya nggak ngerti gimana rasanya harus ngomong dengan gigi palsu yang menyiksa seperti itu, yang jelas pasti merepotkan.

Abimana juga memainkan perannya dengan sangat baik. Kepolosannya, keluguannya, kenaifannya, kebaikannya, almarhum sekali. Apalagi kalau sudah memasang wajah melengos, duuuh du ngakak.

Fix film ini recommended sekali. Bisa ditonton segala usia, eh bisa nggak ya? Soalnya pas bagian si Bos dan ciwinya lagi ehem di kantor agak gimanaaaa gitu, wkwkwk …

Yang jelas, menonton film ini dapat menyegarkan pikiran kita yang sedang keruh. Apalagi bagian behind the scene, lebih parah lucunya. Dari mulai Vino yang salah menyebut nama, hingga gigi palsu Abimana yang lepas dari kandangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar