Selasa, 01 November 2016

The Power of PMS

Bukan main kuasa Tuhan atas kami. Hari ini Donat menginap di tempatku. Hari ini juga, sepulang dari seminar #internetBAIK kami menerima “tamu bulanan” bersama-sama. Kenapa chemistry kami hingga pada hal-hal yang intim begini? Menstruasi aja barengan. :D

Baiklah, bisa kalian bayangkan dua perempuan PMS sedang bersama? Jangan coba-coba mendekat jika tidak ingin kena semprot. Saya tidak mengerti kenapa PMS ini identik dengan perasaan marah, kesel, dan sensi.

Seperti yang kami lakukan saat perjalanan dari kampus menuju Perpusda. Begitu banyak pengendara motor maupun mobil yang kena semprot oleh kami berdua. Nggak ngerti sih, padahal mereka juga nggak salah apa-apa, cuma kami aja yang mencari pelampiasan atas kemarahan nggak beralasan ini.

Atau momen yang membuat kami berada pada situasi awkward. Saat kami berdua merasakan sakit karena menstruasi. Kami berdua hanya diam dan merasakan sakit masing-masing. Dari sakit itu kemudian terbit kalimat-kalimat racau yang Donat ucapkan “Wong wedok iki dilep iyo, ngono kok isih dilarani atine.”

Sama seperti kalimat yang pernah saya ucapkan dalam hati saat saya mengalami dilep yang luar biasa menyakitkan. Perempuan itu sakit bulanan iya, sakit melahirkan iya, kenapa kau tambah lagi dengan menyakiti hatinya? *eaaaa

Laki-laki mah nggak pernah tahu gimana rasanya dilep, nggak pernah tahu gimana rasanya melahirkan. Apa? Kejepit reslesting? Itu nggak ada apa-apanya dari rasa sakit karena dilep dan melahirkan. Jadi tolong, jangan kau sakiti hati kami yang lemah lembut ini, ya? *krik krik krik

Oke, sudahlah. Dari tulisan ini, saya tidak akan memberikan tips untuk para laki-laki yang tengah mengahadapi pacarnya yang sedang PMS. Ya jelas, wong saya nggak pernah punya pengalaman kencan sama pacar pas saya lagi PMS, gaes. *hiks

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar