Seharusnya saya menulis ini sudah
lama, sejak tanggal 18 Desember lalu. Tapi tak apa, karena saya menulis
berdasarkan mood. Jadi mohon di
maklumi apabila akhir-akhir ini blog saya jadi sepi. Yang terpenting nggak angker, dah, gitu aja.
Baiklah, 18 Desember lalu saya
mengikuti salah satu acara. Acara seminar. Emm,
bukan. Lebih tepatnya Kongres. Ya, Kongres Ibu Nusantara.
Yup, betul sekali. Ini acara yang diselenggarakan oleh
Hizbut Tahrir Indonesia. Acara tersebut digelar di aula Rumah Sakit Fatimah.
Sehari sebelum acara, Intan mengirim pesan melalui WA. Dia menanyakan apakah
saya free Ahad besok. Waktu itu,
sebenarnya Ahad saya harus ke Gintangan untuk beberapa urusan. Namun, ketika
saya menerima pesan ajakan Intan
yang disertai dengan poster KIN, saya lebih memilih ikut Kongres.
Sejak saya menerima kiriman
poster itu, saya belum tahu bahwa itu adalah acara yang di selenggarakan oleh
HTI. Baru ketika Ahad pagi, saya cek timeline
twitter, saya lihat Kongres Ibu Nusantara menjadi trending topic. Saya penasaran, apa sebenarnya KIN ini? Saya cukup
kaget ketika akun official HTI memproklamirkan acara Kongres Ibu Nusantara.
Perasaan saya tiba-tiba jadi aneh.
Ah, kepalang tanggung. Saya
sudah mandi, sudah rapi, sudah wangi, sudah cantik, masa iya nggak jadi
berangkat? Saya juga menghargai Intan sebagai adik, kawan, sahabat yang sudah
meminta saya untuk datang. Selain karena Intan, saya juga tertarik dengan tema
yang dipaparkan “Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga”. FYI, akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan seminar-seminar
berbau parenting. Kata teman, “Wes wayae kowe iku, Ka.” Iya, waktunya
move on saya, mah.
Akhirnya setelah memantapkan
hati dan pamitan ke Abah (Abah aja, karena Ibu lagi nginap di rumah Mak e) saya
keluar rumah dengan anggunnya. “Jalan?” kata Abah. Lailahaillallah, Fatimah doang masa iya naik pesawat?
Ahad pagi itu jalanan lengang,
saya jalan kaki melewati sisa-sisa kenangan genangan hujan semalam.
Tidak sampai sepuluh menit, saya sampai. Di pelataran rumah sakit saya bisa
melihat Intan yang cantik dengan gamis hitam dan jilbab putihnya. Sayangnya,
Intan nggak bisa melihat saya yang gorgeous ini masuk pelataran rumah
sakit, dia minus. Hmmm -__-
Setelah cipika-cipiki, kami naik ke atas, tempat aula bersemayam. Dari
bawah saya sudah bisa mendengar lagu-lagu islami yang di putar. Saya patut memberikan
apresiasi kepada muslimah-muslimah HTI. Cara mereka menyapa dan mempersilahkan
saya, sungguh luar biasa. Senyum selalu menghiasi wajah mereka. Intinya, mereka
mampu membuat siapa saja betah dan nyaman berada di sisi mereka. Deuuuuuuh, istri-able banget sih Mbak-mbaknya.
Masuk ke aula, aura bahagia
juga menyeruak. Saya pikir sih ini
efek lagu yang di putar. Lagunya enak, bikin betah. Hanya saja saya tidak tahu
judul lagu yang di putar, yang saya tahu penyanyinya Opick.
Saya duduk paling depan. You know me so well, lah ya, nggak suka duduk belakang. Sembari
menunggu acara dimulai, saya membaca handout
yang diberikan oleh panitia di tempat registrasi tadi. Saya sempat
mendokumentasikan cover handout
tersebut dan menjadikannya DP BBM, yang pada akhirnya nanti menjadi bahan
interogasi seseorang.
Setelah membaca selembar dua
lembar bacaan tersebut, saya sedikit mengerti kemana arah Kongres ini nanti
bermuara. Dalam buku bersampul putih itu dijelaskan pokok-pokok permasalahan
yang melanda generasi muda negeri ini. Pergaulan bebas, narkoba, kekerasan
seksual, aborsi, prostitusi, dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Bagaimana
kerusakan generasi kita yang disebabkan oleh persoalan sistemik. Kerusakan
generasi muda hakikatnya disebabkan oleh beberapa faktor yang berjalin
berkelendian, tak bisa dipisahkan. Bukan sekedar masalah keluarga atau pendidikan
saja, melainkan juga melibatkan faktor-faktor lain seperti sosial, ekonomi,
budaya dan politik yang menjadi lingkungan bagi keluarga dan institusi
pendidikan.
Pendidikan menjadi fokus utama
para aktivis HTI untuk dibenahi. Menurut mereka ada tiga pilar yang saling
mendukung dalam dunia pendidikan, yaitu pendidikan di dalam keluarga,
pendidikan di masyarakat (edukasi publik) dan pendidikan dalam institusi
pendidikan. Salah satu pilar itu rapuh, akan berakibat pada kerapuhan secara
keseluruhan dalam sistem pendidikan. Di masa sekarang, tiga pilar itu rapuh,
dan tidak bisa diperbaiki hanya dengan sekedar tambal sulam, melainkan harus
membongkarnya dan membangun ulang dari dasarnya.
Saya terhenyak. Membangun ulang
dari dasarnya? Saya simpan segala rasa penasaran hingga acara dimulai. Jujur
saja, saya mengetahui apa itu HTI, bagaimana tujuan mereka, dan apa ideologi
mereka, sebenarnya belum lama ini. Mungkin saat itu saya duduk di awal semester
tiga. Waktu itu tidak sengaja kami (saya dan seseorang yang saya kenal) ngobrol tentang organisasi mahasiswa
ekstra kampus. Seperti GMNI, PMII, HMI, KAMMI, PII, dan lainnya. Lantas beliau
menyinggung soal HTI. Saya juga nggak
ngerti, dari sekian banyak orang yang
menganggap saya lulusan pondok pesantren, hanya beliau yang bilang saya pantas
jadi kader HTI. Ditambah pula, di Untag tempat saya kuliah hanya ada tiga
bendera yang cukup besar. GMNI, PMII, HMI. Jadi saya kurang paham dengan
ormek-ormek yang biasa hadir di tengah kampus-kampus negeri di kota besar sana.
Akhirnya saya di beri
penjelesan mengenai apa itu HTI dan segala tetek bengeknya. Saya juga pernah
mencari informasi mengenai pendiri HTI dan persebarannya di dunia melalui
internet. Dan lucunya juga, saya sempat mengidolakan salah satu kader HTI yang
menjadi ustadz, hanya karena status-statusnya mengenai islam sangat kekinian.
Apalagi mengenai pacaran, waktu itu saya menjadi perempuan yang merasa memiliki
banyak pendukung. Entah bagaimana ceritanya, saya akhirnya tahu bahwa beliau
adalah kader HTI. Perlahan saya berhenti mengikuti tweet-tweet beliau, yang
saya rasa semakin ekstrim.
Jika mengingat masa-masa itu,
saya bersyukur sekali. Istilahnya, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk
merasakan dan melihat bagaimana mereka. Saya lihat ceramah beliau, saya juga
baca buku karangan beliau. Dari itu semua saya belajar. Pengetahuan tentang
mereka jadi bertambah.
Kembali lagi ke acara KIN. Satu
lagi hal yang patut saya apresiasi kepada HTI. Cara mereka mengorganisir
kegiatan/acara begitu baik. Mereka menyiapkan dengan baik setiap detail
kebutuhan acara. Hanya ada satu hal yang tidak mereka lakukan dengan baik. Molor. Saya rasa hampir semua organisasi
tidak bisa menghindar dari yang namanya molor
ini. Hahaha.
Seorang moderator yang juga
merupakan pegawai di Kemenag mempersilakan ketiga narasumber untuk duduk di
tempat yang telah disediakan. Semuanya perempuan. Mereka mmemanggilnya ustadzah.
Satu seorang guru MTs, dua lainnya praktisi kesehatan. Saya suka narasumber
yang pertama. Beliau adalah guru di salah satu MTs, saya lupa MTs mana, nama
beliau saja saya lupa. -__-
Pembawaannya kalem, cara
menyampaikan materi sangat jelas, guru banget lah pokoknya. Beda lagi pemateri
kedua, gimana ya? Kadang saya kaget sendiri ketika di tengah-tengah penjelasan
beliau meninggikan suara, mirip orang orasi.
“75 juta penduduk yang belum
mendapatkan rumah! Padahal tanah kita ini sangat luas, dan itu diberikan secara
cuma-cuma oleh Allah!”
Saya yang tadi kendor tiba-tiba jadi duduk tegak. Luar
biasa sekali ustadzah kita ini.
Saya ikuti pemaparan hingga sampai
pada pernyataan beliau yang mengeluarkan data bahwa, “Kurang lebih 500 janda
baru lahir di Banyuwangi setiap bulannya.” Oke,
noted. Beliau kembali memaparkan
materi. Menurut beliau salah satu faktor dari kehancuran keluarga adalah solusi
salah arah yang banyak dilakukan orang-orang di negara demokrasi ini. Hari ini
manusia bekerja tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja. Mereka
bekerja untuk mencukupi kepuasan mereka terhadap hal-hal duniawi. Perilaku yang
semakin hedonis membuat wanita juga bekerja/mencari nafkah. Di dalam islam sudah
menjadi kewajiban laki-laki/suami untuk bekerja/mencari nafkah.
Nah, kembali kepada sifat
manusia yang hedonis tadi. Karena kebutuhan yang semakin meningkat, akhirnya
para istri juga ikut bekerja (dengan alasan kesetaraan gender). Ketika si Ibu
saja bekerja, akhirnya si anak juga tak masalah jika ikut bekerja. Begitu
seterusnya. Andai saja negara ini menjadi negara khilafah, pasti tidak akan ada
fenomena-fenomena seperti itu. Istri bekerja, anak bekerja. Hal seperti itu lah
yang akhirnya bermuara pada kehancuran keluarga.
Saya terkesiap ketika slide
selanjutnya di tampilkan. Disana tertulis jelas kalimat “Memberdayakan Perempuan Bukan Solusi”. Karena akan ada berbagai
dampak yang di akibatkan. Pelecehan perempuan meningkat. Perceraian meningkat.
Anak mencari pelarian (miras, narkoba). Problem sosial (kriminalitas)
meningkat.
Bagaimana bisa memberdayakan perempuan bukan solusi
ketika beliau saja telah menunjukkan data bahwa 500 janda baru lahir tiap
bulannya? Lantas mau diapakan para janda-janda ini jika tidak diberdayakan?
Janda itu perempuan, kan? Sekarang begini, tidak ada saya rasa perempuan yang
mau menjadi janda. Setiap perempuan pasti ingin memiliki keluarga yang
harmonis, yang bahagia, sehingga tidak perlu ada perceraian yang mengakibatkan
dirinya janda. Ada banyak faktor perceraian. Nah, ketika sudah jadi janda
seperti itu, lalu perempuan ini tidak memiliki keahlian apa-apa karena tidak
pernah diberdayakan, apa yang akan kita lakukan?
Saya tahu para aktivis HTI
pasti akan menunjukkan saya Pasal 156 Rancangan UUD Khilafah oleh Hizbut Tahrir
yang menyatakan bahwa: Negara menjamin biaya hidup bagi orang yang tidak
memiliki harta dan pekerjaan atau jika tidak ada orang yang wajib menanggung
nafkahnya.
Duh, saya kenapa jadi mikir terlalu jauh dan dalam gini. Mbok ya proposal skripsi aja yang dipikirin dalam-dalam.
Sederhana saja sebenarnya, jika
memang mereka menginginkan negera khilafah berdiri di Indonesia, seharusnya
mereka bisa memberi contoh dulu. Lha
untuk apa ceramah tentang perempuan tidak boleh bekerja tapi mereka sendiri (narasumber)
adalah apoteker dan guru?
Omong-omong, terimakasih atas
ilmunya hari itu. Terimakasih juga Intan yang telah sudi mengajak saya ke
acaranya. Saya belajar lagi, wawasan saya bertambah lagi. Saya tertarik loh dengan HTI, seriusan. Tapi saya nggak
siap kalau harus ngelus dodo all day long.
Lain kali saja, yaa. Lagi pula
kepribadian saya yang njelimet ini nggak cocok dengan kalian yang sungguh
anggun indah mempesona. Wis lah, saya
jadi warga Nahdliyin ajah.
Heuheueheueheu ...



huehue.. Cukup gagal paham juga sih, hidup Nahdliyin..
BalasHapusWkwkwkwk, pantang tanya sebelum baca, Mas. :)
HapusHidup Nahdliyin. :D