Jumat, 30 Desember 2016

Terimakasih, HTI

Seharusnya saya menulis ini sudah lama, sejak tanggal 18 Desember lalu. Tapi tak apa, karena saya menulis berdasarkan mood. Jadi mohon di maklumi apabila akhir-akhir ini blog saya jadi sepi. Yang terpenting nggak angker, dah, gitu aja.

Baiklah, 18 Desember lalu saya mengikuti salah satu acara. Acara seminar. Emm, bukan. Lebih tepatnya Kongres. Ya, Kongres Ibu Nusantara.

Yup, betul sekali. Ini acara yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Acara tersebut digelar di aula Rumah Sakit Fatimah. Sehari sebelum acara, Intan mengirim pesan melalui WA. Dia menanyakan apakah saya free Ahad besok. Waktu itu, sebenarnya Ahad saya harus ke Gintangan untuk beberapa urusan. Namun, ketika saya menerima pesan ajakan Intan yang disertai dengan poster KIN, saya lebih memilih ikut Kongres.

Sejak saya menerima kiriman poster itu, saya belum tahu bahwa itu adalah acara yang di selenggarakan oleh HTI. Baru ketika Ahad pagi, saya cek timeline twitter, saya lihat Kongres Ibu Nusantara menjadi trending topic. Saya penasaran, apa sebenarnya KIN ini? Saya cukup kaget ketika akun official HTI memproklamirkan acara Kongres Ibu Nusantara. Perasaan saya tiba-tiba jadi aneh.
Ah, kepalang tanggung. Saya sudah mandi, sudah rapi, sudah wangi, sudah cantik, masa iya nggak jadi berangkat? Saya juga menghargai Intan sebagai adik, kawan, sahabat yang sudah meminta saya untuk datang. Selain karena Intan, saya juga tertarik dengan tema yang dipaparkan “Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga”. FYI, akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan seminar-seminar berbau parenting. Kata teman, “Wes wayae kowe iku, Ka.” Iya, waktunya move on saya, mah.

Akhirnya setelah memantapkan hati dan pamitan ke Abah (Abah aja, karena Ibu lagi nginap di rumah Mak e) saya keluar rumah dengan anggunnya. “Jalan?” kata Abah. Lailahaillallah, Fatimah doang masa iya naik pesawat?
 
Ahad pagi itu jalanan lengang, saya jalan kaki melewati sisa-sisa kenangan genangan hujan semalam. Tidak sampai sepuluh menit, saya sampai. Di pelataran rumah sakit saya bisa melihat Intan yang cantik dengan gamis hitam dan jilbab putihnya. Sayangnya, Intan nggak bisa melihat saya yang gorgeous ini masuk pelataran rumah sakit, dia minus. Hmmm -__-

Setelah cipika-cipiki, kami naik ke atas, tempat aula bersemayam. Dari bawah saya sudah bisa mendengar lagu-lagu islami yang di putar. Saya patut memberikan apresiasi kepada muslimah-muslimah HTI. Cara mereka menyapa dan mempersilahkan saya, sungguh luar biasa. Senyum selalu menghiasi wajah mereka. Intinya, mereka mampu membuat siapa saja betah dan nyaman berada di sisi mereka. Deuuuuuuh, istri-able banget sih Mbak-mbaknya.

Masuk ke aula, aura bahagia juga menyeruak. Saya pikir sih ini efek lagu yang di putar. Lagunya enak, bikin betah. Hanya saja saya tidak tahu judul lagu yang di putar, yang saya tahu penyanyinya Opick.

Saya duduk paling depan. You know me so well, lah ya, nggak suka duduk belakang. Sembari menunggu acara dimulai, saya membaca handout yang diberikan oleh panitia di tempat registrasi tadi. Saya sempat mendokumentasikan cover handout tersebut dan menjadikannya DP BBM, yang pada akhirnya nanti menjadi bahan interogasi seseorang.

Setelah membaca selembar dua lembar bacaan tersebut, saya sedikit mengerti kemana arah Kongres ini nanti bermuara. Dalam buku bersampul putih itu dijelaskan pokok-pokok permasalahan yang melanda generasi muda negeri ini. Pergaulan bebas, narkoba, kekerasan seksual, aborsi, prostitusi, dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Bagaimana kerusakan generasi kita yang disebabkan oleh persoalan sistemik. Kerusakan generasi muda hakikatnya disebabkan oleh beberapa faktor yang berjalin berkelendian, tak bisa dipisahkan. Bukan sekedar masalah keluarga atau pendidikan saja, melainkan juga melibatkan faktor-faktor lain seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik yang menjadi lingkungan bagi keluarga dan institusi pendidikan.

Pendidikan menjadi fokus utama para aktivis HTI untuk dibenahi. Menurut mereka ada tiga pilar yang saling mendukung dalam dunia pendidikan, yaitu pendidikan di dalam keluarga, pendidikan di masyarakat (edukasi publik) dan pendidikan dalam institusi pendidikan. Salah satu pilar itu rapuh, akan berakibat pada kerapuhan secara keseluruhan dalam sistem pendidikan. Di masa sekarang, tiga pilar itu rapuh, dan tidak bisa diperbaiki hanya dengan sekedar tambal sulam, melainkan harus membongkarnya dan membangun ulang dari dasarnya.

Saya terhenyak. Membangun ulang dari dasarnya? Saya simpan segala rasa penasaran hingga acara dimulai. Jujur saja, saya mengetahui apa itu HTI, bagaimana tujuan mereka, dan apa ideologi mereka, sebenarnya belum lama ini. Mungkin saat itu saya duduk di awal semester tiga. Waktu itu tidak sengaja kami (saya dan seseorang yang saya kenal) ngobrol tentang organisasi mahasiswa ekstra kampus. Seperti GMNI, PMII, HMI, KAMMI, PII, dan lainnya. Lantas beliau menyinggung soal HTI. Saya juga nggak ngerti, dari sekian banyak orang yang menganggap saya lulusan pondok pesantren, hanya beliau yang bilang saya pantas jadi kader HTI. Ditambah pula, di Untag tempat saya kuliah hanya ada tiga bendera yang cukup besar. GMNI, PMII, HMI. Jadi saya kurang paham dengan ormek-ormek yang biasa hadir di tengah kampus-kampus negeri di kota besar sana.

Akhirnya saya di beri penjelesan mengenai apa itu HTI dan segala tetek bengeknya. Saya juga pernah mencari informasi mengenai pendiri HTI dan persebarannya di dunia melalui internet. Dan lucunya juga, saya sempat mengidolakan salah satu kader HTI yang menjadi ustadz, hanya karena status-statusnya mengenai islam sangat kekinian. Apalagi mengenai pacaran, waktu itu saya menjadi perempuan yang merasa memiliki banyak pendukung. Entah bagaimana ceritanya, saya akhirnya tahu bahwa beliau adalah kader HTI. Perlahan saya berhenti mengikuti tweet-tweet beliau, yang saya rasa semakin ekstrim.

Jika mengingat masa-masa itu, saya bersyukur sekali. Istilahnya, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan dan melihat bagaimana mereka. Saya lihat ceramah beliau, saya juga baca buku karangan beliau. Dari itu semua saya belajar. Pengetahuan tentang mereka jadi bertambah.
Kembali lagi ke acara KIN. Satu lagi hal yang patut saya apresiasi kepada HTI. Cara mereka mengorganisir kegiatan/acara begitu baik. Mereka menyiapkan dengan baik setiap detail kebutuhan acara. Hanya ada satu hal yang tidak mereka lakukan dengan baik. Molor. Saya rasa hampir semua organisasi tidak bisa menghindar dari yang namanya molor ini. Hahaha.

Seorang moderator yang juga merupakan pegawai di Kemenag mempersilakan ketiga narasumber untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Semuanya perempuan. Mereka mmemanggilnya ustadzah. Satu seorang guru MTs, dua lainnya praktisi kesehatan. Saya suka narasumber yang pertama. Beliau adalah guru di salah satu MTs, saya lupa MTs mana, nama beliau saja saya lupa. -__-
Pembawaannya kalem, cara menyampaikan materi sangat jelas, guru banget lah pokoknya. Beda lagi pemateri kedua, gimana ya? Kadang saya kaget sendiri ketika di tengah-tengah penjelasan beliau meninggikan suara, mirip orang orasi.

“75 juta penduduk yang belum mendapatkan rumah! Padahal tanah kita ini sangat luas, dan itu diberikan secara cuma-cuma oleh Allah!”

Saya yang tadi kendor tiba-tiba jadi duduk tegak. Luar biasa sekali ustadzah kita ini.

Saya ikuti pemaparan hingga sampai pada pernyataan beliau yang mengeluarkan data bahwa, “Kurang lebih 500 janda baru lahir di Banyuwangi setiap bulannya.” Oke, noted. Beliau kembali memaparkan materi. Menurut beliau salah satu faktor dari kehancuran keluarga adalah solusi salah arah yang banyak dilakukan orang-orang di negara demokrasi ini. Hari ini manusia bekerja tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja. Mereka bekerja untuk mencukupi kepuasan mereka terhadap hal-hal duniawi. Perilaku yang semakin hedonis membuat wanita juga bekerja/mencari nafkah. Di dalam islam sudah menjadi kewajiban laki-laki/suami untuk bekerja/mencari nafkah.

Nah, kembali kepada sifat manusia yang hedonis tadi. Karena kebutuhan yang semakin meningkat, akhirnya para istri juga ikut bekerja (dengan alasan kesetaraan gender). Ketika si Ibu saja bekerja, akhirnya si anak juga tak masalah jika ikut bekerja. Begitu seterusnya. Andai saja negara ini menjadi negara khilafah, pasti tidak akan ada fenomena-fenomena seperti itu. Istri bekerja, anak bekerja. Hal seperti itu lah yang akhirnya bermuara pada kehancuran keluarga.

Saya terkesiap ketika slide selanjutnya di tampilkan. Disana tertulis jelas kalimat “Memberdayakan Perempuan Bukan Solusi”. Karena akan ada berbagai dampak yang di akibatkan. Pelecehan perempuan meningkat. Perceraian meningkat. Anak mencari pelarian (miras, narkoba). Problem sosial (kriminalitas) meningkat.

Bagaimana bisa memberdayakan perempuan bukan solusi ketika beliau saja telah menunjukkan data bahwa 500 janda baru lahir tiap bulannya? Lantas mau diapakan para janda-janda ini jika tidak diberdayakan? Janda itu perempuan, kan? Sekarang begini, tidak ada saya rasa perempuan yang mau menjadi janda. Setiap perempuan pasti ingin memiliki keluarga yang harmonis, yang bahagia, sehingga tidak perlu ada perceraian yang mengakibatkan dirinya janda. Ada banyak faktor perceraian. Nah, ketika sudah jadi janda seperti itu, lalu perempuan ini tidak memiliki keahlian apa-apa karena tidak pernah diberdayakan, apa yang akan kita lakukan?

Saya tahu para aktivis HTI pasti akan menunjukkan saya Pasal 156 Rancangan UUD Khilafah oleh Hizbut Tahrir yang menyatakan bahwa: Negara menjamin biaya hidup bagi orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan atau jika tidak ada orang yang wajib menanggung nafkahnya.

Duh, saya kenapa jadi mikir terlalu jauh dan dalam gini. Mbok ya proposal skripsi aja yang dipikirin dalam-dalam.

Sederhana saja sebenarnya, jika memang mereka menginginkan negera khilafah berdiri di Indonesia, seharusnya mereka bisa memberi contoh dulu. Lha untuk apa ceramah tentang perempuan tidak boleh bekerja tapi mereka sendiri (narasumber) adalah apoteker dan guru?

Omong-omong, terimakasih atas ilmunya hari itu. Terimakasih juga Intan yang telah sudi mengajak saya ke acaranya. Saya belajar lagi, wawasan saya bertambah lagi. Saya tertarik loh dengan HTI, seriusan. Tapi saya nggak siap kalau harus ngelus dodo all day long. Lain kali saja, yaa. Lagi pula kepribadian saya yang njelimet ini nggak cocok dengan kalian yang sungguh anggun indah mempesona. Wis lah, saya jadi warga Nahdliyin ajah. Heuheueheueheu ...


2 komentar:

  1. huehue.. Cukup gagal paham juga sih, hidup Nahdliyin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk, pantang tanya sebelum baca, Mas. :)
      Hidup Nahdliyin. :D

      Hapus