Semalam entah mengapa tiba-tiba saya mengeluarkan uneg-uneg yang sudah menggumpal di dalam
hati. Saya menumpahkannya dalam sebuah status di salah satu media sosial saya (facebook). Dan hasilnya seperti yang
telah saya duga. Kontroversial. Ada yang menduga saya marah-marah lantas
menyayangkan sikap saya, ada yang ngadem-ngadem
saya, ada yang bilang saya ngamuk
elegan, ada juga yang malah memberi saya gelar motivator perempuan abad ini
macam Cak Ayunk. -__-
Saya tipikal orang yang selalu “saring sebelum sharing” (itu sekarang, dulu mah kagak, nulis status
ya nulis aja, sampai akhirnya facebook memiliki fitur share kenangan yang bikin
kita sadar betapa alay-nya kita dulu). Sebelum menekan tombol post, saya baca lagi status saya
berulang-ulang. Hapus, ketik, hapus, ketik, begitu seterusnya hingga tiga puluh
menit berlangsung. Saya harus bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang
telah saya tulis. Saya harus siap menerima semua konsekuensi dari apa yang saya
utarakan. Seperti status saya itu contohnya.
Ya, status tersebut adalah sebuah protes, sebuah
ungkapan, sebuah suara yang hendak saya sampaikan kepada “mereka” yang berada
di dalam organisasi tersebut. Sebuah organisasi yang saya ikuti dari awal
pembentukan. Sebuah organisasi dimana mereka yang ada di dalamnya adalah
panutan. Sebuah organisasi yang dalam proses berkembangnya mendapat begitu
banyak cobaan.
Dulu, kami berikrar untuk selalu istiqomah bagaimanapun
keadaan di depan. Kami berikrar untuk bersama merangkak dari titik nol sebuah
perjuangan. Kami berikrar untuk tetap menjadikan organisasi ini wadah dalam
menyebarkan kebaikan. Dua tahun saya berproses bersama mereka. Suka dan duka,
jatuh dan bangun, penolakan, pengucilan, tak dapat dukungan, semua sudah khatam
kami rasakan. Adakah kami menyerah? Tidak. Kami tak pernah mundur barang
sesenti saja. Segala macam reaksi tersebut menjadikan kami lebih kuat, mandiri,
serta kompak. Perasaan senasib sepenanggungan lah yang membuat kami tetap satu.
Kami yang haus akan ilmu agama, haus akan siraman-siraman rohani, haus akan
ilmu yang datang dari majelis-majelis taklim, menuntut agar rasa haus tersebut
segera dituntaskan. Hingga akhirnya disinilah kami. Mencoba menimbulkan oasis
di antara gegap gempita duniawi.
Saya heran dengan mereka yang selalu menentang keberadaan
kami. Mengapa? Adakah yang salah? Kami bukan organisasi yang akan mengirimkan
anggota-anggotanya untuk berjihad dengan kelompok ISIS di Suriah sana. Kami
bukan segerombolan pemuda radikal yang akan mencuci otak anggota-anggotanya
dengan kaidah yang salah. Kami bukanlah organisasi yang akan menimbulkan
kekacauan di muka bumi ini sehingga harus dilenyapkan dari peredaran. Sebagian
besar dari kami adalah pemuda-pemudi beraqidah Islam menurut faham ahlusunnah wal jama’ah. Kami tidak
berbahaya. Mereka yang menentang kami belum pernah merasakan duduk bersama
dengan kami. Mereka tidak tahu apa yang kami diskusikan ketika kumpul bersama.
Mungkin mereka pikir kami akan membahas issue-issue
kelas berat yang akan membuat kepala botak. Padahal tidak sama sekali. Andai
mereka tahu bahwa kami selalu membahas hal-hal sederhana yang tetap bermakna. Tanya jawab seputar
kerohanian yang selalu diselipkan canda tawa. Andai mereka mau tahu, mereka
tidak akan segan untuk bersama menuntut ilmu.
Tapi mereka tak mau tahu, yang mereka mau hanya
organisasi ini harus bubar. Saya ingat ketika pertama kali kami mengadakan
acara besar, tidak banyak harapan yang bisa kami gantungkan kepada para
penguasa. Kesana kemari membawa alamat mencari sponsor, hingga acara
dapat berjalan dan mendapat banyak notice
dari berbagai kalangan. Saya juga masih ingat, selesai acara tersebut ada
beberapa mahasiswa yang antusias bergabung bersama kami. Mereka heran, ternyata
ada juga organisasi seperti kami di kampus merah putih ini. Ada juga mereka
yang telah lama menantikan munculnya organisasi seperti yang kami inisiasi.
Semua itu proses. Proses pembentukan, branding diri, hingga akhirnya di notice banyak orang. Akhirnya hari ini,
semau apapun orang-orang menolak kami, kami sudah terlanjur dikenal. Semau apapun
orang-orang tak acuh terhadap kami, kami sudah terlanjur terkenal.
Namun, semua ikrar itu rasanya menjadi sulit ketika tak
pernah lagi ada muhasabah diri. Semua ikrar itu menjadi sulit ketika ego muncul
dalam masing-masing diri. Dan, semua ikrar itu saling dipertanyakan kini.
Semakin hari kuantitas kami semakin menurun. Tak hanya anggota, rutinitas
berkumpul juga semakin jarang. Dulu, awal-awal terbentuk saya suka sekali
atmosfernya. Terasa sekali bahagianya berkumpul dengan orang-orang yang insyaallah bisa menemani saya untuk
menjaga keistiqomahan. Saya sadar, memang begitulah dinamika berorganisasi. Ada
saat pasang, ada saat surut. Saya tidak merasa menjadi yang paling konsisten
dan istiqomah di organisasi ini, karena memang saya tidak. Namun, setidaknya
saya berusaha untuk tetap berada di koridor. Saya berusaha untuk tetap
profesional. Saya berusaha untuk tetap tidak mencampuradukkan urusan hati
dengan organisasi.
Tidak lantas kemudian saya judge bahwa anggota lain tidak profesional, tidak istiqomah, dan
tidak konsisten, sama sekali tidak. Saya hanya ingin kita mengingat kembali
ikrar kita. Saya hanya ingin organisasi ini tetap ada dan bernafas. Saya hanya
ingin marwah organisasi ini tetap terjaga. Itu saja. Saya tidak masalah mau di
antara sesama anggota ada jalinan asmara atau tidak. Saya tidak masalah, karena
itu manusiawi. Yang saya harapkan hanya satu, berlakulah sebijak mungkin.
Kalian adalah panutan saya, bahkan dapat saya katakan kalian adalah panutan
mahasiswa di kampus kita. Gimana, ya,
jelasinnya. Semakin kesini kok saya semakin tidak bisa
mengekspresikan kata-kata. Saya harap uneg-uneg
saya ini dapat dimengerti oleh semuanya.
Begini, dulu saya sempat ngobrol dengan salah satu
anggota IPNU via media sosial. Beliau berkata anggota organisasi islam itu
memang wajib jomblo, engko lek pacaran
diseneni ketuane, katanya. Pra syarat jadi pimpinan ormas islam itu harus jomblo/single.
Mengapa? Karena jika pemimpinnya itu tidak jomblo/single (dalam hal ini pacaran)
tentu dia tidak akan di dengar oleh umatnya. Memimpin organisasi islam tapi
pacaran? Kan lucu, gaes. Alhamdulillah, ketua kami
terdahulu dan sekarang tidak begitu. Semoga.
Saya memang tidak bisa menuntut semua anggota harus sama
seperti pandangan saya, harus sama seperti prinsip saya, harus ini, harus itu
sama seperti saya, lha memang saya
siapa? Hanya satu yang saya inginkan dan saya minta, bisakah kita semua menahan
sebentar dengan apa yang sedang membuncah di dalam dada? Jatuh cinta itu memang
luar biasa membahagiakan. Kasmaran memang sesuatu yang indahnya susah
didefinisikan. Namun, sekali lagi, tetaplah bijak dan sadar. Jangan sampai
nafsu sesaat membuat kita menjadi pribadi yang tidak pantas lagi dijadikan
panutan. Bersabarlah, diamlah, kendalikan diri sebaik mungkin.
Saya akan sangat respect dengan orang-orang yang terlibat
asmara dalam satu organisasi namun tetap menunjukkan sikap yang bijak serta
profesional. Tidak mencampuradukkan urusan hati dan organisasi. Sekali lagi
seperti yang saya sebut di atas, ini semua tentang marwah organisasi. Saya
bertanggungjawab atas setiap perkataan saya, namun tidak dengan apa yang kalian
pahami. Saya tidak peduli dengan bagaimana pemahaman kalian atas pendapat saya.
Jadi, bisakah kita bersama-sama memulai semuanya lagi?
Menepati ikrar yang telah kita sepakati? Bisa, ya?
![]() |
| Sumber : Words of Wisdom |


Mantapp , saya suka bacanya
BalasHapusTp saya pun merasa , sebagai tukang ngoprak. Mari kembali menjalin . Jangan lupa hari jum'at jam 4 sore 😘😘😘
Terimakasih banyak ya, tukang ngoprak. 😘😘😘
HapusYup, see you Friday.
Keren bacaannya, ibarat makan singkong rebus tanpa minum air kalau kata saya "omongmu empuk tapi nyereti" hahahh sipp 😁
BalasHapusWaduh, berarti butuh kopi iki. 😂😂😂
Hapus