Hhhh … (take a very deep breath). Saya bingung harus memulai tulisan ini dari mana. Saya masih lelah karena
terus-menerus ngelapin air mata dan
ingus di dalam bioskop tadi. Tapi, demi dedikasi saya sebagai penulis blog yang
isinya hanya curhatan nan alay, saya akan menguatkan dan memantapkan hati.
Juga, saya harus segera menuliskan ini sebelum segala yang ada di kepala saya
musnah entah kemana.
Hari ini saya nonton Surga Yang Tak
Dirindukan 2 bersama Inda. Belajar dari kesalahan-kesalahan di masa yang lalu,
saya pesan tiket dengan nomor kursi D09 dan D10. Pas, tidak terlalu depan juga
tidak terlalu belakang. Saya tidak bisa membayangkan jika hari ini saya tidak
pesan tiket terlebih dahulu. Secara kami sampai parkiran bioskop pukul 15.29,
belum waktu yang kami tempuh untuk berjalan ke dalam bioskop, belum lagi antri
tiket, belum lagi ini, belum lagi itu. Padahal jadwal tayang film pukul 15.30. Duh, bisa-bisa Mas Pras sudah nyusulin Mbak Arini ke Budapest.
Ini bukan tulisan resensi, karena saya
bukan penulis resensi. Saya hanya akan mengulas film SYTD2 ini dengan versi
saya. Jadi kalau tulisan ini mengandung unsur alay, lebay, baper, nggak
penting, mohon dimaklumi, gaes.
Sejak kemunculan SYTD yang pertama, saya
sudah sangat excited. Baru kali ini
rasa ketertarikan saya begitu besar terhadap sebuah film hingga membuat saya
rela masuk bioskop. Saya tidak tahu jelas apa alasannya. Apakah karena alur
cerita? Atau karena para pemainnya? Yang jelas, dua perpaduan itu –alur cerita
dan para pemain– merupakan magnet tersendiri bagi saya. Lalu, entah kapan saya
mengetahui bahwa Bunda Asma tengah mempersiapkan SYTD2. Saya agak murung.
Mengapa harus ada SYTD2? Kisah apa lagi yang akan terjadi di SYTD yang kedua?
Rasa was-was itu terbayar hari ini (meskipun harus diundur selama hampir dua bulan, karena perubahan jadwal tayang).
Susah dijelaskan, gaes. Rasa sesak,
sakit, nggak terima, nggak ikhlas. Kan, alay, kan. Padahal hanya film. Akhir
cerita yang membuat saya melongo
saking nggak percayanya. Akhir cerita yang membuat saya dan mbak-mbak sebelah
saya (bukan Inda) nangis kejer saking nggak terimanya.
SYTD2 ini memang berbeda. Mulai dari
para pemain hingga latar tempat yang digunakan. Keterlibatan Acho dalam SYTD2
memberikan warna tersendiri. Acho yang berperan sebagai Panji Asmara Bangun
(guide Arini selama di Budapest, dan juga orang yang maniak sekali dengan batu
akik) selalu membuat saya ngakak
sejak dalam scene awal dia muncul di layar. Setiap kali ada adegan Panji, saya
selalu tertawa. Dan menurut saya, SYTD2 ini memberikan lebih banyak sisi humor
yang cukup membuat saya ngakak dalam
tangis. Jadi begini, ketika ada adegan yang bikin mewek, entah saat Arini di diagnosis kanker, atau saat Nadia
mendongeng di bangsal rumah sakit, setelahnya akan selalu ada adegan humor.
Seperti munculnya Panji ataupun Amran. Dua makhluk ajaib ini selalu saja
merubah tangis jadi tawa. Saya yang belum kelar nangis selalu ngakak
ketika mereka muncul. Jadilah akhirnya, ngakak
dalam tangis. Kehadiran mereka –Panji, Amran, Hartono– layaknya segelas kecil
air gula setelah meminum segelas besar jamu pahit.
Memilih Budapest sebagai latar tempat
film merupakan langkah yang sangat bagus. Budapest adalah kota terbesar di Hongaria
yang terdiri dari Kota Buda dan Kota Pest. Dua kota itu dipisahkan oleh sungai
yang saya lupa apa namanya. Dan dibangunlah jembatan yang akhirnya menghubungkan
Buda dan Pest. Dari SYTD2 ini kita juga sedikit banyak mengetahui bagaimana
perkembangan Islam di Budapest. Budapest dulu pernah menjadi pusat kejayaan
Turki. Setelah kekaisaran Ottoman tumbang, Budapest berkembang menjadi kerajaan
yang cukup disegani di Eropa Tengah. Tidak salah apabila begitu banyak
peninggalan Turki yang tersisa disana. Saya selalu menyukai film dengan latar
tempat yang penuh dengan sejarah perkembangan Islam. Istanbul, Kairo,
Andalusia, Budapest, Vienna, tempat-tempat yang penuh akan sejarah.
Dalam SYTD2 juga ada dr. Syarief
–diperankan oleh Reza Rahadian– yang kalau kata Fedi Nuril –dalam setiap press conference SYTD2– selalu bilang
bahwa dr. Syarief itu semacam duri dalam daging. Setelah saya menonton filmnya,
saya jadi mikir, bagian mananya yang
jadi duri dalam daging? Saya tidak merasa begitu. Reza Rahadian a.k.a dr. Syarief adalah sosok yang
ditakdirkan untuk mengisi hati saya, duh,
maksudnya Meirose selama ada di Budapest. Tiga tahun Meirose di Budapest, ya kali nggak naksir siapa-siapa. That’s why diciptakanlah dr. Syarief.
Hadirnya dr. Syarief juga merupakan bagian dari proses hidup Meirose yang
membawanya pada pilihan sulit di akhir cerita.
Intinya, gaes, saya sedikit kecewa dengan akhir filmnya. Menurut saya, itu
masih Surga Yang Tak Dirindukan. Surga Yang Dirindukan menurut saya adalah
ketika Mas Pras, Mbak Arini, Nadia hidup bahagia bertiga dan Meirose, dr.
Syarief, Akbar juga hidup bahagia bertiga. Kan,
lagi-lagi, lebay. Plis, deh, Mey. It was
just a movie! Tapi beneran, saya masih baper dan sakit kepala meskipun
sekarang ini saya sudah dirumah. Gimana nggak sakit kepala, coba? Di bagian
hampir menit-menit akhir, adegannya terus menerus menguras air mata. Mulai dari
Mbak Arini yang memohon kepada Mas Pras agar tidak menceraikan Meirose, Meirose
yang bertanya pada Presiden dan Kapolri dr. Syarief, “Sakit apa Mbak Arini, Rief?” sampai adegan
yang mereka –Pras, Arini, Nadia, Meirose– sholat berjamaah. Itu benar-benar
klimaks, bahu saya naik turun demi menahan isak tangis. Saya trauma dengan adegan-adegan
sholat berjamaah (apalagi ada yang sholat dalam keadaan terbaring di ranjang
rumah sakit) karena ujung-ujungnya pasti ada yang meninggal. Masih ingat film
Ayat-Ayat Cinta, kan? Adegan dimana
Mas Fahri, Aisyah dan Maria yang sedang terbaring di ranjang sedang sholat
berjamaah? Akhirnya Maria harus pergi. Dan kali ini adalah Arini yang harus menghembuskan
nafas terakhirnya. Ya Allah Gusti, Tuhan Yang Maha Esa ..... nggak kuat saya,
jebol pertahanan air mata, tumpah kemana-mana. Ingus juga, susah bener
dikendalikan. Nyesel saya nggak bawa kanebo seperti yang disarankan Bang Fedi saat
presscon dulu.
Apalagi di adegan terakhir, ketika dr.
Syarief dan Mas Pras sama-sama memakai setelan jas hitam. Saya sudah dag dig dug serrr, siapa kira-kira satu
di antara mereka yang akan menikahi Meirose? Lha kok ndilalah malah dr. Syarief duduk di kursi undangan, gaes, bukannya di kursi pelaminan. (Eh,
tapi memang nggak ada kursi pelaminan juga, sih. Nikahnya di pinggir pantai
gitu, mantennya cukup berdiri saja)
Saya semakin belingsatan ketika tahu mereka menikah, gaes. Tanya saja Inda, bagaimana ekpresi saya ketika tahu yang
menikah dengan Meirose adalah Mas Pras bukannya dr. Syarief. Saya yakin, waktu
itu Inda malu berat sudah nonton bareng saya.
Akhirnya, saya hanya bisa melunasi rasa
sesak di dada dengan tangisan meskipun lampu studio sudah menyala. Saya duduk
lemas, masih tidak terima, masih nangis
meskipun film sudah selesai. Ada Fitria IPPNU yang saya stop ketika lewat depan
saya, (iya, jadi sebetulnya saya tahu kalau ada Fitria yang duduk jauh di
sebelah saya, hanya saja saya tidak menyapanya ketika datang tadi, selain
karena gelap, saya juga fokus ke film) saya tanya ke dia, “Surga yang dirindukan nggak iku, Fit?” dia jawab tidak, hiks,
samaaaaaa Fit, samaaaaaaaaa .... Pertanyaan yang sama juga sempat saya tanyakan
ke mbak-mbak sebelah saya (yang misek-miseknya
nggak kalah heboh sama saya). Dia hanya senyum. Lah, malah senyum doang. Nanya
bener loh saya, mbak. -___-
Saya pikir-pikir lagi, memang lebih baik
alurnya seperti itu saja. Mbak Arini meninggal. Jadi tidak akan ada Surga
ketiga, Surga keempat, dan Surga-Surga yang lainnya. Dah, cukup sampai dua
aja.Lalu, dalam caption instagramnya, Inda menulis, “Kok ada hati setulus
Arini.”
Ya ada, mbel. Kuwi, gur nang film. :(
Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada partner tetap saya menonton film Surga. Dulu, SYTD yang pertama saya nontonnya juga sama perawan Wiyayu satu itu, sekarang SYTD yang kedua teman nonton saya masih sama saja. Nggak ada peningkatan banget, sih. -__-
Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada partner tetap saya menonton film Surga. Dulu, SYTD yang pertama saya nontonnya juga sama perawan Wiyayu satu itu, sekarang SYTD yang kedua teman nonton saya masih sama saja. Nggak ada peningkatan banget, sih. -__-
![]() |
| Wajah setelah di serang negara air. |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar