Selasa, 14 Februari 2017

Surga Yang (Masih) Tak Dirindukan

Hhhh (take a very deep breath). Saya bingung harus memulai tulisan ini dari mana. Saya masih lelah karena terus-menerus ngelapin air mata dan ingus di dalam bioskop tadi. Tapi, demi dedikasi saya sebagai penulis blog yang isinya hanya curhatan nan alay, saya akan menguatkan dan memantapkan hati. Juga, saya harus segera menuliskan ini sebelum segala yang ada di kepala saya musnah entah kemana.

Hari ini saya nonton Surga Yang Tak Dirindukan 2 bersama Inda. Belajar dari kesalahan-kesalahan di masa yang lalu, saya pesan tiket dengan nomor kursi D09 dan D10. Pas, tidak terlalu depan juga tidak terlalu belakang. Saya tidak bisa membayangkan jika hari ini saya tidak pesan tiket terlebih dahulu. Secara kami sampai parkiran bioskop pukul 15.29, belum waktu yang kami tempuh untuk berjalan ke dalam bioskop, belum lagi antri tiket, belum lagi ini, belum lagi itu. Padahal jadwal tayang film pukul 15.30. Duh, bisa-bisa Mas Pras sudah nyusulin Mbak Arini ke Budapest.

Ini bukan tulisan resensi, karena saya bukan penulis resensi. Saya hanya akan mengulas film SYTD2 ini dengan versi saya. Jadi kalau tulisan ini mengandung unsur alay, lebay, baper, nggak penting, mohon dimaklumi, gaes.

Sejak kemunculan SYTD yang pertama, saya sudah sangat excited. Baru kali ini rasa ketertarikan saya begitu besar terhadap sebuah film hingga membuat saya rela masuk bioskop. Saya tidak tahu jelas apa alasannya. Apakah karena alur cerita? Atau karena para pemainnya? Yang jelas, dua perpaduan itu –alur cerita dan para pemain– merupakan magnet tersendiri bagi saya. Lalu, entah kapan saya mengetahui bahwa Bunda Asma tengah mempersiapkan SYTD2. Saya agak murung. Mengapa harus ada SYTD2? Kisah apa lagi yang akan terjadi di SYTD yang kedua?

Rasa was-was itu terbayar hari ini (meskipun harus diundur selama hampir dua bulan, karena perubahan jadwal tayang). Susah dijelaskan, gaes. Rasa sesak, sakit, nggak terima, nggak ikhlas. Kan, alay, kan. Padahal hanya film. Akhir cerita yang membuat saya melongo saking nggak percayanya. Akhir cerita yang membuat saya dan mbak-mbak sebelah saya (bukan Inda) nangis kejer saking nggak terimanya.

SYTD2 ini memang berbeda. Mulai dari para pemain hingga latar tempat yang digunakan. Keterlibatan Acho dalam SYTD2 memberikan warna tersendiri. Acho yang berperan sebagai Panji Asmara Bangun (guide Arini selama di Budapest, dan juga orang yang maniak sekali dengan batu akik) selalu membuat saya ngakak sejak dalam scene awal dia muncul di layar. Setiap kali ada adegan Panji, saya selalu tertawa. Dan menurut saya, SYTD2 ini memberikan lebih banyak sisi humor yang cukup membuat saya ngakak dalam tangis. Jadi begini, ketika ada adegan yang bikin mewek, entah saat Arini di diagnosis kanker, atau saat Nadia mendongeng di bangsal rumah sakit, setelahnya akan selalu ada adegan humor. Seperti munculnya Panji ataupun Amran. Dua makhluk ajaib ini selalu saja merubah tangis jadi tawa. Saya yang belum kelar nangis selalu ngakak ketika mereka muncul. Jadilah akhirnya, ngakak dalam tangis. Kehadiran mereka –Panji, Amran, Hartono­– layaknya segelas kecil air gula setelah meminum segelas besar jamu pahit.

Memilih Budapest sebagai latar tempat film merupakan langkah yang sangat bagus. Budapest adalah kota terbesar di Hongaria yang terdiri dari Kota Buda dan Kota Pest. Dua kota itu dipisahkan oleh sungai yang saya lupa apa namanya. Dan dibangunlah jembatan yang akhirnya menghubungkan Buda dan Pest. Dari SYTD2 ini kita juga sedikit banyak mengetahui bagaimana perkembangan Islam di Budapest. Budapest dulu pernah menjadi pusat kejayaan Turki. Setelah kekaisaran Ottoman tumbang, Budapest berkembang menjadi kerajaan yang cukup disegani di Eropa Tengah. Tidak salah apabila begitu banyak peninggalan Turki yang tersisa disana. Saya selalu menyukai film dengan latar tempat yang penuh dengan sejarah perkembangan Islam. Istanbul, Kairo, Andalusia, Budapest, Vienna, tempat-tempat yang penuh akan sejarah.

Dalam SYTD2 juga ada dr. Syarief –diperankan oleh Reza Rahadian– yang kalau kata Fedi Nuril –dalam setiap press conference SYTD2– selalu bilang bahwa dr. Syarief itu semacam duri dalam daging. Setelah saya menonton filmnya, saya jadi mikir, bagian mananya yang jadi duri dalam daging? Saya tidak merasa begitu. Reza Rahadian a.k.a dr. Syarief adalah sosok yang ditakdirkan untuk mengisi hati saya, duh, maksudnya Meirose selama ada di Budapest. Tiga tahun Meirose di Budapest, ya kali nggak naksir siapa-siapa. That’s why diciptakanlah dr. Syarief. Hadirnya dr. Syarief juga merupakan bagian dari proses hidup Meirose yang membawanya pada pilihan sulit di akhir cerita.

Intinya, gaes, saya sedikit kecewa dengan akhir filmnya. Menurut saya, itu masih Surga Yang Tak Dirindukan. Surga Yang Dirindukan menurut saya adalah ketika Mas Pras, Mbak Arini, Nadia hidup bahagia bertiga dan Meirose, dr. Syarief, Akbar juga hidup bahagia bertiga. Kan, lagi-lagi, lebay. Plis, deh, Mey. It was just a movie! Tapi beneran, saya masih baper dan sakit kepala meskipun sekarang ini saya sudah dirumah. Gimana nggak sakit kepala, coba? Di bagian hampir menit-menit akhir, adegannya terus menerus menguras air mata. Mulai dari Mbak Arini yang memohon kepada Mas Pras agar tidak menceraikan Meirose, Meirose yang bertanya pada Presiden dan Kapolri dr. Syarief, “Sakit apa Mbak Arini, Rief?” sampai adegan yang mereka –Pras, Arini, Nadia, Meirose– sholat berjamaah. Itu benar-benar klimaks, bahu saya naik turun demi menahan isak tangis. Saya trauma dengan adegan-adegan sholat berjamaah (apalagi ada yang sholat dalam keadaan terbaring di ranjang rumah sakit) karena ujung-ujungnya pasti ada yang meninggal. Masih ingat film Ayat-Ayat Cinta, kan? Adegan dimana Mas Fahri, Aisyah dan Maria yang sedang terbaring di ranjang sedang sholat berjamaah? Akhirnya Maria harus pergi. Dan kali ini adalah Arini yang harus menghembuskan nafas terakhirnya. Ya Allah Gusti, Tuhan Yang Maha Esa ..... nggak kuat saya, jebol pertahanan air mata, tumpah kemana-mana. Ingus juga, susah bener dikendalikan. Nyesel saya nggak bawa kanebo seperti yang disarankan Bang Fedi saat presscon dulu.

Apalagi di adegan terakhir, ketika dr. Syarief dan Mas Pras sama-sama memakai setelan jas hitam. Saya sudah dag dig dug serrr, siapa kira-kira satu di antara mereka yang akan menikahi Meirose? Lha kok ndilalah malah dr. Syarief duduk di kursi undangan, gaes, bukannya di kursi pelaminan. (Eh, tapi memang nggak ada kursi pelaminan juga, sih. Nikahnya di pinggir pantai gitu, mantennya cukup berdiri saja) Saya semakin belingsatan ketika tahu mereka menikah, gaes. Tanya saja Inda, bagaimana ekpresi saya ketika tahu yang menikah dengan Meirose adalah Mas Pras bukannya dr. Syarief. Saya yakin, waktu itu Inda malu berat sudah nonton bareng saya.

Akhirnya, saya hanya bisa melunasi rasa sesak di dada dengan tangisan meskipun lampu studio sudah menyala. Saya duduk lemas, masih tidak terima, masih nangis meskipun film sudah selesai. Ada Fitria IPPNU yang saya stop ketika lewat depan saya, (iya, jadi sebetulnya saya tahu kalau ada Fitria yang duduk jauh di sebelah saya, hanya saja saya tidak menyapanya ketika datang tadi, selain karena gelap, saya juga fokus ke film) saya tanya ke dia, “Surga yang dirindukan nggak iku, Fit?” dia jawab tidak, hiks, samaaaaaa Fit, samaaaaaaaaa .... Pertanyaan yang sama juga sempat saya tanyakan ke mbak-mbak sebelah saya (yang misek-miseknya nggak kalah heboh sama saya). Dia hanya senyum. Lah, malah senyum doang. Nanya bener loh saya, mbak. -___-

Saya pikir-pikir lagi, memang lebih baik alurnya seperti itu saja. Mbak Arini meninggal. Jadi tidak akan ada Surga ketiga, Surga keempat, dan Surga-Surga yang lainnya. Dah, cukup sampai dua aja.Lalu, dalam caption instagramnya, Inda menulis, “Kok ada hati setulus Arini.”
Ya ada, mbel. Kuwi, gur nang film. :(

Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada partner tetap saya menonton film Surga. Dulu, SYTD yang pertama saya nontonnya juga sama perawan Wiyayu satu itu, sekarang SYTD yang kedua teman nonton saya masih sama saja. Nggak ada peningkatan banget, sih. -__-


Wajah setelah di serang negara air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar