Minggu, 05 Februari 2017

Dia (tak benar-benar) Kembali

Dalam bukunya yang berjudul Kata Hati, Bernard Batubara menuliskan, “Masa lalu tak seharusnya kembali, dan memang tak sepantasnya kembali.”

Kalimat itu seharusnya benar. Ya, masa lalu memang tak seharusnya kembali. Masa lalu, meskipun kembali, dia tak akan pernah sama lagi.

Saya tak pernah menyangka akan ada dalam situasi seperti ini. Dia yang saya sebut masa lalu, ternyata datang lagi. Dengan segala kelapangan hati, saya mencoba menghadapi. Tiap kata yang ia ucapkan tak ubahnya ujung belati, melukai apapun yang ia lewati. Saya kembali menerima permintaan maaf, dan saya pun kembali dengan mudahnya memaafkan. Saya pun tidak tahu, apakah saya bisa marah padanya? Apakah saya bisa membencinya? Apakah saya mampu tak acuh padanya? Mengabaikannya?

Setelah sekian lama saya terbiasa tanpa kabar darinya, selalu saja seperti ini. Setelah sekian lama saya terbiasa tak berhubungan dengannya, selalu saja berakhir seperti ini. Kenapa dia kembali? Kenapa dia tak mengabaikan saya saja? Kenapa dia harus kembali?
Dia selalu kembali. Sejauh apapun saya pergi, dia selalu kembali. Kau tahu? Aku bukan tempat singgah yang bisa kau datangi sesuka hati. Aku bukan rest area yang akan kau datangi ketika kau lelah, dan ketika lelahmu hilang, kau pergi.

Saya tidak mengerti, ada apa sebenarnya dengan dirinya? Saya tidak mengerti, kenapa dia melakukannya? Dia selalu kembali dengan cara yang tak disangka-sangka, cara yang tak diduga-duga. Meski begitu, saya tetap bahagia. Bodoh, saya masih saja merasa bahagia.

Saya tahu, dia tak sepenuhnya kembali. Saya tahu, dia tidak benar-benar kembali.

Seperti yang kau katakan dulu, tak ada yang mengetahui apapun, bagaimana besok, esok, dan seterusnya. Ya, betul katamu, semua masih misteri. Kuharap hari ini kau menjalani hidupmu dengan baik, tak kurang suatu apapun.

Kau tahu, diluar sana banyak orang meneriakiku bodoh. Aku bodoh karena tak bisa membencimu. Aku bodoh karena jatuh terlalu dalam. Aku bodoh karena selalu saja memaafkanmu. Dan, aku bodoh karena tak mampu beranjak kemanapun.

Kau tahu, sejak dulu apa yang kuberikan padamu selalu dan akan tetap sama. Aku bodoh karena tak mampu menjagamu dengan baik. Aku bodoh karena menganggap semua akan baik-baik saja. Kau tahu, aku adalah perempuan yang tak mampu dan tak mau berkomitmen. Aku berpikir mungkin karena itu lah kau pergi. Kau pergi karena prinsipku itu.

Masihkah kau memelihara misi gilamu untukku?

Ah, maaf. Kenapa aku bisa se-percaya diri ini? Sudah tentu misi itu mungkin pudar, atau bahkan lenyap tak berbekas. Tak perlu lagi menaruh asa tentang kepemilikanku. Nanti, takdir Tuhan yang akan menjawab segalanya.

Saat ini ada satu hal yang ingin sekali aku tanyakan padamu. Pesan balasanku, mengapa tak kau baca? Adakah dari kalimatku yang menyakiti hatimu? Menyinggung perasaanmu? Jika iya, maafkan aku. Atau, mungkinkah kau lupa bahwa telah mengirim pesan padaku? Atau mungkin memang kau tak membutuhkan balasan?

Kau tahu, aku sudah terlalu lama menunggu. Hingga aku lupa apa yang sebenarnya aku tunggu. Namun begitu, aku tetap tak membencimu.

Sumber : Instagram

Tidak ada komentar:

Posting Komentar