Senin, 27 Februari 2017

Retrouvailles

Pernah dengar istilah Retrouvailles? Retrouvailles adalah perasaan bahagia seseorang setelah sekian lama akhirnya bertemu kembali. Hari ini saya dilanda retrouvailles. 

Pertama saya harus ceritakan dulu siapa orang yang menyebabkan saya terserang retrouvailles seperti ini. Semalam, ketika saya sedang scroll up-down timeline facebook, saya mendapati status seorang kawan lama. Saya menanyakan nomor WA melalui kolom komentar. Setelah dapat, saya segera menghubungi via WA.

Kami bertukar kabar dan kesibukan masing-masing. Dari perbincangan semalam saya tahu bahwa tempat tinggalnya sudah tidak di rumah yang selama ini saya ketahui. Dia sudah pindah ke Rogojampi. Dia adalah salah satu kawan baik saya di SMP. Setelah saya ingat-ingat, pertemuan terakhir kita ya saat di SMP dulu. Selama ini kami hanya bertukar kabar via sosial media, itu pun sangat jarang.
Akhir-akhir ini, dia sering muncul di beranda facebook. Hal yang sangat jarang dia lakukan (dulu). Dari kabar-kabar maya itu lah saya tahu bahwa kehidupannya kini telah berubah. Dia –secara fisik­– memang kawan saya saat SMP, namun –secara rohani– dia telah berbeda dari yang dulu. Kawan saya itu, Annisa, namanya.
Hari ini, saya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan bersama Fahri dan Ibu. Setelah mendapat semua barang yang kami butuhkan, saya pergi ke kasa. Ibu saya dan Fahri menunggu di tempat penitipan barang. Saat sedang menunggu seorang Bapak di depan saya menyelesaikan pembayaran, saya meletakkan keranjang belanja saya di meja kasir. Sudah kebiasaan, saat sedang menunggu seperti itu saya selalu mengedarkan pandang ke sekeliling. Mulai dari melihat Mbak-Mbak kasir yang sedang melaksanakan tugas, melihat pengunjung dengan berbagai macam jenis belanjaan, melihat Mas-Mas petugas keamanan yang enak dilihat, sampai melihat ornamen-ornamen yang terpasang di supermarket tersebut. Ya kadang saya se-nggak penting-ini.
Dan di momen nggak penting itu lah kemudian saya melihat seorang wanita dan pria yang berjalan ke arah Barat, arah pintu keluar. Saya meyakinkan penglihatan saya, bahwa saya tidak salah melihat. Setelah saya yakin bahwa saya tidak salah lihat, saya segera memanggil perempuan tersebut. Nisa baru menoleh di panggilan ketiga. Kami bertemu pandang, dan tersenyum. Saya meninggalkan keranjang belanja saya di meja kasir, lantas berhambur memeluk Nisa.
Baru semalam saya chattingan melalui WA bersama Nisa, siang ini kami malah bertemu di salah satu supermarket. Ada perasaan yang susah dijelaskan, gaes. Bayangkan, semalam chattingan, besok siangnya dipertemukan. Tuhan saya memang Maha Luar Biasa. Akhirnya, terjadilah drama kangen-kangenan di depan Mbak-Mbak kasir, Mas-Mas petugas keamanan, Mas-Mas penjaga barang titipan, serta beberapa pengunjung.
Retrouvailles itu terbayar lunas. Meskipun sebentar, setidaknya kami sudah bertemu. Saya dan Nisa tidak sempat ngobrol panjang lebar. Ada banyak perubahan yang terjadi dalam diri Nisa. Salah satunya, hari ini dia pergi belanja di temani oleh suami. Disitu, ada (juga) perasaan yang susah dijelaskan, gaes.
Annisa memilih menikah muda. Menikah muda bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Siapapun bisa menikah, namun menjalani kehidupan setelah menikah itu lah yang tidak semua orang mampu. *Halah, Mey, kayak yang udah nikah aja.
Dulu, saat mendengar kabar bahwa Nisa menikah, saya tentu terkejut. Nisa adalah salah satu kawan yang menjadi simbol pendiam, lemah, rapuh, dan kekanak-kanakan di kelas. Tentu banyak kawan yang tidak percaya jika Nisa telah menjadi istri orang, di usia yang masih sangat muda. Semalam kami sempat membahas keputusannya untuk menikah di usia muda. Dia bilang, “... salah satunya takut dosa, Mey.”
Saya tersenyum membaca pesan WA tersebut. Saya yakin, Nisa dan suaminya sudah memikirkan baik-baik bagaimana resiko yang akan dihadapi. Saya hanya berdoa agar pernikahan mereka selalu terjaga hingga akhir hayat.
Setelah urusan di kasir selesai, saya menghampiri Ibu dan Fahri yang menunggu di parkiran. Saya masih sempat melihat Nisa yang duduk di boncengan di belakang suami, mereka sudah berada di pos parkir, menuju pintu keluar. Macam di sinetron-sinetron, saya kemudian mesem dan mbatin, “Moga cepat punya momongan, Nis.”

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar