Pernah dengar
istilah Retrouvailles? Retrouvailles adalah perasaan bahagia seseorang
setelah sekian lama akhirnya bertemu kembali. Hari ini saya dilanda retrouvailles.
Pertama saya harus
ceritakan dulu siapa orang yang menyebabkan saya terserang retrouvailles seperti ini. Semalam, ketika saya sedang scroll up-down timeline facebook, saya
mendapati status seorang kawan lama. Saya menanyakan nomor WA melalui kolom
komentar. Setelah dapat, saya segera menghubungi via WA.
Kami bertukar kabar dan kesibukan masing-masing. Dari perbincangan semalam saya tahu bahwa tempat tinggalnya sudah tidak di rumah yang selama ini saya ketahui. Dia sudah pindah ke Rogojampi. Dia adalah salah satu kawan baik saya di SMP. Setelah saya ingat-ingat, pertemuan terakhir kita ya saat di SMP dulu. Selama ini kami hanya bertukar kabar via sosial media, itu pun sangat jarang.
Akhir-akhir ini,
dia sering muncul di beranda facebook.
Hal yang sangat jarang dia lakukan (dulu). Dari kabar-kabar maya itu lah saya
tahu bahwa kehidupannya kini telah berubah. Dia –secara fisik– memang kawan
saya saat SMP, namun –secara rohani– dia telah berbeda dari yang dulu. Kawan saya
itu, Annisa, namanya.
Hari ini, saya
pergi ke salah satu pusat perbelanjaan bersama Fahri dan Ibu. Setelah mendapat
semua barang yang kami butuhkan, saya pergi ke kasa. Ibu saya dan Fahri
menunggu di tempat penitipan barang. Saat sedang menunggu seorang Bapak di
depan saya menyelesaikan pembayaran, saya meletakkan keranjang belanja saya di
meja kasir. Sudah kebiasaan, saat sedang menunggu seperti itu saya selalu
mengedarkan pandang ke sekeliling. Mulai dari melihat Mbak-Mbak kasir yang
sedang melaksanakan tugas, melihat pengunjung dengan berbagai macam jenis
belanjaan, melihat Mas-Mas petugas keamanan yang enak dilihat, sampai melihat
ornamen-ornamen yang terpasang di supermarket tersebut. Ya kadang saya se-nggak
penting-ini.
Dan di momen nggak
penting itu lah kemudian saya melihat seorang wanita dan pria yang berjalan ke
arah Barat, arah pintu keluar. Saya meyakinkan penglihatan saya, bahwa saya
tidak salah melihat. Setelah saya yakin bahwa saya tidak salah lihat, saya
segera memanggil perempuan tersebut. Nisa baru menoleh di panggilan ketiga. Kami
bertemu pandang, dan tersenyum. Saya meninggalkan keranjang belanja saya di
meja kasir, lantas berhambur memeluk Nisa.
Baru semalam saya
chattingan melalui WA bersama Nisa, siang ini kami malah bertemu di salah satu
supermarket. Ada perasaan yang susah dijelaskan, gaes. Bayangkan, semalam chattingan, besok siangnya dipertemukan. Tuhan
saya memang Maha Luar Biasa. Akhirnya, terjadilah drama kangen-kangenan di
depan Mbak-Mbak kasir, Mas-Mas petugas keamanan, Mas-Mas penjaga barang titipan,
serta beberapa pengunjung.
Retrouvailles itu terbayar lunas. Meskipun sebentar, setidaknya kami
sudah bertemu. Saya dan Nisa tidak sempat ngobrol panjang lebar. Ada banyak
perubahan yang terjadi dalam diri Nisa. Salah satunya, hari ini dia pergi
belanja di temani oleh suami. Disitu, ada (juga) perasaan yang susah dijelaskan,
gaes.
Annisa memilih
menikah muda. Menikah muda bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Siapapun bisa
menikah, namun menjalani kehidupan setelah menikah itu lah yang tidak semua
orang mampu. *Halah, Mey, kayak yang udah
nikah aja.
Dulu, saat mendengar
kabar bahwa Nisa menikah, saya tentu terkejut. Nisa adalah salah satu kawan
yang menjadi simbol pendiam, lemah, rapuh, dan kekanak-kanakan di kelas. Tentu banyak
kawan yang tidak percaya jika Nisa telah menjadi istri orang, di usia yang
masih sangat muda. Semalam kami sempat membahas keputusannya untuk menikah di
usia muda. Dia bilang, “... salah satunya takut dosa, Mey.”
Saya tersenyum membaca
pesan WA tersebut. Saya yakin, Nisa dan suaminya sudah memikirkan baik-baik
bagaimana resiko yang akan dihadapi. Saya hanya berdoa agar pernikahan mereka
selalu terjaga hingga akhir hayat.
Setelah urusan di
kasir selesai, saya menghampiri Ibu dan Fahri yang menunggu di parkiran. Saya
masih sempat melihat Nisa yang duduk di boncengan di belakang suami, mereka
sudah berada di pos parkir, menuju pintu keluar. Macam di sinetron-sinetron,
saya kemudian mesem dan mbatin, “Moga cepat punya momongan, Nis.”
![]() |
| Sumber : Google |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar