Kamis, 07 Februari 2019

Remember Me

“Saya tuh orang egois yang ingin ketika saya meninggal nanti, saya diingat.”

Itu sebuah kalimat yang diucapkan oleh salah satu penulis Indonesia dalam sebuah wawancara bersama Mojok, Fiersa Besari. Dia ingin diingat sebagai seorang penulis saat kelak dirinya telah tiada. Sebuah film produksi Pixar Animation Studios, Coco, memberikan perspektif baru kepada kita tentang mengingat seseorang yang telah meninggal.

Coco menceritakan bagaimana kebiasaan orang-orang di sebuah desa kecil di Meksiko menyimpan foto seseorang yang telah meninggal, kemudian melakukan istilahnya jika di Indonesia mungkin pengajian/tahlilan/peringatan dalam rangka mengingat almarhum. Kamu akan dapat melenggang menuju alam baka dengan damai.

Jika tidak ada satu pun manusia di dunia yang mengingatmu, maka arwahmu tidak akan bisa dikenali, dan kamu akan terlupakan, and it hurts. Ini memang hanya film, tapi saya yakin ada banyak pelajaran yang akan membuka mata kita. Bahwa setiap orang memiliki cara mereka sendiri dalam mengingat seseorang yang telah meninggal, menyimpan foto salah satunya. Dan kita tak perlu meributkan kebiasaan-kebiasaan yang beragam itu.

Apa korelasinya dengan kutipan Fiersa Besari tersebut? Saya akan mengawali dengan sebuah pertanyaan: Ingin diingat sebagai apa kelak ketika kita meninggal?

Jika kita ingin diingat sebagai seseorang yang entah bagaimanapun kita menginginkannya, di film Coco mereka ingin diingat agar mereka dapat abadi.

Saat Fiersa mengatakan “Saya tuh orang egois yang ingin ketika saya meninggal nanti, saya diingat.” saya tersenyum. Ternyata saya juga begitu. Saya ingin kelak ketika saya meninggal, saya juga diingat. Ingin diingat sebagai seseorang yang seperti apa saya nanti? Mbuh, nggak tahu. Hahaha. Tapi, ya, gitu. Pokoknya saya ingin diingat.

Entah sebagai perempuan yang suka bacot di twitter. Sebagai perempuan yang suka ngatain laki-laki otak segaris yang suka melabeli perempuan dengan ‘perempuan yang baik tuh blablablablabla’ halaaah, cangkeman! Sebagai perempuan yang ingin patriarki runtuh, HAHAHAHA! Sebagai perempuan yang senang sambat in every single day. Atau sebagai perempuan yang menjadikanmu jatuh sejatuh-jatuhnya dan kau merasa semua wanita di dunia ini baik, kecuali aku.

----------------------------------------------------------Hening------------------------------------------------------------------

Okay, get serious. (padahal dari tadi saya yang becanda, ya?)

Kadang saya sampai pada suatu pemikiran, bagaimana jika kelak saya meninggalkan dunia terlebih dahulu sebelum orang-orang? Bagaimana reaksi mereka? Apa yang akan mereka tulis di sosial media mereka mengenai kepergian saya? Atau jangan-jangan there’s no one care? Mampus lah kau sambal terasi!

Penting banget, ya, saya mikir sampai kesana. Hahaha. Yang jelas, bagaimanapun saya nanti diingat ketika telah meninggal, saya ingin diingat dengan kenangan-kenangan yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar