“Saya tuh orang egois yang ingin
ketika saya meninggal nanti, saya diingat.”
Itu
sebuah kalimat yang diucapkan oleh salah satu penulis Indonesia dalam sebuah
wawancara bersama Mojok, Fiersa Besari. Dia ingin diingat sebagai seorang
penulis saat kelak dirinya telah tiada. Sebuah film produksi Pixar Animation
Studios, Coco, memberikan perspektif baru kepada kita tentang mengingat
seseorang yang telah meninggal.
Coco
menceritakan bagaimana kebiasaan orang-orang di sebuah desa kecil di Meksiko menyimpan
foto seseorang yang telah meninggal, kemudian melakukan istilahnya jika di
Indonesia mungkin pengajian/tahlilan/peringatan dalam rangka mengingat
almarhum. Kamu akan dapat melenggang menuju alam baka dengan damai.
Jika
tidak ada satu pun manusia di dunia yang mengingatmu, maka arwahmu tidak akan
bisa dikenali, dan kamu akan terlupakan, and
it hurts. Ini memang hanya film, tapi saya yakin ada banyak pelajaran yang akan
membuka mata kita. Bahwa setiap orang memiliki cara mereka sendiri dalam
mengingat seseorang yang telah meninggal, menyimpan foto salah satunya. Dan kita
tak perlu meributkan kebiasaan-kebiasaan yang beragam itu.
Apa
korelasinya dengan kutipan Fiersa Besari tersebut? Saya akan mengawali dengan
sebuah pertanyaan: Ingin diingat sebagai apa kelak ketika kita meninggal?
Jika
kita ingin diingat sebagai seseorang yang entah bagaimanapun kita
menginginkannya, di film Coco mereka ingin diingat agar mereka dapat abadi.
Saat
Fiersa mengatakan “Saya tuh orang egois yang ingin ketika saya meninggal nanti,
saya diingat.” saya tersenyum. Ternyata saya juga begitu. Saya ingin kelak
ketika saya meninggal, saya juga diingat. Ingin diingat sebagai seseorang yang
seperti apa saya nanti? Mbuh, nggak
tahu. Hahaha. Tapi, ya, gitu. Pokoknya saya ingin diingat.
Entah
sebagai perempuan yang suka bacot di twitter. Sebagai perempuan yang suka
ngatain laki-laki otak segaris yang suka melabeli perempuan dengan ‘perempuan
yang baik tuh blablablablabla’ halaaah, cangkeman! Sebagai perempuan yang ingin
patriarki runtuh, HAHAHAHA! Sebagai perempuan yang senang sambat in every single day. Atau sebagai perempuan
yang menjadikanmu jatuh sejatuh-jatuhnya dan kau merasa semua wanita di dunia
ini baik, kecuali aku.
----------------------------------------------------------Hening------------------------------------------------------------------
Okay, get
serious. (padahal dari tadi
saya yang becanda, ya?)
Kadang saya sampai pada suatu pemikiran,
bagaimana jika kelak saya meninggalkan dunia terlebih dahulu sebelum
orang-orang? Bagaimana reaksi mereka? Apa yang akan mereka tulis di sosial
media mereka mengenai kepergian saya? Atau jangan-jangan there’s no one care? Mampus lah kau sambal terasi!
Penting banget, ya, saya mikir sampai kesana.
Hahaha. Yang jelas, bagaimanapun saya nanti diingat ketika telah meninggal,
saya ingin diingat dengan kenangan-kenangan yang baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar