Selasa, 17 Maret 2020

Perempuan dan Perhiasan


Tidak sedikit orang yang mengira saya sudah bertunangan atau sudah menikah hanya karena cincin yang melingkar di jari saya. Terakhir insiden “suaminya dinas dimana” yang terjadi ketika saya jadi moderator di sebuah seminar di Poliwangi.

Pak Kusumo (Wakapolresta Banyuwangi) yang menjadi salah satu pembicara pada seminar tersebut sempat menawarkan teh kotak dan kue yang ada di atas meja (aturan mah saya yang nawarin ya, hahaha). Kemudian beliau bertanya pada saya, “Suaminya dinas dimana, mbak?”

Saya yang sedang fokus mendengarkan narasumber lainnya presentasi langsung pecah konsentrasi. Saya dengar, cuma takut salah dengar saja, jadi saya bertanya kembali. Ya kali kan yang ditanya suami orang. Ternyata pertanyaan beliau tetap sama seperti di awal tadi. Alhamdulillah, telinga saya masih berfungsi dengan baik.

“Saya masih single, pak.” jawab saya. “Oh saya kira sudah menikah, soalnya pakai cincin. Apa untuk membatasi yang mau mendekat, ya?”

Saya ketawa, tapi nggak ngakak. Bisa buyar acara kalau saya ngakak. Pernyataan Pak Kusumo yang terakhir agak nggak masuk di alasan saya pakai cincin, sih. Tapi gara-gara pernyataan itu saya jadi kepikiran juga. Boleh juga nih alasan dipakai untuk membentengi diri dari pria-pria pendukung patriarki.

Di usia saya yang hampir setengah abad, minat saya pada kesetaraan gender semakin menguat. Begitu banyak hal yang semakin saya pelajari membuat saya semakin sadar bahwa dunia yang kita tinggali ini memang berjenis kelamin laki-laki. Perempuan seperti tenggelam jauh ke dalam dunia patriarki.

Oleh sebab itu tidak sekali dua kali saya sering buat status mengenai kesetaraan gender. Beberapa waktu yang lalu ada postingan dari ITP yang bilang bahwa kodrat perempuan adalah dikejar. Saya nggak paham ini content creatornya kurang baca atau gimana. Padahal sudah jelas kodrat itu adalah ketetapan Tuhan. Sesuatu yang klean kelan klean semua nggak bisa ubah. Apa itu? Hal-hal biologis. Perempuan punya vagina, punya rahim sehingga bisa mengandung, punya kelenjar susu sehingga bisa memberikan ASI. Laki-laki punya penis, punya jakun, punya sperma. Nah, yang kayak begitu kan nggak bisa kita ubah.

Beda lagi sama sifat-sifat yang dikonstruksi sejak lama, bahwa perempuan itu harus begini harus begitu. Bahwa urusan perempuan itu sudah cukup masak, macak, manak. Wong nyetatus begitu aja udah disindir nggak perlu begitu nanti nggak nikah-nikah. Ya sorry, saya juga nggak bakalan nikah sama laki-laki cupet macam situ. Laki-laki yang masih susah mengerti bahwa kodrat dan gender itu beda.

Nah, celakanya yang beberapa kali dekat ini setipe semua. Mereka tidak begitu peduli dengan isu kesetaraan gender. Kalau diajak diskusi soal relasi kesalingan atau kodrat dan gender suka nggak serius atau berusaha mengalihkan topik. Diskusi hal penting kayak gitu aja nggak bisa serius, gimana mau berumah tangga dengan saya? Udah bener pakai cincin itu aja biar kayak kata Pak Kusumo tadi “membatasi yang mau mendekat”

Balik lagi ke persoalan cincin. Cincin yang melingkar di jari saya ini adalah cincin yang saya beli dari hasil bekerja. Tentu memberikan apresiasi pada diri sendiri karena telah mampu berpenghasilan adalah sesuatu yang wajar. Saya memilih mengalokasikan pendapatan saya pada perhiasan emas. Hitung-hitung sebagai bentuk investasi. Jadi, ketika ada yang bilang kalau saya sudah bertunangan atau sudah menikah hanya gara-gara pakai cincin, saya pingin jawab “Plis, deh. Ini tuh hasil kerja keras saya sendiri. Saya mampu beli cincin nggak perlu nunggu tunangan atau nikah dulu.”

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya memang benar. Kebiasaan saya investasi emas ini sama seperti ibu saat muda dulu. Tiap ada rezeki lebih ibu selalu ke pasar untuk beli emas. Entah kalung, gelang, cincin atau giwang. Menurut beliau itu pilihan paling aman yang bisa diambil.

Oleh sebab itu ketika sekarang saya sudah bisa mencukupi sendiri kebutuhan pribadi saya, ibu selalu mengingatkan untuk beli emas. Nggak perlu yang muahal banget, satu gram dua gram cukup, tapi punya lebih dari satu.

Ya gimana, mau investasi saham atau bitcoin masih nggak paham caranya. Mau investasi properti nggak punya properti juga. Ada properti ngemc, ya kali. Mangkanya investasi emas aja dulu.

Sebenarnya selain alasan investasi, memakai perhiasan (cincin, anting, kalung, gelang, dll) bagi perempuan bisa juga sebagai penambah kepercayaan diri. Saya pernah baca artikel tentang cara perempuan meningkatkan kepercayaan diri. Salah satunya adalah memakai perhiasan.

Setelah dipikir-pikir, saya juga. Saya selalu pakai arloji kecil warna hitam yang saya beli di pasar senggol puasa tahun lalu. Saya nggak bisa melihat lengan saya kosong melompong nggak pakai apa-apa, udah cukup hati aja. Kalau lupa nggak pakai jam tangan paling tidak saya pakai cincin. Kalau lupa pakai cincin paling tidak saya pakai jam tangan. Sudah, dua benda itu yang cukup membuat saya percaya diri. Tapi sebenarnya saya lebih nggak percaya diri kalau nggak pakai jam tangan, sih.

Apalagi kalau ada job ngemc. Printilan-printilan kayak cincin atau jam tangan akan jadi bagian dari support system saya.

Cincin pertama yang saya beli pakai duit sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar