Tidak
sedikit orang yang mengira saya sudah bertunangan atau sudah menikah hanya
karena cincin yang melingkar di jari saya. Terakhir insiden “suaminya dinas
dimana” yang terjadi ketika saya jadi moderator di sebuah seminar di Poliwangi.
Pak
Kusumo (Wakapolresta Banyuwangi) yang menjadi salah satu pembicara pada seminar
tersebut sempat menawarkan teh kotak dan kue yang ada di atas meja (aturan mah
saya yang nawarin ya, hahaha). Kemudian beliau bertanya pada saya, “Suaminya
dinas dimana, mbak?”
Saya
yang sedang fokus mendengarkan narasumber lainnya presentasi langsung pecah
konsentrasi. Saya dengar, cuma takut salah dengar saja, jadi saya bertanya
kembali. Ya kali kan yang ditanya suami orang. Ternyata pertanyaan beliau tetap
sama seperti di awal tadi. Alhamdulillah, telinga saya masih berfungsi dengan
baik.
“Saya
masih single, pak.” jawab saya. “Oh saya kira sudah menikah, soalnya pakai
cincin. Apa untuk membatasi yang mau mendekat, ya?”
Saya
ketawa, tapi nggak ngakak. Bisa buyar acara kalau saya ngakak. Pernyataan Pak
Kusumo yang terakhir agak nggak masuk di alasan saya pakai cincin, sih. Tapi gara-gara
pernyataan itu saya jadi kepikiran juga. Boleh juga nih alasan dipakai untuk
membentengi diri dari pria-pria pendukung patriarki.
Di
usia saya yang hampir setengah abad, minat saya pada kesetaraan gender semakin
menguat. Begitu banyak hal yang semakin saya pelajari membuat saya semakin
sadar bahwa dunia yang kita tinggali ini memang berjenis kelamin laki-laki. Perempuan
seperti tenggelam jauh ke dalam dunia patriarki.
Oleh
sebab itu tidak sekali dua kali saya sering buat status mengenai kesetaraan
gender. Beberapa waktu yang lalu ada postingan dari ITP yang bilang bahwa
kodrat perempuan adalah dikejar. Saya nggak paham ini content creatornya kurang
baca atau gimana. Padahal sudah jelas kodrat itu adalah ketetapan Tuhan. Sesuatu
yang klean kelan klean semua nggak bisa ubah. Apa itu? Hal-hal biologis. Perempuan
punya vagina, punya rahim sehingga bisa mengandung, punya kelenjar susu
sehingga bisa memberikan ASI. Laki-laki punya penis, punya jakun, punya sperma.
Nah, yang kayak begitu kan nggak bisa kita ubah.
Beda
lagi sama sifat-sifat yang dikonstruksi sejak lama, bahwa perempuan itu harus
begini harus begitu. Bahwa urusan perempuan itu sudah cukup masak, macak,
manak. Wong nyetatus begitu aja udah disindir nggak perlu begitu nanti nggak
nikah-nikah. Ya sorry, saya juga nggak bakalan nikah sama laki-laki cupet macam
situ. Laki-laki yang masih susah mengerti bahwa kodrat dan gender itu beda.
Nah,
celakanya yang beberapa kali dekat ini setipe semua. Mereka tidak begitu peduli
dengan isu kesetaraan gender. Kalau diajak diskusi soal relasi kesalingan atau
kodrat dan gender suka nggak serius atau berusaha mengalihkan topik. Diskusi hal
penting kayak gitu aja nggak bisa serius, gimana mau berumah tangga dengan
saya? Udah bener pakai cincin itu aja biar kayak kata Pak Kusumo tadi “membatasi
yang mau mendekat”
Balik
lagi ke persoalan cincin. Cincin yang melingkar di jari saya ini adalah cincin
yang saya beli dari hasil bekerja. Tentu memberikan apresiasi pada diri sendiri
karena telah mampu berpenghasilan adalah sesuatu yang wajar. Saya memilih
mengalokasikan pendapatan saya pada perhiasan emas. Hitung-hitung sebagai
bentuk investasi. Jadi, ketika ada yang bilang kalau saya sudah bertunangan
atau sudah menikah hanya gara-gara pakai cincin, saya pingin jawab “Plis, deh. Ini
tuh hasil kerja keras saya sendiri. Saya mampu beli cincin nggak perlu nunggu
tunangan atau nikah dulu.”
Buah
jatuh tidak jauh dari pohonnya memang benar. Kebiasaan saya investasi emas ini
sama seperti ibu saat muda dulu. Tiap ada rezeki lebih ibu selalu ke pasar
untuk beli emas. Entah kalung, gelang, cincin atau giwang. Menurut beliau itu
pilihan paling aman yang bisa diambil.
Oleh
sebab itu ketika sekarang saya sudah bisa mencukupi sendiri kebutuhan pribadi
saya, ibu selalu mengingatkan untuk beli emas. Nggak perlu yang muahal banget,
satu gram dua gram cukup, tapi punya lebih dari satu.
Ya
gimana, mau investasi saham atau bitcoin masih nggak paham caranya. Mau investasi
properti nggak punya properti juga. Ada properti ngemc, ya kali. Mangkanya investasi
emas aja dulu.
Sebenarnya
selain alasan investasi, memakai perhiasan (cincin, anting, kalung, gelang,
dll) bagi perempuan bisa juga sebagai penambah kepercayaan diri. Saya pernah
baca artikel tentang cara perempuan meningkatkan kepercayaan diri. Salah satunya
adalah memakai perhiasan.
Setelah
dipikir-pikir, saya juga. Saya selalu pakai arloji kecil warna hitam yang saya
beli di pasar senggol puasa tahun lalu. Saya nggak bisa melihat lengan saya
kosong melompong nggak pakai apa-apa, udah cukup hati aja. Kalau lupa nggak
pakai jam tangan paling tidak saya pakai cincin. Kalau lupa pakai cincin paling
tidak saya pakai jam tangan. Sudah, dua benda itu yang cukup membuat saya
percaya diri. Tapi sebenarnya saya lebih nggak percaya diri kalau nggak pakai
jam tangan, sih.
Apalagi
kalau ada job ngemc. Printilan-printilan kayak cincin atau jam tangan akan jadi
bagian dari support system saya.
![]() |
| Cincin pertama yang saya beli pakai duit sendiri |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar