Bisa
karena biasa, benar adanya. Akhir-akhir ini saya sering membenarkan ungkapan
tersebut. Beberapa waktu yang lalu saat siaran jam tujuh, saya mendapati Mas
Andre masih di ruang combo membawakan Aktualita Mandala. Saat suara Mas Ivan
mengudara saya melihat Mas Andre memainkan ponselnya.
Melihat
kejadian tersebut saya tertawa dalam hati. Betapa dulu saya dan Mas Andre
menjadi manusia paling tertib apabila menyangkut urusan aktualita. Dahulu kami
bisa taat aturan rundown dan tidak berkutik saat membawakan acara sakral ini.
Karena Aktualita Mandala butuh konsentrasi penuh agar tidak terjadi kesalahan. Mulai
dari auto yang jangan sampai lupa mematikan, hingga smash aktualita yang kadang
kebablasan.
Awal-awal
siaran aktualita saya benar-benar fokus memperhatikan layar komputer, durasi,
hingga letak jari saya di rise. Tangan
kanan fokus pada mouse, tangan kiri
fokus menaik-turunkan mic. Selesai membaca
lead berita saya seperti terlepas
dari cengkeraman, bisa bernapas lega. Pernah suatu hari kejadian, pas baca lead berita ternyata mic saya belum naik alias belum on. Saya baru sadar ketika melihat lampu
on tidak hidup.
Rasanya
nyut-nyutan, gaes. Kepingin marah tapi ya ngapain. Pernah juga kejadian pas
selesai baca lead, mic-nya nggak diturunin. Beruntung saya
nggak ngomong apa-apa selama berita mengudara, jadinya nggak ada teguran,
hahaha.
Nah,
kalau kejadian-kejadian itu diingat lagi, betapa panjangnya proses yang sudah
kami lalui hingga terbiasa dengan aktualita. Saya pernah ngobrol dengan Mas
Andre, “saiki nek siaran aktualita iso
disambi nyekel hape yo mas, cobak bien.”
Semua
itu dari kebiasaan. Kebiasaan yang terus kita lakukan akan menghasilkan
kemampuan. Nggak mungkin orang jago nyanyi kalau nggak sering latihan. Nggak mungkin
orang jago masak kalau nggak sering masak. Pun sama dengan kegiatan saya di
radio atau kegiatan memandu acara.
Untuk
urusan MC, saya tidak pernah belajar secara profesional. Maksudnya sengaja ikut
pendidikan public speaking atau kelas
MC yang memang ada standarnya. Intinya, saya tidak pernah sekolah MC. Saya
belajar MC ya dari melihat langsung dan nonton youtube. Maya Rachma adalah
salah satu channel yang saya subscribe untuk urusan per-MC-an ini.
Beliau merupakan public speaker
terverifikasi. Satu hal yang membuat saya senang nonton youtube-nya adalah
beliau tidak menggurui. Coba tonton, deh. Story
telling-nya bagus banget. Bicaranya runtut dan rapi, nggak kemesosolen kayak saya, wqwq.
Proses
panjang yang saya lalui ini juga menjadi bekal bagi saya, menjadi ajang
evaluasi juga. Saya bisa nge-MC karena ya memang terbiasa. Jago? Enggak. Sering
juga saya melakukan kesalahan-kesalahan saat nge-MC. Saya pernah ditanya Mbak
Kalis saat beliau ke Banyuwangi tempo hari, “kamu
ngemc2 gitu pernah sekolah mc, dek?” kurang lebih seperti itu
pertanyaannya.
Saya
senang sekali dengan pertanyaan ini, karena di akhir jawaban akan saya berikan
pamungkas (bambaaaaang...) “tapi pingin
banget bisa sekolah MC yang serius”. Kalau ada kesempatan ada dua hal yang
ingin saya lakukan, ikut kelas kepenyiaran radio dan kelas public speaking-nya Pandji Pragiwaksono. Boleh di aamiin-kan.
![]() |
| Source: ngedit dewe via Canva |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar