Kamis, 12 Maret 2020

Bisa Karena Biasa


Bisa karena biasa, benar adanya. Akhir-akhir ini saya sering membenarkan ungkapan tersebut. Beberapa waktu yang lalu saat siaran jam tujuh, saya mendapati Mas Andre masih di ruang combo membawakan Aktualita Mandala. Saat suara Mas Ivan mengudara saya melihat Mas Andre memainkan ponselnya.

Melihat kejadian tersebut saya tertawa dalam hati. Betapa dulu saya dan Mas Andre menjadi manusia paling tertib apabila menyangkut urusan aktualita. Dahulu kami bisa taat aturan rundown dan tidak berkutik saat membawakan acara sakral ini. Karena Aktualita Mandala butuh konsentrasi penuh agar tidak terjadi kesalahan. Mulai dari auto yang jangan sampai lupa mematikan, hingga smash aktualita yang kadang kebablasan.

Awal-awal siaran aktualita saya benar-benar fokus memperhatikan layar komputer, durasi, hingga letak jari saya di rise. Tangan kanan fokus pada mouse, tangan kiri fokus menaik-turunkan mic. Selesai membaca lead berita saya seperti terlepas dari cengkeraman, bisa bernapas lega. Pernah suatu hari kejadian, pas baca lead berita ternyata mic saya belum naik alias belum on. Saya baru sadar ketika melihat lampu on tidak hidup.

Rasanya nyut-nyutan, gaes. Kepingin marah tapi ya ngapain. Pernah juga kejadian pas selesai baca lead, mic-nya nggak diturunin. Beruntung saya nggak ngomong apa-apa selama berita mengudara, jadinya nggak ada teguran, hahaha.

Nah, kalau kejadian-kejadian itu diingat lagi, betapa panjangnya proses yang sudah kami lalui hingga terbiasa dengan aktualita. Saya pernah ngobrol dengan Mas Andre, “saiki nek siaran aktualita iso disambi nyekel hape yo mas, cobak bien.”

Semua itu dari kebiasaan. Kebiasaan yang terus kita lakukan akan menghasilkan kemampuan. Nggak mungkin orang jago nyanyi kalau nggak sering latihan. Nggak mungkin orang jago masak kalau nggak sering masak. Pun sama dengan kegiatan saya di radio atau kegiatan memandu acara.

Untuk urusan MC, saya tidak pernah belajar secara profesional. Maksudnya sengaja ikut pendidikan public speaking atau kelas MC yang memang ada standarnya. Intinya, saya tidak pernah sekolah MC. Saya belajar MC ya dari melihat langsung dan nonton youtube. Maya Rachma adalah salah satu channel yang saya subscribe untuk urusan per-MC-an ini. Beliau merupakan public speaker terverifikasi. Satu hal yang membuat saya senang nonton youtube-nya adalah beliau tidak menggurui. Coba tonton, deh. Story telling-nya bagus banget. Bicaranya runtut dan rapi, nggak kemesosolen kayak saya, wqwq.

Proses panjang yang saya lalui ini juga menjadi bekal bagi saya, menjadi ajang evaluasi juga. Saya bisa nge-MC karena ya memang terbiasa. Jago? Enggak. Sering juga saya melakukan kesalahan-kesalahan saat nge-MC. Saya pernah ditanya Mbak Kalis saat beliau ke Banyuwangi tempo hari, “kamu ngemc2 gitu pernah sekolah mc, dek?” kurang lebih seperti itu pertanyaannya.

Saya senang sekali dengan pertanyaan ini, karena di akhir jawaban akan saya berikan pamungkas (bambaaaaang...) “tapi pingin banget bisa sekolah MC yang serius”. Kalau ada kesempatan ada dua hal yang ingin saya lakukan, ikut kelas kepenyiaran radio dan kelas public speaking-nya Pandji Pragiwaksono. Boleh di aamiin-kan.

Source: ngedit dewe via Canva

Tidak ada komentar:

Posting Komentar