Untuk teman-teman yang sering berada pada posisi seperti ini pasti relate sekali. Seharian kita pasang ekspresi seakan semuanya bisa kita lalui. Semua tekanan, semua beban, semua pekerjaan, seakan tidak membuat kita lelah, seolah kita akan baik-baik saja dengan semua keadaan tersebut.
Seharian kita sudah memikul beban
sendirian dan selalu sok kuat, ketika sampai rumah kita ditanya oleh pasangan
atau orang tua kita “are you okay?” rasanya lutut lemas. Kita berhambur ke
pelukan mereka dan ingin menangis saja, menumpahkan segala keluh kesah.
Komik itu mewakili seluruh
perasaan netizen twitter. Saya menelusuri balasan di kicauan tersebut. Saya
berhenti pada sebuah balasan yang mengubah komik tersebut seperti ini:
Jika saya bisa kicau ulang seribu
kali, pasti akan saya lakukan. Bagi saya pribadi twitter masih menjadi platform
paling nyaman dari semua platform media sosial yang saya miliki. Saya mulai
membuat akun twitter tahun 2012, waktu itu masih SMK. Lebih tepatnya saya
dibuatkan akun oleh kawan baik saya, Intan. Karena waktu itu dia yang lebih
dulu main twitter. Saya ingat betul waktu itu kami membuat akun twitter ini di
bilik warnet. Nama akun twitter saya pun asal-usulnya agak norak. Bukan agak,
tapi memang betul norak, hahaha.
Sejarah nama akun twitter dan
instagram saya itu panjang, meski norak begitu saya tidak ada niatan untuk
mengganti username. Saya hanya berdoa semoga tidak ada oknum yang dengan
sengaja bertanya kenapa username saya meyyshaan, kalau pun ada saya nggak
bakalan cerita. Hahaha.
Twitter adalah media sosial yang
tidak pernah saya coba tinggalkan. Saya sudah pernah puasa instagram sekian
lama, bahkan saya sudah tidak memasang aplikasinya di gawai saya. Facebook pun
sekarang saya jarang sekali akses kecuali saat saya membuka laptop. Twitter
seperti menjadi ruang saya untuk monolog. Berkeluh kesah atas segala keadaan,
sambat istilahnya.
Dari awal saya membuat twitter
saya ikuti semua akun-akun twitter kakak kelas saya. Tetap setia dengan twitter
kendati pengikut saya sedikit sekali. Tapi memang niat saya dari awal membuat
twitter bukan untuk koleksi pengikut, saya mengikuti trend. Tahun dimana saya
membuat akun twitter adalah waktu dimana sedang hype yang namanya facebook dan
twitter. Semua orang berbondong-bondong membuat twitter tapi lantas nggak tahu
buat apa karena merasa tidak seriuh facebook, hingga akhirnya twitter mereka
usang dan ditinggalkan.
Bagi sebagian orang bermain
twitter memang membosankan. Tidak ada interaksi seramai di facebook atau
platform media sosial lainnya. Kalau kita bukan selebtwit ya udah, sepi.
Berbeda dengan jika kita bermain facebook. Justeru hal tersebut yang saya suka
dari twitter, nggak berisik.
Pengikut saya di twitter bisa
saya pastikan sebagian besar bukan orang-orang yang saya kenal di dunia nyata. Sampai
saat saya menulis cerita ini pengikut saya sudah seribu lebih. Butuh delapan
tahun hingga sampai pada angka itu. Tapi, sekali lagi itu hanya angka. Saya saling
mengikuti dengan sejumlah tokoh yang saya kagumi di twitter. Saya bisa
berhubungan baik dengan penulis kesenangan saya juga karena twitter.
Beberapa kali akun saya ramai
gara-gara disamber oleh akun @NUGarisLucu, akun favorit warga nahdliyyin itu
memang jan mbuh. Dulu ketika saya difollback oleh NU garis lucu, saya bungah
setengah modyar. Dan, hamdalah saya belum termasuk dari followers2 yang di
unfoll oleh mereka.
Dari twitter saya belajar banyak
hal. Sekarang banyak utas bagus yang bisa menambah pengetahuan kita. Saya juga
bisa mendapat bahan siaran yang tentunya menarik bagi pendengar. Sebenarnya masih
banyak hal yang membuat saya begitu menyukai twitter, tapi saya nggak bisa
jelaskan panjang lebar. Alias males nulis jadi sampai di sini dulu, ya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar