Sabtu, 06 Juni 2020

ILYSM, Twitter

Beberapa waktu yang lalu ada satu akun yang mengunggah sebuah komik dari miliknya Sundae Kids. Begini penampakan komik tersebut:


Untuk teman-teman yang sering berada pada posisi seperti ini pasti relate sekali. Seharian kita pasang ekspresi seakan semuanya bisa kita lalui. Semua tekanan, semua beban, semua pekerjaan, seakan tidak membuat kita lelah, seolah kita akan baik-baik saja dengan semua keadaan tersebut.

Seharian kita sudah memikul beban sendirian dan selalu sok kuat, ketika sampai rumah kita ditanya oleh pasangan atau orang tua kita “are you okay?” rasanya lutut lemas. Kita berhambur ke pelukan mereka dan ingin menangis saja, menumpahkan segala keluh kesah.

Komik itu mewakili seluruh perasaan netizen twitter. Saya menelusuri balasan di kicauan tersebut. Saya berhenti pada sebuah balasan yang mengubah komik tersebut seperti ini:


Jika saya bisa kicau ulang seribu kali, pasti akan saya lakukan. Bagi saya pribadi twitter masih menjadi platform paling nyaman dari semua platform media sosial yang saya miliki. Saya mulai membuat akun twitter tahun 2012, waktu itu masih SMK. Lebih tepatnya saya dibuatkan akun oleh kawan baik saya, Intan. Karena waktu itu dia yang lebih dulu main twitter. Saya ingat betul waktu itu kami membuat akun twitter ini di bilik warnet. Nama akun twitter saya pun asal-usulnya agak norak. Bukan agak, tapi memang betul norak, hahaha.

Sejarah nama akun twitter dan instagram saya itu panjang, meski norak begitu saya tidak ada niatan untuk mengganti username. Saya hanya berdoa semoga tidak ada oknum yang dengan sengaja bertanya kenapa username saya meyyshaan, kalau pun ada saya nggak bakalan cerita. Hahaha.

Twitter adalah media sosial yang tidak pernah saya coba tinggalkan. Saya sudah pernah puasa instagram sekian lama, bahkan saya sudah tidak memasang aplikasinya di gawai saya. Facebook pun sekarang saya jarang sekali akses kecuali saat saya membuka laptop. Twitter seperti menjadi ruang saya untuk monolog. Berkeluh kesah atas segala keadaan, sambat istilahnya.

Dari awal saya membuat twitter saya ikuti semua akun-akun twitter kakak kelas saya. Tetap setia dengan twitter kendati pengikut saya sedikit sekali. Tapi memang niat saya dari awal membuat twitter bukan untuk koleksi pengikut, saya mengikuti trend. Tahun dimana saya membuat akun twitter adalah waktu dimana sedang hype yang namanya facebook dan twitter. Semua orang berbondong-bondong membuat twitter tapi lantas nggak tahu buat apa karena merasa tidak seriuh facebook, hingga akhirnya twitter mereka usang dan ditinggalkan.

Bagi sebagian orang bermain twitter memang membosankan. Tidak ada interaksi seramai di facebook atau platform media sosial lainnya. Kalau kita bukan selebtwit ya udah, sepi. Berbeda dengan jika kita bermain facebook. Justeru hal tersebut yang saya suka dari twitter, nggak berisik.

Pengikut saya di twitter bisa saya pastikan sebagian besar bukan orang-orang yang saya kenal di dunia nyata. Sampai saat saya menulis cerita ini pengikut saya sudah seribu lebih. Butuh delapan tahun hingga sampai pada angka itu. Tapi, sekali lagi itu hanya angka. Saya saling mengikuti dengan sejumlah tokoh yang saya kagumi di twitter. Saya bisa berhubungan baik dengan penulis kesenangan saya juga karena twitter.

Beberapa kali akun saya ramai gara-gara disamber oleh akun @NUGarisLucu, akun favorit warga nahdliyyin itu memang jan mbuh. Dulu ketika saya difollback oleh NU garis lucu, saya bungah setengah modyar. Dan, hamdalah saya belum termasuk dari followers2 yang di unfoll oleh mereka.

Dari twitter saya belajar banyak hal. Sekarang banyak utas bagus yang bisa menambah pengetahuan kita. Saya juga bisa mendapat bahan siaran yang tentunya menarik bagi pendengar. Sebenarnya masih banyak hal yang membuat saya begitu menyukai twitter, tapi saya nggak bisa jelaskan panjang lebar. Alias males nulis jadi sampai di sini dulu, ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar