Kalian pernah nggak salah panggil
orang karena nggak tahu jenis kelamin mereka apa? Misal, lagi chat sama orang
tapi profil pict-nya bukan poto mereka, terus sotoy aja panggil Pak atau Bu.
Pernah? Atau enggak?
Terlepas dari pernah atau enggak,
aku mau cerita soal salah panggil ini. Belum cerita aku dah ketawa dulu nih
gimana. Hahahaha.
Jadi, tanggal 29 Juni ada nomor
baru yang whatsapp. Klien dari pegadaian yang koordinasi soal talkshow tanggal
7 Juli 2020. Nama klien ini Sukma. Refleks aku panggil beliau Bu. Iya dong,
orang yang nggak tahu pasti langsung panggil bu, karena nama Sukma identik
dengan anaknya Bung Karno, eh maksudnya identik dengan perempuan.
Setelah bla bla bla ngomongin
soal teknis talkshow kemudian beliau minta potoku untuk dibuatkan flayer. Nah,
kemarin beliau kirim flayer yang menampilkan poto dua orang pembicara
laki-laki, salah satunya bernama Sukma Juni.
Deg. Aku menyadari satu hal. Sebelumnya
aku pastikan dulu bahwa yang whatsapp aku soal talkshow itu adalah Sukma Juni.
Dan, benar sodara-sodara. Aku langsung minta maaf karena salah panggil. Ternyata
yang selama ini aku panggil bu di chat whatsapp itu adalah laki-laki. Lucu,
tapi sedih juga masa laki-laki aku panggil bu. Habisnya profil pict Pak Sukma
ini emas batangan, gaes. Namanya Sukma pula, dahlah aku nggak kepikiran blas
kalo beliau adalah laki-laki.
Pak Sukma easy going banget
orangnya, beliau dah biasa dipanggil bu. Aku orang keseribu katanya yang
begitu. Kebayang, nggak? Betapa capeknya beliau harus meralat 999 orang
sebelumnya? Hahaha.
Terlepas dari insiden salah sebut
itu, aku punya kenangan yang lekat diingatan soal pegadaian.
Jauh sebelum Pak Sukma whatsapp,
iklan dari pegadaian ini sudah masuk. Kami para penyiar juga sudah rutin
membacakan adlibs pegadaian. Sejak pertama kali iklan pegadaian masuk aku
langsung teringat momen saat SMP. Momen yang tadi aku sebut, lekat diingatan.
Jadi dulu ketika pelajaran apa ya
aku lupa, IPS kalo nggak salah, ada satu soal yang menanyakan apa motto
pegadaian? Sebentar, gaes. Aku lupa ini pas SD atau SMP, ya?
Kehidupan keluargaku itu nggak
jauh-jauh dari pegadaian. Akrab gitu lah kami ini, sahabatan. Karena bapak
adalah tipikal yang nggak mau jual harta benda ke orang lain, maunya ke
pegadaian aja. Kakak bapakku yang notabene adalah budeku juga merupakan nasabah
teladan pegadaian. Kalau beliau butuh uang, beliau akan mengutus bapakku untuk
menggadaikan emasnya ke pegadaian.
Prinsipnya adalah beliau nggak
bakal kehilangan perhiasan itu, jadi kalau digadaikan ke pegadaian masih bisa
beliau tebus lagi nanti. Begitu.
Akhirnya karena aktivitas gadai
menggadaikan itu, aku lantas akrab dengan motto pegadaian. Siapa sih yang nggak
tahu motto pegadaian yang legendaris itu? Yang mengatasi masalah tanpa masalah
itu lhooo~
Nah, berbekal itulah aku bisa
menjawab soal yang tadi ditanyakan, yang mana jawaban dari pertanyaan itu nggak
ada di materinya. Sedap bener, kan? Aku jadi ingat Slumdog Millionaire, dimana
Jamal menjawab semua pertanyaan kuis berdasarkan pengalaman hidupnya.
Dan yang bisa jawab soal itu
seingatku hanya aku, itu sebabnya aku masih ingat hingga hari ini. Begitulah
kemudian aku merasa akrab dan dekat dengan PT. Pegadaian. Dekat doang, gaes,
jadian mah enggaaak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar