Selasa, 30 Juni 2020

MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH


Kalian pernah nggak salah panggil orang karena nggak tahu jenis kelamin mereka apa? Misal, lagi chat sama orang tapi profil pict-nya bukan poto mereka, terus sotoy aja panggil Pak atau Bu. Pernah? Atau enggak?

Terlepas dari pernah atau enggak, aku mau cerita soal salah panggil ini. Belum cerita aku dah ketawa dulu nih gimana. Hahahaha.

Jadi, tanggal 29 Juni ada nomor baru yang whatsapp. Klien dari pegadaian yang koordinasi soal talkshow tanggal 7 Juli 2020. Nama klien ini Sukma. Refleks aku panggil beliau Bu. Iya dong, orang yang nggak tahu pasti langsung panggil bu, karena nama Sukma identik dengan anaknya Bung Karno, eh maksudnya identik dengan perempuan.

Setelah bla bla bla ngomongin soal teknis talkshow kemudian beliau minta potoku untuk dibuatkan flayer. Nah, kemarin beliau kirim flayer yang menampilkan poto dua orang pembicara laki-laki, salah satunya bernama Sukma Juni.

Deg. Aku menyadari satu hal. Sebelumnya aku pastikan dulu bahwa yang whatsapp aku soal talkshow itu adalah Sukma Juni. Dan, benar sodara-sodara. Aku langsung minta maaf karena salah panggil. Ternyata yang selama ini aku panggil bu di chat whatsapp itu adalah laki-laki. Lucu, tapi sedih juga masa laki-laki aku panggil bu. Habisnya profil pict Pak Sukma ini emas batangan, gaes. Namanya Sukma pula, dahlah aku nggak kepikiran blas kalo beliau adalah laki-laki.

Pak Sukma easy going banget orangnya, beliau dah biasa dipanggil bu. Aku orang keseribu katanya yang begitu. Kebayang, nggak? Betapa capeknya beliau harus meralat 999 orang sebelumnya? Hahaha.

Terlepas dari insiden salah sebut itu, aku punya kenangan yang lekat diingatan soal pegadaian.

Jauh sebelum Pak Sukma whatsapp, iklan dari pegadaian ini sudah masuk. Kami para penyiar juga sudah rutin membacakan adlibs pegadaian. Sejak pertama kali iklan pegadaian masuk aku langsung teringat momen saat SMP. Momen yang tadi aku sebut, lekat diingatan.

Jadi dulu ketika pelajaran apa ya aku lupa, IPS kalo nggak salah, ada satu soal yang menanyakan apa motto pegadaian? Sebentar, gaes. Aku lupa ini pas SD atau SMP, ya?

Kehidupan keluargaku itu nggak jauh-jauh dari pegadaian. Akrab gitu lah kami ini, sahabatan. Karena bapak adalah tipikal yang nggak mau jual harta benda ke orang lain, maunya ke pegadaian aja. Kakak bapakku yang notabene adalah budeku juga merupakan nasabah teladan pegadaian. Kalau beliau butuh uang, beliau akan mengutus bapakku untuk menggadaikan emasnya ke pegadaian.

Prinsipnya adalah beliau nggak bakal kehilangan perhiasan itu, jadi kalau digadaikan ke pegadaian masih bisa beliau tebus lagi nanti. Begitu.

Akhirnya karena aktivitas gadai menggadaikan itu, aku lantas akrab dengan motto pegadaian. Siapa sih yang nggak tahu motto pegadaian yang legendaris itu? Yang mengatasi masalah tanpa masalah itu lhooo~

Nah, berbekal itulah aku bisa menjawab soal yang tadi ditanyakan, yang mana jawaban dari pertanyaan itu nggak ada di materinya. Sedap bener, kan? Aku jadi ingat Slumdog Millionaire, dimana Jamal menjawab semua pertanyaan kuis berdasarkan pengalaman hidupnya.

Dan yang bisa jawab soal itu seingatku hanya aku, itu sebabnya aku masih ingat hingga hari ini. Begitulah kemudian aku merasa akrab dan dekat dengan PT. Pegadaian. Dekat doang, gaes, jadian mah enggaaak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar