Senin, 30 Oktober 2023

#BukuBagus: LIFE AS DIVORCEE

“Perceraian adalah emergency exit yang Tuhan sediakan ketika kita enggak sanggup lagi berada dalam hubungan pernikahan. Alih-alih keluar melalui lift yang sesak dan ada kemungkinan macet di tengah jalan, tangga darurat adalah pilihan teraman.”

Buku ini sudah mencuri perhatianku sejak lama. Namun, baru bisa membeli dan menyelesaikannya Agustus lalu. Thanks to Paket Tujuhbelasan dari Mojok Store. Sebuah buku yang musti dibaca perlahan dan dipahami dengan hati-hati, Life as Divorcee.

Cukup cepat aku menyelesaikan buku yang ditulis oleh Virly K.A ini, hanya hitungan hari. Selain karena aku suka pembahasannya, buku ini hanya 138 halaman. Virly K.A terbilang cukup vokal menyuarakan hidup sebagai janda. Status yang harus kita akui masih mendapat stigma dalam society kita.

Buku ini mengupas perjalanan Virly yang bercerai dalam usia yang terbilang muda, 25 tahun. Usia itu aku justru masih menyimpan banyak keraguan soal pernikahan, sekarang pun masih. Aku heran mengapa ada manusia yang menambah beban masalah kehidupan dengan pernikahan?

Membaca dan belajar dari pengalaman Virly membuatku lebih mampu menyiapkan banyak hal sebelum nanti aku memutuskan untuk menikah. Berdasarkan pengalaman hidupnya Virly mampu memetakan hal-hal yang harus dibicarakan sebelum menikah.

Tentu, seperti yang dia bilang, pernikahan hanyalah sebuah prolog dari kehidupan bersama yang tidak bisa lepas dari berbagai adegan tak romantis serta konflik tak terduga yang berpotensi menimbulkan perselisihan, mengganggu eksistensi sebagai manusia hingga membahayakan nyawa.

Kenapa kok bisa ekstrim begitu? Ya, itulah yang dialami Virly. Bukan hendak menakut-nakuti mereka yang belum/tidak menikah. Tapi, begitulah adanya. Pernikahan tidak selalu seindah bayangan kita seperti di film-film atau media sosial artis-artis. Pernikahan tidak hanya cerita indah-indahnya saja, cerita kelam dan cerita duka pun banyak, banyak sekali.

Yang aku suka dari Life as Divorcee adalah ia mampu membantu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini berkembang dalam pikiran kita. Virly membuka dialog dengan pengalaman dia memutuskan untuk bercerai. Virly tidak dengan mudahnya mengajak perempuan untuk bercerai ketika ada masalah dalam sebuah rumah tangga. Nope.

Virly menguraikan dengan lugas apa saja yang harus dipikirkan matang-matang sebelum memutuskan bercerai. Apa saja konsekuensi yang akan kita hadapi, dan banyak lagi lainnya. Virly juga menguraikan hal-hal yang tidak dia lakukan sebelum dulu memutuskan untuk menikah. Nah, hal-hal inilah yang bisa kita jadikan pedoman untuk dibicarakan bersama pasangan apabila kita ada di hubungan yang hendak ke jenjang pernikahan.

Pre-Marriage Talks, istilahnya. I swear, jangan pernah merasa sungkan atau malas membahas hal-hal yang perlu dibahas sebelum pernikahan. Dari sana kita akan bisa melihat bagaimana pandangan hidup pasangan kita. Dari perbincangan-perbincangan itu kita akan tahu dia worth it atau tidak. Bisa tidak kita menghabiskan seumur hidup kita dengannya? Ladies, seumur hidup itu tidak sebentar. Jadi, pikirkan matang-matang.

Ah, kebanyakan mikir. Ingat usia semakin tua. So, what? Jangan biarkan perkataan orang lain mematahkan proses belajarmu. Proses mengenal diri sendiri terlebih dahulu dengan baik. Jangan sampai perkataan-perkataan demikian membuatmu justru tercebur dalam keputusasaan. Ah, ya udahlah sama siapa aja yang penting aku menikah. Noooo, girls! No. Just keep on that way.

Life as Divorcee tidak hanya menjadi guidance bagi mereka yang sudah bercerai, tapi juga bagi mereka yang belum ingin menikah. Teman-teman bisa mendapatkan bukunya di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar