Pernah enggak kalian merasa
sayang menyelesaikan sebuah tontonan karena isinya bagus banget atau lucu
banget dan berharap enggak buru-buru tamat? Ada beberapa konten yang membuatku
merasakan hal itu tapi ya mau enggak mau kontennya harus selesai.
Enggak hanya tontonan, buku pun
demikian. Sejak membaca prolognya saja aku sudah senang karena akan mendapat
banyak ilmu dan pengetahuan. Ini juga merupakan buku yang sudah lama aku incar.
Tak di Ka’bah, di Vatikan, atau di Tembok Ratapan, Tuhan ada di Hatimu. Sebuah
buku karya Habib Ja’far Al-Hadar.
Aku mengenal (si kenal),
mengetahui beliau sejak menonton channelnya, Jeda Nulis. Konten-konten Islam
ramah yang waktu itu beliau bawakan sungguh mencerahkan. Tentu saja saat itu
beliau masih begitu polos, tidak menyelipkan humor-humor dan nampak tegang
meskipun pembawaannya santai karena belum menjadi habib industri. Pokoknya mah
dulu beliau tidak idol-able sekali,
wkwkwk.
Buku bagus ini terdiri dari lima
bab dengan materi per sub-bab isinya daging semua kalau istilah zaman sekarang.
Pembahasannya mulai dari Hijrah; Islam Bijak Bukan Bajak; Akhlak Islam; Nada,
Canda dan Beda; Ateis, Tapi Cuek sama Tuhan.
Habib Ja’far pandai membangun
dialog yang mudah dipahami oleh pembaca. Bahasa yang beliau gunakan sangat
membumi. Hal lain yang aku suka adalah beliau mampu menyajikan kisah-kisah
lampau dari zaman nabi untuk kemudian diambil hikmahnya, diambil pelajarannya
tapi juga tidak serta merta daplikasikan di zaman ini.
Begitu juga dengan selipan ayat
Al-Qur’an. Beliau mampu menjelaskan korelasi ayat dengan situasi. Bagaimana
ayat tersebut menjadi jawaban, solusi dan pegangan karena dijelaskan dengan sangat
terstruktur. Itu tadi, karena beliau pandai membangun dialog, pandai memakai
diksi.
Sepanjang membaca buku ini
rasanya seperti mendengarkan ceramah. Ceramah yang ramah, powerful, tepat
sasaran, sehingga menancap sempurna ke hati kita. Buku ini paket komplit. Membahas
konsep hijrah secara detail sehingga kita paham makna hijrah seperti apa.
Membahas juga bagaimana Islam
melihat sebuah kesenian. Musik, komedi, film, semua dibahas. Pun soal perbedaan
pendapat. Zaman sekarang berapa banyak kita lihat manusia saling bermusuhan
perkara beda pendapat. Berapa banyak manusia saling mencaci maki karena merasa pendapatnya
paling benar? Para Nabi saja woles kalau beda pendapat, kenapa kita heboh?
Betul kata Habib Ja’far,
pengetahuan kita soal Islam itu jauuuuuuuh. Tidak sekafah pengetahuan para
sahabat Nabi Muhammad yang merupakan generasi terbaik atau masa-masa
setelahnya, yaitu para imam. Mereka ini yang melihat langsung praktik Islam
dari Nabi atau yang hidup tidak jauh dari masa Nabi. Lha kita? Jauuuuuh bestie.
Butiran debu saja kita ini.
Beberapa part juga berhasil
membuatku cryyy a river, nangis
sekebooon. Betapa sayangnya Nabi Muhammad pada kita. Betapa Nabi Muhammad
sangat peduli pada umatnya yang akhlaknya enggak seberapa ini. Kisah-kisah
keteladanan Nabi banyak dibahas oleh Habib Ja’far di buku ini.
Demikianlah #BukuBagus yang aku rekomendasikan, teman-teman. Kalian bisa dapatkan bukunya di sini. Selamat membaca, selamat belajar.
.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar