Sabtu, 05 Desember 2015

Hikmah Pulang Terlambat

Ini masih tentang Teman Jatim dan sekitarnya :D
Hari ini semua delegasi sudah kembali ke daerahnya masing-masing.
Dengan *sekali lagi* pelayanan sepenuh hati yang diberikan tuan rumah.
Nah, seharusnya kami yang dari Banyuwangi pun begitu.
Pulang ke Istanbul, eh Banyuwangi maksutnyaa :D

Tapi nyatanya tidak.
Saat ini *saat menulis blog ini aku ada di dalam kamar kost salah satu panitia, yang bahkan si empunya kamar masih belum datang karena ada evaluasi di kampus* kami harus berbesar hati untuk tinggal semalam lagi di bumi persebaya.
Sangat jauh dari ekspektasi.
Dalam bayanganku, hari ini kami akan dengan santai menikmati malam di Surabaya.
Sekedar jalan-jalan *yang benar-benar jalan, tanpa kendaraan* membeli oleh-oleh misalnya.
Atau ke Gramedia, Togamas, Pasar Maling. Ah, sudahlah.
Sekali lagi, aku dan Rima harus berbesar hati karena terdampar di pinggiran kota Surabaya.
Kami sedang ada di Kenjeran.
Berbeda dengan Suryanto yang entah bermalam di tempat panitia yang mana.

Jauh dari kampus Untag?
Ya. Lumayan jauh.
Jika jarak ini tidak di sponsori oleh banyaknya lampu merah dengan durasi yang aduhai itu, serta kemacetan Surabaya yang MasyaAllah sekali pasti akan terasa dekat.

Aku dan Rima hanya perlu bersyukur karena kami tidak harus terkatung-katung di jalanan Surabaya.
Dan kami hanya perlu bersyukur karena masih dapat tempat berteduh secara gratis.

Baiklah, namanya Ayu.
Gadis yang mau menerima dan menampung kami di tempatnya :D
Ayu tinggal di kost daerah Kenjeran.
Aku baru tahu bahwa Ayu tinggal bersama dengan kedua orang tuanya saat tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri kami di kamar.
Aku pikir beliau adalah tetangga Ayu.
Tapi ternyata bukan.
Jadi, mereka tinggal di satu kost dengan menyewa dua kamar.
Satu untuk Ayu, satu untuk orang tuanya.
FYI, Ayu anak tunggal.

Bu Ana, Ibu Ayu sangat baik.
Aku dan Rima diperlakukan seperti anak sendiri.
Kami diberi makan malam secara gratis.
Ah, kami jadi merepotkan keluarga Ayu.
Setelah makan malam kami berbincang sedikit tentang semuanya.
Tentang Surabaya, tentang Kenjeran, tentang keluarga Bu Ana, tentang tetangga mereka, tentang Ayu, hingga tentang acara Teman Jatim.

Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat yang datang dari kota lain.
Seperti Ambon, Lamongan, Jombang.
Jadi jika dilihat pemukiman ini lebih mirip seperti rumah susun *tapi nggak bersusun* daripada tempat kost.
Karena disini satu kamar kost bisa dihuni oleh sebuah keluarga.
Jangan bayangkan bagaimana sumpeknya.
Tempat di pinggiran Surabaya yang banyak diminati pendatang *kata Bu Ana
Kamar kost Ayu rapi dan sederhana.
Ada ranjang yang cukup lebar, satu almari, satu filling cabinet serta satu rak sepatu.
Berbeda dengan kamar Bu Ana yang lebih berisi namun tetap rapi.

Bu Ana bilang, "Puluhan tahun di Surabaya nggak bisa beli rumah."
Aku dan Rima hanya tersenyum.
Beginilah kira-kira kehidupan para perantau.
Aku teringat Pakdeku yang juga seorang perantau di Bali.

Okelah. Saat tulisan ini diketik aku dan Rima sudah mulai rebahan dan Ayu belum juga datang.
Padahal sudah pukul 20.37
Evaluasi kok suwi sih, kasihan Mbak-mbak panitia yang rumahnya jauh lah -___-

Heeey, Kenjeran malam ini hujan deras diiringi dengan petir yang cetar membahana.
Ah, hujan.
Aku kangen Fahri. Aku kangen rumah. Aku kangen Banyuwangi.

Ayu cepat balik, kami bingung sendirian di kamar orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar