Ini kali kedua aku mengambil rapot adikku, Ardi.
Dulu ketika dia SMP, lupa pas kelas berapa.
Dan hari ini yang kedua.
Dikarenakan Abah dan Ibu sedang honeymoon, eh enggak ding, sedang menghadiri acara pernikahan salah satu keponakan di Gresik.
Jadilah aku *yang sebenarnya juga ikut ke Gresik tapi nggak jadi ikut* yang akhirnya mengambil rapot Ardi.
Beruntung ini bukan kali pertama aku masuk ke SMK N 1 Glagah *yang luasnya amit-amit itu
Jadi pas Ardi bilang pertemuannya di Aula aku langsung mengerti.
Dasar, adik macam apa yang tega membiarkan kakaknya datang sendiri ke sekolah *yaa walaupun nggak apa-apa sih datang sendiri, hmm repot kan -__-
Tiba di sekolah sudah ramai para wali murid yang keluar masuk.
Sampai aku tahu bahwa acara pembagian rapot dilaksanakan tiga gelombang, tapi masih dalam hari yang sama.
Kelas X sendiri, kelas XI sendiri, kelas XII sendiri *yaelaaaah sendiri, jomblo nih yeee :D apasih -__-
Setelah parkir motor di tempat yang aman *lebih tepatnya -yang penting parkir- aku segera masuk ke Aula.
Di pintu Aula ada seorang Bapak yang bertanya "Kelas XI ya?"
Aku mengangguk seraya memberikan senyum terbaikku di Sabtu pagi nan teduh ini.
Sampai di dalam aku ambil tempat duduk agak depan.
Yaaa you know me lah, nggak suka duduk di belakang.
Saat berjalan melewati barisan para mantan, eh para wali murid maksudku :D aku mendapat banyak tatapan ini-murid-apa-wali-murid dari orang-orang yang ada di Aula.
Ehem, saya wali murid bapak dan ibu sekalian. Lebih tepatnya kakak murid :D
Ya kali saya punya anak umur 17 tahun, lha umur saya aja masih 20.
Setelah berbagai informasi yang disampaikan serta berbagai petuah untuk para murid yang disampaikan oleh bagian kurikulum, tibalah saat yang dinantikan.
Yaitu perkenalan wali kelas masing-masing jurusan.
Gila ya STM jurusannya banyak bener.
Aku memasang kuping baik-baik, jangan sampai kelewatan ketika giliran wali kelas XI Permesinan 2 yang dipanggil.
Ibu Sriwidayati. Tidak lain tidak bukan yang hari ini memakai jilbab biru tua. Itulah wali kelas XI PM 2.
Aku menghapal-hapal wajah Bu Sri.
Setelah acara di Aula bubar aku hanya membuntuti Bu Sri yang akan menuju ruang kelas.
Disebelahku ada Ibu-Ibu yang juga membuntuti Bu Sri.
Hmm, pasti tujuan kita sama :D
Aih, sekolah ini kenapa gede sekali -__-
Aku sampai lupa tadi lewat jalan sebelah mana.
Setelah sekian menit menyusuri lorong-lorong gelap gulita sampailah kami di ruang kelas yang ... aduuuuh ampun, berserakan ala anak STM sekali.
Ya begitulah pokoknya. Susah dijelaskan dengan kata-kata.
Di kelas, Bu Sri kembali memberikan informasi tentang liburan dan tentang PSG yang akan dilalui anak-anak pada tanggal 11 Januari esok.
Dan juga ada beberapa murid yang dipanggil karena belum dapat tempat PSG.
Aku bersyukur karena Ardi bersih, tidak ada skandal apapun *halah, dikata artis kali ah pake sandal, eh skandal.
Tiba-tiba Bu Sri buka suara, "Wali murid Refangga."
Aku agak kaget. Kok Ardi dipanggil pertama, setahuku Ardi bukan nomor urut pertama dalam presensi.
Aku maju dengan agak nerveous.
Lalu Bu Sri bilang lagi, "Mbak, wali murid Refangga ya?"
"Iya Bu, saya kakaknya, orang tua sedang ke Gresik, jadi saya yang ambil."
"Oh gitu. Ini masih sama peringkatnya seperti yang lalu. Dipertahankan ya?"
Aku bersorak dalam hati.
Girang. You know what I feel? It's like when someone who you love comes to you and say "Will you marry me" :D
*bohong, padahal belum pernah dilamar.
Oke deh, rasa senengnya sama seperti saat aku melihat Maryamah Karpov untuk pertama kali di bazar buku depan perpusda. Langsung heboh nggak keruan. Ya untung nggak pakai jejeritan segala :D
"Alhamdulillah Bu. Tapi anaknya ndak rewel ya di sekolah?"
"Ooh enggak, semuanya baik kok."
Dan setelah acara tulis-menulis nama wali dan nomor ponsel selesai, aku segera keluar.
Kupandangi rapot coklat yang sudah mirip skripsi itu.
Besar dan tebal. Dan juga berat.
Kubolak-balik sampai kutemukan tulisan "peringkat 1 dari 33 siswa".
Aku tersenyum sepanjang jalan hingga aku bingung harus pulang lewat jalan mana.
Alhamdulillah. Dia kembali membuktikan pada Abah bahwa dia mampu.
Tidak sia-sia Abah banting tulang untuk pendidikannya.
Ah, si tengil itu membuatku sangat bangga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar