Sore ini aku duduk
disebelah jendela sambil menikmati rintik hujan Bulan Desember.
Mendung yang sangat
pekat ternyata tak menjadi ukuran untuk datangnya hujan yang lebat.
Masih hujan tipis-tipis
disertai batuk alam yang juga tipis-tipis.
Hawa seperti ini membuat
siapapun malas beraktivitas.
Sebenarnya sudah lama
aku ingin menulis hal ini.
Hal yang bisa secara
tiba-tiba mengganggu pikiranku.
Kesempatan untuk ikut
Teman Jatim kemarin membawaku pada sebuah perkenalan-perkenalan ajaib dari
berbagai delegasi kampus.
Bukan perkenalannya
yang mengganggu pikiranku.
Tapi hal yang sempat
kita diskusikan yang membuatku terganggu.
Aku mengenal Anam,
seorang mahasiswa semester 3 Universitas Abdurrahman Saleh, Situbondo.
Waktu itu, setelah
istirahat sidang aku dan dia bersama-sama menunggu ponsel yang sedang kami charge.
Aku sesekali
menggodanya perihal Rima, adik kelasku yang waktu itu juga ikut Teman Jatim dan
ditaksir oleh Anam.
Aku bilang pada Anam
untuk bersikap biasa saja, jangan membuat Rima ilfeel.
Karena selama tiga hari
kami berada di Surabaya aku sudah melihat Rima berulang kali memasang tampang
jutek pada Anam :D
Hingga akhirnya Anam
bilang, “Kamu nggak punya pacar?”
Aku menggeleng, “Nggak
pacaran.”
Seperti mendapat undian
lotre, Anam mencecarku dengan banyak
pertanyaan.
“Kenapa? Pasti kamu itu
menilai pacaran hanya dari sisi negatifnya saja. Padahal kan nggak semua
pacaran itu menjurus pada hal-hal negatif. Banyak juga positifnya.”
Aku tertawa mendengar
penjelasan Anam *Duileeee bocah :D
“Ya nggak apa-apa,
nggak pacaran aja.”
“Ya kenapa??? Orang
hidup kan punya alasan? Kamu juga pasti punya alasan untuk nggak pacaran kan?”
Sebenarnya aku bosan
ditanya seperti ini.
Aku ingin menjawab tapi
tidak tahu harus menjawab apa.
Aneh, aku selalu tidak
bisa memberi alasan yang menurutku tepat.
Lain Anam, lain lagi
Cak Bana.
Duh, sebenarnya Cak
Bana itu adalah display name BBM
seorang teman baru dari Universitas Bondowoso.
Aku lupa siapa nama
aslinya. Padahal pas di Surabaya sudah kenalan dua kali -___-
Kalau Cak Bana ini sama
sepertiku, sama-sama semester lima.
Pembawaannya kalem,
mungkin itu yang membuat dia sedikit agak tuwir
*Hehehe, peace Cak :D
Tapi ternyata Cak Bana
ini juga berbakat jadi comica, he’s soooo funny :D
Oke, kembali ke Cak
Bana.
Kemarin kami sempat
bertukar kabar via BBM.
Ah sayang percakapan
kami sudah aku hapus.
Aku lupa bagaimana
awalnya dia mempertanyakan statusku *As
alwaaaays, lupa!
Pokoknya waktu itu aku
menjawab, “Aku nggak paham Mas, belum kepikiran kesitu.”
Lantas dia bilang bahwa
aku bohong.
“Bohong kalau kamu
bilang belum kepikiran kesitu. Perempuan seusia kamu pasti sudah ada pikiran
kesana. Entah pacar, teman, sahabat, kamu pasti butuh orang kedua. Kalau kamu
nggak ada kepikiran kesana berarti kamu harus di bawa ke psikolog.”
Hahaha ucapan Cak Bana
telak memojokkanku.
Kalau dia lihat
ekspresi wajahku saat itu pasti bakal ketawa ngakak.
Aku hanya mengiyakan
apa yang dia katakan.
Tidak membantah. Tidak
mendebat. Tidak mengelak.
Topik pacaran memang
selalu asyik untuk dibahas.
Hanya saja pada
kenyataannya banyak perilaku cacat yang membuat pacaran menjadi sebuah ikatan
yang tidak asyik.
Aku memang tidak pernah
pacaran.
Tapi dari mereka,
teman-temanku, yang berpacaran, aku bisa belajar banyak hal.
Pernah seorang teman
datang dan bilang, “Kamu enak Mey, nggak pernah pacaran, nggak pernah patah
hati, nggak pernah sakit hati.”
Aku hanya diam dan
meracau dalam hati, “Hellooo walaupun nggak pacaran aku pernah patah hati,
sakit hati, nyeri hati, linu hati, dan segala rupa penyakit hati lainnya.”
*Halah -___-
Aku senang melihat
beberapa teman menikmati masa pacaran mereka.
Seperti Riska dan Agus
misalnya.
Mereka berpacaran sejak
semester tiga *Kalo nggak salah.
Dengan Agus, Riska
menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Dengan Riska, Agus juga
menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Tapi aku juga sedih
ketika mendengar salah seorang teman putus hubungan karena tindak kekerasan
yang dialaminya.
Berpacaran sudah lama,
aku sering melihat berbagai foto kebersamaan mereka di Instagram.
Aku bahkan sudah yakin
bahwa hubungan mereka akan berakhir di pelaminan.
Tapi akhirnya harus
kandas dengan cara yang tidak baik.
Dengan alasan apapun,
bukan lelaki namanya jika berani menampar seorang perempuan.
Masih pacaran saja
sudah berani main tangan, bagaimana bila sudah menikah?
Hal-hal cacat seperti
ini lah yang membuat pacaran menjadi hubungan yang tidak asyik versiku.
Ya kalau cemburu
tipis-tipis boleh lah, apalagi cemburu-cemburu manja *Halah :D
Mukul tipis-tipis juga
boleh (khusus buat perempuan aja tapi, laki tetep jangan mukul) apalagi mukul-mukul
manja *Hapasih -___-
Seberapa keras sih
kekuatan perempuan untuk memukul?
Yang dipukul juga kan
laki-laki, pasti sakitnya juga sebentar *Kecuali mukul pake linggis ya beda cerita.
Tapi kalau sudah
laki-laki mukul perempuan???
Bukan hanya fisik mereka
yang tersakiti, tapi juga hati.
Belum lagi ketakutan
dan trauma yang muncul.
Laki-laki yang
diharapkan bisa melindungi dirinya justru menjadi orang yang menakutinya.
Gedigu
hang aran welas?
Atau pelajaran yang
diberikan oleh temanku. Suryanto.
Sebelum aku mengenalnya
dia sudah berpacaran dengan adik kelasnya.
Sudah lama, entah
berapa tahun.
Suryanto sudah sangat
yakin bahwa pacarnyalah yang akan menjadi istrinya kelak.
Dia juga sudah memiliki
niat untuk mempersunting sang pacar.
Tapi kuasa Tuhan selalu
diluar nalar manusia.
Mereka putus.
Suryanto banyak
bercerita bagaimana suka duka yang sudah dilaluinya.
Bagaimana sikap tak
menghargai sang perempuan padanya.
Bagaimana dia di
pandang sebelah mata oleh sang perempuan.
Dan bagaimana hingga
akhirnya Suryanto memilih mengakhiri hubungannya.
Eman.
Hanya kata itu yang aku
keluarkan saat mendengar kisahnya.
Bagaimana tidak?
Aku melihat sosok
perempuan sempurna dalam diri mantan kekasihnya.
Cantik, baik, sholehah.
Namun tetap saja,
rasanya tak pantas jika wanita yang seharusnya memberi semangat kepada sang
lelaki untuk meraih masa depan yang baik justru merendahkannya.
Roda kehidupan selalu
berputar, kan?
---
Usiaku sudah 20 tahun.
Aku adalah anak
pertama.
Hari ini lebih penting
bagiku untuk terus meningkatkan kompetensi diri.
Terus mengembangkan
potensi.
Dan terus memlihara
semangat untuk menjadi sarjana.
Every
person is the director of their own life.
Setiap orang adalah
sutradara untuk filmnya sendiri.
Bedanya, sutradara film
tahu bagaimana ending filmnya.
Sedagkan kita tidak
tahu.
Kita hanya bisa bilang cut dan action tanpa pernah tahu akhirnya.
![]() |
| I'm single, and that's so not your business. |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar