Minggu, 13 Desember 2015

Not Clear

Sore ini aku duduk disebelah jendela sambil menikmati rintik hujan Bulan Desember.
Mendung yang sangat pekat ternyata tak menjadi ukuran untuk datangnya hujan yang lebat.
Masih hujan tipis-tipis disertai batuk alam yang juga tipis-tipis.
Hawa seperti ini membuat siapapun malas beraktivitas.

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis hal ini.
Hal yang bisa secara tiba-tiba mengganggu pikiranku.
Kesempatan untuk ikut Teman Jatim kemarin membawaku pada sebuah perkenalan-perkenalan ajaib dari berbagai delegasi kampus.
Bukan perkenalannya yang mengganggu pikiranku.
Tapi hal yang sempat kita diskusikan yang membuatku terganggu.

Aku mengenal Anam, seorang mahasiswa semester 3 Universitas Abdurrahman Saleh, Situbondo.
Waktu itu, setelah istirahat sidang aku dan dia bersama-sama menunggu ponsel yang sedang kami charge.
Aku sesekali menggodanya perihal Rima, adik kelasku yang waktu itu juga ikut Teman Jatim dan ditaksir oleh Anam.
Aku bilang pada Anam untuk bersikap biasa saja, jangan membuat Rima ilfeel.
Karena selama tiga hari kami berada di Surabaya aku sudah melihat Rima berulang kali memasang tampang jutek pada Anam :D

Hingga akhirnya Anam bilang, “Kamu nggak punya pacar?”
Aku menggeleng, “Nggak pacaran.”
Seperti mendapat undian lotre, Anam mencecarku dengan banyak pertanyaan.
“Kenapa? Pasti kamu itu menilai pacaran hanya dari sisi negatifnya saja. Padahal kan nggak semua pacaran itu menjurus pada hal-hal negatif. Banyak juga positifnya.”
Aku tertawa mendengar penjelasan Anam *Duileeee bocah :D
“Ya nggak apa-apa, nggak pacaran aja.”
“Ya kenapa??? Orang hidup kan punya alasan? Kamu juga pasti punya alasan untuk nggak pacaran kan?”
Sebenarnya aku bosan ditanya seperti ini.
Aku ingin menjawab tapi tidak tahu harus menjawab apa.
Aneh, aku selalu tidak bisa memberi alasan yang menurutku tepat.

Lain Anam, lain lagi Cak Bana.
Duh, sebenarnya Cak Bana itu adalah display name BBM seorang teman baru dari Universitas Bondowoso.
Aku lupa siapa nama aslinya. Padahal pas di Surabaya sudah kenalan dua kali -___-
Kalau Cak Bana ini sama sepertiku, sama-sama semester lima.
Pembawaannya kalem, mungkin itu yang membuat dia sedikit agak tuwir *Hehehe, peace Cak :D
Tapi ternyata Cak Bana ini juga berbakat jadi comica, he’s soooo funny :D

Oke, kembali ke Cak Bana.
Kemarin kami sempat bertukar kabar via BBM.
Ah sayang percakapan kami sudah aku hapus.
Aku lupa bagaimana awalnya dia mempertanyakan statusku *As alwaaaays, lupa!
Pokoknya waktu itu aku menjawab, “Aku nggak paham Mas, belum kepikiran kesitu.”
Lantas dia bilang bahwa aku bohong.
“Bohong kalau kamu bilang belum kepikiran kesitu. Perempuan seusia kamu pasti sudah ada pikiran kesana. Entah pacar, teman, sahabat, kamu pasti butuh orang kedua. Kalau kamu nggak ada kepikiran kesana berarti kamu harus di bawa ke psikolog.”
Hahaha ucapan Cak Bana telak memojokkanku.
Kalau dia lihat ekspresi wajahku saat itu pasti bakal ketawa ngakak.
Aku hanya mengiyakan apa yang dia katakan.
Tidak membantah. Tidak mendebat. Tidak mengelak.

Topik pacaran memang selalu asyik untuk dibahas.
Hanya saja pada kenyataannya banyak perilaku cacat yang membuat pacaran menjadi sebuah ikatan yang tidak asyik.
Aku memang tidak pernah pacaran.
Tapi dari mereka, teman-temanku, yang berpacaran, aku bisa belajar banyak hal.
Pernah seorang teman datang dan bilang, “Kamu enak Mey, nggak pernah pacaran, nggak pernah patah hati, nggak pernah sakit hati.”
Aku hanya diam dan meracau dalam hati, “Hellooo walaupun nggak pacaran aku pernah patah hati, sakit hati, nyeri hati, linu hati, dan segala rupa penyakit hati lainnya.” *Halah -___-

Aku senang melihat beberapa teman menikmati masa pacaran mereka.
Seperti Riska dan Agus misalnya.
Mereka berpacaran sejak semester tiga *Kalo nggak salah.
Dengan Agus, Riska menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Dengan Riska, Agus juga menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

Tapi aku juga sedih ketika mendengar salah seorang teman putus hubungan karena tindak kekerasan yang dialaminya.
Berpacaran sudah lama, aku sering melihat berbagai foto kebersamaan mereka di Instagram.
Aku bahkan sudah yakin bahwa hubungan mereka akan berakhir di pelaminan.
Tapi akhirnya harus kandas dengan cara yang tidak baik.
Dengan alasan apapun, bukan lelaki namanya jika berani menampar seorang perempuan.
Masih pacaran saja sudah berani main tangan, bagaimana bila sudah menikah?

Hal-hal cacat seperti ini lah yang membuat pacaran menjadi hubungan yang tidak asyik versiku.
Ya kalau cemburu tipis-tipis boleh lah, apalagi cemburu-cemburu manja *Halah :D
Mukul tipis-tipis juga boleh (khusus buat perempuan aja tapi, laki tetep jangan mukul) apalagi mukul-mukul manja *Hapasih -___-
Seberapa keras sih kekuatan perempuan untuk memukul?
Yang dipukul juga kan laki-laki, pasti sakitnya juga sebentar *Kecuali mukul pake linggis ya beda cerita.
Tapi kalau sudah laki-laki mukul perempuan???
Bukan hanya fisik mereka yang tersakiti, tapi juga hati.
Belum lagi ketakutan dan trauma yang muncul.
Laki-laki yang diharapkan bisa melindungi dirinya justru menjadi orang yang menakutinya.
Gedigu hang aran welas?

Atau pelajaran yang diberikan oleh temanku. Suryanto.
Sebelum aku mengenalnya dia sudah berpacaran dengan adik kelasnya.
Sudah lama, entah berapa tahun.
Suryanto sudah sangat yakin bahwa pacarnyalah yang akan menjadi istrinya kelak.
Dia juga sudah memiliki niat untuk mempersunting sang pacar.
Tapi kuasa Tuhan selalu diluar nalar manusia.
Mereka putus.
Suryanto banyak bercerita bagaimana suka duka yang sudah dilaluinya.
Bagaimana sikap tak menghargai sang perempuan padanya.
Bagaimana dia di pandang sebelah mata oleh sang perempuan.
Dan bagaimana hingga akhirnya Suryanto memilih mengakhiri hubungannya.
Eman.
Hanya kata itu yang aku keluarkan saat mendengar kisahnya.
Bagaimana tidak?
Aku melihat sosok perempuan sempurna dalam diri mantan kekasihnya.
Cantik, baik, sholehah.
Namun tetap saja, rasanya tak pantas jika wanita yang seharusnya memberi semangat kepada sang lelaki untuk meraih masa depan yang baik justru merendahkannya.
Roda kehidupan selalu berputar, kan?
 ---
Usiaku sudah 20 tahun.
Aku adalah anak pertama.
Hari ini lebih penting bagiku untuk terus meningkatkan kompetensi diri.
Terus mengembangkan potensi.
Dan terus memlihara semangat untuk menjadi sarjana.
Every person is the director of their own life.
Setiap orang adalah sutradara untuk filmnya sendiri.
Bedanya, sutradara film tahu bagaimana ending filmnya.
Sedagkan kita tidak tahu.
Kita hanya bisa bilang cut dan action tanpa pernah tahu akhirnya.

I'm single, and that's so not your business.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar