Perjalanan
yang sulit sering kali menuntun kita pada akhir yang indah.
Begitu
banyak hal yang Allah berikan untuk terus membuatku bersyukur.
Tidak
ada alasan untuk tidak bersyukur di setiap hari.
Setidaknya
untuk nafas yang tidak bertarif dariNya.
Dan
juga, teman yang agak geser, so blessed
to be with them.
Hari
ini, kami, tiga anak manusia melakukan mini rekreasi yang unpredictable.
Seperti
biasa, jika Donat kumpul KKN jam setengah delapan malam dia selalu menginap di
tempatku.
Dan
seperti biasa juga, kami tak akan tinggal diam saja hanya menyambut pagi di
sebuah kamar.
Selalu
ada saja rencana untuk keesokan harinya.
Setelah
minggu lalu kami menikmati sunrise di Boom, tadi pagi kami menikmati *kalo yang
ini bukan sunrise, karena aku dan Donat kesiangan -_-* hangatnya mentari.
Pantai
Solong. Ini bukan pertama kalinya aku ke Solong.
Dulu
saat PSG aku pernah kesini, dan juga setelah berusaha mengumpulkan
serpihan-serpihan masa lalu mengingat, sepertinya Abah juga pernah mengajak
kami sekeluarga ke pantai ini.
Entah
tahun berapa, yang jelas saat itu di sekitar pantai sejauh mata memandang hanya
ada barisan pohon kelapa.
Sekarang
beda, yang ada barisan para mantan gedung-gedung.
Meski
selalu bertiga kami tidak pernah merasa sepi.
Donat
dan Suryadi adalah dua kombinasi unik yang menghiasi pertemanan kita.
FYI,
entah kenapa akhir-akhir ini aku memanggil Suryanto dengan sebutan Suryadi.
Wkkk
Ketika
mengunjungi pantai biasanya aku tidak terlalu suka bermain air.
Karena
pasti harus melepas kaos kaki, basah, lengket, kotor, dan sebagainya dan
sebagainya *hemm aleman banget kan?
Tapi
tadi aku tergoda dengan batu-batu yang terkikis air laut yang berada di bibir
pantai agak ke tengah.
Aku
dan Donat sudah menjinjing sendal kami ketika tiba-tiba ada seorang kakek yang
menegur.
“Pakai
aja sendalnya, banyak batu-batu tajam.”
Seingatku
seperti itu yang kakek bilang.
Kami
menurut, bukan ide yang bagus juga menyebrangi pantai dengan kaki telanjang.
Setelah
menginjakkan kaki di atas batu yang terkikis tadi, mulailah ritual sunnah kami,
wefie :D
Agak
sedikit medeni, karena sepertinya
posisi berfoto kami bertiga sangat mudah membawa pada sebuah molo (musibah).
Karena
susah untuk geser kesana kesini, kalau nggak kami yang jatuh ya ponselnya yang
jatuh *asal harga diri nggak jatuh, eaaa …
Tidak
lama, kurang lebih setelah sepuluh menit kami kembali ke bibir pantai.
Pantai
Solong ini menyajikan berbagai pemandangan padaku.
Pemandangan
paling menarik perhatian adalah sepasang suami istri muda yang menjemur bayi
mereka yang ada di dalam baby train.
Aih,
how sweet they are.
Yang
paling menggemaskan adalah ketika si ayah mengangkat bayinya dan menciumnya
penuh kasih.
Gimana
nggak menggemaskan, lha wong ayahnya masih muda banget, eh ----- fokus Mey -_-
Tidak
langsung pulang, tapi kami sok-sok an ala-ala bule, berjemur dulu di tempat
duduk yang dibuat dari empat buah tong yang di atasnya di beri tripleks tebal.
Padahal
mata sudah kriyep-kriyep demi
menantang sinar di depan kami.
Sedang
duduk tiba-tiba kakek yang tadi menegurku dan Donat ikut bergabung duduk.
Beliau
langsung berbaur dengan kami, bercerita tentang apa saja.
Beliau
ini orang Bugis ternyata *menurut pengakuannya*
Beliau
juga mengklaim diri telah berusia lebih dari seratus tahun.
Aku
mengamati kakek dari atas hingga bawah *ah masa sudah lebih dari seratus tahun
sih?
Ternyata
beliau ini dulu pernah nyantri.
Nyambung
lah akhirnya si Surya dan si Kakek.
Karena
sama-sama ber-background santri.
Hingga
akhirnya entah apa yang Sur tanyakan, kakek menjawab dengan mukaddimah yang membuat kami bertiga
agak siyok.
“Saya
ini masih keturunan Nabi.”
Hening
----------------------------
Lha
ane juga keturunan Nabi kali kek, Nabi Adam.
Eh
tapi dipikir-pikir apa yang dibicarakan kakek memang benar sih.
Kita
semua kan memang keturunan Nabi Adam?
Melihat
kakek aku seperti melihat Pak Supurdi.
Mereka
ini tipe-tipe orang tua yang kental akan hal-hal di luar nalar.
Tiba-tiba
saja kakek secara sukarela mengajari kami agar menjadi cantik/tampan dengan
sebuah doa yang entah bagaimana lafalnya tadi.
Kami
hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk bingung.
Tiba-tiba
juga si Kakek meramal aku dengan menanyakan nama serta jumlah huruf yang ada
dalam namaku.
Aih,
yang benar saja ada ilmu memikat seseorang hanya dengan mengetahui jumlah
huruf?
Ah
pokoknya aneh-aneh lah kakek ini. Semakin terik semakin aku tak tertarik.
Lalu
tiba-tiba kakek menanyakan perihal keaslian alisku.
Weiitz
dengan bangga aku menggosok-gosok alisku dan berkata, “Asli.”
Beliau
menyampaikan sesuatu tapi aku tidak begitu mendengarkan.
Hingga
Sur menanyakan siapa nama si kakek, barulah kami semua tahu bahwa namanya Tuk
Durrohman.
Hanya
saja, semakin jauh Tuk Durrohman bercerita aku semakin jengah dengan apa yang
beliau ceritakan.
Semakin
jauh bercerita semakin aku dan Donat malas mendengarkan.
Aku
juga tahu Sur demikian.
Hanya
saja untuk menghormati yang lebih tua Sur selalu meladeni.
Karena
beliau mulai bercerita hal-hal yang seharusnya tak perlu diceritakan.
Beliau
bercerita tentang ………………………
Skip.
Saat
beliau masih bercerita tiba-tiba saja kami semua dikejutkan dengan suara tong
yang seperti di pukul.
Aku
tahu tidak ada kelapa yang jatuh menghantam tong.
Toh
kalaupun jatuh pasti akan mendarat pada tripleks, bukan pada tong yang notabene
tertutup tripleks.
Aku
mengira bahwa semesta tak mendukung obrolan pagi itu, wkwk
Kami
semua diselamatkan oleh ponsel Sur yang berdering saat kakek akan melanjutkan
ceritanya.
Dengan
tak mengurangi rasa hormat kami bertiga pamitan.
Setelah
berpisah baru lah kami, ehem … rasan-rasan
:D
Kami
berspekulasi pada pemikiran masing-masing tentang kakek.
![]() |
| Si Kakek nggak kelihatan, silau :D |
Lupakan
kakek, lupakan Solong.
Kami
bertiga segera mencari sarapan.
Nasi
pecel di daerah Lateng. Jalan D.I Pandjaitan.
Benar-benar
recommended.
Enak,
bersih, nyaman, murah, dan yang paling penting adalah roti gorengnya enyaaaak.
Juara
lah pokoknya.
Tidak
seperti minggu lalu.
Biasanya
setelah sarapan masing-masing dari kami akan pulang.
Tapi
entah ini tadi apa yang terjadi.
Aku
dan Donat setuju-setuju saja ketika Sur mengajak ke Watu Dodol.
Aku
curiga … jangan-jangan aku dan Donat sudah di hipnotis untuk ikut kemana saja
Sur pergi.
Hemmm
……..
Aku
langsung teringat salah satu tempat yang pernah ku kunjungi bersama barisan
para gembel.
Dan
ternyata Sur dan Donat belum pernah ke tempat itu.
Langsung
saja mereka menerima tawaranku untuk sedikit berolahraga pagi, mendaki.
LMDH
Wono Lestari *please don’t ask me what
the meaning of LMDH, coz I really don’t know…
Merupakan
sebuah situs pemakaman Raja Maulana Ishak dan Putri Sekardadu.
Di
belakang makam itu kita bisa melihat samudera yang terbentang serta patung
Gandrung ikon Banyuwangi dengan sensasi yang berbeda.
Sepertinya
hari ini memang benar-benar hari kami.
Tidak
ada pengunjung lain selain kami.
Ini
sebenarnya membuatku agak takut.
Ya
serem aja gitu jalan bertiga doang.
Setelah
ritual sunnah dilaksanakan dengan view
patung gandrung, kami berniat menuju goa.
Aku
tidak pernah melihat goa itu.
Tapi
ternyata kami tidak melanjutkan perjalanan.
Selain
was-was, kami juga ragu.
Akhirnya,
turunlah kami.
Sampai
di bawah, dengan keadaan engap
tentunya, kami istirahat.
Tak
banyak yang kami lakukan selain duduk dan minum.
Perjalanan
pulang Sur berada di depan kami.
Aku
yang membonceng Donat.
Aku
terkejut ketika tiba-tiba Sur berbelok ke kanan.
Aku
tidak sadar kemana kami akan pergi, karena pikirku dia akan menunjukkan lokasi
villa milik salah satu dosen kami.
Aku
baru sadar ketika Sur bertanya pada salah seorang warga tentang Air Terjun.
Kupingku
berdiri.
Jadi
kita benar-benar akan ke air terjun???
Saat
di atas tadi memang Suryanto sempat menyinggung masalah air terjun.
Tapi
aku tidak mengira hari itu juga kami berangkat.
Benar-benar
Suryadi ini full of surprise -____-
Bayangkan
saja.
Tidak
ada persiapan maksimal yang kami lakukan.
Sur
dengan celana trining dan kaos oblongnya.
Aku
dan Donat apalagi, kami bahkan tak membawa baju ganti.
Karena
apa yang Sur lakukan di air terjun nanti benar-benar membuat kami seperti tak
sadar :D
Semakin
jauh kami meninggalkan perkampungan semakin gelap.
Karena
banyak ditumbuhi pohon-pohon yang menjulang yang menutupi sinar matahari.
Aku
flashback pada kenangan saat
mengunjungi Baluran.
Hutan
Selogiri mirip dengan Hutan Baluran.
Kami
melewati bendungan dan bumi perkemahan.
Setelahnya,
sejauh mata memandang hanya hijau yang tampak.
Jalan
pun sama bentuknya dengan yang ada di Baluran.
Tidak
pernah mulus *sama seperti hubunganmu dengan gebetanmu yang tak pernah mulus,
iya kamuu :D
Boleh
dikatakan kami ini anak manusia yang tak tahu di untung.
Pertama
kali masuk hutan untuk mencari air terjun.
Bahkan
tanpa di dampingi oleh yang sudah pernah.
Gendeng to?
Kami
hanya mengandalkan warga yang sedang mencari rumput atau mencari kayu.
Total
ada tiga warga yang kami tanyai.
Jangan
kalian tanya bagaimana perasaanku saat melintasi hutan lebat yang terjal itu.
Pingin
pulang tapi wes kadhung, kepalang
tanggung.
Di
tambah insiden kebablas yang bikin snewen.
Sebuah
plang berdiri di pinggir jalan.
Kami
ragu untuk berhenti.
Karena
di sekitar plang itu tidak nampak medan yang dapat di tempuh untuk menuju air
terjun.
Tapi,
setelah bertanya pada satu-satunya warga yang kami temukan, lokasi air terjun
itu memang benar ada di bawah plang tersebut.
Ini
adalah perjalanan ternekat yang pernah aku lalui.
Berasama
dua anak manusia yang juga nekat lainnya.
Agak
seram keluyuran bertiga di tengah alas.
Dan
yang paling menambah kesan seram adalah, hanya kami bertiga yang hari itu
datang berkunjung.
Sur
lebih dahulu turun untuk memastikan ada tidaknya air terjun yang di maksud.
Menurut
pendengaranku yang InsyaAllah masih baik ini sih harusnya ada.
Karena
suara air yang tumpah terdengar jelas.
Sur
berlari menemui kami di atas dengan wajah sumringah, air terjun itu ada.
Setelah
mengamankan motor sedemikian rupa, kami pun turun.
Aku
speechless melihat air yang tumpah
dari atas sana.
Mereka
menjatuhkan berkubik-kubik air tiap harinya.
Memberikan
kehidupan di bawahnya.
Perasaan
segar langsung menyergapku.
Dan
seperti biasa, provokator ulung Suryanto memanas-manasi kami.
Dia
bilang “Eman lek gak adus.”
Aku
pikir-pikir, Donat pun sama.
Saat
aku dan Donat sedang serius memilih nyebur
atau tidak, secara tiba-tiba Sur menyiram-nyiram tubuh Donat dengan air.
Aku
sebenarnya ragu, melihat muntahan air yang begitu deras pasti di bawah sana
sangat dalam.
Sedangkan
aku tidak bisa berenang.
Di
tambah air yang agak keruh.
Aku
pikir-pikir lagi.
Tapi
ternyata aku menyerah.
Segarnya
air merayu untuk dijamah.
Dan
kami berdua, aku dan Donat dengan noraknya bergandengan tangan menuju ke tengah
kolam raksasa itu.
Akhirnya,
kami basah dengan sempurna -__-
Aku
benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi pada kami hari ini.
Kami
mengunjungi tiga tempat dalam sehari, dan itu kami lakukan di weekday.
OMG.
Sadarkah kami?
Antara
sadar dan tidak :D
Tapi
yang jelas kami menikmati.
Di
sela rutinitas dan kegalauan tetek bengek KKN, ini menjadi vitamin tersendiri.
Terima
kasih kalian.
Atas
waktu dan kenekatan yang terjadi hari ini.
Semoga
setiap perjalanan yang kita lalui bersama menjadi berkah tersendiri.
Dan
setiap perjalanan yang kita lakukan semoga menjadikan kita lebih memahami satu
sama lain.
“In life we never lose friends, we
only learn who the true ones are …”





Tidak ada komentar:
Posting Komentar