Rabu, 13 Januari 2016

My Awesome Weekday

12 Januari 2016.

Perjalanan yang sulit sering kali menuntun kita pada akhir yang indah.
Begitu banyak hal yang Allah berikan untuk terus membuatku bersyukur.
Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur di setiap hari.
Setidaknya untuk nafas yang tidak bertarif dariNya.
Dan juga, teman yang agak geser, so blessed to be with them.

Hari ini, kami, tiga anak manusia melakukan mini rekreasi yang unpredictable.
Seperti biasa, jika Donat kumpul KKN jam setengah delapan malam dia selalu menginap di tempatku.
Dan seperti biasa juga, kami tak akan tinggal diam saja hanya menyambut pagi di sebuah kamar.
Selalu ada saja rencana untuk keesokan harinya.
Setelah minggu lalu kami menikmati sunrise di Boom, tadi pagi kami menikmati *kalo yang ini bukan sunrise, karena aku dan Donat kesiangan -_-* hangatnya mentari.
Pantai Solong. Ini bukan pertama kalinya aku ke Solong.
Dulu saat PSG aku pernah kesini, dan juga setelah berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan masa lalu mengingat, sepertinya Abah juga pernah mengajak kami sekeluarga ke pantai ini.
Entah tahun berapa, yang jelas saat itu di sekitar pantai sejauh mata memandang hanya ada barisan pohon kelapa.
Sekarang beda, yang ada barisan para mantan gedung-gedung.

Meski selalu bertiga kami tidak pernah merasa sepi.
Donat dan Suryadi adalah dua kombinasi unik yang menghiasi pertemanan kita.
FYI, entah kenapa akhir-akhir ini aku memanggil Suryanto dengan sebutan Suryadi. Wkkk
Ketika mengunjungi pantai biasanya aku tidak terlalu suka bermain air.
Karena pasti harus melepas kaos kaki, basah, lengket, kotor, dan sebagainya dan sebagainya *hemm aleman banget kan?
Tapi tadi aku tergoda dengan batu-batu yang terkikis air laut yang berada di bibir pantai agak ke tengah.
Aku dan Donat sudah menjinjing sendal kami ketika tiba-tiba ada seorang kakek yang menegur.
“Pakai aja sendalnya, banyak batu-batu tajam.”
Seingatku seperti itu yang kakek bilang.
Kami menurut, bukan ide yang bagus juga menyebrangi pantai dengan kaki telanjang.

Setelah menginjakkan kaki di atas batu yang terkikis tadi, mulailah ritual sunnah kami, wefie :D
Agak sedikit medeni, karena sepertinya posisi berfoto kami bertiga sangat mudah membawa pada sebuah molo (musibah).
Karena susah untuk geser kesana kesini, kalau nggak kami yang jatuh ya ponselnya yang jatuh *asal harga diri nggak jatuh, eaaa …
Tidak lama, kurang lebih setelah sepuluh menit kami kembali ke bibir pantai.
Pantai Solong ini menyajikan berbagai pemandangan padaku.
Pemandangan paling menarik perhatian adalah sepasang suami istri muda yang menjemur bayi mereka yang ada di dalam baby train.
Aih, how sweet they are.
Yang paling menggemaskan adalah ketika si ayah mengangkat bayinya dan menciumnya penuh kasih.
Gimana nggak menggemaskan, lha wong ayahnya masih muda banget, eh ----- fokus Mey -_-

Tidak langsung pulang, tapi kami sok-sok an ala-ala bule, berjemur dulu di tempat duduk yang dibuat dari empat buah tong yang di atasnya di beri tripleks tebal.
Padahal mata sudah kriyep-kriyep demi menantang sinar di depan kami.
Sedang duduk tiba-tiba kakek yang tadi menegurku dan Donat ikut bergabung duduk.
Beliau langsung berbaur dengan kami, bercerita tentang apa saja.
Beliau ini orang Bugis ternyata *menurut pengakuannya*
Beliau juga mengklaim diri telah berusia lebih dari seratus tahun.
Aku mengamati kakek dari atas hingga bawah *ah masa sudah lebih dari seratus tahun sih?
Ternyata beliau ini dulu pernah nyantri.
Nyambung lah akhirnya si Surya dan si Kakek.
Karena sama-sama ber-background santri.

Hingga akhirnya entah apa yang Sur tanyakan, kakek menjawab dengan mukaddimah yang membuat kami bertiga agak siyok.
“Saya ini masih keturunan Nabi.”
Hening ----------------------------
Lha ane juga keturunan Nabi kali kek, Nabi Adam.
Eh tapi dipikir-pikir apa yang dibicarakan kakek memang benar sih.
Kita semua kan memang keturunan Nabi Adam?

Melihat kakek aku seperti melihat Pak Supurdi.
Mereka ini tipe-tipe orang tua yang kental akan hal-hal di luar nalar.
Tiba-tiba saja kakek secara sukarela mengajari kami agar menjadi cantik/tampan dengan sebuah doa yang entah bagaimana lafalnya tadi.
Kami hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk bingung.
Tiba-tiba juga si Kakek meramal aku dengan menanyakan nama serta jumlah huruf yang ada dalam namaku.
Aih, yang benar saja ada ilmu memikat seseorang hanya dengan mengetahui jumlah huruf?
Ah pokoknya aneh-aneh lah kakek ini. Semakin terik semakin aku tak tertarik.
Lalu tiba-tiba kakek menanyakan perihal keaslian alisku.
Weiitz dengan bangga aku menggosok-gosok alisku dan berkata, “Asli.”
Beliau menyampaikan sesuatu tapi aku tidak begitu mendengarkan.

Hingga Sur menanyakan siapa nama si kakek, barulah kami semua tahu bahwa namanya Tuk Durrohman.
Hanya saja, semakin jauh Tuk Durrohman bercerita aku semakin jengah dengan apa yang beliau ceritakan.
Semakin jauh bercerita semakin aku dan Donat malas mendengarkan.
Aku juga tahu Sur demikian.
Hanya saja untuk menghormati yang lebih tua Sur selalu meladeni.
Karena beliau mulai bercerita hal-hal yang seharusnya tak perlu diceritakan.
Beliau bercerita tentang ………………………
Skip.

Saat beliau masih bercerita tiba-tiba saja kami semua dikejutkan dengan suara tong yang seperti di pukul.
Aku tahu tidak ada kelapa yang jatuh menghantam tong.
Toh kalaupun jatuh pasti akan mendarat pada tripleks, bukan pada tong yang notabene tertutup tripleks.
Aku mengira bahwa semesta tak mendukung obrolan pagi itu, wkwk
Kami semua diselamatkan oleh ponsel Sur yang berdering saat kakek akan melanjutkan ceritanya.
Dengan tak mengurangi rasa hormat kami bertiga pamitan.
Setelah berpisah baru lah kami, ehem … rasan-rasan :D

Kami berspekulasi pada pemikiran masing-masing tentang kakek.

Si Kakek nggak kelihatan, silau :D
Lupakan kakek, lupakan Solong.
Kami bertiga segera mencari sarapan.
Nasi pecel di daerah Lateng. Jalan D.I Pandjaitan.
Benar-benar recommended.
Enak, bersih, nyaman, murah, dan yang paling penting adalah roti gorengnya enyaaaak.
Juara lah pokoknya.

 
Tidak seperti minggu lalu.
Biasanya setelah sarapan masing-masing dari kami akan pulang.
Tapi entah ini tadi apa yang terjadi.
Aku dan Donat setuju-setuju saja ketika Sur mengajak ke Watu Dodol.
Aku curiga … jangan-jangan aku dan Donat sudah di hipnotis untuk ikut kemana saja Sur pergi.
Hemmm ……..
Aku langsung teringat salah satu tempat yang pernah ku kunjungi bersama barisan para gembel.
Dan ternyata Sur dan Donat belum pernah ke tempat itu.
Langsung saja mereka menerima tawaranku untuk sedikit berolahraga pagi, mendaki.
LMDH Wono Lestari *please don’t ask me what the meaning of LMDH, coz I really don’t know…
Merupakan sebuah situs pemakaman Raja Maulana Ishak dan Putri Sekardadu.
Di belakang makam itu kita bisa melihat samudera yang terbentang serta patung Gandrung ikon Banyuwangi dengan sensasi yang berbeda.

Sepertinya hari ini memang benar-benar hari kami.
Tidak ada pengunjung lain selain kami.
Ini sebenarnya membuatku agak takut.
Ya serem aja gitu jalan bertiga doang.

Setelah ritual sunnah dilaksanakan dengan view patung gandrung, kami berniat menuju goa.
Aku tidak pernah melihat goa itu.
Tapi ternyata kami tidak melanjutkan perjalanan.
Selain was-was, kami juga ragu.
Akhirnya, turunlah kami.


Sampai di bawah, dengan keadaan engap tentunya, kami istirahat.
Tak banyak yang kami lakukan selain duduk dan minum.
Perjalanan pulang Sur berada di depan kami.
Aku yang membonceng Donat.
Aku terkejut ketika tiba-tiba Sur berbelok ke kanan.
Aku tidak sadar kemana kami akan pergi, karena pikirku dia akan menunjukkan lokasi villa milik salah satu dosen kami.
Aku baru sadar ketika Sur bertanya pada salah seorang warga tentang Air Terjun.
Kupingku berdiri.
Jadi kita benar-benar akan ke air terjun???
Saat di atas tadi memang Suryanto sempat menyinggung masalah air terjun.
Tapi aku tidak mengira hari itu juga kami berangkat.
Benar-benar Suryadi ini full of surprise -____-

Bayangkan saja.
Tidak ada persiapan maksimal yang kami lakukan.
Sur dengan celana trining dan kaos oblongnya.
Aku dan Donat apalagi, kami bahkan tak membawa baju ganti.
Karena apa yang Sur lakukan di air terjun nanti benar-benar membuat kami seperti tak sadar :D

Semakin jauh kami meninggalkan perkampungan semakin gelap.
Karena banyak ditumbuhi pohon-pohon yang menjulang yang menutupi sinar matahari.
Aku flashback pada kenangan saat mengunjungi Baluran.
Hutan Selogiri mirip dengan Hutan Baluran.
Kami melewati bendungan dan bumi perkemahan.
Setelahnya, sejauh mata memandang hanya hijau yang tampak.
Jalan pun sama bentuknya dengan yang ada di Baluran.
Tidak pernah mulus *sama seperti hubunganmu dengan gebetanmu yang tak pernah mulus, iya kamuu :D

Boleh dikatakan kami ini anak manusia yang tak tahu di untung.
Pertama kali masuk hutan untuk mencari air terjun.
Bahkan tanpa di dampingi oleh yang sudah pernah.
Gendeng to?
Kami hanya mengandalkan warga yang sedang mencari rumput atau mencari kayu.
Total ada tiga warga yang kami tanyai.
Jangan kalian tanya bagaimana perasaanku saat melintasi hutan lebat yang terjal itu.
Pingin pulang tapi wes kadhung, kepalang tanggung.
Di tambah insiden kebablas yang bikin snewen.
Sebuah plang berdiri di pinggir jalan.
Kami ragu untuk berhenti.
Karena di sekitar plang itu tidak nampak medan yang dapat di tempuh untuk menuju air terjun.

Tapi, setelah bertanya pada satu-satunya warga yang kami temukan, lokasi air terjun itu memang benar ada di bawah plang tersebut.
Ini adalah perjalanan ternekat yang pernah aku lalui.
Berasama dua anak manusia yang juga nekat lainnya.
Agak seram keluyuran bertiga di tengah alas.
Dan yang paling menambah kesan seram adalah, hanya kami bertiga yang hari itu datang berkunjung.

Sur lebih dahulu turun untuk memastikan ada tidaknya air terjun yang di maksud.
Menurut pendengaranku yang InsyaAllah masih baik ini sih harusnya ada.
Karena suara air yang tumpah terdengar jelas.
Sur berlari menemui kami di atas dengan wajah sumringah, air terjun itu ada.

Setelah mengamankan motor sedemikian rupa, kami pun turun.
Aku speechless melihat air yang tumpah dari atas sana.
Mereka menjatuhkan berkubik-kubik air tiap harinya.
Memberikan kehidupan di bawahnya.
Perasaan segar langsung menyergapku.

Dan seperti biasa, provokator ulung Suryanto memanas-manasi kami.
Dia bilang “Eman lek gak adus.”
Aku pikir-pikir, Donat pun sama.
Saat aku dan Donat sedang serius memilih nyebur atau tidak, secara tiba-tiba Sur menyiram-nyiram tubuh Donat dengan air.
Aku sebenarnya ragu, melihat muntahan air yang begitu deras pasti di bawah sana sangat dalam.
Sedangkan aku tidak bisa berenang.
Di tambah air yang agak keruh.
Aku pikir-pikir lagi.

Tapi ternyata aku menyerah.
Segarnya air merayu untuk dijamah.
Dan kami berdua, aku dan Donat dengan noraknya bergandengan tangan menuju ke tengah kolam raksasa itu.

Akhirnya, kami basah dengan sempurna -__-


Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi pada kami hari ini.
Kami mengunjungi tiga tempat dalam sehari, dan itu kami lakukan di weekday.
OMG. Sadarkah kami?
Antara sadar dan tidak :D

Tapi yang jelas kami menikmati.
Di sela rutinitas dan kegalauan tetek bengek KKN, ini menjadi vitamin tersendiri.

Terima kasih kalian.
Atas waktu dan kenekatan yang terjadi hari ini.
Semoga setiap perjalanan yang kita lalui bersama menjadi berkah tersendiri.
Dan setiap perjalanan yang kita lakukan semoga menjadikan kita lebih memahami satu sama lain.

“In life we never lose friends, we only learn who the true ones are …”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar