Rabu, 13 Januari 2016

Semua Akan Hijrah Pada Waktunya

30 Desember 2015.

Gara-gara tugas yang kemarin menghantuiku aku menunda menulis tentang hal ini.
Hal yang membuat aku menangis seperti anak kecil di depan teman-teman.

Percaya kepada sebuah pepatah yang menyebutkan “Batu yang ditetesi air secara terus menerus pasti akan berlubang juga”

Jum’at lalu aku menghadiri kajian rutin di Unair Banyuwangi.
Aku mengajak juga Veni a.k.a Donat a.k.a Monyet untuk hadir.
Donat sampai dirumah siang hari.
Niat awal adalah, kita mengerjakan jurnal dulu baru sorenya kita datang ke kajian.
Tapi ternyata, niat tak berbanding lurus dengan kenyataan.
Sampai di rumah, kami bukannya mengerjakan tugas tapi malah sibuk dengan tontonan masing-masing :D
Akhirnyaaa, “mengerjakan tugas bersama” itu hanyalah ucapan belaka.

Sorenya, kami bersiap berangkat ke Unair.
Acara sore itu menjadikan Donat berpenampilan lain.
Dia memakai jilbab.
Sebenarnya itu bukan pertama kali aku melihatnya berjilbab.
Tapi hari itu adalah pertama kali aku melihatnya berjilbab secara langsung.
Karena biasanya aku hanya meilhat dia berjilbab di DP BBM.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak.
Butuh bermenit-menit untuk menghasilkan jilbab yang “pas”.
Pasang, copot, pasang, bongkar, lipat sana-sini, pasang lagi, copot lagi.
Begitu aja terus nyet sampai aku jadi Presiden Amerika -__-
Apa yang dilakukannya waktu itu seakan melemparkan aku pada masa bertahun-tahun silam.
Saat pertama kali berjilbab jangan tanya bagaimana riewuhnya aku mematut diri di depan cermin.
Begini jelek, begitu jelek, begini miring, begitu juga miring.
Dan dengan tenaga yang tersisa akhirnya aku menyatakan perang pada jilbab segi empat.
Aku banting setir pada jilbab langsung yang simple dan tidak memakan banyak waktu.

Ya, aku teringat masa itu.
Hingga akhirnya teman-teman terdekatku dengan tak berperasaannya mengikrarkan diri bahwa mereka bosan dengan penampilanku yang berjilbab seperti itu-itu saja.
What the hek kan?
Tapi ya memang aku menyadari sudah hampir setahun sejak aku masuk SMK hingga hampir naik kelas XI aku tak pernah ganti model jilbab.
Wajar saja jika mereka bosan melihatku, asal nggak bosan berteman denganku itu sudah aman :D

Kembali pada Donat.
Setelah akhirnya aku membantu mengenakan jilbabnya dia sudah terlihat cantik.

You should know one thing guys.
Setelah kami menghadiri kajian di Unair aku tidak memiliki prasangka apapun untuk keesokan harinya.
Hingga hari itu, 28 Desember 2015, aku melihat tiga perempuan yang selalu bersama, masuk ke perpustakaan kampus.
Mbak Henny, Mbak Lela dan Seanda.
Kemana Donat?

Beberapa detik kemudian dia muncul didepan pandanganku dengan … BERJILBAB.
Aku terkejut, sangat.
Aku terharu hingga air mataku meleleh.
Aku tertawa namun dengan air mata yang terus mengalir.
Gila kan?
Aku tidak menyangka dengan apa yang kulihat.
Perempuan gempal ini benar-benar monyetku.
Ah, monyetku telah berjilbab :D

Sungguh, melihat perubahannya aku tak henti-hentinya bersyukur.
Allah ya? Begitu hebat Sang Maha Pemberi Hidayah.
Aku memeluknya erat, tetep dengan air mata berliter-liter wkwkwk
Aku terus memandanginya dengan takjub.
Setiap melihatnya rasanya mataku kembali hangat.
Aih, dia semakin cantiiiiiiiik.

Aku tahu dia berusaha untuk berubah.
Tapi tak sekalipun aku menanyakan padanya apa yang membuatnya berubah.
Karena dibalik pertanyaan tak penting “Kenapa berubah?” yang paling penting adalah aku hanya harus tetap berada disampingnya untuk bersama dalam keistiqomahan.
Aku hanya harus terus berada di sampingnya untuk menjadi teman baiknya.
Bukan alasan berubah yang ingin kuketahui.
Tapi alasan dia bertahan dengan banyaknya underestimate yang mendarat padanya.
Bukan tidak mungkin Donat tidak mendapat bully dari teman-teman.
Pasti banyak yang meremehkannya.
Tapi dia bertahan hingga hari ini.

Ketika seseorang sudah berubah yang mereka butuhkan hanya dukungan.
Mereka akan lemah pada hinaan dan kuat pada dukungan.
Berubahnya seseorang tidak lantas serta-merta semua sikap buruknya hilang. Tidak.
Semuanya berproses.
Dan kita hanya harus menghargai proses seseorang yang ingin menjadi baik, itu saja.

Dan dalam drama ini bukan hanya aku yang sangat senang, tapi juga Suryanto.
Nyet, semangat yess. Ada aku dan Sur :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar