Gara-gara tugas yang
kemarin menghantuiku aku menunda menulis tentang hal ini.
Hal yang membuat aku
menangis seperti anak kecil di depan teman-teman.
Percaya kepada sebuah
pepatah yang menyebutkan “Batu yang ditetesi air secara terus menerus pasti
akan berlubang juga”
Jum’at lalu aku
menghadiri kajian rutin di Unair Banyuwangi.
Aku mengajak juga Veni
a.k.a Donat a.k.a Monyet untuk hadir.
Donat sampai dirumah
siang hari.
Niat awal adalah, kita
mengerjakan jurnal dulu baru sorenya kita datang ke kajian.
Tapi ternyata, niat tak
berbanding lurus dengan kenyataan.
Sampai di rumah, kami
bukannya mengerjakan tugas tapi malah sibuk dengan tontonan masing-masing :D
Akhirnyaaa,
“mengerjakan tugas bersama” itu hanyalah ucapan belaka.
Sorenya, kami bersiap
berangkat ke Unair.
Acara sore itu
menjadikan Donat berpenampilan lain.
Dia memakai jilbab.
Sebenarnya itu bukan
pertama kali aku melihatnya berjilbab.
Tapi hari itu adalah
pertama kali aku melihatnya berjilbab secara langsung.
Karena biasanya aku
hanya meilhat dia berjilbab di DP BBM.
Dan seperti yang sudah
bisa ditebak.
Butuh bermenit-menit
untuk menghasilkan jilbab yang “pas”.
Pasang, copot, pasang,
bongkar, lipat sana-sini, pasang lagi, copot lagi.
Begitu aja terus nyet
sampai aku jadi Presiden Amerika -__-
Apa yang dilakukannya
waktu itu seakan melemparkan aku pada masa bertahun-tahun silam.
Saat pertama kali
berjilbab jangan tanya bagaimana riewuhnya
aku mematut diri di depan cermin.
Begini jelek, begitu
jelek, begini miring, begitu juga miring.
Dan dengan tenaga yang
tersisa akhirnya aku menyatakan perang pada jilbab segi empat.
Aku banting setir pada
jilbab langsung yang simple dan tidak memakan banyak waktu.
Ya, aku teringat masa
itu.
Hingga akhirnya
teman-teman terdekatku dengan tak berperasaannya mengikrarkan diri bahwa mereka
bosan dengan penampilanku yang berjilbab seperti itu-itu saja.
What
the hek kan?
Tapi ya memang aku
menyadari sudah hampir setahun sejak aku masuk SMK hingga hampir naik kelas XI
aku tak pernah ganti model jilbab.
Wajar saja jika mereka
bosan melihatku, asal nggak bosan berteman denganku itu sudah aman :D
Kembali pada Donat.
Setelah akhirnya aku
membantu mengenakan jilbabnya dia sudah terlihat cantik.
You
should know one thing guys.
Setelah kami menghadiri
kajian di Unair aku tidak memiliki prasangka apapun untuk keesokan harinya.
Hingga hari itu, 28
Desember 2015, aku melihat tiga perempuan yang selalu bersama, masuk ke
perpustakaan kampus.
Mbak Henny, Mbak Lela
dan Seanda.
Kemana Donat?
Beberapa detik kemudian
dia muncul didepan pandanganku dengan … BERJILBAB.
Aku terkejut, sangat.
Aku terharu hingga air
mataku meleleh.
Aku tertawa namun
dengan air mata yang terus mengalir.
Gila kan?
Aku tidak menyangka
dengan apa yang kulihat.
Perempuan gempal ini
benar-benar monyetku.
Ah, monyetku telah
berjilbab :D
Sungguh, melihat
perubahannya aku tak henti-hentinya bersyukur.
Allah ya? Begitu hebat
Sang Maha Pemberi Hidayah.
Aku memeluknya erat,
tetep dengan air mata berliter-liter wkwkwk
Aku terus memandanginya
dengan takjub.
Setiap melihatnya
rasanya mataku kembali hangat.
Aih, dia semakin
cantiiiiiiiik.
Aku tahu dia berusaha
untuk berubah.
Tapi tak sekalipun aku
menanyakan padanya apa yang membuatnya berubah.
Karena dibalik
pertanyaan tak penting “Kenapa berubah?” yang paling penting adalah aku hanya
harus tetap berada disampingnya untuk bersama dalam keistiqomahan.
Aku hanya harus terus
berada di sampingnya untuk menjadi teman baiknya.
Bukan alasan berubah
yang ingin kuketahui.
Tapi alasan dia
bertahan dengan banyaknya underestimate
yang mendarat padanya.
Bukan tidak mungkin
Donat tidak mendapat bully dari
teman-teman.
Pasti banyak yang
meremehkannya.
Tapi dia bertahan
hingga hari ini.
Ketika seseorang sudah
berubah yang mereka butuhkan hanya dukungan.
Mereka akan lemah pada
hinaan dan kuat pada dukungan.
Berubahnya seseorang
tidak lantas serta-merta semua sikap buruknya hilang. Tidak.
Semuanya berproses.
Dan kita hanya harus
menghargai proses seseorang yang ingin menjadi baik, itu saja.
Dan dalam drama ini
bukan hanya aku yang sangat senang, tapi juga Suryanto.
Nyet, semangat yess.
Ada aku dan Sur :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar