Satu lagi gadis yang akhirnya melepas masa lajangnya
di kelas saya. Gadis luar biasa yang setiap harinya berjuang pergi pulang
Glenmore-Banyuwangi untuk gelar S.Sos-nya. Glenmore-Banyuwangi loh ya, bukan
Pakis-Banyuwangi. Nurhaini, namanya.
Mereka yang berbudi pekerti luhur memanggilnya Mbak Heni, dan mereka yang budi
pekertinya pas-pasan, memanggilnya Henot. Nah, saya memanggil beliau “Mbak
Henot”. Silahkan nilai sendiri, dah,
saya termasuk golongan yang mana. Wkwkwkwk …
Saya melihat Mbak Heni pertama kali saat perkuliahan
berlangsung tiga tahun yang lalu. Waktu itu dia masih glondongan gitu, alias nggak berjilbab. Kami saling mengenal pun
bukan lewat kenalan di kelas seperti teman-teman baru pada umumnya. Kami
kenalan lewat Facebook waktu itu. Hingga waktu terus berjalan, kami sekelas
akhirnya tahu dimana gadis mungil tersebut tinggal.
Mengetahui bahwa Mbak Heni PP dari
Glenmore-Banyuwangi, saya takut membayangkan perjalanannya setiap hari. Apalagi
dulu, saat semester-semester muda, kuliah selalu berakhir pukul 9 malam. Saya
jadi bersyukur lagi. Rumah saya hanya selemparan tronton. Ya kalo selemparan
batu, mah, rumah saya di depan
kampus, alias deket banget.
Saya juga ingat Bapak dan Ibu pernah bertanya
perihal teman-teman baru di kampus. Ya saya cerita kalau saya memiliki teman
yang rumahnya Glenmore. Dan dia perempuan. Dan dia PP tiap hari. Orang tua saya
kaget, dan refleks selalu mengkhawatirkan Mbak Heni setiap kuliah berakhir
pukul 9. Pernah suatu malam ketika saya sudah sampai rumah, Bapak bilang, “Iki koncomu sing Glenmore iku sek ning
dalan, yo?” saya mencebik dalam hati, “Iyalah. Gitu kok saya yang pulang
telat semenit aja diomelinnya sejam. Lalu apa kabar Mbak Heni yang sampai rumah
bisa jam 11-an?” tapi ya hanya bisa ngedumel dalam hati , gaes. -___-
Hingga pada tanggal 12 November kemarin, gadis yang
body-nya se-aliran dengan saya (sama-sama beraliran kurus) akhirnya menikah.
Menikah, gaes. Resmi jadi istri.
Padahal nggak ada kabar apa-apa sebelumnya. Padahal Mbak Heni ini, salah satu
penghuni timeline sosmed yang statusnya nggalau
melulu. Lha kok tiba-tiba ngasih undangan nikah? Nampol bener ke hati para
jomblo macam eyke, gaes. Hahahaha …
Seperti nikahan Mbak Lela dulu, saya tidur di rumah
Donat. Tiga hawa dan satu adam. Sabtu pagi, dengan segala hiruk pikuk yang
terjadi, kami berangkat. Sampai rumah mempelai pukul 08.38. Beruntung akad
nikah belum mulai. Kira-kira pukul 09.00 barulah sampai pada peristiwa dimana
mempelai pria menjabat tangan Pak Penghulu, kemudian mengucap sumpah yang
disaksikan Allah, para malaikat, para saksi, dan tentu disaksikan oleh ayah
dari mempelai putri. Saya, seperti biasa, mewek.
Di sepanjang jalan menuju rumah Mbak Heni saya
selalu berdoa semoga tidak telat. Semoga masih sempat melihat prosesi ijab
qabul. Karena peristiwa ijab qabul-lah yang menjadi part paling seru sekaligus
menegangkan dan mengharukan dalam pernikahan. Bukan begitu?
Akhirnya peristiwa sakral itu terlewati dengan
khidmat serta lancar. Senyum tak henti-henti menghiasi wajah ayu Mbak Heni. Suasana
bahagia pun menyeruak kemana-mana. Kami, para squad Fisip A, segera duduk
kembali bergabung dengan undangan lainnya. Tidak lama setelahnya, mempelai
keluar kembali dengan kostum yang berbeda. Dalam balutan pink pastel, Mbak Heni
looks like a princess, so cetar pokoknya.
Baiklah, selamat menempuh hidup baru Mbak Heni dan
Mas Wahyu. This is not happy ending, it’s just beginning. Pernikahan adalah
pintu gerbang menuju kehidupan selanjutnya. Selamat mewarnai kehidupan, Mbak,
Mas. Bahu-membahu lah dalam segala keadaan. Saling mengasihi satu sama lain.
Semoga kehidupan kalian berdua senantiasa diberkahi Allah dan dilimpahi
kebaikan.
Barakallaahu
laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair …
| Donat, ente ngapain? wkwk |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar