Minggu, 13 November 2016

Cie, Nikah #2

Satu lagi gadis yang akhirnya melepas masa lajangnya di kelas saya. Gadis luar biasa yang setiap harinya berjuang pergi pulang Glenmore-Banyuwangi untuk gelar S.Sos-nya. Glenmore-Banyuwangi loh ya, bukan Pakis-Banyuwangi.  Nurhaini, namanya. Mereka yang berbudi pekerti luhur memanggilnya Mbak Heni, dan mereka yang budi pekertinya pas-pasan, memanggilnya Henot. Nah, saya memanggil beliau “Mbak Henot”. Silahkan nilai sendiri, dah, saya termasuk golongan yang mana. Wkwkwkwk …

Saya melihat Mbak Heni pertama kali saat perkuliahan berlangsung tiga tahun yang lalu. Waktu itu dia masih glondongan gitu, alias nggak berjilbab. Kami saling mengenal pun bukan lewat kenalan di kelas seperti teman-teman baru pada umumnya. Kami kenalan lewat Facebook waktu itu. Hingga waktu terus berjalan, kami sekelas akhirnya tahu dimana gadis mungil tersebut tinggal.

Mengetahui bahwa Mbak Heni PP dari Glenmore-Banyuwangi, saya takut membayangkan perjalanannya setiap hari. Apalagi dulu, saat semester-semester muda, kuliah selalu berakhir pukul 9 malam. Saya jadi bersyukur lagi. Rumah saya hanya selemparan tronton. Ya kalo selemparan batu, mah, rumah saya di depan kampus, alias deket banget.

Saya juga ingat Bapak dan Ibu pernah bertanya perihal teman-teman baru di kampus. Ya saya cerita kalau saya memiliki teman yang rumahnya Glenmore. Dan dia perempuan. Dan dia PP tiap hari. Orang tua saya kaget, dan refleks selalu mengkhawatirkan Mbak Heni setiap kuliah berakhir pukul 9. Pernah suatu malam ketika saya sudah sampai rumah, Bapak bilang, “Iki koncomu sing Glenmore iku sek ning dalan, yo?” saya mencebik dalam hati, “Iyalah. Gitu kok saya yang pulang telat semenit aja diomelinnya sejam. Lalu apa kabar Mbak Heni yang sampai rumah bisa jam 11-an?” tapi ya hanya bisa ngedumel dalam hati , gaes. -___-

Hingga pada tanggal 12 November kemarin, gadis yang body-nya se-aliran dengan saya (sama-sama beraliran kurus) akhirnya menikah. Menikah, gaes. Resmi jadi istri. Padahal nggak ada kabar apa-apa sebelumnya. Padahal Mbak Heni ini, salah satu penghuni timeline sosmed yang statusnya nggalau melulu. Lha kok tiba-tiba ngasih undangan nikah? Nampol bener ke hati para jomblo macam eyke, gaes. Hahahaha …

Seperti nikahan Mbak Lela dulu, saya tidur di rumah Donat. Tiga hawa dan satu adam. Sabtu pagi, dengan segala hiruk pikuk yang terjadi, kami berangkat. Sampai rumah mempelai pukul 08.38. Beruntung akad nikah belum mulai. Kira-kira pukul 09.00 barulah sampai pada peristiwa dimana mempelai pria menjabat tangan Pak Penghulu, kemudian mengucap sumpah yang disaksikan Allah, para malaikat, para saksi, dan tentu disaksikan oleh ayah dari mempelai putri. Saya, seperti biasa, mewek.

Di sepanjang jalan menuju rumah Mbak Heni saya selalu berdoa semoga tidak telat. Semoga masih sempat melihat prosesi ijab qabul. Karena peristiwa ijab qabul-lah yang menjadi part paling seru sekaligus menegangkan dan mengharukan dalam pernikahan. Bukan begitu?

Akhirnya peristiwa sakral itu terlewati dengan khidmat serta lancar. Senyum tak henti-henti menghiasi wajah ayu Mbak Heni. Suasana bahagia pun menyeruak kemana-mana. Kami, para squad Fisip A, segera duduk kembali bergabung dengan undangan lainnya. Tidak lama setelahnya, mempelai keluar kembali dengan kostum yang berbeda. Dalam balutan pink pastel, Mbak Heni looks like a princess, so cetar pokoknya.

Baiklah, selamat menempuh hidup baru Mbak Heni dan Mas Wahyu. This is not happy ending, it’s just beginning. Pernikahan adalah pintu gerbang menuju kehidupan selanjutnya. Selamat mewarnai kehidupan, Mbak, Mas. Bahu-membahu lah dalam segala keadaan. Saling mengasihi satu sama lain. Semoga kehidupan kalian berdua senantiasa diberkahi Allah dan dilimpahi kebaikan.

Barakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair …

Donat, ente ngapain? wkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar