Kamis, 10 November 2016

Welcome Skripsweet

Sore yang sendu ini saya habiskan untuk mengetik beberapa postingan untuk blog. Di temani oleh murotalnya Ahmed Saoud, segelas teh manis panas, dan kamu smartphone di sebelah saya. Akhirnya saya bisa melakukan ini setelah info libur kuliah yang saya dapat secara telat melalui grup bbm kelas. Ya begitulah jika pemberitahuan chat di grup saya off-kan. Saya jadi lemot.

Baiklah. Hari ini saya akan sedikit bercerita tentang perkembangan perjalanan skripsi saya. Astaga, rasanya tidak percaya pembahasan mengenai skripsi sampai juga pada saya. Setelah kejadian malam itu, saya mulai mengumpulkan apa-apa saja yang akan saya butuhkan. Seperti data, referensi, dan tentunya kuota. *krik

Jadi, malam itu, setelah sorenya saya mengajukan tiga matriks judul skripsi saya kepada Wakil Dekan 1, ada pesan masuk ke ponsel saya.

“Kamu pilih judul yang mana, menurut kamu yang gampang.”
From : Pak Supurdi
Sent : October 26, 18:24

Ketika membaca pesan tersebut, saya sedang di sekretariat. Waktu itu sekret sedang sibuk mempersiapkan acara Sujiwo Tedjo. Gaes, membaca pesan seperti ini di malam hari yang sibuk dan penat, rasanya seperti mandi di Jagir di siang hari yang panas dan terik. Bayangkan segarnya.

Senyum tak bisa lepas dari wajah saya malam itu. Jemari sempat bingung ingin membalas apa. Akhirnya, dengan kebahagiaan yang membuncah di dada malam itu, saya membalas:
“Bapak dimana? Saya sedang di kampus, Pak.”
Terkirim pada pukul 18.33.

Memang, saya baru membaca pesan Pak Supurdi pada pukul 18.33. Agak menyesal kenapa sedari tadi ponsel saya silent. Semenit kemudian beliau membalas sedang berada di C2. Tanpa a b c, saya langsung keluar sekret, memakai sepatu, dan lari menuju C2. Mirip film-film India gitu, deh.

Sampai di depan C2, nafas saya tidak teratur. Lari dari sekret ke C2 lumayan ternyata. Akhirnya setelah mengatur nafas sedemikian rupa, saya masuk. Di dalam beliau sedang bertugas sebagai pengawas UTS. Para maba nan polos yang ketika ujian masih belum memakai almamater itu, serentak melihat ke arah saya. Saya melihat Pak Purdi. Pak Purdi melihat matriks judul teman-teman yang lain. -___-

Saya duduk di sebelah beliau, salim, dan memasang wajah bego-lah akhirnya.

“Gimana, Mey?”

Saya masih nderedeg. “Iya, Pak.”

Bayangin, ditanya gimana, malah jawab iya. “Yang sekiranya menurut kamu gampang, yang mana?” kata beliau. “Ya, dari awal yang saya seriusin yang PUS itu, Pak.” Saya bingung kalau disuruh memilih yang gampang. Padahal, sebenarnya referensi untuk PUS itu saya masih belum yakin. Hanya teori untuk indikator variabel x saja yang tersedia. Sedangkan untuk indikator variabel y? Saya belum benar-benar dapat. Ya sudah lah ya, haqqul yaqin saya, mah, orangnya. Hahaha.

“Ya sudah, ini saja. Soalnya juga belum ada yang ngangkat tentang PUS. Ada kan, bukunya?” Saya hanya nyengir dan mengangguk takzim. Padahal, mah ...

Setelah chit-chat sedikit mengenai matriks teman-teman yang lain, serta konsultasi mengenai kelulusan yang semoga bisa 3,5 tahun, saya pamit. Tidak bisa saya gambarkan bagaimana perasaan saya malam itu. Bungah pokoknya. Keluar dari C2, refleks saya lompat-lompat mirip Fahri yang diberi hadiah SGM oleh Abah. Kemudian saya lihat sekeliling, sepi, aman. Paling tidak tingkah saya barusan tidak ada yang melihat, wkwkwk.

Saya kembali ke sekret dengan perasaan yang luar biasa baik. Saya jalani rapat pemantapan malam itu dengan sepenuh hati (bukan berarti rapat-rapat sebelumnya tidak sepenuh hati ^_^). Pulang ke rumah, kabar itu langsung saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Ibu tidak henti-henti mengucap syukur. Bapak saya hanya swante dan kalem, sambil tetap fokus pada Haji Muhidin di tipi. Beda ketika nyeramahain saya pas pulang malem, cerewet mirip Feni Rose pas jadi host acara “Rumpi. No secret.”

Tapi, ketika saya keluar dari kamar mandi dan hendak masuk kamar, Bapak mendadak kultum. Beliau bilang “Nggak perlu sing susah-susah wes skripsi iku. Pokok e lulus tepat waktu, kamu dapat gelar, sudah. Sing penting ilmune bermanfaat.”

Ya Allah, saya di ceramahain mahasiswa yang DO *peace, Bah :D

Oke. Saya setuju dengan bagian yang skripsi nggak perlu buledyan seperti kisah asmara kamu dan dia. Kalau kata Pak Purdi, skripsi nggak perlu yang idealis-idealis banget, yang penting di acc, sudah. Terpenting adalah, ilmu yang kita dapat. Implementasinya kepada masyarakat.

Sekarang, yang paling penting bagi saya adalah Bapak dan Ibu saya selalu sehat. Mereka tidak perlu tahu bagaimana jatuh bangunnya saya selama berkuliah, karena jatuh bangun mereka lebih hebat hingga bisa menempatkan saya dalam posisi hari ini, dan karena saya juga yakin doa mereka selalu menyertai. Biarkan saja mereka mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin untuk mendampingi saya wisuda kelak. Saya juga bersyukur, saya bersama teman-teman yang senantiasa menyemangati satu sama lain. Meskipun untuk nyemangatin diri sendiri, susahnya minta ampun. :v

Gerbang sudah dibuka. Lalu apa? Ya jalani jalan yang ada. Mau itu beraspal, berkerikil, berpasir, berlubang, tetap jalani hingga sampai pada tujuan. Semangat skripsi, Mey.

@meyyshaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar