Sore yang sendu ini saya habiskan untuk mengetik beberapa
postingan untuk blog. Di temani oleh murotalnya Ahmed Saoud, segelas teh manis
panas, dan kamu smartphone di sebelah saya. Akhirnya saya bisa melakukan
ini setelah info libur kuliah yang saya dapat secara telat melalui grup bbm
kelas. Ya begitulah jika pemberitahuan chat
di grup saya off-kan. Saya jadi lemot.
Baiklah. Hari ini saya akan sedikit bercerita tentang
perkembangan perjalanan skripsi saya. Astaga, rasanya tidak percaya pembahasan
mengenai skripsi sampai juga pada saya. Setelah kejadian malam itu, saya mulai
mengumpulkan apa-apa saja yang akan saya butuhkan. Seperti data, referensi, dan
tentunya kuota. *krik
Jadi, malam itu, setelah sorenya saya mengajukan tiga
matriks judul skripsi saya kepada Wakil Dekan 1, ada pesan masuk ke ponsel
saya.
“Kamu pilih judul yang mana, menurut kamu yang gampang.”
From : Pak Supurdi
Sent : October 26, 18:24
Ketika membaca pesan tersebut, saya sedang di
sekretariat. Waktu itu sekret sedang sibuk mempersiapkan acara Sujiwo Tedjo. Gaes, membaca pesan seperti ini di malam
hari yang sibuk dan penat, rasanya seperti mandi di Jagir di siang hari yang
panas dan terik. Bayangkan segarnya.
Senyum tak bisa lepas dari wajah saya malam itu. Jemari
sempat bingung ingin membalas apa. Akhirnya, dengan kebahagiaan yang membuncah
di dada malam itu, saya membalas:
“Bapak dimana? Saya sedang di kampus, Pak.”
Terkirim pada pukul 18.33.
Memang, saya baru membaca pesan Pak Supurdi pada pukul
18.33. Agak menyesal kenapa sedari tadi ponsel saya silent. Semenit kemudian
beliau membalas sedang berada di C2. Tanpa a b c, saya langsung keluar sekret,
memakai sepatu, dan lari menuju C2. Mirip film-film India gitu, deh.
Sampai di depan C2, nafas saya tidak teratur. Lari dari
sekret ke C2 lumayan ternyata. Akhirnya setelah mengatur nafas sedemikian rupa,
saya masuk. Di dalam beliau sedang bertugas sebagai pengawas UTS. Para maba nan
polos yang ketika ujian masih belum memakai almamater itu, serentak melihat ke
arah saya. Saya melihat Pak Purdi. Pak Purdi melihat matriks judul teman-teman
yang lain. -___-
Saya duduk di sebelah beliau, salim, dan memasang wajah
bego-lah akhirnya.
“Gimana, Mey?”
Saya masih nderedeg.
“Iya, Pak.”
Bayangin, ditanya gimana, malah jawab iya. “Yang
sekiranya menurut kamu gampang, yang mana?” kata beliau. “Ya, dari awal yang
saya seriusin yang PUS itu, Pak.” Saya bingung kalau disuruh memilih yang
gampang. Padahal, sebenarnya referensi untuk PUS itu saya masih belum yakin.
Hanya teori untuk indikator variabel x saja yang tersedia. Sedangkan untuk
indikator variabel y? Saya belum benar-benar dapat. Ya sudah lah ya, haqqul
yaqin saya, mah, orangnya. Hahaha.
“Ya sudah, ini saja. Soalnya juga belum ada yang ngangkat tentang PUS. Ada kan, bukunya?”
Saya hanya nyengir dan mengangguk
takzim. Padahal, mah ...
Setelah chit-chat
sedikit mengenai matriks teman-teman yang lain, serta konsultasi mengenai
kelulusan yang semoga bisa 3,5 tahun, saya pamit. Tidak bisa saya gambarkan
bagaimana perasaan saya malam itu. Bungah
pokoknya. Keluar dari C2, refleks saya lompat-lompat mirip Fahri yang diberi
hadiah SGM oleh Abah. Kemudian saya lihat sekeliling, sepi, aman. Paling tidak
tingkah saya barusan tidak ada yang melihat, wkwkwk.
Saya kembali ke sekret dengan perasaan yang luar biasa
baik. Saya jalani rapat pemantapan malam itu dengan sepenuh hati (bukan berarti
rapat-rapat sebelumnya tidak sepenuh hati ^_^). Pulang ke rumah, kabar itu
langsung saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Ibu tidak henti-henti mengucap
syukur. Bapak saya hanya swante dan
kalem, sambil tetap fokus pada Haji Muhidin di tipi. Beda ketika nyeramahain saya pas pulang malem, cerewet mirip Feni Rose pas jadi host acara “Rumpi. No secret.”
Tapi, ketika saya keluar dari kamar mandi dan hendak
masuk kamar, Bapak mendadak kultum. Beliau bilang “Nggak perlu sing susah-susah wes skripsi iku. Pokok e lulus tepat
waktu, kamu dapat gelar, sudah. Sing
penting ilmune bermanfaat.”
Ya Allah, saya di ceramahain mahasiswa yang DO *peace, Bah :D
Oke. Saya setuju dengan bagian yang skripsi nggak perlu buledyan seperti kisah asmara kamu dan dia. Kalau kata Pak Purdi,
skripsi nggak perlu yang
idealis-idealis banget, yang penting di acc,
sudah. Terpenting adalah, ilmu yang kita dapat. Implementasinya kepada
masyarakat.
Sekarang, yang paling penting bagi saya adalah Bapak dan
Ibu saya selalu sehat. Mereka tidak perlu tahu bagaimana jatuh bangunnya saya
selama berkuliah, karena jatuh bangun mereka lebih hebat hingga bisa
menempatkan saya dalam posisi hari ini, dan karena saya juga yakin doa mereka
selalu menyertai. Biarkan saja mereka mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin
untuk mendampingi saya wisuda kelak. Saya juga bersyukur, saya bersama
teman-teman yang senantiasa menyemangati satu sama lain. Meskipun untuk nyemangatin diri sendiri, susahnya minta
ampun. :v
Gerbang sudah dibuka. Lalu apa? Ya jalani jalan yang ada.
Mau itu beraspal, berkerikil, berpasir, berlubang, tetap jalani hingga sampai
pada tujuan. Semangat skripsi, Mey.
![]() |
| @meyyshaan |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar