Selasa, 08 November 2016

Dear, Sutradara Drama Korea

Annyeong haseyooooo ….

Tumben ya salam pembukanya pake Bahasa Korea, biasanya kan nyelonong aja gitu kaya kamu yang tiba-tiba nyelonong masuk kedalam hatiku … eaaaa *apa sih

Tulisan kali ini sesuai dengan mukaddimah di atas, gaes. Tidak lain tidak bukan tulisan yang akan nyentil tentang Korea. Lebih tepatnya lagi tentang Drama Korea. Mmmm yang paling tepat lagi tentang Sutradara Drama Korea. Oke, simak baik-baik.

Beberapa hari yang lalu saya terlibat dalam perbincangan bersama dua perempuan pecinta Korea. Perbincangan via komentar facebook itu memberiku inspirasi untuk membuat tulisan ini. Ah, benar-benar luar biasa. Bahkan perbincangan yang nggak begitu penting banget itu bisa mendatangkan inspirasi untukku. Sampai akhirnya Donat bilang “Jiwa penulis e bangkit dari kubur???” Hahahahaha, saya ngakak demi membaca komentar itu.

Oke. Hari itu kami ngerasani drama Korea terbaru yang saat ini sedang tayang di Korea sana. Judulnya “Descendants of The Sun”. Bagi mereka yang KPOP buanget sudah pasti tahu drama menggemaskan yang satu ini. Yeah, you’re right. Yang main Suryo dan Nurul. Tunggu, gaes, jangan buru-buru naik pelaminan pitam. Saya sungguh tidak bermaksud untuk mengubah secara semena-mena nama mereka. Karena saya sadar saya tidak turut dalam tasyakuran jenang merah untuk mengubah nama mereka. Nanti, nanti akan kuberitahu kalian kenapa saya memanggil mereka Suryo dan Nurul.

Tampaknya DOTS menjadi perbincangan yang tiada akhir bagi para pecinta Drama Korea. Sampai-sampai ada artikel yang berisi tentang para Dokter sungguhan yang iri oleh kecantikan dr. Kang di drama tersebut. Dan bagaimana bisa dr. Kang menolak seorang tentara yang cakepnya ugal-ugalan seperti Kapten Si Jin? Aduuuh ampun, jadi para Dokter asli itu ngiri sama Nurul??? Hmmmm, nganan aja nganan.

Saya adalah perempuan yang sebenarnya buta Drama. Walaupun dulu sempat nonton Drama Korea yang sedang hitzzz pada masanya, seperti “Boys Before Flowers” atau “He’s Beautiful”. Dua drama itu saya tonton di televisi. Kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas X. BBF benar-benar menjadi trending topikk di sekolah, terlebih di kelasku, terlebih lagi karena saya berteman dengan perempuan jadi-jadian yang gila Korea, sebangku lagi -___-

Aih, sepertinya hidupku berjodoh dengan teman-teman KPOP.  Waktu itu saya masih ingat bahkan saya memiliki sebuah buku yang berisi lirik lagu soundtrack BBF yang saat ini entah kemana hijrahnya buku itu. Saya hanya remaja 15 tahun yang waktu itu terhipnotis oleh ketampanan Mas Lee Min Ho dan kawan-kawannya. Lha memang ada yang bilang Mas Min Ho itu nggak tampan?

Nah, gaes … Waktu itu saya belum mengenal dengan baik dunia Drama Korea. Saya nggak paham kalau drama Korea itu beda sama sinetron kita. Saya sempat bertanya-tanya kemanakah gerangan hilangnya wajah rupawan Mas Min Ho yang biasanya nongol di sore hari itu? Usut punya usut, baru saya tahu kalau ternyata filmnya sudah tamat. Saya bahkan tidak menyebutnya drama, tapi film. Kan, betapa polosnya diriku ini -__-

Dari sana saya ya tetap belum ngerti bagaimana aturan main sebuah drama. Pokoknya saya ini katrok lah kalau masalah begituan. Baru setelah saya kuliah, tepatnya ketika semester …. aduh, maaf, gaes, saya lupa semester berapa :D

Waktu itu saya diberi sebuah drama oleh Donat. Sepertinya waktu itu kami sedang menikmati liburan UAS. Sepertinya …

Drama pertama yang saya lihat saat saya sudah memiliki laptop adalah “Pinochio”. Saya kesemsem sama aktingnya Park Shin Ye yang natural banget. Dan saya juga kepincut sama perubahan penampilannya Choi Dal Po. Siapa yang nggak kepincut sama Uncle Choi Dal Po pas dia sudah di permak oleh si Kakek? Setelah nonton Pinochio saya langsung minta lagi drama yang recommended. Alhamdulillah, saya punya Donat yang selalu menjadi penyuplai tetapku dalam urusan drama, hahahaha.

Yang membuatku angkat topi dengan drama korea adalah alur cerita yang disuguhkan. Benar-benar unpredictable. Dan, itu jauh sekali jika ingin disamakan dengan sinetron-sinetron kita. Heran sih, apa iya sutradara-sutradara kita nggak bisa bikin drama yang seperti drama korea? Kita mah yang ada suka kebablasan, pinginnya bikin drama yang cuma beberapa episode aja, eeeh malah nyampe ratusan episode, bahkan ribuan. Jatohnya bukan drama, tapi sinetron. Dah gitu ceritanya mbulet. Persis kisah cintamu dengan si gebetan yang mbulet nggak kelar-kelar.

Ya bayangin aja, dari mulai Tukang Bubur Naik Haji sampai Anak Jalanan julan bubur, episodenya sudah berapa, gaes??? Padahal tokoh Haji Sulam dalam TBNH yang notabene tokoh utama sudah almarhum (skenarionya begitu).

Atau jangan-jangan kita memang ditakdirkan untuk tidak bisa memproduksi sebuah drama seperti mereka? Karena para perempuan Indonesia sudah banyak yang dikutuk untuk kepincut dengan drama Korea yang ditunjang dengan penampilan rupawan para pemainnya. Dan pada akhirnya kita akan bersikap underestimate dengan kemampuan bangsa kita sendiri. Dan pada akhirnya (lagi) kita akan membanding-bandingkan kualitas dunia sinetronan kita dengan Korea. Hmm, padahal dibanding-bandingkan itu rasanya ndak enak. *krik

Harus diakui, drama Korea benar-benar mampu menghipnotis tidak hanya perempuan Indonesia, tapi seluruh perempuan di belahan dunia ini. Saya juga tidak mengerti kenapa Drama Korea memiliki magnet luar biasa yang mampu membuat para perempuan akhir zaman ini baper berkepanjangan. DOTS misalnya, di hari pertama penayangannya saja atmosfer kebaperan sudah melanda saya, gimana enggak? Pemainnya ini loh gaes, cantik dan gantengnya absolut. Song Hye Kyo itu kalau kita ibaratkan artis Indonesia sudah pasti Dian Sastro, kita sepakat untuk itu. Song Joong Ki? Ya kalau Song Hye Kyo saja Dian Sastro, sudah pasti Song Joong Ki itu ya Nicholas Saputra, masa Mas Agus Mulyadi?

Wis, sekarang kita ke sutradara drama Korea.

Kenapa saya menulis tentang sutradara drama korea? Karena banyak drama-drama korea yang membuatku gemas karena episodenya yang nanggung. Saya heran kenapa para sutradara ini seperti sengaja menggantung perasaan para penonton. Tidak hanya di gantung, tapi juga meninggalkan baper yang berbulan-bulan lamanya.

Yong Pal misalnya, drama se-kece ini harus tuntas dalam delapan belas episode. Ya Rabb, Pak Sutradara, kenapa nggak di genapin dua puluh episode sekalian, sih, Pak? Waeee??? Wis gitu endingnya begitu doang. Adegan Yeo Jin selesai di operasi, terus Tae Hyun bilang “Yeo Jin, kau bisa mendengarku?”, perlahan Yoe Jin membuka mata, terus Tae Hyun bilang lagi “Kamu tahu siapa saya?”, Yeo Jin nyahut dari dalam hati, “Yong Pal.” Dah. Kelar. The end. Apa nggak ngehek ending seperti itu?

Tapi di sisi lain Yong Pal memang drama luar biasa. Cerita tentang seorang dokter yang mencari tambahan uang dengan melanggar kode etik seorang dokter. Melakukan kunjungan rumah yang illegal. Adegan-adegan saat membedah tubuh manusia diperlihatkan dengan begitu jelas, sehingga mampu membuat siapa saja yang menontonnya nggak akan kolu untuk makan. Huweeek …

Ya tapi tetep saja, endingnya itu loh, mbloooo …

Saya juga harus tabah dengan episode DOTS yang hanya sampai pada angka 16. Saya mah bisa apa, gaes. Maksud hati ingin lanjut sampai 20 episode, apa daya Pak Sutradara berkata tidak. Ya, akhirnya kami (drakor lovers) harus senantiasa bersabar terhadap jumlah-jumlah episode yang tak tentu ini. Ada drama yang menurut saya biasa, tapi jumlah episodenya banyak. Drama yang menurut saya luar biasa, justru hanya 16 episode.

Saya menyelesaikan tulisan ini lumayan lama. Harusnya tulisan ini sudah terposting delapan bulan yang lalu. Bayangin, de la pan bu lan. Lama lho itu. Baru-baru ini saya juga kepincut oleh drama yang recommended. Namun sekali lagi, saya harus kecewa dengan endingnya yang kurang greget. Judulnya Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo. Drama yang mengisahkan tentang kehidupan di masa kerajaan Georyeo. Baru kali ini saya nonton drakor sejarah, dan langsung cinta. Tapi ya gitu, cinta saya dipatahakan (lagi-lagi) oleh endingnya. -__-

Saya hanya berharap drama yang sedang saya ikuti kali ini memiliki akhir yang klimaks. Istilahnya yang endingnya ngelegain penontonnya lah. Biar kami para ciwi-ciwi ini nggak ngedumel siang malam, mengutuki ending yang tak sesuai harapan.

Oh ya, untuk alasan kenapa saya memanggil dua pemain utama DOTS Suryo dan Nurul. Gaes, sejujurnya saya nggak bisa ngehapalin nama asli para artis-artis Korea. Jadi saya memanggil mereka dengan nama khas Indonesia yang mudah untuk saya ingat. Begitulah pokoknya.

Sekian dulu tulisan saya tentang Drama Korea. Nanti disambung lagi jika ada sesuatu (tentang drakor) yang saya rasa perlu untuk saya tulis.

Jadi, pesan saya untuk Pak Sutradara drakor. Tolonglah, berikan pada kami ending drama yang bisa masuk ke akal kami, para perempuan akhir zaman ini. Oh, saya rasa hal ini bisa dijadikan masukan untuk penulis skenario drakor juga. Warbiyasa lho penulis naskah ini. Belio-belio mampu membuat dialog yang berkualitas. Apalagi dialog-dialog dalam drama Another Miss Oh, Pinochio, Signal, The K2, etc. Wes pokoknya saya kasih semua jempol yang saya punya untuk para penulis naskah itu.

@meyyshaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar