Annyeong haseyooooo ….
Tumben ya salam pembukanya pake Bahasa Korea, biasanya kan
nyelonong aja gitu kaya kamu yang tiba-tiba nyelonong masuk kedalam hatiku … eaaaa *apa sih
Tulisan kali ini sesuai dengan mukaddimah di atas, gaes. Tidak lain tidak bukan tulisan
yang akan nyentil tentang Korea. Lebih tepatnya lagi tentang Drama Korea. Mmmm
yang paling tepat lagi tentang Sutradara Drama Korea. Oke, simak baik-baik.
Beberapa hari yang lalu saya terlibat dalam perbincangan
bersama dua perempuan pecinta Korea. Perbincangan via komentar facebook itu
memberiku inspirasi untuk membuat tulisan ini. Ah, benar-benar luar biasa.
Bahkan perbincangan yang nggak begitu penting banget itu bisa mendatangkan
inspirasi untukku. Sampai akhirnya Donat bilang “Jiwa penulis e bangkit dari kubur???” Hahahahaha, saya ngakak demi
membaca komentar itu.
Oke. Hari itu kami ngerasani
drama Korea terbaru yang saat ini sedang tayang di Korea sana. Judulnya
“Descendants of The Sun”. Bagi mereka yang KPOP buanget sudah pasti tahu drama menggemaskan yang satu ini. Yeah, you’re right. Yang main Suryo dan
Nurul. Tunggu, gaes, jangan buru-buru
naik pelaminan pitam. Saya sungguh tidak bermaksud untuk mengubah secara
semena-mena nama mereka. Karena saya sadar saya tidak turut dalam tasyakuran
jenang merah untuk mengubah nama mereka. Nanti, nanti akan kuberitahu kalian
kenapa saya memanggil mereka Suryo dan Nurul.
Tampaknya DOTS menjadi perbincangan yang tiada akhir bagi
para pecinta Drama Korea. Sampai-sampai ada artikel yang berisi tentang para
Dokter sungguhan yang iri oleh kecantikan dr. Kang di drama tersebut. Dan
bagaimana bisa dr. Kang menolak seorang tentara yang cakepnya ugal-ugalan
seperti Kapten Si Jin? Aduuuh ampun, jadi para Dokter asli itu ngiri sama Nurul??? Hmmmm, nganan aja nganan.
Saya adalah perempuan yang sebenarnya buta Drama. Walaupun
dulu sempat nonton Drama Korea yang sedang hitzzz pada masanya, seperti “Boys
Before Flowers” atau “He’s Beautiful”. Dua drama itu saya tonton di televisi.
Kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas X. BBF benar-benar menjadi
trending topikk di sekolah, terlebih di kelasku, terlebih lagi karena saya
berteman dengan perempuan jadi-jadian yang gila Korea, sebangku lagi -___-
Aih, sepertinya hidupku berjodoh dengan teman-teman KPOP. Waktu itu saya masih ingat bahkan saya
memiliki sebuah buku yang berisi lirik lagu soundtrack BBF yang saat ini entah
kemana hijrahnya buku itu. Saya hanya remaja 15 tahun yang waktu itu
terhipnotis oleh ketampanan Mas Lee Min Ho dan kawan-kawannya. Lha memang ada
yang bilang Mas Min Ho itu nggak tampan?
Nah, gaes … Waktu
itu saya belum mengenal dengan baik dunia Drama Korea. Saya nggak paham kalau drama
Korea itu beda sama sinetron kita. Saya sempat bertanya-tanya kemanakah
gerangan hilangnya wajah rupawan Mas Min Ho yang biasanya nongol di sore hari
itu? Usut punya usut, baru saya tahu kalau ternyata filmnya sudah tamat. Saya
bahkan tidak menyebutnya drama, tapi film. Kan, betapa polosnya diriku ini -__-
Dari sana saya ya tetap belum ngerti bagaimana aturan main sebuah drama. Pokoknya saya ini katrok
lah kalau masalah begituan. Baru setelah saya kuliah, tepatnya ketika semester
…. aduh, maaf, gaes, saya lupa
semester berapa :D
Waktu itu saya diberi sebuah drama oleh Donat. Sepertinya
waktu itu kami sedang menikmati liburan UAS. Sepertinya …
Drama pertama yang saya lihat saat saya sudah memiliki laptop
adalah “Pinochio”. Saya kesemsem sama aktingnya Park Shin Ye yang natural
banget. Dan saya juga kepincut sama perubahan penampilannya Choi Dal Po. Siapa
yang nggak kepincut sama Uncle Choi Dal Po pas dia sudah di permak oleh si
Kakek? Setelah nonton Pinochio saya langsung minta lagi drama yang recommended.
Alhamdulillah, saya punya Donat yang selalu menjadi penyuplai tetapku dalam
urusan drama, hahahaha.
Yang membuatku angkat topi dengan drama korea adalah alur
cerita yang disuguhkan. Benar-benar unpredictable.
Dan, itu jauh sekali jika ingin disamakan dengan sinetron-sinetron kita. Heran
sih, apa iya sutradara-sutradara kita nggak bisa bikin drama yang seperti drama
korea? Kita mah yang ada suka
kebablasan, pinginnya bikin drama yang cuma beberapa episode aja, eeeh malah
nyampe ratusan episode, bahkan ribuan. Jatohnya bukan drama, tapi sinetron. Dah
gitu ceritanya mbulet. Persis kisah cintamu dengan si gebetan yang mbulet nggak
kelar-kelar.
Ya bayangin aja, dari mulai Tukang Bubur Naik Haji sampai
Anak Jalanan julan bubur, episodenya sudah berapa, gaes??? Padahal tokoh Haji Sulam dalam TBNH yang notabene tokoh
utama sudah almarhum (skenarionya begitu).
Atau jangan-jangan kita memang ditakdirkan untuk tidak bisa
memproduksi sebuah drama seperti mereka? Karena para perempuan Indonesia sudah
banyak yang dikutuk untuk kepincut dengan drama Korea yang ditunjang dengan
penampilan rupawan para pemainnya. Dan pada akhirnya kita akan bersikap underestimate dengan kemampuan bangsa
kita sendiri. Dan pada akhirnya (lagi) kita akan membanding-bandingkan kualitas
dunia sinetronan kita dengan Korea. Hmm, padahal dibanding-bandingkan itu
rasanya ndak enak. *krik
Harus diakui, drama Korea benar-benar mampu menghipnotis
tidak hanya perempuan Indonesia, tapi seluruh perempuan di belahan dunia ini. Saya
juga tidak mengerti kenapa Drama Korea memiliki magnet luar biasa yang mampu
membuat para perempuan akhir zaman ini baper berkepanjangan. DOTS misalnya, di
hari pertama penayangannya saja atmosfer kebaperan sudah melanda saya, gimana
enggak? Pemainnya ini loh gaes, cantik dan gantengnya absolut. Song Hye Kyo itu
kalau kita ibaratkan artis Indonesia sudah pasti Dian Sastro, kita sepakat
untuk itu. Song Joong Ki? Ya kalau Song Hye Kyo saja Dian Sastro, sudah pasti
Song Joong Ki itu ya Nicholas Saputra, masa Mas Agus Mulyadi?
Wis, sekarang kita ke sutradara drama Korea.
Kenapa saya menulis tentang sutradara drama korea? Karena
banyak drama-drama korea yang membuatku gemas karena episodenya yang nanggung. Saya heran kenapa para
sutradara ini seperti sengaja menggantung perasaan para penonton. Tidak hanya
di gantung, tapi juga meninggalkan baper yang berbulan-bulan lamanya.
Yong Pal misalnya, drama se-kece ini harus tuntas dalam delapan
belas episode. Ya Rabb, Pak Sutradara, kenapa nggak di genapin dua puluh
episode sekalian, sih, Pak? Waeee??? Wis gitu endingnya begitu doang. Adegan
Yeo Jin selesai di operasi, terus Tae Hyun bilang “Yeo Jin, kau bisa
mendengarku?”, perlahan Yoe Jin membuka mata, terus Tae Hyun bilang lagi “Kamu
tahu siapa saya?”, Yeo Jin nyahut dari dalam hati, “Yong Pal.” Dah. Kelar. The
end. Apa nggak ngehek ending seperti itu?
Tapi di sisi lain Yong Pal memang drama luar biasa. Cerita
tentang seorang dokter yang mencari tambahan uang dengan melanggar kode etik
seorang dokter. Melakukan kunjungan rumah yang illegal. Adegan-adegan saat
membedah tubuh manusia diperlihatkan dengan begitu jelas, sehingga mampu
membuat siapa saja yang menontonnya nggak akan kolu untuk makan. Huweeek …
Ya tapi tetep saja, endingnya itu loh, mbloooo …
Saya juga harus tabah dengan episode DOTS yang hanya sampai
pada angka 16. Saya mah bisa apa, gaes. Maksud hati ingin lanjut sampai 20
episode, apa daya Pak Sutradara berkata tidak. Ya, akhirnya kami (drakor
lovers) harus senantiasa bersabar terhadap jumlah-jumlah episode yang tak tentu
ini. Ada drama yang menurut saya biasa, tapi jumlah episodenya banyak. Drama yang
menurut saya luar biasa, justru hanya 16 episode.
Saya menyelesaikan tulisan ini lumayan lama. Harusnya tulisan
ini sudah terposting delapan bulan yang lalu. Bayangin, de la pan bu lan. Lama lho
itu. Baru-baru ini saya juga kepincut oleh drama yang recommended. Namun sekali
lagi, saya harus kecewa dengan endingnya yang kurang greget. Judulnya Moon
Lovers Scarlet Heart Ryeo. Drama yang mengisahkan tentang kehidupan di masa
kerajaan Georyeo. Baru kali ini saya nonton drakor sejarah, dan langsung cinta.
Tapi ya gitu, cinta saya dipatahakan (lagi-lagi) oleh endingnya. -__-
Saya hanya berharap drama yang sedang saya ikuti kali ini
memiliki akhir yang klimaks. Istilahnya yang endingnya ngelegain penontonnya lah. Biar kami para ciwi-ciwi ini nggak ngedumel
siang malam, mengutuki ending yang tak sesuai harapan.
Oh ya, untuk alasan kenapa saya memanggil dua pemain utama
DOTS Suryo dan Nurul. Gaes, sejujurnya saya nggak bisa ngehapalin nama asli para artis-artis Korea. Jadi saya memanggil
mereka dengan nama khas Indonesia yang mudah untuk saya ingat. Begitulah pokoknya.
Sekian dulu tulisan saya tentang Drama Korea. Nanti disambung
lagi jika ada sesuatu (tentang drakor) yang saya rasa perlu untuk saya tulis.
Jadi, pesan saya untuk Pak Sutradara drakor. Tolonglah,
berikan pada kami ending drama yang bisa masuk ke akal kami, para perempuan
akhir zaman ini. Oh, saya rasa hal ini bisa dijadikan masukan untuk penulis
skenario drakor juga. Warbiyasa lho
penulis naskah ini. Belio-belio mampu
membuat dialog yang berkualitas. Apalagi dialog-dialog dalam drama Another Miss
Oh, Pinochio, Signal, The K2, etc. Wes
pokoknya saya kasih semua jempol yang saya punya untuk para penulis naskah
itu.
![]() |
| @meyyshaan |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar