Rabu, 25 Januari 2017

Dolan Plus-Plus

Hari Minggu kemarin, pagi-pagi sekali saya sudah keluar rumah untuk pergi ke Selatan.  Dalam rangka apa? Akan saya jelaskan dalam tulisan ini.

Pertama, silaturahmi. Sejak Ibu pulang pertengahan Januari lalu, kami memang belum bertemu. Ibu yang dimaksud dalam tulisan ini Ibunya Veni, gaes. Ibu sedang hamil besar, dan beliau akan stay in Banyuwangi for a long time. Setidaknya beliau nanti akan lahiran di Banyuwangi. Ibu pulang di saat kami disibukkan dengan jadwal seminar yang datang secara tiba-tiba. Berkali-kali Suryanto mengajak saya ke Genteng, namun apa daya, proposal mengalihkan dunia saya. Dan setelah saya selesai seminar, barulah kami berangkat ke Genteng. Hari Sabtu Veni menginap di Banyuwangi. Sabtu siang, saya dan Veni menyelesaikan segala urusan yang telah di rencanakan maupun urusan yang tidak di rencanakan. Menjelang maghrib kami baru bisa rebahan. Sesi rebahan tidak berlangsung lama, ba’da isya’ kami keluar lagi. Kami ngumpul bertiga. Ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon. Rasanya sudah lama kami tidak ngumpul bertiga seperti kemarin. Kami pulang setelah mematangkan rencana untuk besok, selain itu waktu juga menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. 


Sekitar pukul enam pagi, kami –saya dan Veni– bersiap untuk pergi. Suryanto berangkat terlebih dahulu, selain harus mengambil barang dagangan –tetep, otak dagang dimanapun berada– dia juga paham, dua sahabatnya ini susah untuk di ajak pergi pagi-pagi sekali. Saya dan Veni tiba di Dasri sekitar pukul setengah delapan. Tidak lama setelah itu Suryanto datang. Lega rasanya sudah bertemu Ibu dan Ibenk. Tidak banyak perubahan yang terjadi sejak terakhir kali saya bertemu mereka. Ibenk tetap ganteng, meskipun agak aneh melihat Ibu dengan perutnya yang semakin buncit. Gimana nggak aneh, wong dulu belio masih lincah main air sambil lari-larian di pantai, naik turun gumuk Teluk Ijo, nyetir di medan yang sungguh menguji kemampuan mengemudi kita. Lah, sekarang? Boro-boro, bangun dari duduk lesehan aja syusah. :D

Kedua, wisata religi. Seperti yang sudah di rencanakan, dari rumah Veni kami pergi ke Blokagung. Ini kesekian kalinya saya masuk area pesantren, namun untuk ponpes Blokagung, ini pertama kalinya bagi saya. Selalu ada atmosfer yang berbeda ketika memasuki kawasan pesantren. Apa, ya? Suasana yang susah didefinisikan. Benar adanya lagu yang familiar di telinga kita, “Suasana di kota santri, asyik senangkan hati.” Masuk ke kawasan dimana banyak santri berkeliaran memang memiliki sensasi berbeda. Hari itu hari Minggu, mereka tetap menjalankan aktivitas sekolah seperti biasa. Saya tidak tahu pukul berapa kami tiba di Blokagung, yang jelas waktu itu sepertinya bertepatan dengan jam istirahat para santri. Jadilah akhirnya saya mendapat pemandangan aktivitas mereka di sekitaran pondok. Mayan, cuci mata pagi-pagi, hahahaha.

Setelah sempat lupa jalan menuju makam dan bertanya sana-sini kepada para santri, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Area makam yang seperti bale itu adem, bikin betah. Saya hanya duduk di teras, waktu itu saya sedang halangan, jadi nggak ikut ngaji dengan mbak-mbak santri disana. Suryanto yang telah berubah dari kaos oblong dan celana jeans ke pakaian dinas (sarung, koko dan songkok) segera menuju dekat makam. Veni yang sudah wudhu juga langsung menuju dekat makam. Saya hanya bisa duduk di pinggiran sambil ngejagain sendal mereka. Hmmm, saya mah apa -___-

Veni selesai. Suryanto belum selesai. Saya dan Veni menuju kamar mandi perempuan. Veni membetulkan jilbabnya yang nggak betul (karena jilbab nggak betul adalah salah satu penyebab perempuan badmood, selain PMS, dicuekin dan lapar), dan saya buang air kecil. Masih di dalam kamar mandi, saya mendengar pengumuman yang disiarkan melalui pengeras suara. Pengumuman itu berisi tentang larangan bagi santri maupun santriwati untuk mengakses sosial media selama mereka mendapat kiriman, kurang lebih seperti itulah pengumuman yang saya dengar. Hingga saya keluar dari kamar mandi, pengumuman itu masih disiarkan. Saya dan Veni hanya tersenyum penuh arti mendengar pengumuman itu. Kemudian, disusul kembali dengan pengumuman selanjutnya. Saya lupa bagaimana detailnya, yang jelas pengumuman itu tentang santri yang ingin menemui santriwati harus melapor terlebih dahulu. Saya langsung mbatin, “Kesempatan dah tuh buat yang mau ketemu gebetan.”
 
Sebenarnya jika dipikir-pikir, toh pengurus pesantren juga tidak akan tahu jika santri/santriwatinya mengakses sosial media. Ya, kan? Iya, mungkin pengurus tidak tahu, tapi Allah tahu, Mey. Duh, ngeri. :D

Begitu, loh, hidup di pondok, yang kalau kata Suryanto adalah penjara suci. Banyak larangannya, banyak nggak bolehnya, banyak peraturannya, banyak ini-itunya. Tapi, ya tetep, pesantren masih banyak penggemarnya.

Setelah Suryanto selesai, kami pun pulang. Sekali lagi, saya mengamati keadaan di sekitar pesantren. Saya suka atmosfer ini, suka sekali. Andai dulu Bapak dan Ibu memasukkan saya ke pesantren, akan jadi seperti apa saya sekarang? Dan kira-kira pesantren mana yang jadi tempat saya belajar? Ah, tidak apa saya tidak mondok, yang penting anak saya kelak harus mondok. Ya, nak, ya?

Sayangnya, saya sama sekali tidak mengambil foto saat berada di area pesantren. Saya baru sadar ketika sudah keluar area. Kan lumayan untuk kenang-kenangan. Karena jaman sekarang no pict dibilang hoax. Tapi jaman sekarang pula pict itu sendiri sumber hoax. Eh, ini apa, sih, kok bahas-bahas hoax?

Ketiga, mbolang. Sebenarnya acara ketiga ini diluar kehendak saya. Lalu kehendak siapa? Sudah jelas, the one and only, sing ana tunggale, Suryanto Salsyaf. Keluar dari area pesantren kami berhenti. Suryanto mulai mengeluarkan kompor-kompornya, mulai dari kompor kayu, kompor minyak, kompor listrik, hingga kompor gas. Semua dia nyalakan. “Ayo nang ndi ngono, sek jam sakmene.” Waktu itu kira-kira jam sepuluh pagi. Saya seperti biasa, sudah ngomel-ngomel. Berhubung di Genteng jarang ada wisata alam, akhirnya Suryanto menelpon temannya yang entah siapa dan menanyakan lokasi air terjun yang juga entah apa namanya. Veni sibuk mencari tempat ganti (iya, jadi keluar dari area pesantren dia langsung mengganti rok-nya dengan celana, sepertinya dia sudah well-prepared, tahu kalau selesai dari Blokagung kita pasti akan dolan, wkwkwkwk warbiayasa), saya sibuk ngedumel di atas motor, Suryanto sibuk menginterogasi temannya. Akhirnya seperti biasa, setelah musyawarah yang tidak mufakat sama sekali kami berangkat. Kami menuju air terjun kepala naga. Sebenarnya banyak versi nama, ada yang bilang air terjun kepala naga, ada juga yang bilang air terjun tengkorak. Ini kok namanya nggak ada yang nyenengin semua, ya.

Saya tidak tahu kami menuju daerah mana. Yang jelas kami melewati rel kereta api. Yang jelas kami melewati jalan ke arah Umbul. Yang jelas kami melewati rumah Mbak Heni. Oh ya, kami juga sampai di daerah bernama Sepanjang. Setelah naik turun jalan, akhirnya kami nyasar. Yaah, meskipun akhirnya kami sampai tempat tujuan dengan selamat, namun drama dibalik kesasar-sasar itu sungguhlah luar biasa. Kami melewati berupa-rupa jenis medan. Berbatu, berpasir, berkerikil. Hingga akhirnya Veni sadar jika perjalanan kami ini sebenarnya mubeng. “Ngerti ngene kan mau lewat Umbul ae.” Ya keleus, Ndo. Namanya juga pertama kali, nggak ada persiapan, buta arah pula, jadinya ya meneketehe. Kami juga sempat mampir ke rumah Intan –teman SMA Veni– karena insiden tidak tahu jalan ini. Begitulah, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, kan? Nyambung-lah akhirnya tali silaturahmi Intan dan Veni. Dari Intan, kami mendapat versi nama lain lagi tentang air terjunnya, yakni air terjun Legomoro. Dan ternyata memang benar, setelah beberapa menit mengendarai motor kami tiba di depan banner besar bertuliskan Wisata Air Terjun Legomoro. Sekitar area air terjun lumayan rapi dan bersih. Banyak tenda-tenda pedagang berjejer dengan rapi. Masuk ke wisata ini tidak ada charge, alias gratis. Hanya saja disediakan kotak amal di pintu masuk sebagai pengganti biaya masuk. Kita bisa memberi seikhlas kita. Tentu kita sadar perawatan serta pengembangan tempat wisata agar tetap nyaman juga membutuhkan dana.

Setelah puas menikmati air tejun, melihat-lihat sekeliling, nyantai di semak-semak (sudah seperti shooting program ethnic runway -___-), dan tidak lupa dokumentasi, kami pun pulang. Karena Veni sudah sadar dari ketidaktahuannya, kami pulang melewati jalan yang lebih cepat. Tidak lagi melewati jalan awal kami berangkat.




Kami berhenti di salah satu masjid. Masjid yang letaknya di bulak sawah ini begitu tenang, sunyi, tentram, adem, menyenangkan, wis pokoknya bikin betah. Saya yang sedang tidak sholat hanya duduk-duduk di teras. Nyender di salah satu pilar ditemani semilir angin membuat saya ingin rebahan, tapi hanya sekedar ingin. Bisa-bisa nanti saya kesirep.



Well, itu lah kisah perjalanan plus-plus kami. Perjalanan jasmani iya, perjalanan rohani juga iya. Seperti orang bijak bilang, hidup harus seimbang. Hubungan vertikal dan horizontal harus harmonis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar