Hari Minggu kemarin, pagi-pagi
sekali saya sudah keluar rumah untuk pergi ke Selatan. Dalam rangka apa? Akan saya jelaskan dalam
tulisan ini.
Pertama, silaturahmi. Sejak Ibu
pulang pertengahan Januari lalu, kami memang belum bertemu. Ibu yang dimaksud
dalam tulisan ini Ibunya Veni, gaes.
Ibu sedang hamil besar, dan beliau akan stay
in Banyuwangi for a long time. Setidaknya beliau nanti akan lahiran di
Banyuwangi. Ibu pulang di saat kami disibukkan dengan jadwal seminar yang
datang secara tiba-tiba. Berkali-kali Suryanto mengajak saya ke Genteng, namun
apa daya, proposal mengalihkan dunia saya. Dan setelah saya selesai seminar,
barulah kami berangkat ke Genteng. Hari Sabtu Veni menginap di Banyuwangi.
Sabtu siang, saya dan Veni menyelesaikan segala urusan yang telah di rencanakan
maupun urusan yang tidak di rencanakan. Menjelang maghrib kami baru bisa
rebahan. Sesi rebahan tidak berlangsung lama, ba’da isya’ kami keluar lagi.
Kami ngumpul bertiga. Ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon.
Rasanya sudah lama kami tidak ngumpul
bertiga seperti kemarin. Kami pulang setelah mematangkan rencana untuk besok,
selain itu waktu juga menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Sekitar pukul enam pagi, kami –saya dan Veni– bersiap untuk pergi. Suryanto
berangkat terlebih dahulu, selain harus mengambil barang dagangan –tetep, otak dagang dimanapun berada– dia
juga paham, dua sahabatnya ini susah untuk di ajak pergi pagi-pagi sekali. Saya
dan Veni tiba di Dasri sekitar pukul setengah delapan. Tidak lama setelah itu
Suryanto datang. Lega rasanya sudah bertemu Ibu dan Ibenk. Tidak banyak
perubahan yang terjadi sejak terakhir kali saya bertemu mereka. Ibenk tetap
ganteng, meskipun agak aneh melihat Ibu dengan perutnya yang semakin buncit. Gimana nggak aneh, wong dulu belio masih
lincah main air sambil lari-larian di pantai, naik turun gumuk Teluk Ijo, nyetir
di medan yang sungguh menguji kemampuan mengemudi kita. Lah, sekarang? Boro-boro, bangun dari duduk lesehan aja syusah. :D
Kedua, wisata religi. Seperti
yang sudah di rencanakan, dari rumah Veni kami pergi ke Blokagung. Ini kesekian
kalinya saya masuk area pesantren, namun untuk ponpes Blokagung, ini pertama
kalinya bagi saya. Selalu ada atmosfer yang berbeda ketika memasuki kawasan
pesantren. Apa, ya? Suasana yang susah didefinisikan. Benar adanya lagu yang
familiar di telinga kita, “Suasana di
kota santri, asyik senangkan hati.” Masuk ke kawasan dimana banyak santri
berkeliaran memang memiliki sensasi berbeda. Hari itu hari Minggu, mereka tetap
menjalankan aktivitas sekolah seperti biasa. Saya tidak tahu pukul berapa kami
tiba di Blokagung, yang jelas waktu itu sepertinya bertepatan dengan jam istirahat
para santri. Jadilah akhirnya saya mendapat pemandangan aktivitas mereka di
sekitaran pondok. Mayan, cuci mata
pagi-pagi, hahahaha.
Setelah sempat lupa jalan
menuju makam dan bertanya sana-sini kepada para santri, akhirnya kami sampai di
tempat tujuan. Area makam yang seperti bale
itu adem, bikin betah. Saya hanya duduk di teras, waktu itu saya sedang
halangan, jadi nggak ikut ngaji dengan mbak-mbak santri disana.
Suryanto yang telah berubah dari kaos oblong dan celana jeans ke pakaian dinas
(sarung, koko dan songkok) segera menuju dekat makam. Veni yang sudah wudhu
juga langsung menuju dekat makam. Saya hanya bisa duduk di pinggiran sambil ngejagain sendal mereka. Hmmm, saya mah apa -___-
Veni selesai. Suryanto belum
selesai. Saya dan Veni menuju kamar mandi perempuan. Veni membetulkan jilbabnya
yang nggak betul (karena jilbab nggak betul adalah salah satu penyebab
perempuan badmood, selain PMS,
dicuekin dan lapar), dan saya buang air kecil. Masih di dalam kamar mandi, saya
mendengar pengumuman yang disiarkan melalui pengeras suara. Pengumuman itu
berisi tentang larangan bagi santri maupun santriwati untuk mengakses sosial
media selama mereka mendapat kiriman, kurang lebih seperti itulah pengumuman
yang saya dengar. Hingga saya keluar dari kamar mandi, pengumuman itu masih
disiarkan. Saya dan Veni hanya tersenyum penuh arti mendengar pengumuman itu.
Kemudian, disusul kembali dengan pengumuman selanjutnya. Saya lupa bagaimana
detailnya, yang jelas pengumuman itu tentang santri yang ingin menemui
santriwati harus melapor terlebih dahulu. Saya langsung mbatin, “Kesempatan dah tuh buat yang mau ketemu gebetan.”
Sebenarnya jika dipikir-pikir, toh pengurus pesantren juga tidak akan
tahu jika santri/santriwatinya mengakses sosial media. Ya, kan? Iya, mungkin
pengurus tidak tahu, tapi Allah tahu, Mey. Duh,
ngeri. :D
Begitu, loh, hidup di pondok, yang kalau kata Suryanto adalah penjara suci.
Banyak larangannya, banyak nggak
bolehnya, banyak peraturannya, banyak ini-itunya. Tapi, ya tetep, pesantren masih banyak penggemarnya.
Setelah Suryanto selesai, kami
pun pulang. Sekali lagi, saya mengamati keadaan di sekitar pesantren. Saya suka
atmosfer ini, suka sekali. Andai dulu Bapak dan Ibu memasukkan saya ke
pesantren, akan jadi seperti apa saya sekarang? Dan kira-kira pesantren mana
yang jadi tempat saya belajar? Ah, tidak apa saya tidak mondok, yang penting anak saya kelak harus mondok. Ya, nak, ya?
Sayangnya, saya sama sekali
tidak mengambil foto saat berada di area pesantren. Saya baru sadar ketika
sudah keluar area. Kan lumayan untuk kenang-kenangan. Karena jaman sekarang no pict dibilang hoax. Tapi jaman sekarang pula pict
itu sendiri sumber hoax. Eh, ini apa,
sih, kok bahas-bahas hoax?
Ketiga, mbolang. Sebenarnya acara ketiga ini diluar kehendak saya. Lalu
kehendak siapa? Sudah jelas, the one and
only, sing ana tunggale, Suryanto Salsyaf. Keluar dari area pesantren kami
berhenti. Suryanto mulai mengeluarkan kompor-kompornya, mulai dari kompor kayu,
kompor minyak, kompor listrik, hingga kompor gas. Semua dia nyalakan. “Ayo nang ndi ngono, sek jam sakmene.”
Waktu itu kira-kira jam sepuluh pagi. Saya seperti biasa, sudah ngomel-ngomel. Berhubung di Genteng
jarang ada wisata alam, akhirnya Suryanto menelpon temannya yang entah siapa
dan menanyakan lokasi air terjun yang juga entah apa namanya. Veni sibuk
mencari tempat ganti (iya, jadi keluar dari area pesantren dia langsung
mengganti rok-nya dengan celana, sepertinya dia sudah well-prepared, tahu kalau selesai dari Blokagung kita pasti akan dolan, wkwkwkwk warbiayasa), saya sibuk ngedumel
di atas motor, Suryanto sibuk menginterogasi temannya. Akhirnya seperti biasa,
setelah musyawarah yang tidak mufakat sama sekali kami berangkat. Kami menuju
air terjun kepala naga. Sebenarnya banyak versi nama, ada yang bilang air
terjun kepala naga, ada juga yang bilang air terjun tengkorak. Ini kok namanya nggak ada yang nyenengin
semua, ya.
Saya tidak tahu kami menuju
daerah mana. Yang jelas kami melewati rel kereta api. Yang jelas kami melewati
jalan ke arah Umbul. Yang jelas kami melewati rumah Mbak Heni. Oh ya, kami juga
sampai di daerah bernama Sepanjang. Setelah naik turun jalan, akhirnya kami nyasar. Yaah, meskipun akhirnya kami sampai tempat tujuan dengan selamat,
namun drama dibalik kesasar-sasar itu
sungguhlah luar biasa. Kami melewati berupa-rupa jenis medan. Berbatu,
berpasir, berkerikil. Hingga akhirnya Veni sadar jika perjalanan kami ini
sebenarnya mubeng. “Ngerti ngene kan mau lewat Umbul ae.”
Ya keleus, Ndo. Namanya juga pertama
kali, nggak ada persiapan, buta arah
pula, jadinya ya meneketehe. Kami
juga sempat mampir ke rumah Intan –teman SMA Veni– karena insiden tidak tahu
jalan ini. Begitulah, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, kan? Nyambung-lah akhirnya tali silaturahmi
Intan dan Veni. Dari Intan, kami mendapat versi nama lain lagi tentang air
terjunnya, yakni air terjun Legomoro. Dan ternyata memang benar, setelah
beberapa menit mengendarai motor kami tiba di depan banner besar bertuliskan
Wisata Air Terjun Legomoro. Sekitar area air terjun lumayan rapi dan bersih.
Banyak tenda-tenda pedagang berjejer dengan rapi. Masuk ke wisata ini tidak ada
charge, alias gratis. Hanya saja
disediakan kotak amal di pintu masuk sebagai pengganti biaya masuk. Kita bisa
memberi seikhlas kita. Tentu kita sadar perawatan serta pengembangan tempat
wisata agar tetap nyaman juga membutuhkan dana.
Setelah puas menikmati air
tejun, melihat-lihat sekeliling, nyantai
di semak-semak (sudah seperti shooting
program ethnic runway -___-), dan
tidak lupa dokumentasi, kami pun pulang. Karena Veni sudah sadar dari ketidaktahuannya,
kami pulang melewati jalan yang lebih cepat. Tidak lagi melewati jalan awal
kami berangkat.
Kami berhenti di salah satu
masjid. Masjid yang letaknya di bulak
sawah ini begitu tenang, sunyi, tentram, adem,
menyenangkan, wis pokoknya bikin betah. Saya yang sedang tidak
sholat hanya duduk-duduk di teras. Nyender
di salah satu pilar ditemani semilir angin membuat saya ingin rebahan, tapi
hanya sekedar ingin. Bisa-bisa nanti saya kesirep.
Well, itu lah kisah perjalanan plus-plus kami. Perjalanan jasmani iya, perjalanan rohani juga iya.
Seperti orang bijak bilang, hidup harus seimbang. Hubungan vertikal dan
horizontal harus harmonis.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar