Selasa, 07 Februari 2017

Organisasi Dan Cinta: Seimbangkan, Ya ...

Semalam entah mengapa tiba-tiba saya mengeluarkan uneg-uneg yang sudah menggumpal di dalam hati. Saya menumpahkannya dalam sebuah status di salah satu media sosial saya (facebook). Dan hasilnya seperti yang telah saya duga. Kontroversial. Ada yang menduga saya marah-marah lantas menyayangkan sikap saya, ada yang ngadem-ngadem saya, ada yang bilang saya ngamuk elegan, ada juga yang malah memberi saya gelar motivator perempuan abad ini macam Cak Ayunk. -__-

Saya tipikal orang yang selalu “saring sebelum sharing” (itu sekarang, dulu mah kagak, nulis status ya nulis aja, sampai akhirnya facebook memiliki fitur share kenangan yang bikin kita sadar betapa alay-nya kita dulu). Sebelum menekan tombol post, saya baca lagi status saya berulang-ulang. Hapus, ketik, hapus, ketik, begitu seterusnya hingga tiga puluh menit berlangsung. Saya harus bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah saya tulis. Saya harus siap menerima semua konsekuensi dari apa yang saya utarakan. Seperti status saya itu contohnya.

Ya, status tersebut adalah sebuah protes, sebuah ungkapan, sebuah suara yang hendak saya sampaikan kepada “mereka” yang berada di dalam organisasi tersebut. Sebuah organisasi yang saya ikuti dari awal pembentukan. Sebuah organisasi dimana mereka yang ada di dalamnya adalah panutan. Sebuah organisasi yang dalam proses berkembangnya mendapat begitu banyak cobaan.

Dulu, kami berikrar untuk selalu istiqomah bagaimanapun keadaan di depan. Kami berikrar untuk bersama merangkak dari titik nol sebuah perjuangan. Kami berikrar untuk tetap menjadikan organisasi ini wadah dalam menyebarkan kebaikan. Dua tahun saya berproses bersama mereka. Suka dan duka, jatuh dan bangun, penolakan, pengucilan, tak dapat dukungan, semua sudah khatam kami rasakan. Adakah kami menyerah? Tidak. Kami tak pernah mundur barang sesenti saja. Segala macam reaksi tersebut menjadikan kami lebih kuat, mandiri, serta kompak. Perasaan senasib sepenanggungan lah yang membuat kami tetap satu. Kami yang haus akan ilmu agama, haus akan siraman-siraman rohani, haus akan ilmu yang datang dari majelis-majelis taklim, menuntut agar rasa haus tersebut segera dituntaskan. Hingga akhirnya disinilah kami. Mencoba menimbulkan oasis di antara gegap gempita duniawi.

Saya heran dengan mereka yang selalu menentang keberadaan kami. Mengapa? Adakah yang salah? Kami bukan organisasi yang akan mengirimkan anggota-anggotanya untuk berjihad dengan kelompok ISIS di Suriah sana. Kami bukan segerombolan pemuda radikal yang akan mencuci otak anggota-anggotanya dengan kaidah yang salah. Kami bukanlah organisasi yang akan menimbulkan kekacauan di muka bumi ini sehingga harus dilenyapkan dari peredaran. Sebagian besar dari kami adalah pemuda-pemudi beraqidah Islam menurut faham ahlusunnah wal jama’ah. Kami tidak berbahaya. Mereka yang menentang kami belum pernah merasakan duduk bersama dengan kami. Mereka tidak tahu apa yang kami diskusikan ketika kumpul bersama. Mungkin mereka pikir kami akan membahas issue-issue kelas berat yang akan membuat kepala botak. Padahal tidak sama sekali. Andai mereka tahu bahwa kami selalu membahas hal-hal sederhana yang  tetap bermakna. Tanya jawab seputar kerohanian yang selalu diselipkan canda tawa. Andai mereka mau tahu, mereka tidak akan segan untuk bersama menuntut ilmu.

Tapi mereka tak mau tahu, yang mereka mau hanya organisasi ini harus bubar. Saya ingat ketika pertama kali kami mengadakan acara besar, tidak banyak harapan yang bisa kami gantungkan kepada para penguasa. Kesana kemari membawa alamat mencari sponsor, hingga acara dapat berjalan dan mendapat banyak notice dari berbagai kalangan. Saya juga masih ingat, selesai acara tersebut ada beberapa mahasiswa yang antusias bergabung bersama kami. Mereka heran, ternyata ada juga organisasi seperti kami di kampus merah putih ini. Ada juga mereka yang telah lama menantikan munculnya organisasi seperti yang kami inisiasi.

Semua itu proses. Proses pembentukan, branding diri, hingga akhirnya di notice banyak orang. Akhirnya hari ini, semau apapun orang-orang menolak kami, kami sudah terlanjur dikenal. Semau apapun orang-orang tak acuh terhadap kami, kami sudah terlanjur terkenal.

Namun, semua ikrar itu rasanya menjadi sulit ketika tak pernah lagi ada muhasabah diri. Semua ikrar itu menjadi sulit ketika ego muncul dalam masing-masing diri. Dan, semua ikrar itu saling dipertanyakan kini. Semakin hari kuantitas kami semakin menurun. Tak hanya anggota, rutinitas berkumpul juga semakin jarang. Dulu, awal-awal terbentuk saya suka sekali atmosfernya. Terasa sekali bahagianya berkumpul dengan orang-orang yang insyaallah bisa menemani saya untuk menjaga keistiqomahan. Saya sadar, memang begitulah dinamika berorganisasi. Ada saat pasang, ada saat surut. Saya tidak merasa menjadi yang paling konsisten dan istiqomah di organisasi ini, karena memang saya tidak. Namun, setidaknya saya berusaha untuk tetap berada di koridor. Saya berusaha untuk tetap profesional. Saya berusaha untuk tetap tidak mencampuradukkan urusan hati dengan organisasi.

Tidak lantas kemudian saya judge bahwa anggota lain tidak profesional, tidak istiqomah, dan tidak konsisten, sama sekali tidak. Saya hanya ingin kita mengingat kembali ikrar kita. Saya hanya ingin organisasi ini tetap ada dan bernafas. Saya hanya ingin marwah organisasi ini tetap terjaga. Itu saja. Saya tidak masalah mau di antara sesama anggota ada jalinan asmara atau tidak. Saya tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang saya harapkan hanya satu, berlakulah sebijak mungkin. Kalian adalah panutan saya, bahkan dapat saya katakan kalian adalah panutan mahasiswa di kampus kita. Gimana, ya, jelasinnya. Semakin kesini kok saya semakin tidak bisa mengekspresikan kata-kata. Saya harap uneg-uneg saya ini dapat dimengerti oleh semuanya.

Begini, dulu saya sempat ngobrol dengan salah satu anggota IPNU via media sosial. Beliau berkata anggota organisasi islam itu memang wajib jomblo, engko lek pacaran diseneni ketuane, katanya. Pra syarat jadi pimpinan ormas islam itu harus jomblo/single. Mengapa? Karena jika pemimpinnya itu tidak jomblo/single (dalam hal ini pacaran) tentu dia tidak akan di dengar oleh umatnya. Memimpin organisasi islam tapi pacaran? Kan lucu, gaes. Alhamdulillah, ketua kami terdahulu dan sekarang tidak begitu. Semoga.

Saya memang tidak bisa menuntut semua anggota harus sama seperti pandangan saya, harus sama seperti prinsip saya, harus ini, harus itu sama seperti saya, lha memang saya siapa? Hanya satu yang saya inginkan dan saya minta, bisakah kita semua menahan sebentar dengan apa yang sedang membuncah di dalam dada? Jatuh cinta itu memang luar biasa membahagiakan. Kasmaran memang sesuatu yang indahnya susah didefinisikan. Namun, sekali lagi, tetaplah bijak dan sadar. Jangan sampai nafsu sesaat membuat kita menjadi pribadi yang tidak pantas lagi dijadikan panutan. Bersabarlah, diamlah, kendalikan diri sebaik mungkin.

Saya akan sangat respect dengan orang-orang yang terlibat asmara dalam satu organisasi namun tetap menunjukkan sikap yang bijak serta profesional. Tidak mencampuradukkan urusan hati dan organisasi. Sekali lagi seperti yang saya sebut di atas, ini semua tentang marwah organisasi. Saya bertanggungjawab atas setiap perkataan saya, namun tidak dengan apa yang kalian pahami. Saya tidak peduli dengan bagaimana pemahaman kalian atas pendapat saya.

Jadi, bisakah kita bersama-sama memulai semuanya lagi? Menepati ikrar yang telah kita sepakati? Bisa, ya?
Sumber : Words of Wisdom

4 komentar:

  1. Mantapp , saya suka bacanya
    Tp saya pun merasa , sebagai tukang ngoprak. Mari kembali menjalin . Jangan lupa hari jum'at jam 4 sore 😘😘😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak ya, tukang ngoprak. 😘😘😘
      Yup, see you Friday.

      Hapus
  2. Keren bacaannya, ibarat makan singkong rebus tanpa minum air kalau kata saya "omongmu empuk tapi nyereti" hahahh sipp 😁

    BalasHapus