Beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari salah
satu adik kelas. Adik kelas yang tak bisa saya sebut namanya, demi menjaga
privasi dirinya. *batuk kecil
Dia memberikan sebuah pertanyaan, “Kalau orang hijrah, apa boleh pacaran?”
Ntap, dik ... pertanyaan dengan bobot
sembilan. Warbiyasa pusing saya dibuatnya.
Saya pikir dia akan bertanya masalah kuliah atau hal lain yang tidak
berhubungan dengan agama. But, yeah, as a
good sister I should try my best to answer ...
Jadi begini, dik,
seperti yang sudah saya jawab tempo hari. Orang hijrah boleh pacaran, ndak ada yang ngelarang (Ini sih menurut saya, ya. Lha iya, wong
yang ditanya saya. Bukan begitu?). Pacaran adalah hak segala manusia,
begitupun ketika tidak pacaran. Hmmm,
saya lelah sebenarnya nulis tentang pacar-pacaran begini. Ujung-ujungnya saya
dikira sirik sama orang yang pacaran. Dikira terlalu lama sendiri terus
kesepian, merana, nggak bahagia, kurang kasih sayang belaian mesra, akhirnya nyinyirin mereka. Kan teleque.
Saya ingat tausyiah yang disampaikan dalam salah satu
kajian LDK dulu. Hijrah itu proses berpindah. Pindah dari hal buruk ke hal
baik. Pindah dari sifat buruk ke sifat baik. Pindah dari tempat buruk ke tempat
baik. Intinya, dari yang buruk ke yang baik. Berkenaan dengan pertanyaan adik
kelas saya itu, biasanya mereka yang baru berhijrah, sejalan dengan prosesnya,
seiring dengan berjalannya waktu, mereka –orang yang baru berhijrah– bisa
merasakan sendiri, sebenarnya perlu tidak sih kita pacaran? *tuh kaaan, kesannya kayak lagi nyinyir ...
Dalam banyak kasus orang hijrah, saya melihat ada
ketidakpahaman yang masih terjadi. Ada yang menganggap ketika sudah memilih
untuk berhijrah –dari yang tidak memakai jilbab jadi memakai jilbab– maka
segala ‘aksesori’ dunia harus di lepas, tingkah laku harus berubah. Jatuhnya
bagaimana? Mereka akan mengikuti arus yang salah. Yang seperti ini lah yang
akan menjadi santapan endeus bagi kader-kader
gerakan ekstremis.
Padahal konsep hijrah tidak begitu. Berhijrah itu adalah
berproses. Yang namnya berproses tentu melalui beberapa tahap. Mi instan saja
–yang katanya instan– masih tetap membutuhkan proses hingga akhirnya dapat
disantap. Apalagi kita yang hanya manusia biasa?
Bagi para akhwat yang sudah mantap ‘berhijrah’ namun
belum mampu memutus hubungan dengan sang pacar, ya sudah, jangan di paksakan
untuk putus. Jalani saja. (Kecuali memutuskan untuk menikah) Banyak yang nyinyirin? Sudah hijrah, sudah jilbaban,
masih aja pacaran! Ah, santai saja, hijrah
must go on. Yang terpenting niat kita untuk berhijrah harus benar, harus lillahita’ala. Karena saya yakin, nanti,
dalam prosesnya, akan banyak pemahaman yang kita dapatkan. Dan untuk urusan
pacaran, saya juga yakin, pada saatnya nanti akan datang pemahaman yang membuat
kita menertawakan masa-masa yang telah lewat.
Saya tahu bagaimana kegalauan yang melanda adik kelas
saya itu. Dia bilang, “Aku bingung, Mbak.
Aku single, tapi kadang kalau ada yang deket aku suka. Tapi takut, Mbak. Secara
kalau pacaran ada segelintir maksiat. Berat, ya?”
Lah, memangnya gaya pacaranmu gimana kok sampai
ada segelintir maksiat begitu? Heuheuheu. Hal yang wajar ketika kita merasa
senang saat ada lawan jenis yang mendekati atau bahkan menyukai kita. Siapa sih
yang nggak senang? Hal ini juga yang biasanya menjadi bahan pertimbangan
perempuan-perempuan macam adik kelas saya itu ketika ingin berubah. Memang sih, ya. Urusan pacaran ini menjadi
urusan yang ruwetnya naudzubillah. Sebenarnya
sih tidak ruwet. Pandangan
masing-masing ummat Tuhan aja yang bikin ruwet.
Saya memang tidak pernah pacaran. Namun, jangan lantas
menganggap saya sebagai orang yang terjaga ‘kehormatannya’, orang paling suci.
Karena saya juga masih oke saja
salaman, atau boncengan dengan lawan
jenis. Nah, kalau sudah seperti saya begini, tidak pacaran hanya menjadi sebuah
prinsip yang wis kadhung tertanam. Gimana, ya? Not easy to explain what’s on my mind. Kalau kata mereka, apa yang
saya lakukan ini setengah-setengah, nggak kaffah.
Saya juga tidak akan berteriak ‘Pacaran itu haram!’. Emang saya MUI? Berarti
saya menghalalkan pacaran, dong? Tuh, kan, serba salah.
Yang salah itu, ketika ada yang bilang, “Ya daripada saya
berbuat zina, nahan kangen, mending saya pacaran.” --- Menikah keleus, bukan
pacaran.
Jadi begitu, dik, yang sedang gundah gulana. Sedikit
pencerahan tentang pacaran saat sedang hijrah –yang semoga membuatmu
tercerahkan, bukan malah suram– yang bisa Mbak berikan. Jangan hanya bertanya
kepada saya. Bertanyalah kepada orang-orang yang lebih berilmu dari saya.
Bertanyalah kepada banyak orang yang kamu rasa mumpuni untuk di ajak sharing.
Memang, orang yang ingin berubah untuk menjadi lebih baik
itu godaannya luar biasa menggoda. Kembali lagi, kita harus menguatkan niat,
pasang rambu-rambu pengingat apabila kita mulai melangkah keluar koridor.
Saring dengan baik informasi yang kita dapat, entah itu dari buku, internet
atau media cetak. Hati-hati dengan akun-akun penebar kebencian serta fitnah.
Hal ini juga mengingatkan saya dengan Kak Lia –kalo yang
ini nama tidak perlu disamarkan, biar aja jamaah ismafawwaz semua tahu– yang
kemarin sempat curhat tentang jilbab. Dia mau sekali untuk berjilbab, namun,
sekali lagi, dia masih belum siap dengan segala tingkah laku yang telah melekat
dengan nyaman dalam kepribadiannya.
“Ya
Allah, Kak. Ndane aku jilbaban tapi kelakuan sek koyo ngene.”
Saya hanya tertawa. Ya mau gimana lagi, Kak. Kelakuanmu
memang begitu. Saya menyadari betul ketidaksiapan Kakak Lia. Ada banyak hal
yang dia pikirkan sehingga kewajiban mengenakan jilbab menjadi tertunda.
Padahal, jilbab dan akhlak dua hal yang berbeda. Kak Lia sebetulnya juga
menyadari bahwa temannya ini –saya maksudnya– cukup menjadi tempatnya berkaca.
Kemarin dia bergumam, “Iyo loh, Kak. Aku
lek lihat kamu itu yo gitu wes. Jilbaban, tapi yo sek koyok ngono.” Saya
bertambah ngakak. Iya, iya, saya
paham.
Kak, kamu tidak perlu melihat mereka yang terpaut jauh
sekali dengan kamu. Cukup lihat saya, atau lihat Bibeh. Saya atau Bibeh, apakah
ada anggun-anggunnya? Nggak ada, Kak. Kami berdua setel, seperti toa masjid. Urusan akhlak, nanti dia akan mengikuti
seiring berjalannya waktu. Hari ini saja, saya masih terus berbenah diri. Nah,
kalau kamu terus saja mengukur diri dengan mbak-mbak yang hijrahnya secara kaffah itu, mau sampai kapan? Mau sampai
kapan menunda kewajiban, Kak?
Kita tidak pernah tahu nikmat usia yang akan diberikan
Tuhan sampai pada angka berapa. Alangkah sayang, jika belum sampai kewajiban
berjilbab itu dilaksanakan kita harus meninggalkan dunia terlebih dahulu. Ngeri, ya?
Saya hanya bisa berdoa semoga kamu segera menyusul
saudari-saudari kita yang lain, yang telah menunaikan kewajiban menutup
auratnya. Saya dan yang lainnya selalu mendukungmu untuk bersegera. Nggak apa,
meski sudah pakai jilbab, kamu masih bisa ngakak kok. Masih bisa seneng sama
orang. Cuma, ya, gitu. Sudah nggak bisa main-main api di balik pagar rumah
orang, Kak.
Dah,
ah.
Sekian dulu tulisan yang saya selesaikan tepat setelah sarapan yang di rapel
dengan makan siang ini. Moga ada manfaatnya, ya. Terkhusus untuk adik kelas
saya dan Kakak Lia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar