Minggu, 09 Juli 2017

Semua Ada Masanya

Hujan yang turun sedari pagi tak jua reda hingga hampir pukul setengah sepuluh siang. Padahal hari ini Ima harus ke Dinas Pendidikan untuk menghadiri acara bersama kawan-kawan PBC-nya. Jadwal acara sebenarnya pukul delapan pagi, namun Ima baru berangkat pukul 9 lebih. Ima mengajakku untuk menemaninya hari ini. Dan karena aku sedang tidak ada kegiatan, ikutlah aku dengannya. (Kali ini aku kamu dulu, ya. Capek pake ‘saya’ mulu)

Sampai diknas hujan turun lagi dengan derasnya, kami segera melipir masuk ke aula. Dengan keadaan setengah basah, kami masuk aula yang telah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa Unej dan UIN Jember yan mengikuti Program Banyuwangi Cerdas (PBC). Acara semacam ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya.

Baiklah, aku skip saja bagian dialog-dialog yang terjadi di dalam aula. Sebagai orang asing, aku tidak terlalu menyimak apa yang mereka bahas. Sesekali saja aku mengamati dialog mereka.

Tulisan ini bukan tentang PBC ataupun tentang mahasiswa-mahasiswa PBC yang ada di dalam aula diknas. Tulisan ini lebih kepada Ima dan kawan-kawannya –yang kini juga menjadi kawanku. Selesai acara, mereka berencana untuk sekedar nongkrong bersama. Salah satu dari mereka mengusulkan untuk nongkrong di ‘Basecamp’. Aku yang tidak asing dengan tempat itu segera saja mengiyakan.

Waktu itu jika aku tidak salah, ada enam laki-laki dan enam perempuan termasuk aku. Kami menikmati angin laut yang nggak ada sejuk-sejuknya –karena waktu itu dingin banget– dan beberapa kudapan serta minuman hangat. Mereka membicarakan banyak hal terkait perkuliahan. Aku yang minoritas ini hanya bisa diam dan menyimak dengan seksama sambil memainkan ponselku.

Mereka bercakap-cakap ringan. Saling lempar joke, bergurau, dan sesekali wefie. Aku senang berada di tengah-tengah mereka. Tidak ada sekat, mereka juga sangat ramah terhadapku. Aku yang memang suka guyon waktu itu menemukan orang yang satu spesies. Dicky namanya (entah Diki, Dicky atau Dicki). Dia itu lucu bwanget, gaes. Gara-gara dia aku tidak bosan ketika yang lain pergi ke dermaga untuk berfoto-foto.

Selang beberapa jam kemudian kami memutuskan untuk pulang. Ada beberapa kawan Ima yang memilih pulang terlebih dahulu –dikarenakan satu alasan. Dalam perjalanan pulang, aku bertanya pada Ima tentang salah satu kawannya, “Ma, Dodi iku seneng awakmu ta?” (nama disamarkan) | “Ketoro ta, Ka?” | “Banget.” Ima mengiyakan tebakanku. Dia bercerita bahwa Dodi memang menyukainya. Aku juga menanyakan beberapa kawan laki-lakinya seperti Budi dan Todi (nama juga disamarkan). Dan, lagi-lagi tebakanku benar. Ketiga orang tersebut memang pernah dan sedang menyukai Ima.

Aku menjelaskan beberapa hal kepada Ima. Tentang gerak-gerik laki-laki yang tengah menyukai seorang wanita. Aku jelaskan dengan Bahasa Indonesia, gaes, agar kalian pembaca dari luar Banyuwangi paham. (yaelah, emang paling jauh pembaca blogmu dari mana, sih, Mey?)

“Ma, laki-laki jika sedang menyukai perempuan dapat terlihat dari beberapa hal. Yang pertama, dia akan grogi berada di dekat wanita yang dia sukai, sehingga cara bicaranya terbata-bata. Yang kedua, mereka akan menghindari kontak mata. Mereka akan salah tingkah ketika kalian berbicara dan kamu menatap langsung ke matanya. Yang ketiga, mereka akan mengeluarkan sepik-sepik garing dan terkesan norak.”

Untuk yang ketiga ini terlihat sekali pada diri si Todi. Sejak di aula diknas hingga basecamp, dia mengeluarkan sepik guyonan yang mengarah langsung pada Ima, tanpa basa-basi. Contohnya, saat di basecamp, Todi sempat mengajak Ima, “Ma, ayo melok.” Dijawab oleh Ima, “Neng ndi?” Todi membalas, “KUA” yang disambut grrr oleh teman-temannya, aku cuma bisa nyengir karena itu garing bangetzzz.

Gerak-gerik Todi yang sudah ku amati sedari tadi, memunculkan sebuah konklusi yang terlalu mudah di tebak. Todi menyukai Ima. Todi tipe orang yang to the point, tidak perlu basa-basi. Berbeda lagi dengan Dodi. Aku memberikan nilai plus pada kawan Ima yang satu ini. Pertama dia manis. Kedua dia manis. Ketiga dia manis. Dan keempat, dia manis. Fix! (diabetes, diabetes, dah).

Pertama kali aku melihat Dodi di aula, aku mengira dia sudah berumur jauh di atasku. Ternyata tidak, kami semua seumuran. Aku tidak begitu memperhatikan Dodi saat di aula tadi. Namun, ketika kami duduk berhadapan di basecamp, aku sadar Dodi memang manis seperti kataku tadi. He has wajah yang nggak mboseni. Caranya berbicara dengan Ima sungguh membuatku ingin menyeret mereka berdua ke KUA terdekat. Caranya tersenyum pada Ima sungguh membuatku ingin garuk-garuk pasir pantai. (lah, yang di senyumin siapa yang gregeten siapa). Dan caranya nyepik juga sungguh membuatku ingin bilang “Singsetin Maseeee. Jangan kasih kendoooooor.” Ndeso ya aku ~

Sepik Dodi yang membuatku salah tingkah adalah ketika ia ditawari mampir ke rumah Ima. Dia menolak dengan halus. “Ayo gpp.” | “Gak ah, Nanti ketemu orangtuamu.” | “Loh, ya kenapa? Gpp.” | “Aku yang kenapa-kenapa.” (Cuih, eneg BGT aku menerjemahkan obrolan mereka ke Bahasa Indonesia).

Di bagian Dodi bilang, “Aku yang kenapa-kenapa.” Rasanya ada yang berdesir di hatiku, gaes. Ingin ku salto sambil teriak “Eaaaaak, eaaaaak, eaaaaaak.” Alhamdulillahnya, aku gabisa salto. Hanya bisa eaaak eaaak dalam hati. Ah, bukan main anak manusia ini. Dodi memiliki pesona yang seharusnya mampu meluluhkan hati sahabatku, Ima. Sayang seribu sayang, Ima tak luluh.

Nur Halimah. Gadis polos yang kukenal tujuh tahun silam. Gadis yang saat sekolah dulu hanya berkutat dengan buku. Gadis yang saat sekolah dulu tak pernah terlihat menyukai lawan jenis. Gadis dengan ambisi belajar amat tinggi. Hari ini, aku melihat gadis yang berbeda. Gadis itu lebih dewasa. Gadis itu telah tumbuh menjadi pribadi yang bertambah menyenangkan. Bahkan, gadis itu kini telah memiliki mantan kekasih.

Kami pernah saling bercerita, kenapa ketika masuk dunia kampus kita jadi dipusingkan dengan urusan sekian hati yang datang? Dulu ketika sekolah, boro-boro satu hati, dilirik juga kagak. Kadang aku tertawa jika mengingat masa sekolah yang beda jauh dengan masa kuliah. Aku paham sekarang. Tuhan itu adil. Dulu saat sekolah, kami belajar dengan rajin. Kami berkutat dengan materi-materi kompetensi keahlian. Kami galau karena tugas, UKK, UNAS. Tak mengerti apa itu patah hati karena cinta.

Hari ini, ketika kami sudah mulai dewasa, Tuhan memberikan satu mata pelajaran lagi. Manage perasaan. Aku masih ingat betul ketika pertama kali kuliah lantas ada laki-laki yang bilang dia menyukaiku. Apa yang kuperbuat? Aku malah tidak sengaja menyakiti perasaannya. Terkesan tidak menghargai apa yang telah dia usahakan.

Begitulah. Tuhan memberikan pelajaran tersebut berkali-kali padaku dan pada Ima. Tuhan membagi konsentrasi kami dari urusan belajar hingga perasaan. Sampai suatu hari, Tuhan patahkan hati kami. Agar apa? Agar kami bisa belajar dan mengambil hikmah dari setiap sakit yang kami rasakan.

Sumber: Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar