Hujan
yang turun sedari pagi tak jua reda hingga hampir pukul setengah sepuluh siang.
Padahal hari ini Ima harus ke Dinas Pendidikan untuk menghadiri acara bersama
kawan-kawan PBC-nya. Jadwal acara sebenarnya pukul delapan pagi, namun Ima baru
berangkat pukul 9 lebih. Ima mengajakku untuk menemaninya hari ini. Dan karena
aku sedang tidak ada kegiatan, ikutlah aku dengannya. (Kali ini aku kamu dulu,
ya. Capek pake ‘saya’ mulu)
Sampai
diknas hujan turun lagi dengan derasnya, kami segera melipir masuk ke aula.
Dengan keadaan setengah basah, kami masuk aula yang telah dipenuhi oleh
mahasiswa-mahasiswa Unej dan UIN Jember yan mengikuti Program Banyuwangi Cerdas
(PBC). Acara semacam ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya.
Baiklah,
aku skip saja bagian dialog-dialog yang terjadi di dalam aula. Sebagai orang
asing, aku tidak terlalu menyimak apa yang mereka bahas. Sesekali saja aku
mengamati dialog mereka.
Tulisan
ini bukan tentang PBC ataupun tentang mahasiswa-mahasiswa PBC yang ada di dalam
aula diknas. Tulisan ini lebih kepada Ima dan kawan-kawannya –yang kini juga
menjadi kawanku. Selesai acara, mereka berencana untuk sekedar nongkrong
bersama. Salah satu dari mereka mengusulkan untuk nongkrong di ‘Basecamp’. Aku
yang tidak asing dengan tempat itu segera saja mengiyakan.
Waktu
itu jika aku tidak salah, ada enam laki-laki dan enam perempuan termasuk aku.
Kami menikmati angin laut yang nggak ada sejuk-sejuknya –karena waktu itu
dingin banget– dan beberapa kudapan serta minuman hangat. Mereka membicarakan
banyak hal terkait perkuliahan. Aku yang minoritas ini hanya bisa diam dan
menyimak dengan seksama sambil memainkan ponselku.
Mereka
bercakap-cakap ringan. Saling lempar joke,
bergurau, dan sesekali wefie. Aku
senang berada di tengah-tengah mereka. Tidak ada sekat, mereka juga sangat
ramah terhadapku. Aku yang memang suka guyon waktu itu menemukan orang yang
satu spesies. Dicky namanya (entah Diki, Dicky atau Dicki). Dia itu lucu bwanget, gaes. Gara-gara dia aku tidak bosan ketika yang lain pergi ke
dermaga untuk berfoto-foto.
Selang
beberapa jam kemudian kami memutuskan untuk pulang. Ada beberapa kawan Ima yang
memilih pulang terlebih dahulu –dikarenakan satu alasan. Dalam perjalanan
pulang, aku bertanya pada Ima tentang salah satu kawannya, “Ma, Dodi iku seneng awakmu ta?” (nama disamarkan) | “Ketoro ta, Ka?” | “Banget.” Ima mengiyakan tebakanku. Dia bercerita bahwa Dodi memang
menyukainya. Aku juga menanyakan beberapa kawan laki-lakinya seperti Budi dan
Todi (nama juga disamarkan). Dan, lagi-lagi tebakanku benar. Ketiga orang
tersebut memang pernah dan sedang menyukai Ima.
Aku
menjelaskan beberapa hal kepada Ima. Tentang gerak-gerik laki-laki yang tengah
menyukai seorang wanita. Aku jelaskan dengan Bahasa Indonesia, gaes, agar kalian pembaca dari luar
Banyuwangi paham. (yaelah, emang paling jauh pembaca blogmu dari mana, sih, Mey?)
“Ma,
laki-laki jika sedang menyukai perempuan dapat terlihat dari beberapa hal. Yang
pertama, dia akan grogi berada di dekat wanita yang dia sukai, sehingga cara
bicaranya terbata-bata. Yang kedua, mereka akan menghindari kontak mata. Mereka
akan salah tingkah ketika kalian berbicara dan kamu menatap langsung ke
matanya. Yang ketiga, mereka akan mengeluarkan sepik-sepik garing dan terkesan norak.”
Untuk
yang ketiga ini terlihat sekali pada diri si Todi. Sejak di aula diknas hingga
basecamp, dia mengeluarkan sepik guyonan yang mengarah langsung pada Ima, tanpa
basa-basi. Contohnya, saat di basecamp, Todi sempat mengajak Ima, “Ma, ayo melok.” Dijawab oleh Ima, “Neng ndi?” Todi membalas, “KUA” yang disambut grrr oleh teman-temannya, aku cuma bisa nyengir karena itu garing bangetzzz.
Gerak-gerik
Todi yang sudah ku amati sedari tadi, memunculkan sebuah konklusi yang terlalu
mudah di tebak. Todi menyukai Ima. Todi tipe orang yang to the point, tidak perlu basa-basi. Berbeda lagi dengan Dodi. Aku
memberikan nilai plus pada kawan Ima
yang satu ini. Pertama dia manis. Kedua dia manis. Ketiga dia manis. Dan
keempat, dia manis. Fix! (diabetes,
diabetes, dah).
Pertama
kali aku melihat Dodi di aula, aku mengira dia sudah berumur jauh di atasku.
Ternyata tidak, kami semua seumuran. Aku tidak begitu memperhatikan Dodi saat
di aula tadi. Namun, ketika kami duduk berhadapan di basecamp, aku sadar Dodi memang
manis seperti kataku tadi. He has
wajah yang nggak mboseni. Caranya
berbicara dengan Ima sungguh membuatku ingin menyeret mereka berdua ke KUA
terdekat. Caranya tersenyum pada Ima sungguh membuatku ingin garuk-garuk pasir
pantai. (lah, yang di senyumin siapa yang gregeten
siapa). Dan caranya nyepik juga
sungguh membuatku ingin bilang “Singsetin
Maseeee. Jangan kasih kendoooooor.” Ndeso
ya aku ~
Sepik
Dodi yang membuatku salah tingkah adalah ketika ia ditawari mampir ke rumah
Ima. Dia menolak dengan halus. “Ayo gpp.”
| “Gak ah, Nanti ketemu orangtuamu.”
| “Loh, ya kenapa? Gpp.” | “Aku yang kenapa-kenapa.” (Cuih, eneg BGT aku menerjemahkan obrolan
mereka ke Bahasa Indonesia).
Di
bagian Dodi bilang, “Aku yang
kenapa-kenapa.” Rasanya ada yang berdesir di hatiku, gaes. Ingin ku salto sambil teriak “Eaaaaak, eaaaaak, eaaaaaak.” Alhamdulillahnya, aku gabisa salto.
Hanya bisa eaaak eaaak dalam hati.
Ah, bukan main anak manusia ini. Dodi memiliki pesona yang seharusnya mampu
meluluhkan hati sahabatku, Ima. Sayang seribu sayang, Ima tak luluh.
Nur
Halimah. Gadis polos yang kukenal tujuh tahun silam. Gadis yang saat sekolah
dulu hanya berkutat dengan buku. Gadis yang saat sekolah dulu tak pernah
terlihat menyukai lawan jenis. Gadis dengan ambisi belajar amat tinggi. Hari
ini, aku melihat gadis yang berbeda. Gadis itu lebih dewasa. Gadis itu telah
tumbuh menjadi pribadi yang bertambah menyenangkan. Bahkan, gadis itu kini
telah memiliki mantan kekasih.
Kami
pernah saling bercerita, kenapa ketika masuk dunia kampus kita jadi dipusingkan
dengan urusan sekian hati yang datang? Dulu ketika sekolah, boro-boro satu
hati, dilirik juga kagak. Kadang aku tertawa jika mengingat masa sekolah yang
beda jauh dengan masa kuliah. Aku paham sekarang. Tuhan itu adil. Dulu saat
sekolah, kami belajar dengan rajin. Kami berkutat dengan materi-materi
kompetensi keahlian. Kami galau karena tugas, UKK, UNAS. Tak mengerti apa itu
patah hati karena cinta.
Hari
ini, ketika kami sudah mulai dewasa, Tuhan memberikan satu mata pelajaran lagi.
Manage perasaan. Aku masih ingat
betul ketika pertama kali kuliah lantas ada laki-laki yang bilang dia
menyukaiku. Apa yang kuperbuat? Aku malah tidak sengaja menyakiti perasaannya.
Terkesan tidak menghargai apa yang telah dia usahakan.
Begitulah.
Tuhan memberikan pelajaran tersebut berkali-kali padaku dan pada Ima. Tuhan
membagi konsentrasi kami dari urusan belajar hingga perasaan. Sampai suatu
hari, Tuhan patahkan hati kami. Agar apa? Agar kami bisa belajar dan mengambil
hikmah dari setiap sakit yang kami rasakan.
![]() |
| Sumber: Google |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar