Selesai mengantar Rara dan Lintang berbelanja tas sekolah,
mereka ingin sekali melihat lebih dekat patung kuda di Taman Tirtawangi.
Kebetulan, saya bisa sekalian ke rumah Intan. Intan sudah balik ke Indonesia
setelah menyelesaikan studinya di Thailand. Sebelum main di patung kuda, saya
mengajak Rara dan Lintang ke rumah Intan. Tadinya ketika mereka bermain di
taman, saya berniat ke rumah Intan sendiri, tapi mereka berdua nggak mau
ditinggal, takut di culik katanya. -__-
Jadilah saya membawa mereka bertamu ke Intan. Suasana
khas lebaran masih terasa di sana, banyak tamu. Pertama kali bertemu gembel
satu itu saya sempat kesel. Minusnya semakin parah, saya rasa. Saya yang dari
jauh melihat Intan sudah ekspresif banget, tapi dia malah pasang tampang bego
dengan ekspresi “Sopo iku?” Ya elah,
ekspresifku sia-sia.
Setelah cipika-cipiki dengan dia yang peliket banget karena belum mandi, kami
akhirnya cerita-cerita. Momen bercerita waktu itu kurang tepat karena situasi
agak ramai. Banyak tetangga yang datang hanya demi menemui Intan yang mendadak
artis itu. Akhirnya cerita kami banyak tersendat.
Saat Intan sedang sibuk di belakang, datanglah Umi yang
merupakan teman sebangku saya saat di SMP dulu. Umi merupakan tetangga
sekaligus teman Intan bermain. Waktu itu rumah Intan menjadi ajang silaturahmi
kami, karena tidak lama kemudian squad
Karangente lainnya juga datang, Titin dan Elyn. Saya, Titin dan Umi dulu
sekelas saat SMP. Intan, Titin dan Elyn dulu satu sekolah saat SD. Dan Intan,
Umi, Elyn dan Titin adalah kawan sepermainan di lingkungan Karangente.
Begitulah, gaes, teman mereka adalah
temanku juga.
Intan akhirnya pergi mandi di saat teman-temannya sudah
berkumpul. Mengantisipasi banyaknya tamu yang akan datang lagi, kan tidak
mungkin di sambut dengan keadaan lusuh bin kusam seperti itu. Kami menikmati
bakso yang disuguhkan tuan rumah. Rara dan Lintang menikmati bakso mereka,
sehingga mereka aman tidak buru-buru minta pulang. Saat sedang menikmati bakso
tersebut, Titin tiba-tiba nyeletuk, “Awakmu
kok seneng sih Mey ngemong arek.” Saya yang sedang mengunyah lontong segera
menelannya. Lumayan mikir sejenak. Saya lupa waktu itu menjawab bagaimana.
Tulisan ini bukan tentang silaturahmi saya ke rumah
Intan, karena itu sudah saya bahas di tulisan sebelumnya. Tulisan ini membahas
pertanyaan Titin, teman SMP saya yang dulu lemot banget kayak Asri Welas di
sitkom Suami-suami Takut Istri.
Kadang saya disadarkan tentang siapa saya sebenarnya justru
dari lingkungan sekitar. Contohnya adalah pertanyaan Titin tadi. Kenapa saya suka
ngemong anak-anak? Kalian yang tidak tahu ngemong, dalam Bahasa Indonesia
ngemong itu ...... duh, kok saya jadi bodoh gini? Apa, ya, Bahasa Indonesianya?
Yah, istilahnya ngejagain anak-anak, lah.
Saat masih kecil dulu, saya dan Ardi sering diajak keluar
oleh Bapak dan Ibu. Mereka setidaknya seminggu sekali selalu mengajak kami,
anak-anaknya, untuk berinteraksi dengan dunia luar. Ingatan saya masih bagus
saat Bapak mengendarai motor dan pergi ke jantung kota Banyuwangi dengan
melewati jalan-jalan blusukan yang susah sekali untuk saya titeni waktu itu.
Bapak dan Ibu kami adalah orang tua yang akan selalu menyenangkan anak-anaknya
dengan cara-cara sederhana. Menikmati Taman Sritanjung yang dulu saya ingat
rindang betul dengan Beringin raksasa di tengahnya. Berlarian kesana-kemari
melihat para pedagang mainan hingga pedagang makanan ringan di trotoar taman.
Saya yakin, semua orang tua selalu menginginkan anak-anaknya berbahagia.
Begitupun Bapak dan Ibu saya. Kenangan masa kecil itu selalu tersimpan rapi dalam
memori saya. Saya adalah anak kecil yang mendapat kesempatan untuk bahagia
sesuai usia saya.
Saya percaya karakter seorang anak adalah andil dari
seorang Ibu. Saya tumbuh menjadi perempuan yang terlalu perasa, saya yakin Ibu
juga. Saya tumbuh menjadi perempuan yang senang menyimpan keluh kesah, saya
yakin Ibu juga. Saya tumbuh menjadi perempuan yang terlalu enggan berbagi
masalah dengan orang lain, saya yakin Ibu juga. Saya adalah Ibu saya. Ibu saya
adalah saya. Segala sifat yang membuat saya menjadi saya sekarang adalah
bentukan dari orang tua serta lingkungan. Saya tidak akan jumawa dengan
mengatakan saya dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Namun, realitanya memang
demikian. Lingkungan tempat kami tinggal alhamdulillah selalu dikelilingi
hal-hal baik.
Semua itu, mulai dari pembentukan karakter hingga
pengaruh lingkungan, membuat saya menjadi who
I am today. Jika Titin bertanya kenapa saya suka ngemong anak-anak, saya
akan jawab tidak tahu. Semua itu adalah hal normal bagi saya. Hal ini bukan
pertama kali bagi saya. Sejak Fahri hadir dalam keluarga kami, di usianya yang
kedua tahun, saya sudah sering membawa Fahri pergi naik motor, sekedar
mengantar Mbah pulang atau bermain di taman-taman kota Banyuwangi. Bahkan Fahri
sering ketiduran di atas motor sehingga saya harus nyetir pakai satu tangan.
Karena itu adalah hal normal that’s why saya tidak menganggap itu sebuah keanehan. Jika
orang-orang memandang lain, itu urusan mereka. Jika dengan kemana-mana saya
selalu membawa Fahri dan kemudian saya dianggap tua (ibu-ibu) saya juga nggak
masalah. Toh, kelak saya juga akan menjadi ibu-ibu (insyaallah).
Setidaknya ada satu sifat dalam diri saya yang bisa
dijadikan pertimbangan untuk diperistri. Kuy bilang “eaaaaak”.
![]() |
| Pantai Cemara |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar