Minggu, 16 Juli 2017

Menjadi Tua Sebelum Waktunya

Selesai mengantar Rara dan Lintang berbelanja tas sekolah, mereka ingin sekali melihat lebih dekat patung kuda di Taman Tirtawangi. Kebetulan, saya bisa sekalian ke rumah Intan. Intan sudah balik ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Thailand. Sebelum main di patung kuda, saya mengajak Rara dan Lintang ke rumah Intan. Tadinya ketika mereka bermain di taman, saya berniat ke rumah Intan sendiri, tapi mereka berdua nggak mau ditinggal, takut di culik katanya. -__-

Jadilah saya membawa mereka bertamu ke Intan. Suasana khas lebaran masih terasa di sana, banyak tamu. Pertama kali bertemu gembel satu itu saya sempat kesel. Minusnya semakin parah, saya rasa. Saya yang dari jauh melihat Intan sudah ekspresif banget, tapi dia malah pasang tampang bego dengan ekspresi “Sopo iku?” Ya elah, ekspresifku sia-sia.

Setelah cipika-cipiki dengan dia yang peliket banget karena belum mandi, kami akhirnya cerita-cerita. Momen bercerita waktu itu kurang tepat karena situasi agak ramai. Banyak tetangga yang datang hanya demi menemui Intan yang mendadak artis itu. Akhirnya cerita kami banyak tersendat.

Saat Intan sedang sibuk di belakang, datanglah Umi yang merupakan teman sebangku saya saat di SMP dulu. Umi merupakan tetangga sekaligus teman Intan bermain. Waktu itu rumah Intan menjadi ajang silaturahmi kami, karena tidak lama kemudian squad Karangente lainnya juga datang, Titin dan Elyn. Saya, Titin dan Umi dulu sekelas saat SMP. Intan, Titin dan Elyn dulu satu sekolah saat SD. Dan Intan, Umi, Elyn dan Titin adalah kawan sepermainan di lingkungan Karangente. Begitulah, gaes, teman mereka adalah temanku juga.

Intan akhirnya pergi mandi di saat teman-temannya sudah berkumpul. Mengantisipasi banyaknya tamu yang akan datang lagi, kan tidak mungkin di sambut dengan keadaan lusuh bin kusam seperti itu. Kami menikmati bakso yang disuguhkan tuan rumah. Rara dan Lintang menikmati bakso mereka, sehingga mereka aman tidak buru-buru minta pulang. Saat sedang menikmati bakso tersebut, Titin tiba-tiba nyeletuk, “Awakmu kok seneng sih Mey ngemong arek.” Saya yang sedang mengunyah lontong segera menelannya. Lumayan mikir sejenak. Saya lupa waktu itu menjawab bagaimana.

Tulisan ini bukan tentang silaturahmi saya ke rumah Intan, karena itu sudah saya bahas di tulisan sebelumnya. Tulisan ini membahas pertanyaan Titin, teman SMP saya yang dulu lemot banget kayak Asri Welas di sitkom Suami-suami Takut Istri.

Kadang saya disadarkan tentang siapa saya sebenarnya justru dari lingkungan sekitar. Contohnya adalah pertanyaan Titin tadi. Kenapa saya suka ngemong anak-anak? Kalian yang tidak tahu ngemong, dalam Bahasa Indonesia ngemong itu ...... duh, kok saya jadi bodoh gini? Apa, ya, Bahasa Indonesianya? Yah, istilahnya ngejagain anak-anak, lah.

Saat masih kecil dulu, saya dan Ardi sering diajak keluar oleh Bapak dan Ibu. Mereka setidaknya seminggu sekali selalu mengajak kami, anak-anaknya, untuk berinteraksi dengan dunia luar. Ingatan saya masih bagus saat Bapak mengendarai motor dan pergi ke jantung kota Banyuwangi dengan melewati jalan-jalan blusukan yang susah sekali untuk saya titeni waktu itu. Bapak dan Ibu kami adalah orang tua yang akan selalu menyenangkan anak-anaknya dengan cara-cara sederhana. Menikmati Taman Sritanjung yang dulu saya ingat rindang betul dengan Beringin raksasa di tengahnya. Berlarian kesana-kemari melihat para pedagang mainan hingga pedagang makanan ringan di trotoar taman. Saya yakin, semua orang tua selalu menginginkan anak-anaknya berbahagia. Begitupun Bapak dan Ibu saya. Kenangan masa kecil itu selalu tersimpan rapi dalam memori saya. Saya adalah anak kecil yang mendapat kesempatan untuk bahagia sesuai usia saya.

Saya percaya karakter seorang anak adalah andil dari seorang Ibu. Saya tumbuh menjadi perempuan yang terlalu perasa, saya yakin Ibu juga. Saya tumbuh menjadi perempuan yang senang menyimpan keluh kesah, saya yakin Ibu juga. Saya tumbuh menjadi perempuan yang terlalu enggan berbagi masalah dengan orang lain, saya yakin Ibu juga. Saya adalah Ibu saya. Ibu saya adalah saya. Segala sifat yang membuat saya menjadi saya sekarang adalah bentukan dari orang tua serta lingkungan. Saya tidak akan jumawa dengan mengatakan saya dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Namun, realitanya memang demikian. Lingkungan tempat kami tinggal alhamdulillah selalu dikelilingi hal-hal baik.

Semua itu, mulai dari pembentukan karakter hingga pengaruh lingkungan, membuat saya menjadi who I am today. Jika Titin bertanya kenapa saya suka ngemong anak-anak, saya akan jawab tidak tahu. Semua itu adalah hal normal bagi saya. Hal ini bukan pertama kali bagi saya. Sejak Fahri hadir dalam keluarga kami, di usianya yang kedua tahun, saya sudah sering membawa Fahri pergi naik motor, sekedar mengantar Mbah pulang atau bermain di taman-taman kota Banyuwangi. Bahkan Fahri sering ketiduran di atas motor sehingga saya harus nyetir pakai satu tangan.

Karena itu adalah hal normal that’s why saya tidak menganggap itu sebuah keanehan. Jika orang-orang memandang lain, itu urusan mereka. Jika dengan kemana-mana saya selalu membawa Fahri dan kemudian saya dianggap tua (ibu-ibu) saya juga nggak masalah. Toh, kelak saya juga akan menjadi ibu-ibu (insyaallah).

Setidaknya ada satu sifat dalam diri saya yang bisa dijadikan pertimbangan untuk diperistri. Kuy bilang “eaaaaak”.

Pantai Cemara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar