Rabu, 26 Juli 2017

Urusan Skripsi Hingga Hati

Malam ini begitu luar biasa bagi saya. Terlebih bagi kami, saya dan Bibeh. Entah bagi Bibeh luar biasa atau tidak, tapi bagi saya ini luar biasa. Oke, saya akan mulai bercerita.

Hari ini kami melakukan kunjungan ke kawan-kawan BEM-U yang tengah melaksanakan KKN. Berawal dari ujung utara, tempat KKN Bang Rohim di Bangsring. Lalu ke tempat Junet di Ketapang, dan berakhir di tempat bosque di Olehsari. Sepulang dari Olehsari, kami berenam –saya, Bibeh, Kang Sandi, Bara, Gus Umam, Bang Rohim– makan nasi goreng di daerah Sasak Perot. Nah, kisah ini berawal dari perjalanan pulang saya dan Bibeh.

Di sepanjang jalan menuju pulang, kami bercerita. Saat makan nasi goreng tadi, kami semua bertemu Bu Yovita. Seorang dosen di Fakultas Ekonomi. Bisa ditebak bagaimana mahasiswa tingkat akhir bertemu dengan dosennya. Yes, pertanyaan “Sudah selesai?” akan bermunculan. Tentu, yang saya maksud adalah sudah selesai skripsinya?

Bibeh yang berada di belakang saya cerita bagaimana perkembangan skripsinya. Seperti biasa, kami akan bertukar cerita. Saya bilang ke dia, “Ndilalah kok aku nih seringnya keluar sama kamu, Woh. Yang sama-sama nggak bakal bahas skripsi pas ketemu. Kita sering banget ngeluyur gini, padahal skripsi belum beres-beres.” | “Iya, ya, Di. Temen-temen gue pada kemana, gak ada kabar sama sekali. Kadang gue tuh bingung, mereka tuh ngapain aja sih kok sampe gak bisa keluar, piknik, ribet ama skripsi.”
Idk why, tapi itu benar. Saya tahu tidak semua orang memiliki karakter seperti saya dan Bibeh. Saya dan Bibeh juga memiliki karakter yang tidak sama dengan mereka. Bahkan saya dan Bibeh saja karakternya beda. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, persoalan skripsi memang menjadi santapan sehari-hari. Persoalan yang kadang saya sendiri bosan membahasnya. Saya bilang ke Bibeh, “Bener kata temenku, Woh. Kadang kita tuh hanya butuh nggak ngurusin hidup orang lain dimulai dari nggak nanya-nanya skripsi udah nyampe mana, kapan menikah, dll.”

Sampai di depan rumah saya, Bibeh masih sempat mampir. Kami melanjutkan cerita. Bibeh bercerita tentang orang-orang terdekatnya yang sama sekali nggak usil nanya skripsinya sampai mana. Mulai dari Bapak, Ibu, Cak Ulum, hingga Ustadnya. Itu melegakan. Bibeh tahu, meskipun mereka tidak pernah bertanya, pasti mereka mendoakan. Saya pun sama. Bapak Ibu saya sama sekali nggak pernah usil bertanya mengenai skripsi. Sekalinya tanya, “Kapan wisuda? Ibuk e nganggo kelambi opo, yo?” Sesimpel itu beban pikiran Ibu saya. Apa yang harus dia pakai di hari wisuda saya. Subhanallah ...

Namanya perempuan, ada banyak sekali bahasan yang sebisa mungkin di bahas. Semalam percakapan kami tidak hanya sebatas skripsi. Jika sudah bicara dari hati ke hati dengan Bibeh, saya akan mendapat pelajaran berharga. Kami belajar memahami kehidupan dari hidup masing-masing. Sebagai manusia yang telah hidup lebih dulu daripada saya, Bibeh telah melewati banyak hal. Kisah hidupnya selalu menginspirasi saya.

Hingga akhirnya entah bagaimana awalnya, kami bicara urusan hati. Urusan yang akan selalu menarik untuk dipahami. Saya tahu seseorang dari masa lalu mampu membuat kita hidup berkalang nestapa. Perasaan yang tidak pernah tersampaikan membuat kita menutup hati untuk lainnya. Itu yang terjadi pada kawan saya, Uwoh. Dulu saya sempat bercerita pada Bibeh tentang bagaimana saya mengungkapkan perasaan pada seorang laki-laki. Dia histeris alay. Tidak menyangka saya berani melakukan itu. Saya ngakak, saya juga nggak ngerti kenapa bisa begitu.

Nah, persoalan Bibeh adalah persoalan yang sama dengan saya. Urusan hati yang mengusik bertahun-tahun itu harus segera di selesaikan. “Bilang aja, Beh. Suratin. Urusan dia bales apa enggak, itu urusan lain. Kak Iraa dulu pernah bilang kan, belio kalo suka ama orang, langsung bilang, terserah tuh orang mau suka balik apa enggak. Nggak apa-apa, biar lega, Woh.” Bibeh yang sudah ada di atas motor pasti campur aduk hatinya.

Tanpa kita sadari, hal itulah yang membuat kita susah melangkah maju dari kenangan masa lalu. Perasaan yang tak pernah tersampaikan. Sebagai perempuan yang mengimplementasikan emansipasi wanita, saya tahu betul hal tersebut susah dilakukan oleh wanita. Bilang suka duluan??? Iyuuuuh, apa kata Caca Handika???

Tapi serius, girls, bilang suka duluan bukanlah sebuah kejahatan. Bilang suka duluan adalah hak setiap perempuan. Kalin boleh melakukannya. Berat memang. Aneh. Memalukan. Mau taruh mana muka kita yang syantik ini? Bukan begitu?

I used to love someone, I said to him although by a letters. At least, I told him. Right? But you know what, gaes, everything suddenly changes. And it was hurt me. Kadang saya juga bingung apa iya yang begituan dibilang cinta? Aih. Tapi setelah saya tahu kenyataan yang cukup menyakitkan itu, di sisi lain saya merasa lega. Langkah saya jadi ringan. Hal-hal mengganjal satu per satu sirna. Tidak satu bulan dua bulan selesai. Lupa, ingat lagi. Lupa, ingat lagi. Lupa, ingat lagi. Gitu mulu sampe akhirnya Gio-Angel putus dan (katanya) pacaran ama Irish Bella.

Adakah saya menyesal? Sama sekali tidak. Karena dari awal saya memang hanya mengungkapkan perasaan, tidak menunggu jawaban. Di awal-awal memang berat sekali. Saya sedih, sakit. Tapi lantas saya mengapresiasi diri saya sendiri, saya memafkan diri saya sendiri dari segala rupa perasaan. Bayangkan jika saya tidak pernah mengungkapkan perasaan saya padanya? Sampai kapan saya harus harap-harap cemas? Sampai kapan saya harus hidup dengan harapan-harapan yang hanya tertuju padanya?

Begitulah akhirnya cerita yang bisa Bibeh dengar dari saya. Perempuan yang sepertinya nggak akan bisa melakukan hal seperti itu. Nggak apa kali nyatain perasaan duluan. Dulu Ibu Khadijah juga nembak Rasul duluan, kok. Meskipun lewat perantara sahabat.

Nah eug nih berarti agresif, yak? Nyelonong aja nggak pake perantara. Wqwqwq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar