Malam ini begitu luar biasa bagi saya. Terlebih bagi
kami, saya dan Bibeh. Entah bagi Bibeh luar biasa atau tidak, tapi bagi saya
ini luar biasa. Oke, saya akan mulai bercerita.
Hari ini kami melakukan kunjungan ke kawan-kawan BEM-U
yang tengah melaksanakan KKN. Berawal dari ujung utara, tempat KKN Bang Rohim
di Bangsring. Lalu ke tempat Junet di Ketapang, dan berakhir di tempat bosque di Olehsari. Sepulang dari
Olehsari, kami berenam –saya, Bibeh, Kang Sandi, Bara, Gus Umam, Bang Rohim–
makan nasi goreng di daerah Sasak Perot. Nah, kisah ini berawal dari perjalanan
pulang saya dan Bibeh.
Di sepanjang jalan menuju pulang, kami bercerita. Saat
makan nasi goreng tadi, kami semua bertemu Bu Yovita. Seorang dosen di Fakultas
Ekonomi. Bisa ditebak bagaimana mahasiswa tingkat akhir bertemu dengan
dosennya. Yes, pertanyaan “Sudah
selesai?” akan bermunculan. Tentu, yang saya maksud adalah sudah selesai
skripsinya?
Bibeh yang berada di belakang saya cerita bagaimana
perkembangan skripsinya. Seperti biasa, kami akan bertukar cerita. Saya bilang
ke dia, “Ndilalah kok aku nih seringnya
keluar sama kamu, Woh. Yang sama-sama nggak bakal bahas skripsi pas ketemu.
Kita sering banget ngeluyur gini, padahal skripsi belum beres-beres.” | “Iya, ya, Di. Temen-temen gue pada kemana,
gak ada kabar sama sekali. Kadang gue tuh bingung, mereka tuh ngapain aja sih
kok sampe gak bisa keluar, piknik, ribet ama skripsi.”
Idk why, tapi itu
benar. Saya tahu tidak semua orang memiliki karakter seperti saya dan Bibeh.
Saya dan Bibeh juga memiliki karakter yang tidak sama dengan mereka. Bahkan
saya dan Bibeh saja karakternya beda. Sebagai mahasiswa tingkat akhir,
persoalan skripsi memang menjadi santapan sehari-hari. Persoalan yang kadang
saya sendiri bosan membahasnya. Saya bilang ke Bibeh, “Bener kata temenku, Woh. Kadang kita tuh hanya butuh nggak ngurusin
hidup orang lain dimulai dari nggak nanya-nanya skripsi udah nyampe mana, kapan
menikah, dll.”
Sampai di depan rumah saya, Bibeh masih sempat mampir.
Kami melanjutkan cerita. Bibeh bercerita tentang orang-orang terdekatnya yang
sama sekali nggak usil nanya skripsinya sampai mana. Mulai dari Bapak, Ibu, Cak
Ulum, hingga Ustadnya. Itu melegakan. Bibeh tahu, meskipun mereka tidak pernah
bertanya, pasti mereka mendoakan. Saya pun sama. Bapak Ibu saya sama sekali
nggak pernah usil bertanya mengenai skripsi. Sekalinya tanya, “Kapan wisuda? Ibuk e nganggo kelambi opo,
yo?” Sesimpel itu beban pikiran Ibu saya. Apa yang harus dia pakai di hari
wisuda saya. Subhanallah ...
Namanya perempuan, ada banyak sekali bahasan yang sebisa
mungkin di bahas. Semalam percakapan kami tidak hanya sebatas skripsi. Jika
sudah bicara dari hati ke hati dengan Bibeh, saya akan mendapat pelajaran
berharga. Kami belajar memahami kehidupan dari hidup masing-masing. Sebagai
manusia yang telah hidup lebih dulu daripada saya, Bibeh telah melewati banyak
hal. Kisah hidupnya selalu menginspirasi saya.
Hingga akhirnya entah bagaimana awalnya, kami bicara
urusan hati. Urusan yang akan selalu menarik untuk dipahami. Saya tahu
seseorang dari masa lalu mampu membuat kita hidup berkalang nestapa. Perasaan
yang tidak pernah tersampaikan membuat kita menutup hati untuk lainnya. Itu
yang terjadi pada kawan saya, Uwoh. Dulu saya sempat bercerita pada Bibeh tentang
bagaimana saya mengungkapkan perasaan pada seorang laki-laki. Dia histeris
alay. Tidak menyangka saya berani melakukan itu. Saya ngakak, saya juga nggak
ngerti kenapa bisa begitu.
Nah, persoalan Bibeh adalah persoalan yang sama dengan
saya. Urusan hati yang mengusik bertahun-tahun itu harus segera di selesaikan. “Bilang aja, Beh. Suratin. Urusan dia bales
apa enggak, itu urusan lain. Kak Iraa dulu pernah bilang kan, belio kalo suka
ama orang, langsung bilang, terserah tuh orang mau suka balik apa enggak. Nggak
apa-apa, biar lega, Woh.” Bibeh yang sudah ada di atas motor pasti campur
aduk hatinya.
Tanpa kita sadari, hal itulah yang membuat kita susah
melangkah maju dari kenangan masa lalu. Perasaan yang tak pernah tersampaikan.
Sebagai perempuan yang mengimplementasikan emansipasi wanita, saya tahu betul
hal tersebut susah dilakukan oleh wanita. Bilang suka duluan??? Iyuuuuh, apa
kata Caca Handika???
Tapi serius, girls,
bilang suka duluan bukanlah sebuah kejahatan. Bilang suka duluan adalah hak
setiap perempuan. Kalin boleh melakukannya. Berat memang. Aneh. Memalukan. Mau taruh
mana muka kita yang syantik ini? Bukan begitu?
I used to love someone, I said to him although by a letters. At least, I told
him. Right? But you know what, gaes, everything suddenly changes. And it was
hurt me. Kadang saya
juga bingung apa iya yang begituan dibilang cinta? Aih. Tapi setelah saya tahu
kenyataan yang cukup menyakitkan itu, di sisi lain saya merasa lega. Langkah saya
jadi ringan. Hal-hal mengganjal satu per satu sirna. Tidak satu bulan dua bulan
selesai. Lupa, ingat lagi. Lupa, ingat lagi. Lupa, ingat lagi. Gitu mulu sampe
akhirnya Gio-Angel putus dan (katanya) pacaran ama Irish Bella.
Adakah saya menyesal? Sama sekali tidak. Karena dari awal
saya memang hanya mengungkapkan perasaan, tidak menunggu jawaban. Di awal-awal
memang berat sekali. Saya sedih, sakit. Tapi lantas saya mengapresiasi diri
saya sendiri, saya memafkan diri saya sendiri dari segala rupa perasaan.
Bayangkan jika saya tidak pernah mengungkapkan perasaan saya padanya? Sampai
kapan saya harus harap-harap cemas? Sampai kapan saya harus hidup dengan
harapan-harapan yang hanya tertuju padanya?
Begitulah akhirnya cerita yang bisa Bibeh dengar dari
saya. Perempuan yang sepertinya nggak akan bisa melakukan hal seperti itu.
Nggak apa kali nyatain perasaan duluan. Dulu Ibu Khadijah juga nembak Rasul
duluan, kok. Meskipun lewat perantara sahabat.
Nah eug nih
berarti agresif, yak? Nyelonong aja nggak pake perantara. Wqwqwq.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar