Sabtu, 09 Mei 2015

Fever Of The Year

Siang ini benar-benar panas.
Saya sudah terbiasa dengan suhu Banyuwangi yang agak galau ini.
Kadang panas terik, kadang dingin menusuk.
Cuaca sudah tidak dapat ditebak lagi apa maunya kapan bulannya.
“Padahal kan ini harusnya sudah musim panas? Kok hujan terus sih? Bikin inget mantan deh.”
Hal semacam itu sering saya dengar.
Namanya juga kita, manusia. Selalu apapun dibuat repot.
Musim lagi panas, minta hujan.
Sudah di kasih hujan, kedinginan, minta panas.
Ah, lama-lama di kasih hujan air panas baru tahu rasa!

Oke. Abaikan.

Hari ini suasana di rumah saya agak beda, gaes …
Tahu kontestan D’Academy yang dari Banyuwangi itu?
Iyaa D’Academy?
Iyaaa itu loh yang di Indosiar?
Iyaaaa Danang, tahu nggak?
“Nggak tahu, saya nonton X-Factor. Mama saya tuh yang nonton D’Academy.”
Mak jlebb …
Oke, permisi #ngacir sambil nunduk
Salah ngambil sampel buat survey hahahaha …

Hihihi, enggak ding …
Itu tadi just in my wildest imagination, gaes …
Jangan tersinggung yaa.
Ya, seperti kabar yang sudah berhembus dengan kencangnya layaknya angin topan bahwa hari ini Danang akan pulang kampung.
Sudah bisa ditebak dong ya?
Riweuh sana sini :D
Tapi saya bukan termasuk orang yang ikutan riweuh :D
Nggak tahu sih, saya ngerasa beda aja gitu hari ini.
Suasana di depan rumah saya tiba-tiba saja langsung sepi.
Nggak seperti biasanya.
Memang, pagi tadi Pak Kandar masih lewat depan rumah dan jualan sayur seperti biasa.
Tapi setelah jam 10 ke atas langsung hening.

Tiba-tiba suara yang sudah kami kenal mengalun di toa musholla.
Memang khas banget suaranya Pak Ahmadi ini :D
Beliau Ayahnya Mas Danang.
“Bagi para panitia diharapkan segera menuju lokasi, sekali lagi bagi para panitia diharap segera menuju ke lokasi. Terimakasih.”

Panitia? Panitia apa?
Ramadhan kan belum mulai?
Masa iya sudah mau membentuk panitia zakat fitrah?
Panitia Agustusan juga nggak mungkin.
Apalagi panitia Idul Qurban.
Sama sekali nggak mungkin.
Saya dan Ibu saling menatap lantas tersenyum.
Ya sudah pasti panitia untuk menyambut Ananda tercinta dong J
Suara sirine mobil Polisi sambung-menyambung sahut-menyahut.
Saya bisa dengar suara seseorang, mungkin MC, yang lagi ngomong tapi lebih seperti orang kumur-kumur. Nggak jelas ngomong apa.
Saya hanya membayangkan bagaimana sibuknya gang tengah sekarang.
Ah untung rumah saya di gang selatan.
Jadi bebas dari macet dan keramaian.

Tidak dipungkiri bahwa Danang fever sudah mewabah.
Apalagi di Banyuwangi.
Kota yang menjadi kelahiran Danang.
Di sana-sini baliho besar bergambar Mas Danang dipasang.
Di depan RS. Fatimah.
Di depan gang rumahnya.
Di pojokan PJR.
Di belokan Taman Tirta Wangi.
Di dekat Masjid Agung Baiturrahman.
Di depan showroom mobil bekas dekat KTL.
Di …. Di mana lagi ya?
Aduh, banyak juga ternyata balihonya Mas Danang ini.

Ya, semua itu bentuk dukungan yang diberikan masyarakat Banyuwangi untuk Mas Danang.
Sudah berjuang sejauh ini.
Hingga ke tahap 3 besar.
Wuiih, sulit itu gaes.
Asal, pulsa buat ngedukung lebih dari lebih ya pasti aman-aman saja :D
Apa artinya kalau potensi yang bagus disertai dengan suara sms yang fals?
Ya sudah pasti tersenggol.

Di KMP, eits bukan Koalisi Merah Putih lho yaa …
Kampus Merah Putih :D
Di kampus saya juga sudah pada ngomongin Mas Danang.
Saya hanya nggak bisa ngebayangin kalau lidah Mas Danang kecokot-cokot karena sering di omongin :D
Tapi dia memang pantes dirasani kok.
Pemuda Banyuwangi multitalent.
Setidaknya ada yang bisa dibanggakan selain hanya suaranya yang apalah-apalah itu.
Cuman ya begitu, rasa-rasanya kok setiap Mas Danang tampil ada kesan primordialnya.
Nggak tahu deh, perasaan saya saja atau memang begitu.

Saya nulis ini bukan dengan maksud apapun.
I swear …
Saya nulis ya hanya karena saya ingin nulis.
Tuts keyboard sudah melambai-lambai.
Di tambah inspirasi yang dari pagi tadi sudah meletup-letup :D
Tambah lagi, buat menuhin isi blog saya :D

Kata Ibu saya yang kebetulan tadi nutup pager rumah, depan Angkatan Laut macet.
Kok kan, percoyoo -___-
Hal ini mengingatkan pada event BEC pertama kali di gelar.
Haduuuuh, macet parah sampai akhirnya saya batal ke warnet buat nyari materi tugas.
Pingin nangis rasanya lihat motor Abah nggak bergerak sama sekali waktu itu.

Nah ini kejadian lagi, macet.
Tiba-tiba saja saya merasa menjadi orang paling beruntung nggak tinggal di Jakarta yang macetnya aduhai itu. #Nggak nyambung.

“Ah Mey, kayak kamu mau kemana aja macet gitu doang sambat.”
Lha iya ya, saya juga diem aja dirumah. Nggak kemana-mana.
Tetangga dateng dari Jakarta di sambut kek apa kek, ini enggak.
Loh, ini sudah disambut keleus, sama tulisan.

Ada yang lebih romantis menyambut seseorang selain dengan tulisan terus di publikasikan begini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar