Siang
ini benar-benar panas.
Saya
sudah terbiasa dengan suhu Banyuwangi yang agak galau ini.
Kadang
panas terik, kadang dingin menusuk.
Cuaca
sudah tidak dapat ditebak lagi apa maunya kapan bulannya.
“Padahal
kan ini harusnya sudah musim panas? Kok hujan terus sih? Bikin inget mantan
deh.”
Hal
semacam itu sering saya dengar.
Namanya
juga kita, manusia. Selalu apapun dibuat repot.
Musim
lagi panas, minta hujan.
Sudah
di kasih hujan, kedinginan, minta panas.
Ah,
lama-lama di kasih hujan air panas baru tahu rasa!
Oke.
Abaikan.
Hari
ini suasana di rumah saya agak beda, gaes
…
Tahu
kontestan D’Academy yang dari Banyuwangi itu?
Iyaa
D’Academy?
Iyaaa
itu loh yang di Indosiar?
Iyaaaa
Danang, tahu nggak?
“Nggak
tahu, saya nonton X-Factor. Mama saya tuh yang nonton D’Academy.”
Mak jlebb …
Oke,
permisi #ngacir sambil nunduk
Salah
ngambil sampel buat survey hahahaha …
Hihihi,
enggak ding …
Itu
tadi just in my wildest imagination, gaes
…
Jangan
tersinggung yaa.
Ya,
seperti kabar yang sudah berhembus dengan kencangnya layaknya angin topan
bahwa hari ini Danang akan pulang kampung.
Sudah
bisa ditebak dong ya?
Riweuh sana sini :D
Tapi
saya bukan termasuk orang yang ikutan riweuh
:D
Nggak
tahu sih, saya ngerasa beda aja gitu hari ini.
Suasana
di depan rumah saya tiba-tiba saja langsung sepi.
Nggak
seperti biasanya.
Memang,
pagi tadi Pak Kandar masih lewat depan rumah dan jualan sayur seperti biasa.
Tapi
setelah jam 10 ke atas langsung hening.
Tiba-tiba
suara yang sudah kami kenal mengalun di toa musholla.
Memang
khas banget suaranya Pak Ahmadi ini :D
Beliau
Ayahnya Mas Danang.
“Bagi
para panitia diharapkan segera menuju lokasi, sekali lagi bagi para panitia
diharap segera menuju ke lokasi. Terimakasih.”
Panitia?
Panitia apa?
Ramadhan
kan belum mulai?
Masa
iya sudah mau membentuk panitia zakat fitrah?
Panitia
Agustusan juga nggak mungkin.
Apalagi
panitia Idul Qurban.
Sama
sekali nggak mungkin.
Saya
dan Ibu saling menatap lantas tersenyum.
Ya
sudah pasti panitia untuk menyambut Ananda tercinta dong J
Suara
sirine mobil Polisi sambung-menyambung sahut-menyahut.
Saya
bisa dengar suara seseorang, mungkin MC, yang lagi ngomong tapi lebih seperti
orang kumur-kumur. Nggak jelas ngomong apa.
Saya
hanya membayangkan bagaimana sibuknya gang tengah sekarang.
Ah
untung rumah saya di gang selatan.
Jadi
bebas dari macet dan keramaian.
Tidak
dipungkiri bahwa Danang fever sudah
mewabah.
Apalagi
di Banyuwangi.
Kota
yang menjadi kelahiran Danang.
Di
sana-sini baliho besar bergambar Mas Danang dipasang.
Di
depan RS. Fatimah.
Di
depan gang rumahnya.
Di
pojokan PJR.
Di
belokan Taman Tirta Wangi.
Di
dekat Masjid Agung Baiturrahman.
Di
depan showroom mobil bekas dekat KTL.
Di
…. Di mana lagi ya?
Aduh,
banyak juga ternyata balihonya Mas Danang ini.
Ya,
semua itu bentuk dukungan yang diberikan masyarakat Banyuwangi untuk Mas
Danang.
Sudah
berjuang sejauh ini.
Hingga
ke tahap 3 besar.
Wuiih,
sulit itu gaes.
Asal,
pulsa buat ngedukung lebih dari lebih ya pasti aman-aman saja :D
Apa
artinya kalau potensi yang bagus disertai dengan suara sms yang fals?
Ya
sudah pasti tersenggol.
Di
KMP, eits bukan Koalisi Merah Putih lho yaa …
Kampus
Merah Putih :D
Di
kampus saya juga sudah pada ngomongin Mas Danang.
Saya
hanya nggak bisa ngebayangin kalau lidah Mas Danang kecokot-cokot karena sering di omongin :D
Tapi
dia memang pantes dirasani kok.
Pemuda
Banyuwangi multitalent.
Setidaknya
ada yang bisa dibanggakan selain hanya suaranya yang apalah-apalah itu.
Cuman
ya begitu, rasa-rasanya kok setiap Mas Danang tampil ada kesan primordialnya.
Nggak
tahu deh, perasaan saya saja atau memang begitu.
Saya
nulis ini bukan dengan maksud apapun.
I swear …
Saya
nulis ya hanya karena saya ingin nulis.
Tuts
keyboard sudah melambai-lambai.
Di
tambah inspirasi yang dari pagi tadi sudah meletup-letup :D
Tambah
lagi, buat menuhin isi blog saya :D
Kata
Ibu saya yang kebetulan tadi nutup pager rumah, depan Angkatan Laut macet.
Kok
kan, percoyoo -___-
Hal
ini mengingatkan pada event BEC pertama kali di gelar.
Haduuuuh,
macet parah sampai akhirnya saya batal ke warnet buat nyari materi tugas.
Pingin
nangis rasanya lihat motor Abah nggak bergerak sama sekali waktu itu.
Nah
ini kejadian lagi, macet.
Tiba-tiba
saja saya merasa menjadi orang paling beruntung nggak tinggal di Jakarta yang
macetnya aduhai itu. #Nggak nyambung.
“Ah
Mey, kayak kamu mau kemana aja macet gitu doang sambat.”
Lha
iya ya, saya juga diem aja dirumah. Nggak kemana-mana.
Tetangga
dateng dari Jakarta di sambut kek apa kek, ini enggak.
Loh,
ini sudah disambut keleus, sama
tulisan.
Ada
yang lebih romantis menyambut seseorang selain dengan tulisan terus di
publikasikan begini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar