Minggu, 31 Mei 2015

Sepatu

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Berjuang karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Sudah, cukup.
Itu hanya penggalan dari lagunya Mas Tulus.
Judulnya "Sepatu"

Iya, SEPATU.

Unik ya?
Di saat semua judul lagu para musisi kebanyakan tematik atau romantis-romantis,
Tapi judul lagu Mas Tulus yang ini malah Sepatu.
Pertama kali dengar judul lagunya aku pikir "Ini lagu apaan? Kok judulnya sepatu."
Tapi pas sudah dengar lagunya,
Wohooo, penuh makna brooo :D

Hanya dari benda yang bahkan tak penah terlintas dipikiran para musisi untuk dijadikan bahan lagu, Mas Tulus justru membuatnya menjadi sebuah lagu yang sangaaat sangat menawan.
Two thumbs deh, Mas ..

Oke. Kali ini aku tidak akan bahas lagu Sepatu.
Aku akan bahas Sepatuku sendiri.

Sepatu beludru hitam yang kubeli entah kapan.
Yang pasti sejak pertama aku melihatnya nangkring manis di rak toko
Aku langsung jatuh cinta.
Apa lagi ketika aku menurunkannya dan mencoba mengenakannya.
Huwaaa aku makin jatuh cinta.
Sepatu berukuran 38 itu sangat nyaman kupakai.

Sepatu hitam pekat itu kugunakan kemanapun.
Kuliah, aksi lapangan, mondar-mandir saat seminar, naik turun tangga, nguber gebetan banyak lah pokoknya.
Kebayang kan? Begitu setianya sang sepatu menemani Cinderellanya pemiliknya.

Aku bukan tipe orang yang sering beli-beli barang kalau aku tak begitu membutuhkannya.
Hanya saja untuk urusan sepatu ini aku agak sedikit beda.
Dari dulu memang aku akan menggunakan satu sepatu saja hingga sepatu itu rusak dengan sendirinya.
Baru kemudian membeli yang baru.
Tapi semenjak masuk kuliah kebutuhanku akan sepatu meningkat.
Aku tidak bisa hanya mengandalkan satu sepatu dan satu sepatu sendal saja.
Entahlah, semakin jauh aku jadi semakin merasa seperti wanita.
Nggg maksudnya lebih feminim dan lebih ribet pada urusan sepatu.
Padahal dulu enggak.

Semua berubah ketika aku merasakan ada yang aneh dengan sepatu beludruku itu.
Entah sejak kapan aku mulai menyadarinya.
Yang jelas, kini sepatu itu semakin sesak.
Aku tidak nyaman lagi menggunakannya.
Kakiku sering lecet dan sakit karenanya.
Bagian depan kakiku serasa di tekuk.

Walaupun menyakitkan entah kenapa aku masih saja sering menggunakannya.
Ya, padahal sepatu itu sudah tidak nyaman.
Aku hanya, entahlah, aku hanya merasa perlu menggunakannya terus.

Sekarang, aku justru mengincar model sendal seperti sendal gunung.
Selain nyaman dan luas, sendal seperti itu boleh dipakai untuk kuliah.

Ah, dulu ketika aku melihat sepatu beludru itu aku manyukainya.
Tapi sekarang ketika sepatu beludru itu semakin sempit aku justru selalu menatapnya nanar.
Kehidupan memang selalu seperti itu.
Iya, tidak ada yang abadi.

Pesan dari tulisan ini adalah :
1. Sepatu itu ibaratkan sebuah hubungan. Akan ada saat dimana kamu merasakan bahagia yang luar biasa karena sudah menemukan seseorang yang kamu anggap paling segalanya. Tapi, bukan tidak mungkin bahwa di suatu masa kamu akan merasakan sakit luar biasa karena hubunganmu. Jangan memaksakan sebuah hubungan yang tak membawa bahagia. Lepas sepatumu dan melangkahlah mencari sepatu yang baru.
2. Belilah sepatu di sore atau malam hari. Karena ukuran kaki seseorang akan lebih besar pada waktu sore atau malam hari. Itu karena setelah seharian kaki kita melakukan aktiftas. Niscaya ukuran sepatu yang kamu beli akan lebih besar dari ukuran biasanya. (Ini dapet dari hasil baca. Tapi lupa baca dimana)

Abaikan pesan pertama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar