Selasa, 05 Mei 2015

Unpredictable Man

Ah, aku benar-benar hampir gila dibuatnya.
Dia selalu berhasil membuatku senam jantung.
Dia itu benar-benar unpredictable man.
Pagi ini Ibu membangunkanku dengan brutal panik.
Ada apa? tidak biasanya.
Aku mendengar Ibu yang berkata ada temanku diluar.
Segera aku bangkit dan melihat dari jendela.
Huwaaa, benar saja.
Itu dia!
Sepagi ini?

Eits, tunggu.
Aku melihat jam di hp-ku.
Sial, ini sudah pukul 07.32
Bukan pagi lagi namanya.
Aku melihat dua missed call.
Dan semuanya dari dia.
Ah Meeeeeyy, kenapa hapemu di silent?
Kan jadi nggak denger ada telpon?

Tanpa berkaca ria aku segera mengenakan jaket dan menutup kepalaku dengan jilbab.
Ya, aku menemuinya tanpa ke kamar mandi terlebih dahulu.
Jorok! Biar saja, hahahaha :D
Dia menatapaku prihatin.
“Baru bangun Mey?”
Aku mengangguk pasrah.
“Sakit kah?”
Aku menggeleng.
Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku memang sakit.
Bahkan wajahku tidak pucat sama sekali.
Bukan sakit demam.
Melainkan sakit bulanan.
You know what I mean?
Yeaah that’s right.

Ah kamu!
Kenapa mudah sekali?
Mudah sekali dia ini keluar dan masuk rumahku.
Tidakkah kau melihat gurat panik di wajahku?
Hellooooo ….

Hah rasanya aku ingin marah.
Tapi untuk apa?
Toh dia juga datang hanya untuk dua alasan.
Kalau nggak bayar hutang pulsa ya beli pulsa.
Udah, itu aja!

Iyaa, tapi apa ya?
Rasanya aneh.
Ini sudah ketiga kalinya.
Ya, ketiga kalinya dia datang ke rumahku.
Mungkin hanya dia satu-satunya teman kuliah laki-laki yang sudah melangkah sejauh ini.
Walaupun hanya duduk di beranda tapi ini sesuatu yang sangat luar biasa.
Seorang Meydiana Isfandari.
Yang bahkan semasa sekolahnya tidak pernah mengizinkan laki-laki datang walaupun sejenak.
Terakhir SMP. Dan itu harus berdebat dulu dengan Abah.

Aku hanya kaget melihat dia ujug-ujug dengan santainya melenggang masuk ke pekarangan.
Aku hanya tidak tahu bagaimana reaksi Abah ketika tahu ada seorang laki-laki yang menemui putri cantiknya anaknya pagi-pagi begini.
Aku benar-benar speechless.
Untung saja pagi itu Abah sudah pergi.
Aku masih bisa bernafas lega.
Setidaknya Ibuku bukan orang seperti Abah.
Ibu welcome dengan temanku ini.

Ah Mey kamu itu terlalu parno. Itu kan Abahmu yang dulu, saat kamu masih SMP. Kan beda sama Abahmu sekarang, kamu sudah kuliah.
Sama saja, aku tak peduli masih SMP atau sudah kuliah.
Aku terlanjur sakit hati.
Masa hanya teman saja langsung begitu marahnya?
Dipikirnya aku ini apa?
Memarahiku di depan dua temanku dulu.
Ugh, rasanya sebal!

Dia ini tidak peka sama sekali.
Padahal banyak teman laki-laki yang sungkan untuk datang ke rumah.
Yaa, apa lagi kalau bukan Abahku itu.
Nah, dia???
Sudahlah, aku hopeless banget.
Aku kira dia hanya akan datang untuk membayar dan membeli pulsa lalu pergi.
Tapi kalian tahu apa yang dia perbuat?
Dia masih sempat duduk di teras dan mengaktifkan paketan di BB-nya.
Arrgggh aku benar-benar akan gila sebentar lagi.

“Sek ya Mey.”
Aku hanya ber-hmmm ria sambil sedikit tersenyum.

Oh Allah apa salahku pagi ini?
Marahkah Kau karena aku bangun telat?
Kau kan tahu aku sedang libur Ya Allah?
-______-

“Aku tadi nanya rumahmu sama tetangga kok nggak tahu ya?”
Aku mendelik.
Iyalah, pasti situ kalo nanya “rumahnya Mey”
Mereka tahunya Diana, bukan Mey.
Heran, padahal sudah tiga kali ke rumah kok ya masih nanya ke tetangga?

Aku mengerut.
Belum lagi aku memikirkan apa yang ada di pikiran tetanggaku ketika ada pemuda yang mencariku.
Ah emboh lah silahkan saja mau berpikir apa.
Bebas, terserah.

Dia belum pergi ketika Mbak Al datang membeli pulsa juga.
Aku hanya berdoa semoga Mbak Al tidak berpikir yang macam-macam.
Ah, peduli apa aku.
Biar saja.

Yess, akhirnya dia berpamitan.
Setelah urusan hutang piutang selesai, yes yes yessss ….
Aku sudah tidak tahan dengan pandangan para Bapak dan Mas tukang yang sedang bekerja di rumah.
Hiii pasti mereka berpikir yang macam-macam.
Ah biar sajaaaa biaaaaaar aku tak perduliiiii, #bohong :(

Dia pamit pada Ibu dan Mbak Al.
Saat dia sudah sampai di pagar Mbak Al bilang,
“Oo jadi sekarang ada yang bagian nagih Din?”

Aku melongo.
Huwaat???
“Enggak Mbak, itu beli pulsa.”
Mbak Al ber- oooo ria.

Wkwkwkw rasanya aku ingin tertawa.
Jadi Mbak Al mengira temanku itu bagian penagih uang pulsa?

Syukurlah :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar