Malam
ini aku keluar dari zona nyamanku.
Keluar
dari zona nyaman itu tidak mudah ternyata.
Berulang
kali aku meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Ah,
bagaimana bisa baik-baik saja jika pukul 10 malam aku masih keliaran di jalan.
Ini
bukan sedang menjadi panitia Opspek atau acara kampus lainnya.
Tidak
ada acara apapun. Hanya hang out biasa.
Hebat
nian perempuan satu ini -___-
Aku
dan Donat keluar rumah sekitar pukul 8.
Kami
berhenti di Taman Sritanjung.
Dari
sana kami bertemu dengan Lia yang ketika baru datang dia sudah teriak “Meey,
aku salah satu penggemar blog-mu.”
Lia
oh Lia … how unic she is.
FYI, Lia ini teman Donat KKN. Dan entah kenapa aku dan
Lia bisa akrab hingga hari ini.
Guys, perlu kalian tahu, makhluk bernama Lia ini
merupakan salah satu makhluk Tuhan yang paling sangklek yang pernah kutemui.
Dia,
Lia Nurmala Sari adalah perempuan kocak yang dengan mudahnya mampu mencuri
perhatianku.
Mungkin
itu juga yang menjadikan kami bisa akrab.
Dia
lucu, aneh, nggilani, norak, but I know she’s nice girl.
Dan
ini juga yang perlu kalian tahu … dilihat-lihat, dilirik-lirik, diamati dengan
seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya dia ini mirip dengan Suzy.
Tahu
Suzy kan??? Itu lho makanan Jepang … *kidding,
bukan Suzy yang itu :D
Entah
mataku dan mata Donat yang katarak atau memang Lia yang operasi plastik biar
mirip Suzy hahahaha … *mianhae unnie
…. (maapnya pake Bahasa Korea, karena Lia penggemar drakor huwehehehe)
Selain
itu Lia orangnya memang supel, jadi nggak heran kalau kami klop.
Bisa
kalian bayangkan tiga perempuan cantik dan anggun sangklek ini berteman?
Ah
sudah, jangan dibayangkan, nggak
penting juga :D
Oke
kembali ke Taman Sritanjung.
Setelah
kami bertiga kumpul datanglah Suryanto, Mas Abi dan Firman.
Ini
bukan triple date gaes, sama sekali
bukan.
*apa’an
Mey, siapa juga yang bilang ini triple
date?
Setelah
enam ekor orang ini kumpul, mulailah menentukan tempat nongkrong.
Awalnya
aku senang karena Lia, aku dan Donat sepakat untuk nongkrong di Blambangan.
Itu
berarti sampai rumah paling malam ya setengah sepuluh, lah.
Eeeh
kok ndilalah Mas Abi nyeletuk dengan santainya, “Ayo nang kafe ketapang.”
Aku
shock, berharap tidak ada yang
menyetujuinya.
Tapi
Firman dan Suryanto malah setuju tanpa memikirkan nasib perempuan-perempuan
yang harus pulang sendiri ini.
Setelah
perdebatan panjang dan insiden lirik-melirik antara aku dan Donat akhirnya kami
pergi juga -___-
Aku
tidak tahu kenapa aku jadi ikut-ikutan iya, sepertinya aku di hipnotis *hapasih
-__-
Ditambah
si tukang provokator bilang “Wes ta ayok,
kapan maneh koyok ngene.”
Yess,
tidak lain tidak bukan, Suryanto.
Mas
Abi dengan Lia. Suryanto dengan Donat. Aku dengan Firman.
Awalnya
Donat hampir bonceng Firman, dikarenakan motor Firman yang tinggi menjulang bak
menara Eiffel akhirnya Donat bonceng Suryanto. Wkwkwkwkwkwk aku hanya bisa
ngakak ketika Donat bilang “Gak gaduk.”
Akhirnya
kami berangkat. Aih, aku benar-benar sudah gila sepertinya.
Sepanjang
jalan aku hanya sholawatan. Semoga Ibu nggak
sms “Lagi apa?”
Karena
kalau sudah begitu aku pasti akan berbohong -___-
Aku
sadar bahwa tempat yang kami tuju ini sangat jauh.
Dan
aku bukan tipe perempuan yang keluyuran seperti ini malam-malam.
Bukan
sok baik, tapi memang tidak pernah.
Sumpah,
sepanjang jalan itu perasaanku campur aduk.
Berulang
kali melototin jam tangan.
Kafe
yang kami tuju ini adalah milik salah satu dosen kami, Pak Hartono.
Memang
saat launching beberapa bulan yang
lalu aku dan Donat tidak datang kesana.
Jadi
ini pertama kalinya kami datang.
Firman
sempat bilang apakah kafe tersebut buka jika malam.
Aku
hanya menaikkan bahuku, aku juga tidak tahu buka atau tidak.
Kami
berbelok ke salah satu gang di utara terminal.
Dan,
aku sempat menahan nafas ketika motor mulai menanjak.
Menanjak
dan terus menanjak.
Aku
hanya takut jika tiba-tiba motor berhenti mendadak dan kami mundur dengan tidak
teraturnya.
Setelah
berjuang menaiki jalan berpaving itu sampailah kami di atas.
Ternyata
apa yang dikhawatirkan Firman terjadi.
Kafe
sudah tutup.
Antara
perasaan kecewa dan keinginan untuk ngakak campur jadi satu.
Aku
melihat wajah-wajah lapar yang bercampur dengan perasaan kecewa.
Akhirnya
turunlah kami ke bawah.
Dari
bawah secara tiba-tiba kami mengadakan musyawarah kembali.
Dan,
lagi-lagi ajakan tidak terduga keluar dari mulut kaum adam.
Kali
ini Firman yang dengan entengnya mengajak kami ke Watu Dodol.
Huwaaaaaa
aku stress, pingin ngacak-ngacak jilbab, pingin
teriak-teriak.
Lia
yang sedari tadi duduk manis dibelakang Mas Abi menunjukkan wajah pasrah dan
mulai mengayunkan tangannya ke mulut (tanda orang minta makan) berkali-kali.
Aku
benar-benar tidak tahan dengan ekspresi wajah Lia, dan ngakaklah aku di malam hari di ujung gang kafe.
Dia
benar-benar kelaparan :D
Lagi-lagi
akhirnya kami berangkat.
Kami
para perempuan mah apa, cuma iklan di Youtube yang belum selesai langsung di skip *errr -____-
Udara
malam semakin dingin, beruntung aku memakai jaket yang kupinjam dari Donat.
Yang
kemudian aku tahu bahwa jaket itu juga hasil dari Donat pinjam ke Putri.
Aih,
hidup kami penuh dengan pinjaman.
Entah
berapa lama aku di atas motor, tiba-tiba sudah sampai di area Watu Dodol.
Tepat
setelah melewati batu yang menjadi icon
wisata ini, Firman membelokkan motornya ke kanan.
Kami
berhenti di dekat patung gandrung agak ke Utara.
Lagi-lagi
kami melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Ah
bukan, mufakat dari mananya jika dari tadi tidak ada yang mengindahkan pendapat
kami para wanita.
Firman
bilang bahwa tempat yang sebenarnya akan di datangi malam ini ternyata tutup.
Aku
pasrah, terserah kalian setelah ini akan kemana rek.
Aku
benar-benar pasrah, yang jelas tidak mungkin mereka akan terus ke Utara.
Akhirnya
kembalilah kami ke jalan yang benar, kami terus ke Selatan.
Semakin
dekat dengan Banyuwangi.
Di
daerah Kalatak kembali Firman menghentikan motornya.
Dia
berniat mengajak kami ke tahu petis Pak Agus.
Dan
kalian tahu akhirnya kami berenam makan dimana?
Taman
Blambangan.
Yup,
kami akhirnya makan di Taman Blambangan.
Benar-benar
drama.
Untuk
apa kami berkelana ke Utara jika ujung-ujungnya Blambangan?
Aku
sempat tertawa dengan apa yang kami lakukan malam ini.
Mas
Abi bilang “Opo’o gak sekalian nang
Baluran?”
Hahahahahaha
….
![]() |
| Sehat-sehat kalian :) |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar