Minggu, 28 Februari 2016

Ujung-Ujungnya Blambangan

Ada kalanya seseorang harus mencoba hal-hal baru di luar zonanya.
Malam ini aku keluar dari zona nyamanku.
Keluar dari zona nyaman itu tidak mudah ternyata.
Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Ah, bagaimana bisa baik-baik saja jika pukul 10 malam aku masih keliaran di jalan.
Ini bukan sedang menjadi panitia Opspek atau acara kampus lainnya.
Tidak ada acara apapun. Hanya hang out biasa.
Hebat nian perempuan satu ini -___-

Aku dan Donat keluar rumah sekitar pukul 8.
Kami berhenti di Taman Sritanjung.
Dari sana kami bertemu dengan Lia yang ketika baru datang dia sudah teriak “Meey, aku salah satu penggemar blog-mu.”
Lia oh Lia … how unic she is.
FYI, Lia ini teman Donat KKN. Dan entah kenapa aku dan Lia bisa akrab hingga hari ini.

Guys, perlu kalian tahu, makhluk bernama Lia ini merupakan salah satu makhluk Tuhan yang paling sangklek yang pernah kutemui.
Dia, Lia Nurmala Sari adalah perempuan kocak yang dengan mudahnya mampu mencuri perhatianku.
Mungkin itu juga yang menjadikan kami bisa akrab.
Dia lucu, aneh, nggilani, norak, but I know she’s nice girl.
Dan ini juga yang perlu kalian tahu … dilihat-lihat, dilirik-lirik, diamati dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya dia ini mirip dengan Suzy.
Tahu Suzy kan??? Itu lho makanan Jepang … *kidding, bukan Suzy yang itu :D
Entah mataku dan mata Donat yang katarak atau memang Lia yang operasi plastik biar mirip Suzy hahahaha … *mianhae unnie …. (maapnya pake Bahasa Korea, karena Lia penggemar drakor huwehehehe)
Selain itu Lia orangnya memang supel, jadi nggak heran kalau kami klop.
Bisa kalian bayangkan tiga perempuan cantik dan anggun sangklek ini berteman?
Ah sudah, jangan dibayangkan, nggak penting juga :D

Oke kembali ke Taman Sritanjung.
Setelah kami bertiga kumpul datanglah Suryanto, Mas Abi dan Firman.
Ini bukan triple date gaes, sama sekali bukan.
*apa’an Mey, siapa juga yang bilang ini triple date?

Setelah enam ekor orang ini kumpul, mulailah menentukan tempat nongkrong.
Awalnya aku senang karena Lia, aku dan Donat sepakat untuk nongkrong di Blambangan.
Itu berarti sampai rumah paling malam ya setengah sepuluh, lah.
Eeeh kok ndilalah Mas Abi nyeletuk dengan santainya, “Ayo nang kafe ketapang.”
Aku shock, berharap tidak ada yang menyetujuinya.
Tapi Firman dan Suryanto malah setuju tanpa memikirkan nasib perempuan-perempuan yang harus pulang sendiri ini.
Setelah perdebatan panjang dan insiden lirik-melirik antara aku dan Donat akhirnya kami pergi juga -___-
Aku tidak tahu kenapa aku jadi ikut-ikutan iya, sepertinya aku di hipnotis *hapasih -__-
Ditambah si tukang provokator bilang “Wes ta ayok, kapan maneh koyok ngene.”
Yess, tidak lain tidak bukan, Suryanto.

Mas Abi dengan Lia. Suryanto dengan Donat. Aku dengan Firman.
Awalnya Donat hampir bonceng Firman, dikarenakan motor Firman yang tinggi menjulang bak menara Eiffel akhirnya Donat bonceng Suryanto. Wkwkwkwkwkwk aku hanya bisa ngakak ketika Donat bilang “Gak gaduk.”
Akhirnya kami berangkat. Aih, aku benar-benar sudah gila sepertinya.
Sepanjang jalan aku hanya sholawatan. Semoga Ibu nggak sms “Lagi apa?”
Karena kalau sudah begitu aku pasti akan berbohong -___-

Aku sadar bahwa tempat yang kami tuju ini sangat jauh.
Dan aku bukan tipe perempuan yang keluyuran seperti ini malam-malam.
Bukan sok baik, tapi memang tidak pernah.
Sumpah, sepanjang jalan itu perasaanku campur aduk.
Berulang kali melototin jam tangan.

Kafe yang kami tuju ini adalah milik salah satu dosen kami, Pak Hartono.
Memang saat launching beberapa bulan yang lalu aku dan Donat tidak datang kesana.
Jadi ini pertama kalinya kami datang.
Firman sempat bilang apakah kafe tersebut buka jika malam.
Aku hanya menaikkan bahuku, aku juga tidak tahu buka atau tidak.

Kami berbelok ke salah satu gang di utara terminal.
Dan, aku sempat menahan nafas ketika motor mulai menanjak.
Menanjak dan terus menanjak.
Aku hanya takut jika tiba-tiba motor berhenti mendadak dan kami mundur dengan tidak teraturnya.
Setelah berjuang menaiki jalan berpaving itu sampailah kami di atas.

Ternyata apa yang dikhawatirkan Firman terjadi.
Kafe sudah tutup.
Antara perasaan kecewa dan keinginan untuk ngakak campur jadi satu.
Aku melihat wajah-wajah lapar yang bercampur dengan perasaan kecewa.
Akhirnya turunlah kami ke bawah.

Dari bawah secara tiba-tiba kami mengadakan musyawarah kembali.
Dan, lagi-lagi ajakan tidak terduga keluar dari mulut kaum adam.
Kali ini Firman yang dengan entengnya mengajak kami ke Watu Dodol.
Huwaaaaaa aku stress, pingin ngacak-ngacak jilbab, pingin teriak-teriak.
Lia yang sedari tadi duduk manis dibelakang Mas Abi menunjukkan wajah pasrah dan mulai mengayunkan tangannya ke mulut (tanda orang minta makan) berkali-kali.
Aku benar-benar tidak tahan dengan ekspresi wajah Lia, dan ngakaklah aku di malam hari di ujung gang kafe.
Dia benar-benar kelaparan :D
Lagi-lagi akhirnya kami berangkat.
Kami para perempuan mah apa, cuma iklan di Youtube yang belum selesai langsung di skip *errr -____-
Udara malam semakin dingin, beruntung aku memakai jaket yang kupinjam dari Donat.
Yang kemudian aku tahu bahwa jaket itu juga hasil dari Donat pinjam ke Putri.
Aih, hidup kami penuh dengan pinjaman.

Entah berapa lama aku di atas motor, tiba-tiba sudah sampai di area Watu Dodol.
Tepat setelah melewati batu yang menjadi icon wisata ini, Firman membelokkan motornya ke kanan.
Kami berhenti di dekat patung gandrung agak ke Utara.
Lagi-lagi kami melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Ah bukan, mufakat dari mananya jika dari tadi tidak ada yang mengindahkan pendapat kami para wanita.
Firman bilang bahwa tempat yang sebenarnya akan di datangi malam ini ternyata tutup.
Aku pasrah, terserah kalian setelah ini akan kemana rek.
Aku benar-benar pasrah, yang jelas tidak mungkin mereka akan terus ke Utara.

Akhirnya kembalilah kami ke jalan yang benar, kami terus ke Selatan.
Semakin dekat dengan Banyuwangi.
Di daerah Kalatak kembali Firman menghentikan motornya.
Dia berniat mengajak kami ke tahu petis Pak Agus.
Dan kalian tahu akhirnya kami berenam makan dimana?

Taman Blambangan.

Yup, kami akhirnya makan di Taman Blambangan.
Benar-benar drama.
Untuk apa kami berkelana ke Utara jika ujung-ujungnya Blambangan?
Aku sempat tertawa dengan apa yang kami lakukan malam ini.
Mas Abi bilang “Opo’o gak sekalian nang Baluran?”
Hahahahahaha ….

Sehat-sehat kalian :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar