Aku anggap itu adalah kata perpisahan yang kamu ucapkan secara tidak langsung.
Terimakasih karena sudah mau mengingat, meskipun tak tercatut namaku disana.
Eh jangan lah, zaman sekarang mencatut nama sembarangan bakal masuk bui hehehe :D
Aku tak menyangka jika kamu masih membaca A Gift yang kuberikan.
Duh, untuk apa? Aku benar-benar malu jika mengingat semua itu.
Aku tak percaya pada diriku sendiri bahwa itu semua aku yang menulis.
Anggap saja itu masa-masa jahiliyah yang aku lalui :D
Tapi aku tidak menyesal, sama sekali tidak.
Mungkin jika aku tidak menulisnya, akan muncul jerawat-jerawat nakal di wajahku.
Dengan pengakuan yang aku utarakan setidaknya ada perasaan lega yang hadir.
Kamu bilang aku berani?
Kamu tidak tahu bagaimana jungkir baliknya perasaan saat akan mengirim gift itu.
Kamu tidak tahu sudah berapa kali aku mengedit kalimat-kalimat yang aku rasa menjijikkan.
Kamu tidak tahu bagaimana susahnya meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang aku lakukan ini benar.
Aku tidak seberani itu.
Aku sudah bilang kan? Bahkan aku tidak percaya pada diri sendiri bahwa pernah melakukan hal semacam itu.
Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Aku tidak pernah menjadi sangat terganggu karena urusan perasaan.
Akhir-akhir ini aku memang tidak pernah menulis apapun tentang apa yang sebenarnya ingin aku tulis.
Tentang bagaimana sulitnya menerima apa yang tidak ingin aku ketahui.
Aku memang sudah terbiasa tanpa kabar darimu.
Aku memang sudah terbiasa dengan rutinitas kita masing-masing.
Aku juga sudah terbiasa dengan apa yang tiba-tiba kamu lakukan.
Aku sangat terbiasa dengan semua itu.
Kamu tahu kenapa?
Aku membiasakan diri menyelipkan namamu di akhir doa setiap laporan.
Aku hanya ingin membiasakan diri seperti itu.
Memohon agar kamu selalu dilimpahkan rezeki yang berkah dan dilancarkan segala urusan.
Hanya itu.
Aku tidak peduli bagaimana sebaliknya.
Melihat keputusan yang sudah kamu buat, aku hanya bisa mendoakan.
Semoga apa yang tengah kamu perjuangkan menjadi ladang pahala.
Aku tidak akan menasihatimu ini itu, aku yakin kamu sudah sangat ahli.
Aku selalu kehabisan kata saat mengingatmu.
Apa yang harus kukatakan? Kamu sudah seperti paket lengkap KFC.
Segala bentuk kehidupan sudah kamu lalui.
Lantas apa yang harus aku ucapkan? Menodongmu dengan bermacam-macam nasihat?
Aku tak perlu melakukannya.
Berkelanalah, temukan apa yang ingin kamu temukan.
Merantau bukan hanya sekadar berpindah tempat tinggal. Lebih dari itu,
merantau juga soal mendobrak batasan, memperbarui kebiasaan, dan
berdamai dengan keterasingan.
Balaskan dendam orang-orang yang underestimate terhadapmu dengan laku yang lebih baik. Dengan perubahan yang lebih baik. Dengan perbuatan yang lebih baik.
Bukan perantau sejati namanya jika pulang terlalu dini.
Apalagi, merantau sebenarnya mampu mengajarkanmu untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi.
Jangan pulang sebelum membawa kesuksesan.
Karena sejauh apapun pengembaraanmu, pulang tetap jadi tujuan akhirmu.
Aku tidak tahu bagaimana ukuran sukses menurutmu.
Aku tidak tahu bagaimana kesuksesan yang ingin kau raih.
Seperti saat-saat yang lalu, aku hanya bisa nyangoni doa.
Kamu adalah orang yang hampir merobohkan prinsipku.
Orang yang menjatuhkan tembok pertahananku.
Saat ini aku sudah menata kembali tembok pertahanan, jadi jangan pernah secara semena-mena untuk menjatuhkan bom lagi :D
Jika ingin kembali ngebom, bawa serta keluargamu.
Aku telah yakin kalo kamu sudah semakin terbiasa dengan keadaan barumu. Aku sangat
percaya kalau kamu telah melupakan aku, seratus persen.
Itu kutipan kalimat yang aku temukan di blogmu.
Bagaimana bisa berkata seperti itu?
Keadaan baru yang seperti apa?
Sudah sepantasnya aku bangkit dari rasa sedih.
Bangkit untuk menjadi pribadi yang lebih menyenangkan.
Bangkit untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Aku sanksi atas apa yang kamu katakan, Aku sangat
percaya kalau kamu telah melupakan aku, seratus persen.
Kakak ini naif atau bagaimana?
Sepertinya kakak harus belajar lagi bagaimana memahami perempuan.
Perempuan yang terang-terangan bilang bahwa namamu teracatat dalam hati.
Bagaimana mungkin akan lupa dalam seperkian hari?
... dan ntah kapan waktunya, kamu disegerakan untuk mendapat pendamping hidup yang sempurna dan sesuai harapan.
I told you, tidak ada manusia sempurna kecuali Nabi.
Aku akan mati dalam keadaan jomblo jika terus menuntut imam yang sempurna.
Kamu juga akan sama keadaannya jika terus merasa belum pantas.
Kamu tidak sempurna, tapi kamu sesuai dengan harapan. *gak usah ge-er
Ingat baik-baik nasihat lama ini:
"Kamu
harus banyak berdoa jika kamu ingin berjodoh dengan orang yang kamu
inginkan. Minta kepada yang memilikinya. Karena boleh jadi tanpa kamu
ketahui, diam-diam ada yang selalu memintanya pada Allah. Jangan terlena
walaupun sekarang dia kekasihmu. Jika doamu tak cukup kuat ia bisa
dijodohkan dengan yang lain. Karena jodoh bukan Qadha, ia adalah takdir
yang bisa di-ikhtiarkan."
Setelah apa yang aku sampaikan barusan, kamu tidak perlu merasa terbebani.
Karena tulisan ini tidak mengandung pemberat :D
Fokus saja pada apa yang hendak dicapai di kota rantau.
Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita *eh, emang terjadi apa? -___-
Oh ya, kamu tahu kenapa aku ngeyel ingin mengembalikan buku-buku politikmu?
Itu adalah salah satu hal yang harus kulakukan.
Karena jika buku-buku itu terus bersamaku, pasti bayang wajahmu yang songong itu juga akan terus bersamaku *wkwkw peace Kak :D
Setelah ini, aku tidak tahu dengan alasan apa lagi kita bisa bertemu.
KuasaNya selalu diluar nalar kan?
Bisa jadi kelak kita bertemu lagi di Selat Bhosporus, bertemu di depan Hagia Sophia, bertemu di dalam Grand Bazar *mulai ngelantur :D
Sampun, sekian saja uneg-uneg hari ini.
Tetap menjadi sosok yang membanggakan.
Tetap rendah hati. Jangan mudah tersinggung.
Jangan meladeni orang yang hanya memancing emosi.
Jaga diri baik-baik, terimakasih atas doa agar KKN dan tetek bengek kuliahku lancar :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar