Orang yang selalu aku
tunggu kedatangannya.
Orang yang selama ini
selalu kurindukan.
Orang yang senantiasa
hadir dalam doa-doaku.
Orang yang sangat aku
cintai dan pasti juga mencintaiku.
Aku kedatangan Abah,
Ibu dan Fahri.
Jangan di tanya
bagaimana bahagianya aku melihat mereka.
Melihat mereka
tersenyum di depan mataku.
Melihat mereka
baik-baik saja dan dalam keadaan sehat.
Betapa bahagianya aku
bisa memeluk dan mencium Fahri setelah berminggu-minggu lamanya kami tak
berjumpa.
Hari ini memang aku dan
Ibu saling berkirim pesan.
Aku memancing beliau
dengan pertanyaan “Nggak kesini?”
Beliau membalas “Insyaallah
nanti sore, kalau nggak hujan.”
Sebenarnya aku tidak
apa-apa jika Abah dan Ibu tidak datang.
Aku maklum, akhir-akhir
ini cuaca Banyuwangi sedang galau.
Setelah pesan itu aku
tidak tahu apakah Ibu jadi datang atau tidak.
Karena memang pesanku
yang terakhir tidak ada balasan.
Aku melanjutkan
aktivitasku seperti biasa setelahnya.
Hingga saat Kun Anta
meraung-raung dari ponselku.
Aku melihat layar,
tertera nama “Bunda” disana.
Spontan aku keluar
kamar dan celingak-celinguk mencari keberadaan beliau.
Benar saja…
Aku melihat perempuan
berjilbab merah, namun sekilas aku tidak mengenali.
Dan seseorang yang
tengah duduk di buk depan kantor
desa.
Yang ini aku kenal
sekali, he’s my Abah.
Aku tidak dapat menahan
diri untuk tidak jejeritan heboh.
Apalagi ketika si kecil
Fahri nongol dari sebelah Abah.
Dia tertawa melihatku.
Aku segera berlari
keluar gerbang *wes mirip filem-filem India
Aku menghampiri mereka
dan segera menggendong Fahri.
Aneh, Fahri sedikit
malu-malu terhadapku.
Wah, padahal baru
beberapa minggu, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kita tidak bertemu
bertahun-tahun.
Saat menggendong Fahri,
tiba-tiba Ibu mengucapkan sesuatu yang membuat lututku lemas.
Ardi terlibat
kecelakaan.
Aku segera menurunkan
Fahri dari gendonganku.
Lututku rasanya
benar-benar lemas.
Aku melihat mata Ibu
berkaca-kaca.
Aku segera membawa
mereka masuk ke pendopo.
Di sana Ibu bercerita
bagaimana cemasnya beliau ketika Ardi pulang sangat terlambat.
Waktu itu hujan sedang
deras-derasnya, Ardi tidak juga pulang dari tempat PSG.
Ah, aku tidak bisa
membayangkan bagaimana kalutnya beliau saat itu.
Ardi pulang dengan
kabar sedemikian rupa membuat Ibu tidak bisa menahan tangisnya.
Di tambah Abah sedang
tidak di rumah.
Dan saat Abah pulang,
semakin jadi lah tangis beliau.
Sebuah kecelakaan
tunggal jika bisa aku simpulkan dari cerita yang Ibu sampaikan.
Ardi sedang membonceng
temannya dan menyalip sebuah motor, namun saat motor Ardi sudah berada di depan
tiba-tiba saja motor yang telah di salip tadi jatuh.
Dua orang ibu-ibu yang
tengah berboncengan jatuh.
*Duh, the power of ibu-ibu memang -__-
Satu hal yang membuat
Ibu semakin tidak dapat menahan air matanya.
Ardi mengurus semuanya
hingga tuntas. By his self.
Ya, dia menyelesaikan
apa yang sebenarnya bukan salahnya.
Beruntung, tidak ada
aparat kepolisian saat kejadian itu.
Yang membuatku tak percaya
adalah, bagaimana bisa Ardi melakukan hal yang tak pernah terpikirkan olehku.
Dia bertanggung jawab
terhadap Ibu-ibu itu.
Dia membawa si Ibu ke
Puskesmas Gitik.
Aih, aku benar-benar
bangga terhadapnya.
Dia tidak lari, dia
tidak lepas tanggung jawab.
Dia menyelesaikan
semuanya dengan akhir yang baik, walaupun si Ibu juga menyadari itu semua bukan
salah adikku.
Setelah si Ibu mendapat
perawatan Ardi juga mengantar si Ibu pulang.
Aku percaya ini bukan
sebuah kebetulan.
Rumah si Ibu dekat
dengan rumah Limpet alias Ima, sahabat SMK-ku.
Sang suami yang bekerja
sebagai sopir bus mengucapkan terima kasih pada Ardi.
Ah, lihat. Saat menulis
bagian ini mataku sudah berkaca-kaca.
Ibuku benar-benar
menangis saat bercerita tentang hal itu.
Beliau menangis di
depanku.
Beliau sengaja tidak
mengabariku, tidak tega katanya.
Ternyata begitu banyak
kejadian yang terjadi saat aku tidak dirumah.
Aku hanya bisa
mendoakan keluargaku dari sini.
Semua terjadi karena
sebuah alasan.
Setidaknya dengan Ibu
datang mengunjungiku, beliau bisa bercerita segalanya padaku.
Aku merasakannya,
beliau seperti membuang semua sampah yang telah lama disimpannya.
Aku bisa merasakan
kelegaan setelah Ibu bercerita.
Abah berbeda.
Beliau selalu bersikap
santai seperti biasanya.
Beliau tidak banyak
omong.
Hanya sepatah dua patah
nasihat yang tadi beliau sampaikan.
Beliau juga bertanya
tentang program-program yang tengah kelompokku siapkan.
Juga bertanya mengenai
kondisi di posko.
Aku tahu beliau pasti
rindu, karena aku pun begitu.
Sangat merindukannya.
Setelah bercerita
kesana-kemari, ba’da maghrib akhirnya mereka pulang.
Fahri sempat tidak
ingin pulang tanpaku, aku tahu dia juga sangat merindukanku.
Meskipun aku ini Kakak
yang sangat cerewet, tapi ngangeni
wkwkwk
Aku mencium tangan Abah
dan Ibu.
Aku memeluk Ibu
sepanjang berjalan ke arah motor.
Aku benar-benar
kuangeeeeeeen.
Dan kangenku terobati.
Aku mengantar mereka
sampai gerbang.
Melihat motor mereka
sampai jauh baru kemudian aku masuk.
Terimakasih Allah, atas
malaikat tak bersayapnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar