Rabu, 03 Februari 2016

Ketika Mereka Datang #Cerita8

Hari ini aku kedatangan tamu istimewa.
Orang yang selalu aku tunggu kedatangannya.
Orang yang selama ini selalu kurindukan.
Orang yang senantiasa hadir dalam doa-doaku.
Orang yang sangat aku cintai dan pasti juga mencintaiku.
Aku kedatangan Abah, Ibu dan Fahri.

Jangan di tanya bagaimana bahagianya aku melihat mereka.
Melihat mereka tersenyum di depan mataku.
Melihat mereka baik-baik saja dan dalam keadaan sehat.
Betapa bahagianya aku bisa memeluk dan mencium Fahri setelah berminggu-minggu lamanya kami tak berjumpa.

Hari ini memang aku dan Ibu saling berkirim pesan.
Aku memancing beliau dengan pertanyaan “Nggak kesini?”
Beliau membalas “Insyaallah nanti sore, kalau nggak hujan.”
Sebenarnya aku tidak apa-apa jika Abah dan Ibu tidak datang.
Aku maklum, akhir-akhir ini cuaca Banyuwangi sedang galau.

Setelah pesan itu aku tidak tahu apakah Ibu jadi datang atau tidak.
Karena memang pesanku yang terakhir tidak ada balasan.
Aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa setelahnya.
Hingga saat Kun Anta meraung-raung dari ponselku.
Aku melihat layar, tertera nama “Bunda” disana.
Spontan aku keluar kamar dan celingak-celinguk mencari keberadaan beliau.

Benar saja…
Aku melihat perempuan berjilbab merah, namun sekilas aku tidak mengenali.
Dan seseorang yang tengah duduk di buk depan kantor desa.
Yang ini aku kenal sekali, he’s my Abah.

Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak jejeritan heboh.
Apalagi ketika si kecil Fahri nongol dari sebelah Abah.
Dia tertawa melihatku.
Aku segera berlari keluar gerbang *wes mirip filem-filem India
Aku menghampiri mereka dan segera menggendong Fahri.
Aneh, Fahri sedikit malu-malu terhadapku.
Wah, padahal baru beberapa minggu, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kita tidak bertemu bertahun-tahun.

Saat menggendong Fahri, tiba-tiba Ibu mengucapkan sesuatu yang membuat lututku lemas.
Ardi terlibat kecelakaan.
Aku segera menurunkan Fahri dari gendonganku.
Lututku rasanya benar-benar lemas.
Aku melihat mata Ibu berkaca-kaca.
Aku segera membawa mereka masuk ke pendopo.

Di sana Ibu bercerita bagaimana cemasnya beliau ketika Ardi pulang sangat terlambat.
Waktu itu hujan sedang deras-derasnya, Ardi tidak juga pulang dari tempat PSG.
Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalutnya beliau saat itu.
Ardi pulang dengan kabar sedemikian rupa membuat Ibu tidak bisa menahan tangisnya.
Di tambah Abah sedang tidak di rumah.
Dan saat Abah pulang, semakin jadi lah tangis beliau.

Sebuah kecelakaan tunggal jika bisa aku simpulkan dari cerita yang Ibu sampaikan.
Ardi sedang membonceng temannya dan menyalip sebuah motor, namun saat motor Ardi sudah berada di depan tiba-tiba saja motor yang telah di salip tadi jatuh.
Dua orang ibu-ibu yang tengah berboncengan jatuh.
*Duh, the power of ibu-ibu memang -__-
Satu hal yang membuat Ibu semakin tidak dapat menahan air matanya.
Ardi mengurus semuanya hingga tuntas. By his self.
Ya, dia menyelesaikan apa yang sebenarnya bukan salahnya.
Beruntung, tidak ada aparat kepolisian saat kejadian itu.

Yang membuatku tak percaya adalah, bagaimana bisa Ardi melakukan hal yang tak pernah terpikirkan olehku.
Dia bertanggung jawab terhadap Ibu-ibu itu.
Dia membawa si Ibu ke Puskesmas Gitik.
Aih, aku benar-benar bangga terhadapnya.
Dia tidak lari, dia tidak lepas tanggung jawab.
Dia menyelesaikan semuanya dengan akhir yang baik, walaupun si Ibu juga menyadari itu semua bukan salah adikku.

Setelah si Ibu mendapat perawatan Ardi juga mengantar si Ibu pulang.
Aku percaya ini bukan sebuah kebetulan.
Rumah si Ibu dekat dengan rumah Limpet alias Ima, sahabat SMK-ku.
Sang suami yang bekerja sebagai sopir bus mengucapkan terima kasih pada Ardi.
Ah, lihat. Saat menulis bagian ini mataku sudah berkaca-kaca.

Ibuku benar-benar menangis saat bercerita tentang hal itu.
Beliau menangis di depanku.
Beliau sengaja tidak mengabariku, tidak tega katanya.

Ternyata begitu banyak kejadian yang terjadi saat aku tidak dirumah.
Aku hanya bisa mendoakan keluargaku dari sini.
Semua terjadi karena sebuah alasan.

Setidaknya dengan Ibu datang mengunjungiku, beliau bisa bercerita segalanya padaku.
Aku merasakannya, beliau seperti membuang semua sampah yang telah lama disimpannya.
Aku bisa merasakan kelegaan setelah Ibu bercerita.

Abah berbeda.
Beliau selalu bersikap santai seperti biasanya.
Beliau tidak banyak omong.
Hanya sepatah dua patah nasihat yang tadi beliau sampaikan.
Beliau juga bertanya tentang program-program yang tengah kelompokku siapkan.
Juga bertanya mengenai kondisi di posko.
Aku tahu beliau pasti rindu, karena aku pun begitu.
Sangat merindukannya.

Setelah bercerita kesana-kemari, ba’da maghrib akhirnya mereka pulang.
Fahri sempat tidak ingin pulang tanpaku, aku tahu dia juga sangat merindukanku.
Meskipun aku ini Kakak yang sangat cerewet, tapi ngangeni wkwkwk
Aku mencium tangan Abah dan Ibu.
Aku memeluk Ibu sepanjang berjalan ke arah motor.
Aku benar-benar kuangeeeeeeen.
Dan kangenku terobati.

Aku mengantar mereka sampai gerbang.
Melihat motor mereka sampai jauh baru kemudian aku masuk.

Terimakasih Allah, atas malaikat tak bersayapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar