Sebagai
remaja kekinian aku juga akan menguliknya sedikit.
Sedikiiiiiit
saja biar nggak banyak *Iyalah, duh Mey -__-
Sedikit
saja, karena hasil akhir catatan ini bukan membahas LGBT.
Secara
pribadi aku tidak membenarkan LGBT.
Lesbi,
Homo, dan teman-temannya yang menyimpang.
Seperti
postingan Suryanto, binatang saja tidak mau kawin dengan sejenis.
Hambok manusia jangan kalah sama binatang.
Tapi
aku juga tidak menyalahkan pelaku LGBT.
That’s your right, your choice.
Pada
dasarnya manusia terlahir baik.
Perjalanan
hidup mereka saja yang akhirnya akan membentuk karakter masing-masing.
Toh,
diantara kita tidak akan ada yang tahu bagaimana hasil akhir di hadapan Tuhan,
kan?
Aku
selalu terbuka dengan segala macam jenis teman.
Dan
dari mereka yang memiliki beragam watak, aku akan belajar sesuatu yang baru.
Hal
yang selama ini belum aku ketahui.
Hal-hal
yang tidak pernah aku dapatkan di bangku sekolah.
Psikologi
sosial. Aku menyebutnya begitu.
Mungkin
selama kuliah aku hanya mendapat teori dari diktat-diktat.
Namun
diluar, di dunia pertemanan, aku mendapat banyak contoh kasus.
Aku
merupakan salah satu manusia yang tidak suka ngorek-ngorek kehidupan orang.
Basicly, aku tidak suka milih-milih
teman dengan mencari bagaimana latar belakangnya.
Berteman
ya berteman saja, tidak perlu embel-embel
status sosial.
Orang
tua selalu bicara “Hati-hati memilih teman, jangan sampai salah pergaulan.”
Kalimat
seperti ini menyudutkan kita pada pemikiran bahwa bertemanlah dengan mereka
yang “baik-baik saja”.
Sayangnya
aku kurang mengindahkan nasihat lama tersebut.
Jika
kita hanya berteman dengan mereka yang “baik”, lantas apa kabar mereka yang
“kurang baik”?
Akan
ada berapa anak “kurang baik” yang tumbuh jika mereka di diskriminasi seperti
itu?
Bukankan
akan lebih baik jika kita dapat berteman secara innocent.
Maksudnya
itu tadi, berteman ya berteman saja. Jangan ada embel-embel di belakangnya.
Syukur-syukur
kita bisa membawa teman yang “kurang baik” menjadi manusia yang lebih baik.
Actually, it's all depend on
you.
Jika
kita bisa mengendalikan dengan baik “gas” dan “rem” yang ada pada diri kita, everything’s running well.
Tidak
banyak orang yang tidak mampu megendalikan diri mereka, sehingga yang awalnya
baik-baik saja tiba-tiba berubah.
Selama
kuliah ini aku benar-benar bergaul dengan beragam jenis kawan.
Ada
yang dari broken home, ada yang background santri, ada yang anak
rumahan, ada yang tomboy, ada yang laki-laki namun kemayu, ada yang alim, ada
yang bahkan tidak tahu kapan terakhir kali sholat, hingga teman yang dulunya
suka melakukan free sex.
Darimana
aku tahu background mereka semua?
Rata-rata
mereka yang memberitahu, bukan aku yang bertanya.
Jika
bertanya mungkin aku akan melontarkan pertanyaan wajar saja.
Seperti
lulus dari sekolah mana, tempat tinggal dimana, sudah, hal-hal seperti itu
saja.
Intinya
aku tidak akan bertanya apapun mengenai latar belakang mereka, selama mereka
tidak bercerita.
Karena
itu cara yang bisa aku lakukan untuk menghargai privasi orang lain.
Dan
ketika mereka bercerita tentang kehidupan mereka, aku siap jadi tempat sampah.
Prinsipku
begitu saja.
Jangan
tanya bagaimana kagetnya aku ketika mengenal seseorang yang bahkan mengaku jika
dulu suka free sex.
Aku
mengenalnya saat kami ikut dalam satu acara HIV/Aids di Wisata Osing.
Tidak,
aku tidak ilfeel. Sama sekali tidak.
Siapa
yang berhak menghakimi masa lalu seseorang?
Kami
berteman dengan baik hingga hari ini.
Dari
perbincangan selama acara di WO aku dapat banyak pelajaran.
Dia
dengan pengalaman hidupnya yang jauh ketimbang aku selalu mewanti-wantiku untuk
tetap berhati-hati.
See? Justru dari orang seperti ini aku mendapat banyak
wejangan.
Dia
sudah seperti kakak yang ngeman
adiknya.
Jadi,
tidak perlu susah-susah ngepoin orang.
Jika
orang tersebut tidak cerita secara sukarela, jangan pernah menjadi pribadi yang
menjengkelkan dengan rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya.
Kepo
boleh, asal pada tempatnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar