Kamis, 25 Februari 2016

Kadang Menjadi Tidak Kepo Itu Harus

Akhir-akhir ini marak isu mengenai LGBT.
Sebagai remaja kekinian aku juga akan menguliknya sedikit.
Sedikiiiiiit saja biar nggak banyak *Iyalah, duh Mey -__-
Sedikit saja, karena hasil akhir catatan ini bukan membahas LGBT.

Secara pribadi aku tidak membenarkan LGBT.
Lesbi, Homo, dan teman-temannya yang menyimpang.
Seperti postingan Suryanto, binatang saja tidak mau kawin dengan sejenis.
Hambok manusia jangan kalah sama binatang.

Tapi aku juga tidak menyalahkan pelaku LGBT.
That’s your right, your choice.
Pada dasarnya manusia terlahir baik.
Perjalanan hidup mereka saja yang akhirnya akan membentuk karakter masing-masing.
Toh, diantara kita tidak akan ada yang tahu bagaimana hasil akhir di hadapan Tuhan, kan?

Aku selalu terbuka dengan segala macam jenis teman.
Dan dari mereka yang memiliki beragam watak, aku akan belajar sesuatu yang baru.
Hal yang selama ini belum aku ketahui.
Hal-hal yang tidak pernah aku dapatkan di bangku sekolah.
Psikologi sosial. Aku menyebutnya begitu.
Mungkin selama kuliah aku hanya mendapat teori dari diktat-diktat.
Namun diluar, di dunia pertemanan, aku mendapat banyak contoh kasus.

Aku merupakan salah satu manusia yang tidak suka ngorek-ngorek kehidupan orang.
Basicly, aku tidak suka milih-milih teman dengan mencari bagaimana latar belakangnya.
Berteman ya berteman saja, tidak perlu embel-embel status sosial.
Orang tua selalu bicara “Hati-hati memilih teman, jangan sampai salah pergaulan.”
Kalimat seperti ini menyudutkan kita pada pemikiran bahwa bertemanlah dengan mereka yang “baik-baik saja”.
Sayangnya aku kurang mengindahkan nasihat lama tersebut.
Jika kita hanya berteman dengan mereka yang “baik”, lantas apa kabar mereka yang “kurang baik”?
Akan ada berapa anak “kurang baik” yang tumbuh jika mereka di diskriminasi seperti itu?

Bukankan akan lebih baik jika kita dapat berteman secara innocent.
Maksudnya itu tadi, berteman ya berteman saja. Jangan ada embel-embel di belakangnya.
Syukur-syukur kita bisa membawa teman yang “kurang baik” menjadi manusia yang lebih baik.
Actually, it's all depend on you.
Jika kita bisa mengendalikan dengan baik “gas” dan “rem” yang ada pada diri kita, everything’s running well.
Tidak banyak orang yang tidak mampu megendalikan diri mereka, sehingga yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba berubah.

Selama kuliah ini aku benar-benar bergaul dengan beragam jenis kawan.
Ada yang dari broken home, ada yang background santri, ada yang anak rumahan, ada yang tomboy, ada yang laki-laki namun kemayu, ada yang alim, ada yang bahkan tidak tahu kapan terakhir kali sholat, hingga teman yang dulunya suka melakukan free sex.
Darimana aku tahu background mereka semua?
Rata-rata mereka yang memberitahu, bukan aku yang bertanya.
Jika bertanya mungkin aku akan melontarkan pertanyaan wajar saja.
Seperti lulus dari sekolah mana, tempat tinggal dimana, sudah, hal-hal seperti itu saja.
Intinya aku tidak akan bertanya apapun mengenai latar belakang mereka, selama mereka tidak bercerita.
Karena itu cara yang bisa aku lakukan untuk menghargai privasi orang lain.

Dan ketika mereka bercerita tentang kehidupan mereka, aku siap jadi tempat sampah.
Prinsipku begitu saja.
Jangan tanya bagaimana kagetnya aku ketika mengenal seseorang yang bahkan mengaku jika dulu suka free sex.
Aku mengenalnya saat kami ikut dalam satu acara HIV/Aids di Wisata Osing.
Tidak, aku tidak ilfeel. Sama sekali tidak.
Siapa yang berhak menghakimi masa lalu seseorang?

Kami berteman dengan baik hingga hari ini.
Dari perbincangan selama acara di WO aku dapat banyak pelajaran.
Dia dengan pengalaman hidupnya yang jauh ketimbang aku selalu mewanti-wantiku untuk tetap berhati-hati.
See? Justru dari orang seperti ini aku mendapat banyak wejangan.
Dia sudah seperti kakak yang ngeman adiknya.

Jadi, tidak perlu susah-susah ngepoin orang.
Jika orang tersebut tidak cerita secara sukarela, jangan pernah menjadi pribadi yang menjengkelkan dengan rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya.
Kepo boleh, asal pada tempatnya.
Dan kadang menjadi tidak kepo itu harus.

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar