Kembali
menyadari bahwa dalam kehidupan ini ada Yang Maha Merubah Keadaan.
Rumah
kami kedatangan tamu saat hampir maghrib tadi.
Tamu
yang sudah tidak asing bagi keluargaku.
Beliau
merupakan sahabat karib Abah, Pak Bambang.
Pak
Bambang datang bersama putranya.
Sayangnya
saat itu Abah belum pulang kerja.
Pak
Bambang dan putranya rela menunggu Abah pulang hingga sekitar pukul 6 petang.
Segera
Abah menemui mereka saat sudah sampai rumah.
Abah
bergegas masuk ke dalam rumah untuk meletakkan sepasang sepatu boot yang sepertinya masih baru.
Lalu
aku dengar sedikit percakapan Abah dan Ibu, “Dijual sama Pak Bambang.”
Setelah
itu aku melihat Abah mengeluarkan beberapa uang dari sakunya dan kembali
menemui sahabatnya itu.
Aku
beringsut pada Ibuku, menanyakan apa yang sedang terjadi.
Aku
mengerti dan akhirnya mataku berkaca-kaca.
Allah
ya, begitu mudahnya Dia merubah keadaan hambanya.
Siapa
yang nggak kepingin nangis melihat
sahabat orang tua kita datang ke rumah hanya untuk menjual sepatu boot?
Siapa
yang nggak nelongso melihat sahabat
orang tua kita yang begitu baik di masa lalu tiba-tiba datang dengan keadaan
yang berbeda?
Pak
Bambang meninggalkan kenangan yang baik dalam ingatanku.
Dulu,
beliau pernah datang dengan membawa serenteng kopi untuk dinikmati bersama
Abah.
Saat
dimana seharusnya tuan rumah lah yang menyediakan kopi, beliau malah membawa
sendiri kopi dari rumah.
Dulu,
Pak Bambang pernah menunggui Abah yang sedang mengerjakan teras belakang.
Mereka
bercerita, tertawa, lama sekali sampai pekerjaan Abah selesai.
Beliau
orang yang baik. Setidaknya begitulah yang aku ketahui.
Terlepas
bagaimana kehidupan rumah tangganya, aku tidak pernah tahu.
Satu
hal yang selalu membuatku terkesan oleh beliau, beliau selalu memanggil kami,
anak-anak Abah, dengan panggilan “Nak”
Coba
pikir, orang tua mana yang hari ini masih memanggil anak-anak muda dengan
panggilan “Nak”?
Paling
banter pasti “Nduk” kalau nggak ya “Le”.
Kejadian
hari ini benar-benar membuatku sedih.
Dan
kejadian hari ini kembali mengingatkan kami tentang rasa syukur pada segala
keadaan.
Aku
memang belum ngobrol dengan Abah setelah kepulangan Pak Bambang tadi, karena
Abah dan Ibu buru-buru harus kondangan.
Tapi
aku yakin, nanti ketika Abah sudah pulang beliau akan bicara seperti ini,
“Itulah
hidup, kadang kita di atas kadang juga di bawah. Selagi kita mampu membantu,
maka bantu dengan ikhlas lalu lupakan. Apalagi membantu sahabat yang sedang
kesusahan. Hidup di dunia kalau tidak bermanfaat untuk sekeliling ya percuma.”
Tentu
ndak akan sama persis seperti itu,
tapi Abah selalu mengajari kami untuk saling membantu saat kita mampu membantu.

menyenangkan orang lain meningkatkan kesenangan diri kita sendiri
BalasHapusSepakat ...
BalasHapus