Senin, 11 Juli 2016

Memangnya Saya Jomblo?

Setelah akhir tahun 2015 lalu saya diberi sebuah buku oleh salah satu sahabat saya, baru hari ini saya membaca beberapa bagian di dalam buku itu. Maklum, setelah dapat buku berjudul “Jomblo Istiqomah” itu saya langsung nggak sengaja pamer ke teman-teman LDK. Jadilah akhirnya buku itu diperebutkan oleh mereka-mereka yang sudah pasti juga jomblo. Lha kalau nggak jomblo ngapain pinjam buku itu, kan?

Akhirnya, meskipun saya belum baca, barang kata pengantarnya sekalipun, saya meminjamkan buku itu kepada salah satu teman. Dan, setengah tahun pun berlalu ……..
.
.
.
Buku itu berisi curhatan dari tiga puluh sembilan penulis yang juga sudah pasti jomblo *hahahahahaha ….

Tulisan dari 39 orang itu dikumpulkan jadi satu dan akhirnya menjadi sebuah buku. Saya hanya sempat membolak-balik buku berwarna kuning tersebut. Hingga akhirnya saya berhenti pada salah satu tulisan dari miliknya @Permoto.

Di awal tulisannya, @Permoto memberikan sindiran-sindiran kekinian untuk para jomblo di dunia. Truk aja gandengan, masa kamu enggak? Sepatu aja ada pasangannya, masa kamu enggak? Jamban aja ada yang ngisi, masa hatimu enggak? -_____-

Itu adalah slogan-slogan terbaru dan terkampret yang pernah saya dengar. Segitunya banget ya jomblo dizalimi *wkwkwk

Membicarakan jomblo memang tak ada hentinya, sama seperti jonru yang tak henti-hentinya nyinyir. Ya gimana, status jomblo itu bullyable sekali, dan pas djadikan bahan guyonan. Nah, untuk yang satu itu hanya berlaku bagi orang-orang dengan selera humor level ma’rifat dan kesabaran yang luar biasa.
Jangan coba-coba untuk guyon sama orang yang dikit-dikit sensi, dikit-dikit ngambulan, ditambah dia juga jomblo. Mending jauh-jauh, biar selamet. Tapi nggak pakai Bunyamin, karena Slamet Bunyamin itu nama Bapak saya.

Untuk masalah guyonan, saya juga termasuk salah satu oknum yang suka nyinyirin teman yang jomblo. Padahal saya sendiri sama keadaannya seperti mereka. Yah anggap saja sedang mentertawakan hidup bersama-sama, kan nggak enak kalau pura-pura bahagia sendirian.

Oke, kembali kepada slogan yang kampret tadi.

Begini, mengutip salah satu tulisan Mas Agus Mulyadi di Mojok.co. Kepada teman-teman saya yang sudah eneg karena disama-samain dengan truk gandeng, kalian bisa jawab hinaan itu dengan elegan seperti ini, “Buat apa gandengan kalau jalannya pelan kaya keong? Buat apaaaaaa??? Mending nggak gandengan tapi gesit dan irit, lincah pula.”
Kok seperti iklan motor, ya? -__-

Dijamin lawan bicara kita akan K.O, kecuali kalau lawan bicaranya adalah Farhat Abbas yang jago bersilat lidah, atau Vicky Prasetya yang perbendaharaan kosa katanya bikin kita melongo saking iyuuuh-nya.

Untuk masalah sepatu, ya sudah seharusnya sepatu itu punya pasangan. Masa iya ada sepatu jomblo? Selisihan? Siapa yang mau beli? Siapaaaaa…??? Kalau manusia mah, ya memang manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, tapi kan nggak ujug-ujug pas lahir procot sudah ditemukan pasangannya? Semua kan ya butuh proses to, gaes, bukan begitu?

Kalau sepatu/sendal ya sejak awal produksinya memang sudah diciptakan sepasang. Coba, pabrik sepatu sebelah mana yang memproduksi sepatu hanya bagian kanan saja atau kiri saja? Kalau ada, ajak saya kesana.

Dan slogan yang satu ini “Jamban aja ada yang ngisi, masa hati kamu enggak???” memang benar-benar kampret dan bedebah sekali. Ya Rabb, ya keleus hati ini disamakan dengan jamban -__-
Jamban isinya eek manusia dan segala hal yang kotor-kotor. Duh, Bang, hati Eneng nggak sehina itu, hiks.

Sebenarnya saya juga gagal paham dengan definisi jomblo itu sendiri. Sek tah, jomblo itu kan gelar yang hanya pantas disandang oleh orang-orang yang pernah pacaran terus putus, untuk waktu yang lamaaaaaaaa, sehingga hati itu kosong kemudian muncul sarang laba-laba di berbagai sudutnya.

Misalnya seperti ini, kamu sudah putus dengan mantan sejak dua tahun lalu, terus ada orang yang dengan isengnya bertanya, “Jomblo sudah berapa lama?” | “Sudah dua tahun.”

Nah, kalau seperti itu kan jelas, yak. Jomblo sudah dua tahun. Nah, disini yang bingung akhirnya kan saya. Pas kebetulan ada orang bertanya ke saya, “Jomblo sudah berapa lama?”, ya masa saya jawab “Sudah 21 tahun …”. Aduuuuuh mama sayangeeee, itu jomblo apa antre naik haji?

Untuk perempuan yang sejak dikandung badan saja, sampai segede gaban begini nggak pernah pacaran, apa pantas disebut jomblo? Mbok tulung, nuranimu rek :(

Ya oke lah kalau kalian tetap bersikukuh menyebut saya jomblo. Saya sih santai. Terus kalau saya jomblo, salah saya? Salah teman-teman saya? Salah Bunda mengandung?

2 komentar:

  1. Mestinya kalau kasusnya seperti cerita di atas bukan disebut jomblo tapi wanita Single :D *lebih elegan istilahnya :v
    Dan sepertinya kita senasib mey :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, kita bukan jomblo tapi single, yara gedigu? 😁

      Hapus