Setelah melalui rapat dan diskusi terkait safari LDK,
Sabtu kemarin akhirnya kami melakukan eksekusi. Kegiatan anjangsana TPQ pertama
kalinya ini bertempat di TPQ Ar-Raudoh, Klatak. Saya bersyukur karena bantuan
dari seorang kenalan, LDK akhirnya mendapat tempat dan kesempatan untuk berbagi
ilmu.
Kekhawatiran saya tentang anggota yang hadir ternyata
tidak meleset. H min beberapa hari, saya sudah khawatir bagaimana jika anggota
LDK banyak yang berhalangan hadir. Dan ternyata, sesuai dugaan. Dari pagi saya
tidak menemukan Bibeh berkomentar di grup. Akhirnya di jam siang saya mengirim
pesan padanya. Saya patut bersyukur karena Bibeh sanggup hadir.
Sebenarnya Sabtu itu saya juga sedang berada di situasi
yang agak sulit untuk pergi keluar. Namun, karena kesepakatan hari yang telah
ditentukan di rapat kedua, mau tidak mau saya harus hadir. Saya juga lupa kalau
Sabtu ada selapan Raisya, lha kok saya iya-iya aja pas penentuan hari eksekusi.
Beberapa anggota sudah berkomentar di grup. Mereka bilang
bisa hadir. Hingga akhirnya saya dan Bibeh berangkat. Waktu itu sudah masuk
waktu Ashar. Kami berdua sampai TKP ketika jamaah baru saja membubarkan diri.
Di perjalanan, mood saya berantakan. Saya mengeluh pada Bibeh. Bibeh hanya
bilang, “Ya udah sih, Di. Gpp kite aja.”
Saya menghela nafas berat nan panjang. Saya tidak tahu
bagaimana jadinya jika partner saya sore itu bukan Bibeh. Saya tidak tahu
bagaimana jadinya jika orang yang disamping saya saat itu bukan Bibeh. Dan saya
bersyukur, karena nyatanya orang itu adalah dia, Durrotun Nasiha.
Saya sudah tidak ngereken
ponsel lagi saat tiba di Masjid Ar-Raudoh. Jengkel saya memang belum hilang,
mood saya pun masih berserakan sana-sini. Tapi ketika melihat para santri
antusias dengan kedatangan saya dan Bibeh, persoalan anggota LDK saya
singirkan. Bibeh mengambil tempat di depan, dia memulai pelajaran sore itu.
Lagi-lagi, saya bersyukur bahwa partner saya adalah dia.
Lagi-lagi, saya bersyukur bahwa saya memiliki teman seperti dia. Lagi, lagi dan
lagi, saya bersyukur karena ada dia. Saya tahu, Bibeh sudah terbiasa menghadapi
anak-anak seperti Sabtu sore itu. Saya juga tahu bahwa Bibeh mampu berbagi
ilmunya dengan baik. Dibanding saya, saya masih kalah jauh. Saya hanya bisa
memandang dia dari belakang. Tuh kan, lagi-lagi saya bersyukur. Tau, ah, Beh,
pokoknya terimakasih.
Beberapa puluh menit kemudian, pelajaran selesai, para
santri pun kembali ke rumah masing-masing. Saya lega. Setidaknya ilmu dari
Bibeh yang sedikit tadi semoga dapat bermanfaat. Walaupun LDK hanya dua orang
semoga membekas di ingatan anak-anak Ar-Raudoh.
Saya dan Bibeh meninggalkan Ar-Raudoh sekitar pukul lima
sore. Di jalan saya kembali ingat anggota LDK yang lain. Bibeh bilang, “Aku tuh
jarang ngomen mesti di grup. Tapi moro-moro dateng gitu kok, Di.” Ya, Bibeh
adalah tipe seperti itu. Tidak banyak komentar, tidak banyak berisik, tidak
banyak alasan. Daripada yang sedari tadi iya-iya aja di grup, tapi kenyataannya
tidak hadir saat hari H.
Duh, saya bersyukur
sifat ngersuloan saya ini ketutup
sama sifat Bibeh yang take it easy
itu. Saat saya masih ngedumel masalah
anggota, dia sudah ngedumel masalah
kegiatan LDK berikutnya. Tuh, kelihatan bener ya bedanya kita. *kasih emot
ngakak sampai nangis



Tidak ada komentar:
Posting Komentar