Selasa, 14 Maret 2017

Berpisah Untuk Kembali

Karena keperluan mengisi daya ponsel, saya mematikan data ponsel saya. Cukup lama, sekitar dua jam lebih. Saat saya cek ponsel dengan menghidupkan data, ada pesan masuk dari Titin, kawan saya semasa SMP. Dia menanyakan posisi saya saat itu, dan –tumben sekali– hendak mengajak saya dolan.

Saya buru-buru membalas pesannya. Tumben sekali dia tiba-tiba ngajak dolan. Dan setelah beberapa lama Titin membalas dengan balasan, “Awmu siap gak lek saiki Mey?”

Waduh, pada waktu itu keadaan saya masih lusuh. Belum mandi, belum siap-siap. Meskipun sudah pukul setengah empat sore. Titin bilang lagi ke saya untuk segera berangkat, dia sedang bersama Amin.

Saya melotot melihat layar ponsel. Amin??? Amin Romadoni??? Amin teman kita SMP itu??? Amin yang sedang di Jepang??? Berarti sekarang dia di Indonesia??? Mmm bukan, berarti sekarang dia ada di Banyuwangi???

Titin meyakinkan saya dengan mengirim foto Amin yang sedang berdiri menunggu teman yang lain. Saya kelabakan, rasanya nggak percaya dengan apa yang saya lihat. Namun, berhubung sepeda wis kadhung dipakai Ibu untuk antar Fahri ngaji, akhirnya saya nyusul mereka ba’da maghrib. Sore itu mereka pergi ke Solong, lalu maghriban di rumah Rani.

Oke, saya putuskan untuk nyusul mereka di rumah Rani saja. Saya juga dah lama nggak ketemu Ibu dan Mas Avin, kan lumayan, sekali pergi tiga orang didatangi. Ibu, Mas Avin, dan kawan-kawan SMP saya.

Saya berangkat ba’da Maghrib. Dari rumah Rani sekitar setengah tujuh kurang. Baru sampai pintu gerbang saja saya sudah bahagia melihat kerumunan sepeda yang terparkir. Rasa excited saya sudah sejak dalam pesan singkat dengan Titin sore tadi.

Setelah memarkir motor dengan oke, saya masuk ke rumah Rani. Luar biasa rasanya bisa melihat teman-teman yang dah lama nggak ketemu ini. Apalagi Amin! Kalian semua dah tahu kan gimana kelakuan saya kalau ketemu orang, gaes? Ya, saya girang sekali bertemu dengan Amin. Ya gimana, ya? Teman yang selama ini berada di Jepang, lalu sekarang saya lihat wujud aslinya di depan mata. Biasanya hanya lihat dia di sosial media. Ada perasaan yang susah didefinisikan.

Setelah menyapa Masnya Rani, yang pas ketemu bilang, “Eh, arek iki wes gedi.” (duh, yakali Mas nggak gede-gede) kemudian saya menyapa Ibu yang tengah asyik nonton Geet. Kami ceriwis sebentar, kemudian menemui squad SMP lagi.

Saya yang masih takjub melihat Amin di depan mata, langsung meluncurkan aksi interogasi. Akhirnya Amin menceritakan bagaimana pengalamannya berada di Jepang. Bagaimana kehidupan disana, orang-orang disana, aturan-aturan yang berlaku disana. Dan, jujur saja, penampilan Amin mengingatkan saya dengan Genji Takiya, tokoh utama Crows Zero. Hahahaha. Yang membedakan hanya warna kulit saja. Kalau Genji khas orang-orang Jepang, kalau Amin ya khasnya orang Indonesia, item-item manis gitu. Ketika saya bilang dia mirip Genji, Amin ngakak, beberapa teman hanya lirik-lirikan because they’re don’t know what is Genji Takiya. Rada aneh juga sih ketika saya dan Amin ngakak tapi lainnya hanya krik krik …

Malam itu kami terlibat perbincangan yang hangat. Mulai dari tugas akhir yang masih menghantui beberapa dari kami –termasuk saya– hingga pembahasan mengenai masa-masa SMP dulu. Kami ngobrol mengenai kawan-kawan seangkatan yang telah menikah bahkan yang telah memiliki anak. Kami hanya bisa menertawakan diri sendiri ketika kami menyadari bahwa mereka –kawan yang telah menikah dan memiliki anak– telah melangkah sejauh itu.  Ah, saya benar-benar rindu kawan-kawan lama saya. Benar memang, kita butuh berjarak agar tahu apa itu rindu.

Ba’da Isya kami pergi ke darplok dekat Sritanjung. Rendy tidak bisa ikut kami, ada keperluan katanya. Saya memutuskan untuk menghubungi Arya, karena kebetulan saya memiliki kontaknya, dan kok ndilalah dia bisa gabung dengan kami. Akhirnya jadilah malam itu, di pojokan darplok sritanjung, kami reuni kecil. Saya, Rani, Titin, Amin, Arya.

Hari itu adalah hari yang akan terus terkenang dalam memori saya. Pertemuan tak terencana saya dengan mereka. Pertemuan yang terkesan dadakan, namun sangat berkesan. Setiap pertemuan pasti menghasilkan perpisahan, begitu hukum alam berjalan. Namun, kita juga harus tahu bahwa, perpisahan adalah awal dari keindahan dalam pertemuan selanjutnya. See, kita bertemu dalam suasana bahagia setelah perpisahan terjadi.

Gaes, tetap saling berkomunikasi, ya …

Manfaatkan dengan baik grup WA yang sudah ada. Jangan sampai kita putus kontak/silaturahmi. Biar saya kelak nggak bingung harus kirim undangan nikah saya kemana. Oke, gaes? *kasih emot ngakak

Banyuwangi, 11 Maret 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar