Karena
keperluan mengisi daya ponsel, saya mematikan data ponsel saya. Cukup lama,
sekitar dua jam lebih. Saat saya cek ponsel dengan menghidupkan data, ada pesan
masuk dari Titin, kawan saya semasa SMP. Dia menanyakan posisi saya saat itu,
dan –tumben sekali– hendak mengajak saya dolan.
Saya
buru-buru membalas pesannya. Tumben sekali dia tiba-tiba ngajak dolan. Dan
setelah beberapa lama Titin membalas dengan balasan, “Awmu siap gak lek saiki Mey?”
Waduh,
pada waktu itu keadaan saya masih lusuh. Belum mandi, belum siap-siap. Meskipun
sudah pukul setengah empat sore. Titin bilang lagi ke saya untuk segera berangkat,
dia sedang bersama Amin.
Saya
melotot melihat layar ponsel. Amin??? Amin Romadoni??? Amin teman kita SMP
itu??? Amin yang sedang di Jepang??? Berarti sekarang dia di Indonesia??? Mmm bukan, berarti sekarang dia ada di
Banyuwangi???
Titin
meyakinkan saya dengan mengirim foto Amin yang sedang berdiri menunggu teman
yang lain. Saya kelabakan, rasanya nggak percaya dengan apa yang saya lihat.
Namun, berhubung sepeda wis kadhung
dipakai Ibu untuk antar Fahri ngaji, akhirnya saya nyusul mereka ba’da maghrib.
Sore itu mereka pergi ke Solong, lalu maghriban di rumah Rani.
Oke,
saya putuskan untuk nyusul mereka di rumah Rani saja. Saya juga dah lama nggak
ketemu Ibu dan Mas Avin, kan lumayan, sekali pergi tiga orang didatangi. Ibu,
Mas Avin, dan kawan-kawan SMP saya.
Saya
berangkat ba’da Maghrib. Dari rumah Rani sekitar setengah tujuh kurang. Baru
sampai pintu gerbang saja saya sudah bahagia melihat kerumunan sepeda yang
terparkir. Rasa excited saya sudah
sejak dalam pesan singkat dengan Titin sore tadi.
Setelah
memarkir motor dengan oke, saya masuk ke rumah Rani. Luar biasa rasanya bisa
melihat teman-teman yang dah lama nggak ketemu ini. Apalagi Amin! Kalian semua
dah tahu kan gimana kelakuan saya kalau ketemu orang, gaes? Ya, saya girang sekali bertemu dengan Amin. Ya gimana, ya?
Teman yang selama ini berada di Jepang, lalu sekarang saya lihat wujud aslinya
di depan mata. Biasanya hanya lihat dia di sosial media. Ada perasaan yang
susah didefinisikan.
Setelah
menyapa Masnya Rani, yang pas ketemu bilang, “Eh, arek iki wes gedi.” (duh, yakali
Mas nggak gede-gede) kemudian saya menyapa Ibu yang tengah asyik nonton Geet. Kami
ceriwis sebentar, kemudian menemui squad SMP lagi.
Saya
yang masih takjub melihat Amin di depan mata, langsung meluncurkan aksi
interogasi. Akhirnya Amin menceritakan bagaimana pengalamannya berada di
Jepang. Bagaimana kehidupan disana, orang-orang disana, aturan-aturan yang
berlaku disana. Dan, jujur saja, penampilan Amin mengingatkan saya dengan Genji
Takiya, tokoh utama Crows Zero. Hahahaha. Yang membedakan hanya warna kulit
saja. Kalau Genji khas orang-orang Jepang, kalau Amin ya khasnya orang
Indonesia, item-item manis gitu. Ketika saya bilang dia mirip Genji, Amin
ngakak, beberapa teman hanya lirik-lirikan because
they’re don’t know what is Genji Takiya. Rada aneh juga sih ketika saya dan
Amin ngakak tapi lainnya hanya krik krik …
Malam
itu kami terlibat perbincangan yang hangat. Mulai dari tugas akhir yang masih
menghantui beberapa dari kami –termasuk saya– hingga pembahasan mengenai
masa-masa SMP dulu. Kami ngobrol mengenai kawan-kawan seangkatan yang telah
menikah bahkan yang telah memiliki anak. Kami hanya bisa menertawakan diri
sendiri ketika kami menyadari bahwa mereka –kawan yang telah menikah dan
memiliki anak– telah melangkah sejauh itu. Ah, saya benar-benar rindu kawan-kawan lama
saya. Benar memang, kita butuh berjarak agar tahu apa itu rindu.
Ba’da
Isya kami pergi ke darplok dekat Sritanjung. Rendy tidak bisa ikut kami, ada
keperluan katanya. Saya memutuskan untuk menghubungi Arya, karena kebetulan
saya memiliki kontaknya, dan kok ndilalah
dia bisa gabung dengan kami. Akhirnya jadilah malam itu, di pojokan darplok
sritanjung, kami reuni kecil. Saya, Rani, Titin, Amin, Arya.
Hari
itu adalah hari yang akan terus terkenang dalam memori saya. Pertemuan tak
terencana saya dengan mereka. Pertemuan yang terkesan dadakan, namun sangat berkesan.
Setiap pertemuan pasti menghasilkan perpisahan, begitu hukum alam berjalan. Namun,
kita juga harus tahu bahwa, perpisahan adalah awal dari keindahan dalam
pertemuan selanjutnya. See, kita
bertemu dalam suasana bahagia setelah perpisahan terjadi.
Gaes, tetap saling berkomunikasi, ya …
Manfaatkan
dengan baik grup WA yang sudah ada. Jangan sampai kita putus
kontak/silaturahmi. Biar saya kelak nggak bingung harus kirim undangan nikah
saya kemana. Oke, gaes? *kasih emot
ngakak
Banyuwangi, 11 Maret 2017.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar