Rabu, 08 Maret 2017

Bertepuk Sebelah Tangan

Aku tidak tahu pasti kapan perasaan itu muncul. Perasaan yang susah untuk kudefinisikan. Perasaan cinta, kah? Sayang, kah? Keduanya terlalu susah untuk di bedakan.

Empat tahun sudah kita menghabiskan mata kuliah di kelas yang sama. Semuanya baik-baik saja hingga kemudian tugas akhir membuat segalanya menjadi tidak baik. Aku tahu ada sesuatu yang mulai tumbuh dalam hatiku. Aku tahu ada sesuatu yang jika kubiarkan saja, sesuatu itu akan menjadi bumerang bagiku.

Benar saja, aku menjadi pemujamu. Aku selalu siap saat kau membutuhkan sesuatu berkenaan dengan tugas akhirmu, mencari data, referensi, memperbaiki revisi tugas akhir yang kau kerjakan hingga membuatku begadang. Aku selalu ada saat kau mengeluh tentang tugas akhirmu. Aku selalu bersedia menjadi teman yang menemani kau kesana-kemari. Aku rela bangun pagi-pagi sekali demi membuatkanmu power point seminar proposal. Aku selalu ada disampingmu.

Namun, kau? Awalnya, aku rasa kita akan saling menyemangati satu sama lain dalam mengerjakan tugas akhir. Nyatanya hanya aku yang menyemangatimu. Kau hanya menyemangatiku dengan perhatian yang sebenarnya bisa kudapatkan dari siapa saja. Interogasi kecil darimu yang sialnya selalu membuatku tersenyum saat membacanya. Kau bertanya aku sedang dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa, dan jangan pulang larut malam. Hanya seperti itu, dan aku bahagia. Lihat, betapa murahnya diriku ini.

Bukannya aku pamrih, menginginkan timbal balik dari segala hal yang telah kuberikan padamu. Tidak, sama sekali tidak. Namun, setidaknya kau harus tahu, akan selalu ada kebaikan dari alam yang terjaga, bahwa tak ada pemberian yang tak menuntut imbalan, meskipun mereka melakukannya dengan ikhlas. Setidaknya, bisakah kau juga menyemangatiku seperti aku menyemangatimu? Bisakah kau juga meluangkan waktumu seperti aku yang selalu meluangkan waktuku untukmu? Bisakah kau duduk disampingku selagi aku berkeluh kesah tentang repotnya menyelesaikan tugas akhirku? Bisakah?

Aku tahu aku egois. Kau adalah laki-laki nine to five. Kau bukan laki-laki pengangguran. Tentu urusan pekerjaan sudah sangat merepotkanmu. Meski begitu aku tetap berharap bahwa kau bisa meluangkan sedikit waktumu yang berharga itu untukku. Bisa?

Hingga hari itu tiba. Hari dimana kau hilang bagai di telan bumi. Kau tidak menghubungiku sama sekali. Tentu aku khawatir. Adakah sesuatu yang terjadi? Sakitkah kau disana?

Aku tak bisa menahan diriku sendiri. Aku tak bisa mengabaikanmu. Akhirnya aku memberanikan diri menghubungimu. “Aku merindukanmu.”

Kau membalas pesanku. Hanya senyum kecut yang menghiasi wajahku ketika kau tidak membahas rasa rinduku sama sekali. Kau malah membahas hal lain. Baiklah, sekali lagi aku mencoba mengerti kesibukanmu. Kau pasti lelah. Kau pasti penat. Sehingga kau tak ingin membahas masalah perasaan yang hanya akan menambah lelahmu. Kuharap memang begitu.

Namun, tahukah kau? Kau membuatku terlihat seperti perempuan murahan sungguhan saat kau mengabaikan perasaanku.

Aku mencoba untuk tak mengingat lagi insiden rindu bertepuk sebelah tangan itu. Karena hanya akan membuat hatiku sakit.

Belum lagi sembuh sakit hati ini, ada saja kejadian yang membuat sakit dihati semakin nyeri. Kakakku mengirim pesan bahwa kau sudah memiliki seorang kekasih. Bagaimana bisa? Bukankah setengah jam yang lalu kau masih menghubungiku? Bahkan masih sempat kau panggil aku sayang. Mungkinkah kau memanggilku sayang tanpa ada perasaan sayang? Lu pikir mbak-mbak olshop!

Aku ingin sekali bertanya banyak hal padamu. Sebenarnya apa maumu? Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Tidakkah kau tahu, bahwa ada hati seorang perempuan yang terluka karenamu? Lantas apa arti dari semua yang telah kita lalui selama ini? Apakah hanya aku yang memiliki perasaan untukmu? Tidakkah kau memiliki perasaan yang sama? Atau jangan-jangan memang hanya aku yang terlalu berharap lebih. Aku yang terlalu serius menanggapi semua gurauanmu, termasuk panggilan sayangmu itu. Benarkah begitu?

Jika iya, selamat. Kau menjadi satu-satunya laki-laki yang berhasil membuatku melakukan sesuatu tanpa merasa dimanfaatkan. Ya, aku tidak merasa dimafaatkan olehmu. Semua yang kulakukan untukmu berasal dari hati yang tulus.

Aku tidak tahu bagaimana takdir akan membawa kita kelak. Aku akan selalu berdoa agar kebaikan selalu tercurah padamu. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Tetaplah berada di tempatmu saat ini. Kau harus bahagia, apapun yang terjadi.

Tulisan ini berdasarkan request dari salah seorang kawan. Dia curhat lalu berkata “Nuliso tentang ini ta, Kak.” Kenapa saya malah di paksa-paksa buat nulis gini, sih.

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar