Setelah beberapa hari kemarin sempat berkutat dengan
cerita soal perempuan, akhirnya saya memutuskan untuk menulis ini.
Hampir berurutan, saya menerima keluhan dari orang-orang
yang saya kenal. Setelah kemarin insiden adik kelas saya dan Kak Lia, baru-baru
ini seorang kawan perempuan mengirim inbox
melalui facebook. Tanpa basa-basi
lagi, kawan saya tersebut secara terus terang ingin menumpahkan segala curahan
hatinya kepada saya. Padahal, bisa dibilang kami belum pernah bertemu tatap
muka secara langsung dan ngobrol, kecuali dulu saat masih sama-sama sekolah, di
sekolah ngobrol pun sebenarnya kami jarang.
Saya yang memang sudah mengikuti kabarnya lewat maya
–mengamati statusnya yang sering galau– sudah feeling bahwa ada sesuatu yang terjadi. Benar saja, rumah tangganya
sedang bermasalah. Dia menumpahkan segala perasaannya, sedih, sakit hati,
cemburu. Semuanya dia keluarkan.
Sebenarnya saya tidak tahu harus bagaimana ketika ada
kawan-kawan yang lari ke saya dan mengadu masalah mereka. Yang selalu saya
lakukan adalah mendengarkan mereka. Dan, ketika kawan saya ini datang ke saya
dengan masalah rumah tangganya, jujur, saya terkejut. Karena ini pertama
kalinya saya menerima curhatan masalah rumah tangga. Biasanya ya seperti
curhatan Kak Lia, tentang hubungan tanpa statusnya, tentang Kak Lia yang
terjebak friendzone, cinta
terlarangnya Kak Lia, atau kisah-kisah picisan tentang pacaran kawan-kawan saya
lainnya.
Kembali pada kawan saya –yang tidak bisa saya sebut
namanya itu– yang kemarin telah mengeluarkan sampahnya. Pertanyaan pamungkas
yang selalu dikeluarkan oleh pihak yang bererita adalah, “Aku kudu piye?” pertanyaan itu hanya saya jawab dengan ambekan sekuat-kuatnya.
Gaes, saya juga tidak
tahu harus menjawab apa jika kalian bertanya seperti itu. Apalagi ini urusan
rumah tangga yang you know sendiri
lah, saya belum berpengalaman. Masalah rumah tangga teman saya ini adalah
masalah yang paling sering dihadapi oleh pengantin baru. Apalagi jika bukan
godaan orang ketiga. Suami teman saya itu kepergok chating dengan perempuan lain yang diakui oleh suaminya hanya
sebatas teman.
Perempuan mana yang tidak terganggu dengan hal-hal
semacam itu? Teman saya pun sudah pasti terganggu. Ya kadang hal-hal seperti
ini yang membuat saya rodok mikir dua kali ketika memutuskan akan menikah.
Menikah itu bukan perkara main-main, yang ketika kita capek lantas udahan,
bubar, balik ke rumah masing-masing. Saat kita memutuskan untuk menikah, saat
itu juga kita memutuskan untuk berbagi kehidupan dengan seseorang. Menikah itu
bukan untuk sehari, dua hari, tapi selamanya, hingga maut menjemput. Menikah
itu menekan ego. Kita harus ingat bahwa menikah bukan hanya tentang dua orang
saja, melainkan banyak orang. Kita memiliki orang tua yang kita sebut mertua,
kita memiliki adik ipar, kakak ipar. Jelasnya, kita memiliki anggota keluarga
baru. Menikah berarti membuat janji pada Tuhan, pada semesta. Janji untuk
saling mengasihi, saling menjaga. Menikah itu berat, gaes, penuh tanggung jawab. Jadi jangan hanya mikir yang enak-enak
doang. Mikir enaena doang mah,
seminggu dua minggu kelar yang namanya pernikahan.
Sejujurnya, saya tidak banyak memberikan nasihat pada
teman saya. Karena, pada dasarnya setiap permasalahan yang menimpa diri kita,
hanya diri kita sendiri yang dapat menyelesaikannya. Saya hanya menyediakan
tempat sampah. Actually, all she need is
that. Setidaknya dengan berkurangnya beban dalam diri kita, kita bisa
sedikit bernafas lega dan berpikir jernih, apa yang selanjutnya akan kita
lakukan?
Well,
see,
dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Bertahan menjaga rumah tangga
yang telah dibangun dengan bersikap sabar. Percayalah, Puan, sabar adalah sikap
kesatria yang dapat meluluh lantakkan benteng paling kuat yang ada di muka
bumi. Sabar, sabar, dan sabar. Meskipun, saya masih sering nggak sabaran, tapi
saya percaya betul bahwa sabar adalah sebaik-baiknya ikhtiar.
Alhamdulillah, teman saya mampu bersabar dalam segala
rasa sakit yang hampir tiap hari dia rasakan. Dia bilang, “Aku kudu kuat, demi anakku.” Saya kaget. Selama ini dia bertahan
dalam kesakitan saat dirinya sedang mengandung. Mungkin hal itu juga yang
akhirnya membuat sang suami berubah. Teman saya mendapatkan lagi perhatian dari
suami. Semuanya berangsur membaik dan berjalan sebagaimana mestinya. Saya
bersyukur sekali atas itu.
Begitu baik Tuhan pada saya sehingga oleh-Nya saya diberi
kesempatan untuk belajar dari sekitar. Belajar untuk mengerti, paham, tahu,
bahwa menikah adalah keputusan final dalam hidup manusia untuk mengarungi
sebenar-benarnya kehidupan. Semoga saat saya semakin mengerti, saya mampu
dengan bijak menyikapi segala hal. Karena semakin mengerti bahwa menikah itu
tidak mudah, semoga saya tidak kembali berpikiran untuk tidak menikah. Hehehe,
semoga.
![]() |
| Sumber : Google |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar