Sabtu, 04 Maret 2017

Cerita Perempuan


Setelah beberapa hari kemarin sempat berkutat dengan cerita soal perempuan, akhirnya saya memutuskan untuk menulis ini.

Hampir berurutan, saya menerima keluhan dari orang-orang yang saya kenal. Setelah kemarin insiden adik kelas saya dan Kak Lia, baru-baru ini seorang kawan perempuan mengirim inbox melalui facebook. Tanpa basa-basi lagi, kawan saya tersebut secara terus terang ingin menumpahkan segala curahan hatinya kepada saya. Padahal, bisa dibilang kami belum pernah bertemu tatap muka secara langsung dan ngobrol, kecuali dulu saat masih sama-sama sekolah, di sekolah ngobrol pun sebenarnya kami jarang.

Saya yang memang sudah mengikuti kabarnya lewat maya –mengamati statusnya yang sering galau– sudah feeling bahwa ada sesuatu yang terjadi. Benar saja, rumah tangganya sedang bermasalah. Dia menumpahkan segala perasaannya, sedih, sakit hati, cemburu. Semuanya dia keluarkan.

Sebenarnya saya tidak tahu harus bagaimana ketika ada kawan-kawan yang lari ke saya dan mengadu masalah mereka. Yang selalu saya lakukan adalah mendengarkan mereka. Dan, ketika kawan saya ini datang ke saya dengan masalah rumah tangganya, jujur, saya terkejut. Karena ini pertama kalinya saya menerima curhatan masalah rumah tangga. Biasanya ya seperti curhatan Kak Lia, tentang hubungan tanpa statusnya, tentang Kak Lia yang terjebak friendzone, cinta terlarangnya Kak Lia, atau kisah-kisah picisan tentang pacaran kawan-kawan saya lainnya.

Kembali pada kawan saya –yang tidak bisa saya sebut namanya itu– yang kemarin telah mengeluarkan sampahnya. Pertanyaan pamungkas yang selalu dikeluarkan oleh pihak yang bererita adalah, “Aku kudu piye?” pertanyaan itu hanya saya jawab dengan ambekan sekuat-kuatnya.

Gaes, saya juga tidak tahu harus menjawab apa jika kalian bertanya seperti itu. Apalagi ini urusan rumah tangga yang you know sendiri lah, saya belum berpengalaman. Masalah rumah tangga teman saya ini adalah masalah yang paling sering dihadapi oleh pengantin baru. Apalagi jika bukan godaan orang ketiga. Suami teman saya itu kepergok chating dengan perempuan lain yang diakui oleh suaminya hanya sebatas teman.

Perempuan mana yang tidak terganggu dengan hal-hal semacam itu? Teman saya pun sudah pasti terganggu. Ya kadang hal-hal seperti ini yang membuat saya rodok mikir dua kali ketika memutuskan akan menikah. Menikah itu bukan perkara main-main, yang ketika kita capek lantas udahan, bubar, balik ke rumah masing-masing. Saat kita memutuskan untuk menikah, saat itu juga kita memutuskan untuk berbagi kehidupan dengan seseorang. Menikah itu bukan untuk sehari, dua hari, tapi selamanya, hingga maut menjemput. Menikah itu menekan ego. Kita harus ingat bahwa menikah bukan hanya tentang dua orang saja, melainkan banyak orang. Kita memiliki orang tua yang kita sebut mertua, kita memiliki adik ipar, kakak ipar. Jelasnya, kita memiliki anggota keluarga baru. Menikah berarti membuat janji pada Tuhan, pada semesta. Janji untuk saling mengasihi, saling menjaga. Menikah itu berat, gaes, penuh tanggung jawab. Jadi jangan hanya mikir yang enak-enak doang. Mikir enaena doang mah, seminggu dua minggu kelar yang namanya pernikahan.

Sejujurnya, saya tidak banyak memberikan nasihat pada teman saya. Karena, pada dasarnya setiap permasalahan yang menimpa diri kita, hanya diri kita sendiri yang dapat menyelesaikannya. Saya hanya menyediakan tempat sampah. Actually, all she need is that. Setidaknya dengan berkurangnya beban dalam diri kita, kita bisa sedikit bernafas lega dan berpikir jernih, apa yang selanjutnya akan kita lakukan?

Well, see, dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Bertahan menjaga rumah tangga yang telah dibangun dengan bersikap sabar. Percayalah, Puan, sabar adalah sikap kesatria yang dapat meluluh lantakkan benteng paling kuat yang ada di muka bumi. Sabar, sabar, dan sabar. Meskipun, saya masih sering nggak sabaran, tapi saya percaya betul bahwa sabar adalah sebaik-baiknya ikhtiar.

Alhamdulillah, teman saya mampu bersabar dalam segala rasa sakit yang hampir tiap hari dia rasakan. Dia bilang, “Aku kudu kuat, demi anakku.” Saya kaget. Selama ini dia bertahan dalam kesakitan saat dirinya sedang mengandung. Mungkin hal itu juga yang akhirnya membuat sang suami berubah. Teman saya mendapatkan lagi perhatian dari suami. Semuanya berangsur membaik dan berjalan sebagaimana mestinya. Saya bersyukur sekali atas itu.

Begitu baik Tuhan pada saya sehingga oleh-Nya saya diberi kesempatan untuk belajar dari sekitar. Belajar untuk mengerti, paham, tahu, bahwa menikah adalah keputusan final dalam hidup manusia untuk mengarungi sebenar-benarnya kehidupan. Semoga saat saya semakin mengerti, saya mampu dengan bijak menyikapi segala hal. Karena semakin mengerti bahwa menikah itu tidak mudah, semoga saya tidak kembali berpikiran untuk tidak menikah. Hehehe, semoga.

Sumber : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar